Sudah lebih dari dua bulan Lala ikut gabung dengan Para Pangeran Lele. Entah itu di warung atau di rumah huni, mereka selalu kompak, saling bekerja sama dan saling tolong menolong, bahu membahu. Perbedaan pendapat, pertengkaran, ngambek, itu sudah menjadi hal yang biasa bagi mereka. Walau begitu, mereka selalu mendapat jalan keluar dari setiap permasalahan yang mereka hadapi.
Salah satunya adalah permasalahan Lala. Sejak sakitnya Lala yang dulu, yang dia sampai mengigau, lama sekali mereka berdebat untuk gadis itu. Fikri, yang malamnya mengajak Lala kemudian besoknya Lala sakit, dimarahi habis-habisan oleh Candra dan Danu. Si bocah paling kecil yang suka ngeyel itu, hari itu, diam tak berkutik. Dia juga merasa bersalah atas sakitnya Lala. Cowok itu menyesal karena mengajak keluar Lala hingga lewat tengah malam. Padahal dia tahu, pasti gadis itu capek setelah dua hari jalan-jalan di pantai dan taman bunga.
Saka berpendapat, sejak Lala sakit itu, dia melarang Lala untuk ikut membantu di warung. Gadis itu ditugaskan Saka untuk membantu menyiapkan bumbu dan bahan di rumah saja. Tapi Lala menolak, dia nggak mau hanya berpangku tangan disaat yang lainnya bekerja keras. Candra dan Fikri juga menolak, bagi mereka tak ada mbak kesayangan, maka nggak seru, nggak ramai, dan nggak asyik. Danu pun sebenarnya ikut menolak, tapi nggak seheboh Candra dan Fikri. Bagi Danu, cara plating Lala di masakan mereka sungguh cantik. Dan tidak dapat dipungkiri kalau pelanggan banyak yang suka ketika melihat makanan pesanannya begitu tampil dengan apik seperti di restoran-restoran mahal.
Saka tidak dapat membantah mereka semua, apalagi melihat Lala yang begitu bahagia dan begitu menikmati pekerjaan yang dilakoninya. Apalagi saat plating di atas piring, gadis itu terlihat begitu menjiwai caranya menghias makanan. Dia terlihat begitu senang dan bangga ketika pelanggan menyukai tatanan makanannya. Dan bagi Saka, satu alasan itu sudah cukup baginya untuk membiarkan Lala tetap ikut membantu di warung.
Malam ini entah mengapa Lala begitu merasa capek. Bukan hari ini saja sebenarnya, udah lebih dari tiga hari ini Lala merasa begitu cepat capek. Mungkin karena untuk bulan ini warung belum pernah libur sama sekali. Dan Saka jarang bisa ikut ke warung. Dalam dua Minggu ini, Saka jarang ada di rumah dan jarang bisa membantu di warung. Lala tidak tahu, apa yang di lakukan cowok itu di luar rumah dan di luar warung. Tidak ada bayangan sama sekali mengapa Saka jarang bisa ditemui. Bahkan seingat Lala, seminggu ini dia belum melihat Saka sama sekali. Cowok itu bahkan belum pulang selama seminggu.
Ada yang terasa kosong di hati Lala tidak bisa melihat Saka. Ada yang kurang rasanya di saat tidak melihat wajah dingin bosnya. Ada yang hilang rasanya tidak mendapati perhatiannya.
Apa aku merindukannya?
Lala tersentak dengan pikirannya sendiri. Bagaimana bisa dia berpikir seperti itu dengan statusnya sekarang ini.
Dasar bodoh! Bodoh! Apa yang kamu pikirkan? Batin Lala mengumpati dirinya sendiri.
"Kenapa, Mbak?" tanya Danu melihat Lala duduk di kursi dekat dapur. Kepalanya diletakkan di meja depannya. "Mbak capek?"
"Cuma dikit." Jawab Lala sambil menegakkan tubuhnya kembali. "Ada yang bisa aku bantu, Dan?" Tawarnya melihat Danu yang masih sibuk plating makanan.
"Nggak perlu, Mbak!" Cegah Danu ketika melihat Lala mau berdiri, membantunya. "Udah! Mbak duduk saja. Cuma kurang dua pesenan aja kok. Lagian ini sudah nggak terlalu ramai kayak tadi. Mbak istirahat aja dulu!"
"Benarkah? Tidak apa-apa?"
"Benar, Mbak! Nggak papa! Udah, Mbak duduk dulu aja nggak papa!"
"Oke! Makasih ya, Dan!" Lala kembali duduk. Tapi kali ini tidak menelungkupkan tubuhnya ke meja lagi, tapi menengadahkan wajahnya ke atas. Menyandar pada sandaran kursi dan melihat hitamnya langit yang bertabur bintang.
"Dan!" panggil Lala. "Boleh tanya sesuatu?"
"Boleh! Tanya saja, Mbak!" jawab Danu tanpa melihat Lala. Tangannya sibuk menyiapkan pesanan.
"Saka ke mana ya? Udah seminggu dia belum pulang."
Tiba-tiba tangan Danu berhenti bergerak. Ada rasa kaget yang agak menyentaknya mendengar pertanyaan Lala. Sebenarnya bukan karena pertanyaannya, tapi lebih ke nada dari pertanyaan itu sendiri. Nadanya seperti orang yang bertanya di mana seseorang yang dia rindu. Danu tak bisa memungkirinya, bahwa dia cemburu.
"Kenapa Mbak?" Mencoba menetralkan perasaannya, Danu kembali bergerak melanjutkan kegiatan yang sempat terhenti tadi.
"Nggak papa sih! Cuma aneh saja. Udah sebulan ini, Saka jarang di rumah dan jarang di warung." Lala masih menengadah, menatap kelamnya langit. Sebenarnya udah lama gadis itu ingin bertanya tentang Saka, tapi dia ragu dan malu.
"Nggak aneh juga sih Mbak sebenarnya. Saka memang begitu. Kadang full satu bulan di rumah huni dan di warung. Kadang nggak pulang selama seminggu seperti ini. Kadang malah pernah juga sebulan dia tidak pulang. Dan bayaran kami, dia transfer ke rekening kami masing-masing."
"Benarkah?" Lala yang kaget segera menegakkan tubuhnya melihat ke arah Danu.
"He'em!" Danu mengangguk. "Bocah itu memang nggak bisa ditebak apapun yang dilakukannya."
"Apa kamu, kalian bertiga, nggak pernah bertanya padanya? Kenapa nggak pulang?" Lala begitu penasaran dengan sikap Saka yang jarang pulang ini.
"Nggak, Mbak!" Satu plating selesai, dan Danu mengambil satu bahan makanan lagi untuk ditata dan dihias. "Kami, entah kenapa, seperti sudah punya kesadaran sendiri-sendiri. Kami tidak pernah bertanya apapun tentang apa yang Saka lakukan di luar rumah dan diluar warung. Kami hanya percaya padanya. Bahwa, apapun yang dilakukannya pasti punya alasan."
Badan Lala terasa lemas mendengar jawaban Danu. Sungguh, gadis itu entah kenapa begitu terbawa perasaan malam ini. Dia, nggak tahu kenapa, begitu ingin tahu lebih tentang Saka, atau ingin tahu wajahnya. Bertemu dengannya.
Kecewa, Lala kembali menyandarkan tubuhnya. Menengadahkan lagi wajahnya ke atas. Tapi tidak memandang pekatnya langit lagi, karena dia merasa hatinya sudah hitam pekat dan kelam untuk malam ini. Jadi dia hanya memejamkan mata saja. Menikmati suara-suara yang masuk ke gendang telinganya. Suara motor mobil yang lewat. Suara obrolan para pelanggan yang datang makan di warung. Suara teriakan kang Maman yang terdengar berterima kasih pada pelanggan.
"Mbak kenapa lemes begitu?" tanya Danu.
Lala yang lagi gundah hatinya tidak ingin membuka matanya. Masih dengan terpejam dia menjawab. "Nggak papa. Cuma pengen merem aja!"
"Benarkah? Bukannya karena kangen Saka?"
Lala yang mendengar ledekan dan godaan Danu hanya tersenyum, lagi-lagi gadis itu menjawab tanpa mengubah posisinya."Nggak! Ngapain kangen Saka segala." Bohongnya. Dia masih berusaha menikmati suara-suara yang terdengar di telinga. Suara klakson mobil, suara kompor yang di matikan dan suara ...
"Benarkah? Nggak kangen aku?"
Suara Saka.
Kaget. Lala segera membuka mata. Dan lebih kaget lagi, ketika dia melihat Saka berada di atasnya. Menatapnya intens.
Cowok itu berdiri di belakang Lala dan mencondongkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya pada wajah Lala yang menatap ke atas. Menyentuh lehernya dengan kedua tangannya. Merasakan hangat kulit Lala yang begitu dirindukannya.
"Sa-Saka?"
"Iya, ini aku, Kak. Saka!"
Lala menelan ludah dengan susah payah. Posisi ini, suasana ini, rindu ini, membuat pikiran Lala melayang entah ke mana. Apalagi melihat wajah dan bibir Saka dengan kondisi tidak wajar seperti ini.
"Jadi? Benarkah? Kakak nggak kangen aku?" tanya Saka lagi sedikit menuntut tapi juga menggoda.
"Sa-Saka, kurasa kita harus mengubah posisi kita dulu."
"Kenapa?" Suara Saka terdengar mulai serak.
"Nggak enak dilihat anak-anak yang lain."
"Mereka semua sedang sibuk"
"Tapi ada Danu di sini."
"Tidak ada. Dia sudah kusuruh pergi."
Benarkah? Apa Danu tidak ada di sini? Makanya tadi aku mendengar seperti suara kompor dimatikan? Batin Lala. Gadis itu ingin memastikan perkataan Saka. Tapi dengan posisi seperti ini, apalagi Saka memegang lehernya, dia sama sekali tidak bisa berkutik, apalagi melirik. Tatapan Saka seperti sudah mengunci mata Lala agar hanya menatap padanya.
"Jadi? Apa benar, Kakak tidak kangen aku?" kejar Saka. Cowok itu kekeh ingin mendengar jawaban Lala.
"Apa aku harus menjawab pertanyaan itu?"
Saka mengangguk.
"Iya. Aku kangen kamu. Puas?" Jawab Lala agak sebal. Tapi sambil melirik ke samping kiri. Dia malu menjawab itu sambil menatap Saka.
Saka tersenyum. "Jadi? Sebagai pengobat kangen, apa perlu aku mencium Kakak?"
"Apa?" Lala yang kaget kembali menatap Saka. "Kamu gila?"
"Iya. Aku gila karena Kakak begitu menggemaskan."
Gila! Cowok ini benar-benar gila! Apa yang dilakukannya selama di luar rumah hingga ketika pulang Saka berubah menjadi gila kayak gini. Ini kan di tempat umum. Di warungnya. Ada anak lain juga. Apa kewarasannya tertinggal di jalan tadi?
"SAKAAA ...!" Sebuah teriakan menyelamatkan Lala.
Secepat kilat Saka segera melepaskan pegangannya pada leher Lala dan segera menarik dirinya dari tubuh Lala.
Dan Lala sendiri, juga segera menegakkan tubuh dan beranjak dari kursi. Berdiri menjauh dari Saka.
Fikri, yang berteriak tadi, secepat kilat langsung berderap mendekati keduanya. Berdiri di depan Lala, dan membelakanginya. Berlagak seolah melindungi kekasihnya dari musuh yang ingin merebutnya.
"Jangan curang ya!" peringatnya. "Baru datang langsung merebut Mbak Lala. Enak aja!"
Saka menepuk dahinya frustasi dengan kelakuan satu bocah ini. "Siapa yang merebut siapa, Bocah?"
"Lo! Lo tadi berusaha merebut Mbak Lala. Gua lihat tadi lo berusaha nyium Mbak Lala kan. Ngaku aja!" Fikri terbakar emosi.
Lala yang mendengar itu, wajahnya berubah merah. Malu.
Saka pun hanya diam. Tidak berusaha menyangkal tuduhan Fikri.
"Lo nggak tahu kan, bagaimana usaha gua menjaga Mbak Lala tiga hari ini?" Ini bukan pertanyaan, ini lebih ke pengaduan yang meminta pujian Saka. Emang dasar Si Fikri, bocah itu memang seperti itu. "Gua selalu bertanya, Mbak Lala pengen makan apa hari ini? Mbak Lala bagaimana keadaannya hari ini? Apa Mbak capek? Pusing? Sakit?"
Lala yang mendengar aduan Fikri, hanya menutup wajahnya saking malunya. Bocah ini benar-benar 'sesuatu'.
Saka hanya mengangguk. "Iya. Kamu memang paling jago dan hebat!" Puji Saka memberikan jempolnya ke arah Fikri. Cowok itu mengerti apa kemauan si bocah.
"Lo tahu nggak kenapa gua lakuin itu?" Fikri belum mau berhenti.
"Kenapa emang?"
"Bos!" Pekik Fikri sebal setengah mati. "Lo kok cuek banget sih! Bukannya tadi lo udah liat wajah Mbak Lala. Kenapa lo masih tanya kenapa?"
Saka menatap Fikri tidak mengerti.
"Wajah Mbak Lala pucat, Saka!" Jawab Fikri penuh penekanan. Greget dan sebal melihat kelemotan bosnya. "Udah tiga hari ini, Mbak Lala kayak gitu!"
Saka kaget mendengar laporan Fikri yang ini.
Lala pun juga kaget. Bocah itu memang perhatian. Danu dan Candra pun juga perhatian. Cuma Lala tidak menyangka kalau Fikri begitu memperhatikannya sedetail itu. Ada rasa haru untuk bocah yang biasanya hanya suka bermanja itu.
Saka langsung menghampiri Lala, melepaskan kedua telapak tangan Lala yang menutupi wajahnya. Ya benar! Wajah Lala nampak begitu pucat. Saka merutuki dirinya sendiri karena tidak memperhatikan Lala dengan lebih teliti.
"Kakak sakit?" tanyanya khawatir.
Lala memang merasa kurang enak badan. Tubuhnya terasa lemas, makanan pun juga susah masuk. Kadang setelah makan pun juga mual dan muntah. Dia juga pusing dan belum sembuh walau sudah minum obat. Tapi dia tidak merasa sesakit itu hingga membuat Saka dan Fikri sangat khawatir.
"Mungkin cuma masuk angin." jawab Lala.
"Benarkah?"
"Iya!"
"Baiklah kalau begitu, Kakak istirahat dulu aja!" Saka mendudukkan kembali Lala ke kursi tadi. "Warung sepertinya mulai ramai lagi. Danu dan Candra juga terlihat kewalahan. Aku dan Fikri mau membantu mereka dulu. Kakak di sini saja. Oke?"
Lala hanya mengangguk.
Dilepaskannya jas yang di pakai Saka. Menyelimutkannya pada tubuh Lala agar tidak terlalu dingin kena angin malam.
Lala baru sadar. Ternyata Saka masih berpakaian formal layaknya pekerja kantoran. Kemeja putih dengan dasi hitam, celana kain dan sepatu pantofel hitam, membuat cowok itu terlihat tidak seperti biasanya. Di mata Lala, cowok itu dalam sekejab berubah seperti cowok dewasa yang penuh tanggung jawab. Dan sekali lagi, tanpa diinginkannya, gadis itu lagi-lagi terpesona pada bos brondongnya.
"Ingat! Istirahat saja! Nggak usah ikut membantu!" perintah Saka sekali ini.
Lala mengangguk meyakinkan.
Setelah yakin Lala menuruti kemauannya, Saka beranjak, menyusul Fikri yang sudah lebih dulu pergi membantu yang lain.
Gadis itu masih diam menyaksikan bagaimana sibuknya Para Pangeran melayani pelanggan yang berjubel berdatangan. Danu bahkan kuwalahan antara menyiapkan masakan dan membuat minuman pesanan pelanggan. Karena merasa nggak enak jika berdiam diri saja. Akhirnya Lala memaksa dirinya ingin membantu yang lain. Tapi tiba-tiba, ketika baru saja berdiri, pusing yang terasa sudah mereda tadi, langsung menghujam kepalanya hingga gadis itu oleng.
Lho kenapa ini?
Dan langsung ambruk.
Lalu gelap.
Pingsan.
######
Lala mengerjap-ngerjap. Cahaya yang begitu terang membuat matanya silau. Apalagi kepalanya yang masih terasa sangat berat dan pusing. Seperti ada sebuah batu besar yang mengganjal di kepalanya.
"Mbak, sudah sadar!" Candra yang bertanya. Dia yang pertama menyadari kalau Lala siuman.
Lala masih diam, belum sanggup menjawab. Dia masih berusaha menyesuaikan dirinya dengan keadaan sekitar.
"Apa Mbak Lala nggak papa?" Ganti Danu yang bertanya.
Setelah beberapa detik, akhirnya Lala sudah benar-benar bisa melihat sekeliling.
Apa ini di rumah sakit? batin Lala melihat kondisi ruangan yang ditempatinya. Semua bercat putih, dan ada aroma desinfektan yang kuat, khas rumah sakit.
Ada Candra dan Danu di samping kanan kirinya. Ada Fikri dan Saka di belakang keduanya. Mereka semua menunggu dan menanti dengan sabar hingga Lala siuman.
Tidur berbaring dengan ditatap empat pasang mata cowok, membuat tubuh Lala serasa memggelenjar, nggak enak. Walau sudah ditutup selimut, tetap saja rasanya kurang nyaman. Lala berusaha untuk duduk, tapi Danu mencegahnya.
"Aku udah nggak papa! Punggungku rasanya pegal jika tiduran terus!" Lala memberi alasan. Dan kali ini Danu membiarkannya duduk.
"Kenapa nggak bilang kalau Mbak sakit?" tanya Danu.
"Kenapa malah nekat ikut ke warung kalau nggak enak badan sih Mbak?" protes Candra.
"Kenapa Mbak Lala bandel banget sih! Dibilangin disuruh istirahat juga, masih aja nekat ikut bantu!" Fikri ngedumel.
Baru saja Lala mau mangap menjawab semua omelan para cowok, tiba-tiba pintu ruang inapnya terbuka. Seorang dokter dan seorang perawat masuk ke dalam kamar.
"Selamat malam! Tuan-tuan dan Nyonya!" Sapa dokter ramah. "Selamat atas kabar gembira yang akan saya sampaikan."
Kelima orang itu saling berpandangan bingung mendengar penuturan sang dokter.
"Selamat atas kehamilan Nyonya, semoga bayi dan ibunya sehat dan lancar sampai lahiran." Si dokter tersenyum.
Kelima orang itu, dari yang bingung berbarengan, sekarang ganti syok berjamaah.
Apa??? Hamil???
"Tapi ngomong-ngomong, siapa dari keempat Tuan ini yang ayah si bayi?" Bingung sang dokter menatap Saka, Fikri, Danu dan Candra bergantian.
A-ayah si bayi??? Batin keempat cowok syok.