18. Mimpi Buruk Laura

1329 Words
"Aaaa..." teriak Laura kaget ketika sesuatu yang panas menyentuh punggungnya. Wanita yang duduk tertidur di meja makan itu, terperanjat dan langsung bangun berdiri. "Kamu, enak banget malah tidur!" Siska berdiri pongah di dekat Laura dengan memegang sebatang rokok yang sudah tersulut api. "Apa makan malam sudah siap?" Laura memegang punggungnya yang terasa panas dan nyeri. Wanita iblis itu pasti sudah menyundut putung rokok yang menyala pada punggung Laura. "Be-belum mbak!" jawab Laura takut-takut. Brak! Siska menendang kursi bekas tidur Laura keras hingga kursi itu terjengkang. Laura menunduk sambil menutup telinganya, takut. "BELUM?" teriak Siska. "BELUM KAMU BILANG!" Langkah Siska berderap mendekati Laura. "Kamu sudah bosan hidup? HAH!" Dijambaknya rambut Laura hingga kepalanya menengadah ke atas. "Mbak! Sakit mbak!" rintihnya mencoba menahan tangan Siska agar tidak terlalu kuat menjambak. Tak hanya sampai disitu, Siska bahkan menyeret Laura dengan masih tetap menjambaknya, mendekati kompor dan membenturkan kepalanya ke kompor. Bruak! "Makan tuh kompor!" umpatnya. Kepala Laura langsung terasa pening dan berdenyut. Pandangannya buram dan terasa berkunang-kunang. Wanita itu langsung ambruk duduk di lantai. Siska berjongkok di dekatnya. "Gimana? Mau tidur lagi?" bisiknya dengan senyum mengerikan. Laura menggeleng. Wanita itu benar-benar takut dengan kakak iparnya ini. Belum puas, Siska, wanita iblis itu kembali menjambak Laura. Dengan paksa, membuatnya berdiri, dan menyeretnya lagi. "Mbak! Sudah mbak! Kumohon!" Rintih Laura. Siska melemparkan tubuh Lala sampai menabrak tembok. Duak! Rasa nyeri langsung menyerang ke seluruh tubuh Laura. Tubuhnya yang kecil tak seimbang dengan tubuh kakak iparnya yang lebih besar. Dia tak sanggup untuk melawan. Siska menghampiri Laura yang terbaring miring setelah terpelanting ke tembok. Lagi-lagi wanita itu menjambaknya sampai beberapa rambut Laura patah di jari-jari Siska. Wanita itu juga benci sekali dengan rambut Laura yang tebal dan lembut. Dia membenci apapun yang ada pada Laura. Entah itu rambut, wajah, tubuh, dan apapun yang melekat pada diri wanita malang itu. "Gimana? Masih kurang?" tanya Siska. Laura hanya diam, tak menjawab. Dijawab atau pun tidak, jika wanita itu ingin menyiksanya maka pasti akan disiksa. "Mbak!" Tegur Brian, yang baru masuk dapur dan melihat kekacauan yang diciptakan kakaknya. Dengan cepat pria itu menghampiri Laura. Mendongakkan dagunya, memeriksa luka bekas benturan tadi. "Sudah kubilang kan! Jangan menyakiti bagian tubuh yang terlihat. Istriku itu harus terlihat cantik sempurna, biar bisa disombongkan ke teman-teman kantor. Aku nggak mau lagi ada luka yang terlihat seperti ini!" marah laki-laki itu. Ada sesuatu yang mencekik tenggorokan Laura mendengar kata-kata suaminya. Ada yang teremas begitu sakit melihat suaminya yang lebih mencemaskan penampilan yang bisa dibanggakan daripada bertanya keadaannya. "Cih! Baru cantik segitu saja udah dibanggain dan dipamerin ke mana-mana!" "Apa Mbak buta?" Brian mendelik menatap kakaknya. "Kecantikan Laura itu seperti Dewi. Alis yang runcing seperti Kim Kardashian, mata lentik yang seperti Scarlett Johansson, hidung kecil dan dagu manis seperti Amber Heard, dan yang paling utama adalah bibir seksi yang seperti Emily Ratajkowski. Jadi aku peringatkan sekali lagi. Jangan pernah mencoba merusak hasil karya Tuhan yang ini. Kalau nggak, Mbak Siska akan berurusan denganku!" Selalu dan selalu seperti itu. Siska benar-benar sebal ketika Brian memuji Laura dengan begitu sempurna. Ingin sekali sekali wanita itu merusak wajah istri Brian, merobek wajah cantiknya, mengelupas kulit mulusnya dan mencabik-cabik tubuhnya yang indah. Siska benar-benar muak dengan wanita yang bernama Laura itu. "Ayo, kita ke kamar!" ajak Brian. "Akan kuobati lukamu. Besok harus sembuh, karena lusa kita harus menghadiri acara yang penting." Dengan hati-hati, Brian memapah Laura. Membawa wanita itu masuk ke dalam kamar mereka. Melihat itu, membuat Siska semakin ingin marah dan semakin ingin menghancurkan Laura. Sampai di kamar, Brian mendudukan Laura di pinggir ranjang. Menyikap poni Laura dan mengamati lukanya. "Ah kayaknya lusa nggak bakalan sembuh nih luka." kesalnya. Pria itu beranjak, mengambil kotak P3K yang terletak di dalam lemari. Membawa kotak itu dan diletakkan di dekat Laura. Diambilnya salep khusus untuk luka. Mengoleskannya sedikit pada luka di kening Laura. Laura memejam, sakit. Tapi tidak ada suara apapun yang keluar dari mulutnya, bahkan sedikit rintihan. "Apa ada luka yang lain?" tanya Brian setelah selesai mengoles luka di kening. Laura menggeleng. "Benarkah?" Wanita itu mengangguk. "Tapi aku tadi lihat, sepertinya Mbak Siska menyundutkan rokoknya ke punggungmu." Laura terbelalak kaget. Berarti dari awal Brian tahu seberapa kejam kakaknya menganiayanya? Dan pria itu hanya diam melihat? Lagi, satu goresan luka terukir lagi di hati Laura. Brian memegang kancing baju Laura yang paling atas. "Jangan bohong!" Pria itu membukanya. "Nggak baik sama suami sendiri berbohong!" Dua kancing di bawahnya juga dibukanya. "Nanti dihukum lho!" Ancam Brian dengan tersenyum manis. Tapi bagi Laura, senyum itu sungguh senyum yang menakutkan. Pria itu berhasil meloloskan semua kancing di baju Laura, dan melepasnya secara perlahan. "Berbalik!" Perintahnya. Laura berbalik dengan pelan, membelakangi Brian. "Nah, kan! Apa kubilang, ada luka di sini!" Brian mengambil salep untuk luka bakar. Mengambil sedikit dan mengoleskannya. Lagi-lagi Laura hanya bisa menahan rintihannya dengan terpejam. Brian bergeser mendekat ke Laura. Menempelkan tubuhnya pada punggung polos Laura. Mencium pundak belakangnya dan menghirup aroma tubuh Laura. Laura merasa seluruh bulu kuduknya merinding. Hangat nafas Brian begitu terasa di kulitnya. "Kenapa aroma tubuhmu begitu enak sekali?" tanyanya dengan suara mulai serak. Laura sudah merasa takut duluan. Sikap Brian yang seperti ini lebih menakutkan dari pada siksaan Siska. Brian memeluk tubuh istrinya dari belakang dan mencium pundaknya lagi. Belum puas hanya dengan mencium, pria itu pun menggigitnya kuat. "Aduh ... !" Reflek Laura langsung menghindari gigitan Brian. "Kenapa? Sakit?" tanya Brian dengan raut wajah tersinggung karena Laura menghindarinya. "Aku mohon jangan, Brian! Aku mohon!" Marah, Brian meraih bahu Laura kemudian menggigitnya lagi lebih keras. Laura berusaha untuk diam. Jika dia berteriak dan menghindar lagi, bisa-bisa Brian berubah semakin ganas. Pria ini memang mempunyai kelainan seksual sadisme. Di mana dia hanya bisa puas jika sudah menyakiti secara fisik ataupun mental pasangannya. Itulah yang membuat Laura takut setiap Brian menginginkannya. Gigitan di bahu berhenti. Baru saja Laura bernafas lega, tiba-tiba Brian beranjak berdiri dan berjalan ke arah saklar lampu. "Sepertinya hari ini kamu harus memuaskanku sayang!" Lalu pria itu mematikan lampu dan gelap. "Aku mohon! Jangan!" Rintih Laura di dalam kegelapan. Dia tidak bisa melihat apapun. "Jangan! Tolong ampuni aku! Aku mohon!" Rintihnya lagi, air matanya menetes. "Kak! Bangun kak! Kak!" Apa ini? Bukankah ini suara Saka? Batin Laura. "Mbak Lala! Bangun, Mbak! Apa, mbak nggak papa?" Lala? Dia memanggilku Lala? Ini seperti suara Danu. "Mbak Lala! Bangun! Mbaaakkk!" Teriak Fikri kalut. Dan ... Cetas! Lala langsung membuka mata, kaget. "Ah, syukurlah!" Desah Saka, Danu, Candra dan Fikri bersamaan. Masih terasa pusing, Lala berusaha untuk bangun. "Berbaring saja, Kak! Kakak lagi sakit!" Saka menahan tubuh Lala agar tetap berbaring. Sakit? Aku sakit? Tanya Lala pada diri sendiri. Melihat Lala yang bingung, Saka memegang tangannya dengan lembut. "Maaf, Kak! Kami masuk ke kamar Kakak karena khawatir. Sudah jam 08.00 pagi, tapi Kakak belum juga turun ke bawah. Tidak biasanya. Akhirnya aku membuka pintu dengan kunci cadangan. Dan benar saja, ternyata kakak benar-benar sakit." Saka memberi penjelasan. "Apa iya? Aku memang merasa kurang enak badan, tapi aku nggak tahu jika aku benaran sakit." Fikri mendekat, meletakkan handuk basah di kening Lala. "Maaf ya, Mbak! Gara-gara gua semalam ngajak Mbak jalan-jalan, sekarang Mbak jadi sakit!" sesalnya. "Nggak papa, Fik! Bukan salahmu! Aku malah kaget kalau aku sakit." Lala mencoba berkelakar sambil tertawa. "Jangan sakit lagi, Mbak! Gua khawatir! Kami semua khawatir!" Rengek Fikri. Lala tersenyum. Dilihatnya satu persatu teman serumah huninya. Saka, Danu, Candra dan Fikri, mereka semua tulus khawatir padanya. Mereka semua yang baru dikenalnya begitu memperhatikannya, peduli padanya. Gadis itu terenyuh mendapati dirinya yang masih beruntung bisa mengenal mereka. "Terima kasih, semuanya! Terima kasih!" "Boleh peluk, Mbak?" Lagi-lagi Si Bocil yang merengek "Boleh!" Lala tersenyum. "Semua boleh peluk. Semuanya sini!" Lala duduk lalu merentangkan tangan, menyambut pelukan mereka Fikri yang pertama, merangsek masuk dalam pelukan Lala sebelah kiri, Candra sebelah kanan, Danu berjalan ke arah belakang Lala dan memeluknya dari belakang, sedangkan Saka, cowok itu hanya duduk sambil memegang kaki Lala yang terjulur di depannya. Seperti memberitahunya bahwa sekarang Lala tidak perlu takut, tidak perlu khawatir, karena dia dan semuanya, pasti akan selalu menjaganya, merawatnya dan melindunginya. Saka berjanji.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD