17. Fikri

2739 Words
"Ah ... lelahnya." desah Candra ketika mereka sampai di rumah sekitar jam 19.00 malam. Tak terlintas sama sekali dalam benak mereka, kalau ternyata, mampir di taman bunga tadi membutuhkan waktu yang lumayan lama. Bukan hanya lumayan lama, tapi sangaaattt lamaaa. Mereka mengelilingi taman bunga hingga kaki mereka terasa mau patah. Nggak ada yang berani mengajak pulang. Melihat Lala yang begitu bahagia di taman, keempat pangeran lele itu bertahan, walau kaki mereka sudah terasa kram. Setelah Saka memberi ijin Lala yang ingin memetik bunga, gadis itu seperti lupa waktu. Dia dengan pelan dan teliti, memetik bunga yang menurutnya bagus untuk dipajang nanti di pot-pot kecil di setiap meja di rumah. Setiap bunga, dengan warna yang beda dan aroma yang berbeda pula. Saking asyiknya gadis itu sampai lupa bahwa dari tadi ada empat cowok yang selalu mengikutinya mengelilingi taman. Walau capek, kaki terasa mau copot, punggung terasa kaku, keempat pangeran lele itu tetap bersabar mengikuti keinginan lala. Dan semua itu terbayar lunas dan memuaskan. Bagaimana tidak lunas dan puas? Lihatlah sekarang gadis itu, membawa dua keranjang bunga di tangan kanan dan kirinya dengan riang gembira. Berkali-kali menghirup aroma bunga yang tadi dipetiknya. Ada berbagai macam bunga yang dipetiknya. Ada bunga mawar, bunga Lily, bunga Kamboja, dan lain sebagainya. Wajahnya begitu cerah dan sangat bahagia. Bagi keempat cowok itu, daripada melihat Lala yang bersedih, mending melihat mbak pujaan mereka tersenyum kayak gitu. "Aku ke atas dulu ya!" pamit Lala. "Nggak naik dari dalam rumah saja, Mbak?" tanya Danu. "Nggak, Dan! Lewat tangga luar saja!" Mata Lala berbinar bahagia. Dia seakan tidak merasa lelah sama sekali. Berbeda dengan keempat cowok itu. Badan mereka terasa remuk. Dengan bersenandung ceria, Lala mulai menaiki tangga menuju kamarnya. "Ayo masuk!" ajak Saka yang sudah membuka pintu. Cowok itu masuk rumah dan langsung menuju ke dapur. Haus. Sedangkan Danu dan Candra langsung melemparkan tubuh mereka ke arah sofa ruang tamu. Dan Fikri, cowok itu langsung melenggang pergi ke kamar. Saka datang dari arah dapur dengan membawa tiga botol air minum. Satu diberikan pada Danu, satu dilemparkan pada Candra yang langsung menangkapnya, dan yang satunya lagi ... Saka celingak celinguk melihat sekeliling. "Dimana Si Bocil?" "Langsung masuk kamar dia. Kecapekan mungkin?" "Oh!" Saka mengangguk-angguk mengerti tapi juga heran. Biasanya bocah itu adalah bocah yang paling aktif dan bocah yang paling jarang mengeluh karena capek. Mungkin karena dia yang paling muda, jadi tubuhnya yang paling prima. Tapi tiba-tiba Saka teringat sesuatu. "Tanggal berapa sekarang?" "Bos! Pikun ya?" ledek Candra tertawa. "Bukannya baru dua kemaren Lo ngasih kita gaji. Sekarang ya tanggal 16 lahh!" Krik! Krik! Krik! Garing. Nggak ada yang ikutan tertawa. Baik Saka maupun Danu tenggelam dalam pikiran masing-masing. Candra merasa seperti orang bloon yang menertawakan sesuatu yang tidak pantas ditertawakan. Anjir! Umpatnya dalam hati. "Oh, ternyata hari ini ya." kata Saka lebih ke dirinya sendiri sambil melirik ke pintu kamar Fikri. "Kenapa emangnya hari ini? Bukannya hari ini kita ke taman bunga?" kepo Candra. "Bukan apa-apa." jawab Saka sekenanya. "Ayo kita segera istirahat lebih dulu. Besok kita akan buka warung lagi." ajaknya. "Oke!" jawab Danu langsung beranjak berdiri. Cowok itu tahu, jika Saka mulai bersikap tertutup, maka ada sesuatu yang harus dilakukannya. Mungkin karena dia yang paling lama ikut Saka, dia jadi seperti punya feeling setiap sikap Saka berubah misterius. Dan cowok itu tidak pernah bertanya apapun itu. Dia hanya yakin, Saka pasti mempunyai alasan di setiap tindakannya. "Cemen lah lo! Masak jam segini tidur?" eyel Candra. "Katanya kamu lelah tadi?" Danu mengingatkan. "Siapa?" "Tadi yang bilang lelah di depan pintu siapa?" "Itu kan cuma ekspresi dari senangnya hati karena sudah sampai rumah, Dan! Bukan berarti lelah beneran!" Cowok itu nggak mau kalah. "Sama aja dodol. Namanya juga lelah!" "Ah, lo nggak asyik!" "Lebih nggak asyik lagi, kalau kamu nggak segera ke kamar, aku tendang pakai tendangan macan. Hiyaaattt!" Danu memasang kuda-kuda layaknya seperti Jackie Chan, mengancam Candra. "Sialan Lo!" umpat Candra dan langsung ngibrit ke arah kamarnya sendiri. Candra sebal, Danu selalu saja seperti itu. Gampang sekali main pukul. Ya walau dia sendiri juga gitu sih, cuma sasarannya ya cuma si Fikri. Kalau Danu sasarannya dia dan Fikri. Apalagi jika dua anak itu mulai bandel. Jangan harap bisa lepas dari geplakan Danu. "Makasih ya, Dan!" ucap Saka setelah Candra benar-benar hilang dibalik pintu kamarnya. "Oke!" Danu pun mulai melangkah, tapi terhenti ketika mendengar pertanyaan Saka. "Apa kamu tidak ingin bertanya?" Danu tidak langsung menjawab, dia berjalan ke arah Saka dan menepuk pundaknya. "Tidak. Aku percaya padamu! Apapun yang kamu lakukan, pasti ada alasan dibalik itu semua." Danu menepuk-nepuk lagi pundak Saka pelan penuh pengertian. Baru setelah itu berjalan menuju kamarnya sendiri. Saka hanya tersenyum. Cowok itu lalu berjalan ke arah kamar Fikri. Tok! Tok! Tok! "Fik!" panggil Saka. "Titip salam ya!" Setelah berkata seperti itu, Saka meletakkan sebuah amplop di depan kamar Fikri, kemudian melangkah pergi. Tak lama kemudian, selang sekitar lima belas menitan, Fikri keluar. Cowok itu sudah berganti baju memakai seragam sekolah SMA. Diambilnya amplop yang diletakkan dilantai depan pintu kamarnya. "Makasih, Bos!" desisnya lirih. Dia lalu berjalan pelan, mengendap-endap takut ketahuan. Apalagi jika ketahuan sama si Candra, bisa habis dia diledeki gara-gara pakai baju SMA. "Fik!" panggil Lala kaget melihat Fikri mengendap-endap, berjalan pelan menuju pintu rumah. Gadis itu mendekat pada Fikri. "Mau ke mana?" tanyanya. Matanya melihat penampilan Fikri dari atas ke bawah, bawah ke atas. Lala merasa aneh dengan cowok ini. "Kamu kok berpakaian kayak gini? Apa mau reuni?" Fikri tersenyum canggung. "Nggak, Mbak!" "Lalu? Apa mau balapan di SMA? Makanya kamu berpakaian kayak gini?" Pekik Lala kaget. Pikirannya sudah berkeliaran kemana-mana. "Nggaklah, Mbak. Memangnya gua bocah kecil apa, balapan segala. Sudah nggak jamannya" "Lalu apa dong?" "Mau jenguk ibu gua." Eh! Jenguk ibu? Tapi kok pakai pakaian seragam sekolah kayak gini? Batin Lala, masih merasa aneh. "Mbak Lala mau ikut?" "Apa boleh?" "Boleh lah!" Lala berpikir sejenak. Menimbang-nimbang. Iya kalau dia beneran jenguk ibunya, kalau ternyata dia hanya ingin balapan gimana? Lagi-lagi gadis itu membatin. Apalagi dia sangat suka bercerita tentang modifikasi motornya. Anak seumuran Fikri ini masih sangat labil dan kadang nggak segan untuk berbohong untuk mendapatkan apa yang diinginkan. "Oke. Aku ikut!" putus Lala. Daripada kecolongan nanti dia malah balapan, mending ikut saja sekalian, nggak mungkin bocah itu ngajak mbaknya ikut aktivitas menakutkan seperti itu. Itulah yang dipikirkan Lala ketika menerima ajakan Fikri. "Oke, tapi nanti jangan menyesal ya?" Godanya. "Nggak akan!" Mantap Lala. "Oke! Kalau gitu, ayo!" Fikri meraih tangan Lala. Menggandengnya menuju pintu rumah. "Nggak pamit Saka dulu?" Fikri membuka pintu, "Nggak usah, nggak papa. Dia sudah tahu kok?" Lalu keluar dengan tetap menggandeng Lala, melepasnya ketika mereka sampai garasi dan Fikri naik ke kemudi motornya. "Ayo, Mbak!" "Beneran nggak papa, nggak pamit orang rumah dulu? Nanti kalau mereka mencari kita gimana?" Lala masih ragu. "Kalau Mbak nggak cepetan naik, gua cium lho!" Lala merengut. "Kamu bocah suka banget sih, cium! Cium! Inget umur! Kamu tuh masih bocah!" kesalnya, tapi tetap naik juga. Karena susah, akhirnya Lala memegang pundak Fikri untuk tahanan biar bisa naik, membuat tubuh cowok itu menegang sebentar. "Ya udah, ayo!" ajak Lala. Kini ganti Fikri yang bengong, mencoba mengurangi debar yang sempat tercipta karena sentuhan Lala tadi. Padahal yang menyentuh biasa saja. "Fik! Ayo!" Lala mengingatkan, karena Fikri dari tadi tidak menstater motornya. Tersadar Fikri langsung menyalakan motor, dan melaju pelan ke arah jalan beraspal. "Mbak, pegangan!" Peringat Fikri. " Nggak per ... aaaaa!" Belum selesai kalimat penolakan Lala, tiba-tiba kalimatnya sudah berubah menjadi sebuah teriakan. Karena cowok jahil itu langsung menancap gasnya, ngebut. Reflek, Lala juga langsung melingkarkan tangannya pada perut Fikri. Fikri tersenyum jahil di balik helmnya. Tak ada lagi perbincangan. Mereka diam sepanjang perjalanan, karena memang Fikri naik motornya sangat kencang. Ketika motor berhenti di depan Rumah Sakit Jiwa, Lala sangat kaget. Gadis itu bahkan tidak mendengar ketika Fikri memintanya turun. "Mbak Lala!" Fikri meremas tangan Lala yang ada diperutnya. Cowok itu tahu kalau Lala pasti kaget, dia mengajaknya ke sini. Tapi tidak menyangka jika gadis itu sampai terbengong saking kagetnya. Ada sesuatu yang terasa sedikit mencubit hatinya melihat reaksi Lala. Jika baru sampai saja dia sudah sekaget itu, apalagi jika masuk ke dalam. "Eh, iya!" Tersadar, Lala langsung turun dari motor, begitupun dengan Fikri. Takjub, Lala masih memandang gedung di depannya. "Aku masuk dulu ya, Mbak!" pamit Fikri. "Mbak tunggu saja di sini nggak papa!" agak kecewa, Fikri mulai melangkah meninggalkan Lala. "Tunggu!" Lala segera menangkap tangan Fikri. "Kok aku ditinggal?" Lala tahu, dari ekspresinya bocah itu mungkin kecewa padanya. "Maaf, apa sikapku menyinggungmu?" Fikri menatap Lala. Masih terlihat jelas dari sorot mata fikri, dia kecewa. "Tidak!" Fikri menunduk. "Hei!" panggil Lala menyentuh dagu Fikri. Mendongakkannya. "Maaf jika aku mengecewakanmu. Aku janji, apapun yang terjadi di dalam, aku akan menjaga sikap dan menjaga hatimu agar tidak kecewa lagi padaku. Maukah kamu memberi kakak yang cantik ini kesempatan kedua?" Fikri tergelak, melihat Lala yang mengedip-ngedipkan mata, merayu. "Mau ya? Mau?" Kini gadis itu malah sambil menggoyang-goyangkan tangan Fikri. "Oke! Tapi cium dulu!" Goda Fikri. Sekejab goyangan di tangannya berhenti dan langsung berubah jadi cemberut an Lala. "Dasar bocah m***m!" umpatnya, lalu meninggalkan Fikri, berjalan ke arah Rumah Sakit Jiwa duluan. Fikri tertawa. "Mbak, tunggu gua!" Di dalam Rumah Sakit. "Wah, mas ganteng sudah datang!" Sapa salah satu perawat perempuan. Fikri tersenyum. "Iya mbak Vivi yang manis! Pasti nungguin gua ya?" "Hai adek manis! Tumben telat!" Seorang perawat wanita lain menyapa. "Iya, kakak cantik! Ada sedikit urusan tadi!" jawab Fikri. "Hai, Tampan! Waaah tumben, ke sini bawa cewek!" celutuk perawat beda lagi. "Iya, Sayang! Mau ngenalin pacar gua ke ibu nih!" Fikri melirik Lala. Dan ingin tertawa ketika melihat gadis itu mendelik padanya. "Yah, bisa patah hati semua dong para perawat di sini!" Mereka tertawa. Setelah basa basi sebentar, Fikri pun pamit mau menjenguk ibunya bersama Lala. Mereka menuju ke ruang istirahat para pasien, karena kata salah satu perawat tadi ibunya menunggu di sana. "Kok kamu kenal dengan semua perawat di sini, Fik?" tanya Lala penasaran, sebab mulai dari masuk tapi, dari satpam hingga ke bagian pendaftaran kunjungan, semuanya menyapa Fikri. "Ya iyalah, orang ganteng gitu." "Cih, dasar!" Fikri terkekeh melihat ekspresi Lala yang sebal. Dibukanya pintu yang ada tulisannya "ruang istirahat" itu dengan pelan. "Hai, Sayang!" sapa Fikri pada seorang wanita yang duduk diam di kursi goyang. Fikri mengambil dua kursi atom, diletakkan di dekat wanita itu. Cowok itu mengisyaratkan agar Lala duduk di salah satu kursi yang di ambilnya. Sebelum ikut duduk, Fikri mencium kening wanita itu agak lama, seperti sedang menyalurkan kasih sayang darinya untuk wanita yang hanya diam saja itu. "Bagaimana kabar ibu hari ini? Sudah tersenyumkah?" tanyanya sambil duduk di dekat ibunya. "Maaf, hari ini Kiki agak telat datangnya. Karena tadi ada suatu urusan kecil." lapornya. Lala menoleh kaget. Kiki? Apa biasanya ibunya memanggilnya begitu? Dan apa tadi, dia telat gara-gara ada urusan? Apa tadi gara-gara aku yang terlalu lama di taman bunga. Batin Lala, ada rasa bersalah yang menyelusup mendengar kalimat Fikri tadi. "Apa ibu sudah makan? Tadi Kiki udah maem dengan teman-teman di taman bunga. Ibu tahu? Taman bunganya indaaah banget, makanannya juga enak. Besok kalau ibu sembuh, Kiki janji, pasti Kiki akan ajak ibu jalan-jalan ke sana!" Mata Lala mengembun, melihat Fikri begitu sabar bercerita pada ibunya, walau tidak mendapat respon sama sekali. "Oh ya. Kiki mau kenalin seseorang pada ibu." Fikri menatap Lala. Agak kaget cowok itu melihat mata Lala yang memerah. "Mbak, nggak papa?" tanyanya khawatir. Lala mengusap matanya sebelum air mata itu meluncur turun. Gadis itu menggeleng. "Nggak papa. Bolehkah aku kenalan sendiri dengan ibumu." Ada sedikit rasa haru yang menyeruak ketika mendengar permintaan Lala itu. Fikri langsung mengangguk. Lala memegang tangan ibu Fikri, meremasnya sayang. "Hai, Ibu! Aku Lala. Mbaknya Fikri. Eh bukan. Mbaknya Kiki." Lala terkikik geli, lucu rasanya memanggilnya Kiki. "Bukan, Bu. Dia tuh calon pacar Kiki!" Eyel Fikri, menggoda Lala. "Diem kamu, bocah!" ancam Lala. "Lihat, Bu. Anak ibu yang bandel ini. Pasti selalu saja suka menggoda. Nggak cuma menggoda, bocah usil ini juga senang sekali mengancam dengan ciuman." Adu Lala. Fikri tergelak. Dan mereka terus berdebat, saling lempar ejekan, seperti berebut saling mengadu pada ibunya Fikri. Beberapa menit kemudian, setelah jam menunjukkan pukul 22.30 malam. Seorang perawat mengingatkan mereka bahwa jam besuk sudah habis. Dan mereka pun berpamitan dengan ibu Fikri, walau diam saja, dan juga berpamitan dengan para perawat. Fikri menitipkan ibunya pada para perawat yang baik hati itu. Ketika sampai diparkiran, Fikri tidak langsung ke motornya. Tapi duduk di kursi panjang yang di sediakan di parkiran. "Kenapa?" tanya Lala. "Belum pengen pulang saja!" Lala paham, hati Fikri mungkin masih gundah. Gadis itupun menemani Fikri duduk di kursi. "Apakah keterlaluan, jika seumpama aku tanya tentang kondisi ibumu?" Fikri menoleh pada Lala. Gadis itu menatapnya lembut. Fikri tahu, Lala hanya berharap dia mau menceritakan masalahnya, agar beban dihatinya bisa berkurang. Fikri menengadah, tangannya di tarik ke belakang agar bisa menopang tubuhnya. "Ibu sudah di sana sejak gua SMA." Fikri mengawali. "Makanya setiap gua mau jenguk ibu, gua pasti pakai seragam SMA, gua harap dengan begitu, ibu mungkin bisa mengenali gua lagi." Lala diam, mendengar dengan penuh perhatian. "Ayah adalah laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Dia selalu saja menyakiti ibu. Apalagi jika ibu protes ketika ayah membawa wanita simpanannya pulang ke rumah. Dia pasti langsung menghajar ibu habis-habisan." Lala menahan napas kaget. "Waktu ayah memukul ibu, gua pernah melindungi tubuh ibu dengan tubuh gua, karena dulu waktu SMA, gua masih gampang emosi. Akhirnya karena nggak tahan, gua balik memukul ayah. Menghajarnya tanpa ampun. Dan saat itulah ibuku langsung syok dan seperti sekarang." Fikri tertawa, tapi ada luka di tawanya. Di tariknya tangannya, ganti ditekuk di atas lutut. Jari jemarinya saling bertautan. "Mungkin karena ibu sudah terlalu lama menahan semuanya. Mungkin dia syok karena terlalu berharap anaknya yang b******n ini jadi anak yang penurut kepada ayahnya. Tapi siapa yang bisa tahan dengan perlakuan kasar. Gua bukan malaikat, yang bisa memaafkan karena di sakiti." Cowok itu menghela napas panjang. "Kadang gua berpikir, ibu itu wanita setia apa wanita bodoh sih. Kenapa sudah di sakiti begitu banyak dan dilukai begitu parah, tapi tetap bertahan di samping ayah. Apa benar itu karena gua? Gua sendiri nggak yakin." Lala menyentuh lembut pundak Fikri. "Itu karena beliau menyayangimu, Fik. Mungkin beliau ingin kamu punya keluarga yang utuh." "Utuh di luar. Tapi pada hakekatnya, hancur di dalam." Fikri tertawa sinis. Ya. Lala nggak bisa menyalahkan Fikri. Ucapan bocah itu memang benar. "Apa Mbak Lala tahu? Yang memasukkan ibu ke Rumah Sakit Jiwa adalah ayahku. Suaminya sendiri. Karena dia nggak tahan melihat ibu yang seperti itu. Dia lebih memilih bersenang-senang dengan para pelacurnya." "Gua pun juga nggak tahan. Gua lari dari rumah dan bertemu dengan Saka. Saka-lah yang menasehati gua agar tetap menjenguk ibu walaupun itu hanya sebulan sekali. Kunjungan pertama begitu berat. Saka juga yang menemani gua. Gua hanya diam kayak orang b**o ketika kunjungan pertama. Dan malah Saka yang selalu mengajak bicara ibu walau nggak di respon. Awalnya aku merasa heran. Tapi Saka bilang, 'nggak papa nggak direspon, tapi aku yakin, bibi pasti mendengar semua kata-kataku'. Mulai saat itulah, hingga kini aku selalu rutin mengunjungi ibu setiap tanggal 16." Kini Lala mulai paham, kenapa para pegawai rumah sakit hampir semua mengenal Fikri. Dan Lala tahu satu lagi sisi lain dari Saka. Bosnya itu memang penuh kejutan. "Apakah Mbak Lala merasa malu sama gua? Karena punya ibu gila?" "Fikri, apa maksudmu!" Bentak Lala kaget. "Tega sekali kamu bilang bahwa ibumu gila!" Marahnya. "Dia hanya syok. Hanya terguncang. Bukan gila." Lala tiba-tiba berdiri. Entah mengapa kata-kata Fikri begitu melukainya. Gadis itu berderap ingin meninggalkan Fikri yang duduk di kursi. Tapi... Greb! Barru dua langkah, kakinya sudah berhenti karena Fikri memeluknya dari belakang. "Maaf, Mbak! Maaf!" pintanya meletakkan kepalanya pada pundak Lala. "Gua salah! Gua salah karena bilang begitu." Lala meraih kepala Fikri mengelusnya. "Jangan bilang begitu lagi ya! Beliau itu ibumu, beliau pasti menyayangimu. Jadi kamu juga harus balik menyayanginya." Fikri mengangguk-angguk di pundak Lala. "Gua juga sayang sama Mbak Lala. Apa Mbak benar-benar nggak bisa nerima gua jadi pacar mbak?" "Fikri!" peringat Lala. "Apa karena Saka? Apa mbak suka sama Saka?" Eh! "Nggak papa kok kalau Mbak suka sama Saka. Gua juga mau jadi selingkuhannya Mbak. Gua yakin Saka nggak akan keberatan!" Apa? "Gimana? Mau kan, Mbak?" Dasar bociiilll. Kenapa sih kalau ngomong selalu ngawur? "Kamu...!" Hampir saja Lala mau memarahi Fikri lagi tapi nggak jadi karena bocah itu tertawa ngakak dan memeluk Lala semakin erat. "Kamu ngerjai aku ya? Dasar!" Lala menggeplak kepala Fikri pelan sambil tertawa. Fikri pun juga tertawa. Apa jika gua serius, Mbak Lala mau? Batinnya bertanya dan berharap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD