22. Candra

1733 Words
Setelah mendapat kabar yang mengejutkan itu. Mereka kembali ke rumah dengan keadaan yang hening. Tak ada pertengkaran, tak ada becandaan, tak ada olok-olokan seperti biasa, mereka semua diam. Bahkan ketika mereka semua kumpul di meja makan untuk sarapan di pagi berikutnya, mereka masih diam. Baru kali ini mereka berkumpul tanpa ada sapaan yang berarti. Kabar hamilnya Lala benar-benar mengguncang seluruh penghuni rumah huni. "Mbak!" Tak tahan, Fikri yang pertama kali buka suara. Lala yang hampir menyendokkan makanan ke mulutnya, berhenti dan memandang Fikri. "Mbak hamil sama siapa?" tanyanya langsung, ada nada yang begitu kecewa dalam pertanyaannya. "Aku yakin, nggak mungkin dari kami berempat ada yang menghamili Mbak. Jadi Mbak bilang saja. Mbak habis tidur dengan siapa?" Tuduh Fikri dingin. Tak ada nada manja lagi pada setiap kalimatnya. Tak ada kata pemujaan lagi pada gadis itu. Semua tentang kekecewaannya. Ada sesuatu yang seperti mencubit hati Lala mendengar tuduhan Fikri. Dia tidak menyalahkannya. Dia paham betul atas sikap Fikri yang kritis padanya. Karena dia begitu kecewa dengan Lala. "Maaf, Mbak! Jujur, sebenarnya aku juga sangat kaget." Danu menimpali. "Sebejat-bejatnya kami, kurasa kami nggak akan menghamili Mbak!" "Jadi katakan!" sambung Fikri. "Mbak habis tidur dengan siapa? Apa Mbak itu seorang p*****r? Bisa dengan mudah tidur dengan laki-laki sembarangan?" Lala sangat kaget dengan tuduhan Fikri kali ini. Kata-katanya sangat menghujam hati Lala. Sakit. Sungguh sangat sakit. Cowok yang biasanya bermanja padanya, lengket padanya, selalu memujanya, mengeluarkan kata-kata yang bahkan tak pantas dikatakan untuk orang asing. Tapi cowok itu, mengatakannya pada Lala, pada gadis yang sempat disayanginya. Memang benar, sakit yang disakiti orang asing, tak sesakit ketika disakiti orang dekat. Lala hampir saja berdiri, ingin keluar dari ruang makan sebelum mendengar suara tamparan yang begitu keras. PLAK! Candra sudah berdiri dari kursinya dan menampar Fikri kuat. "Lo! Kalau lo nggak bisa ngontrol omongan lo, bukan hanya gamparan yang lo dapat. Gua pasti bunuh lo saat ini juga." ancam Candra penuh penekanan. Fikri tak terima, tapi melihat emosi Candra, dia nggak berani membalas. Kedua cowok itu sudah terbiasa bertengkar, saling mengejek. Tapi untuk emosi Candra yang ini, Fikri baru melihatnya hari ini. Cowok itu tidak main-main dengan amarahnya. "Kemana rasa manja lo ke Mbak Lala yang selama ini lo pamerkan? Kemana perginya semua kecemburuan lo setiap ada dari kami yang mendekati Mbak Lala? Kemana menguapnya semua perhatian lo yang selama ini lo tunjukkan?" Berondong Candra pada Fikri yang menunduk. Melihat Fikri yang diam saja nggak bisa menjawab, Candra semakin muntab. "KEMANA? HAH? KEMANA?" "Lo dengan seenak udel menuduh Mbak Lala tanpa bukti. Bahkan tanpa bertanya dulu padanya! Lo yang seenaknya sendiri membuat kesimpulan tanpa tahu detailnya. Apa lo tahu rasanya di tuduh tanpa diberi kesempatan untuk menjelaskan?" "Lo emang b******n, Fik! b******k sebrengsek-brengseknya!" Setelah mengeluarkan semua unek-uneknya, Candra pergi keluar dari kursinya. Menghampiri Lala dan mengamit tangannya. "Ayo, Mbak! kita pergi! Jangan mendengarkan apapun yang b******n itu katakan!" Lalu menarik Lala keluar dari ruang makan, menuju pintu keluar lalu masuk garasi. Danu mengambil kunci mobil disaku bajunya. Membuka pintu penumpang buat Lala, lalu memaksanya masuk. Dia sendiri, memutari mobil, masuk ke tempat pengemudi dan langsung menstaternya. Membawa Lala keluar dari rumah. Tinggal mereka bertiga masih di dalam ruang makan. Mereka juga mendengar suara mobil Candra yang keluar rumah, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain diam. "Candra benar!" Saka memulai percakapan. "Sangat mudah menyukai seseorang ketika kita melihat kelebihannya, tapi ketika kita dihadapkan pada kekurangan seseorang itu, apakah kita masih menyukainya atau meninggalkannya? Yang lebih parah, apakah kita malah menyalahkannya? Di situlah ujiannya!" Saka berdiri, dan keluar dari ruang makan. Membiarkan dua orang yang yang masih berdiam diri mengoreksi kesalahan masing-masing. Walau Danu cuma bilang kalau dia kaget dan mengklaim dirinya sendiri tak mungkin menghamili Lala, cowok itu juga sangat merasa bersalah. Gimana pun kata-katanya itu juga termasuk menuduh Lala tanpa mau bertanya lebih dulu. Dan Fikri, tentu cowok itu yang paling merasa bersalah. Dia, karena kecewa yang begitu besar hingga emosi, sampai melampiaskannya pada gadis yang sempat mencuri hatinya itu. Dia merasa benar-benar bodoh dan tidak tahu diri. Padahal Mbak Lala selama ini selalu baik padanya. Tapi dia dengan seenaknya sendiri malah membuat Mbak kesayangannya terluka karena dirinya. Di satu waktu, di tempat yang lain. Candra menyetir mobil dengan kecepatan tinggi. Kata-kata Fikri benar-benar membuatnya marah. Apalagi ketika ingat, cowok itu berkata 'p*****r' tanpa sadar dia menaikkan lagi kecepatan mobilnya, dia bahkan lupa membawa Lala dalam mobilnya. Lala melirik Candra yang sedari keluar rumah tadi hanya diam. Lala tahu cowok itu emosi, tapi dia nggak tahu apa yang membuatnya sangat emosi seperti ini. Disentuhnya lengan Candra dengan lembut. Seperti tersadar oleh sentuhan Lala, Candra langsung menurunkan kecepatan mobil. "Maaf, Mbak! Apa Mbak Lala takut?" "Nggak! Aku nggak takut akan hal itu!" Lala menggeleng dan tersenyum. " Aku malah takut dengan apa yang menjadi asal muasal emosimu sebenarnya! Jangan bilang kalau itu benar-benar untuk membelaku?" Gurau Lala. Candra terkekeh. "Apa sejelas itu terlihat?" "Ya!" Lala pura merengut. "Jadi bisakah kita berhenti di suatu tempat agar aku bisa mendengar alasanmu yang sebenarnya?" Candra melirik Lala dan lagi-lagi terkekeh. "Oke! Kita akan berhenti di taman danau di depan sana!" Kini mereka duduk selonjoran di tepi danau. Menikmati pemandangan danau di pagi hari. Walau jam sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi, tapi masih ada sedikt kabut yang membayangi jernihnya air danau. Membuatnya terlihat begitu eksotis tapi juga misterius. "Jadi?" tanya Lala. "Dulu, gua punya seorang cewek yang sangat gua cintai. Tapi orang tua gua tidak menyetujuinya." Candra memulai kisahnya. "Jangan tanya kenapa? Karena itu sungguh sangat memalukan dan memuakkan. Alasan klise tentang orang kaya dan orang miskin. Dan selalu seperti itu. Lagipula orang tua memang aneh. Untuk apa punya istri anak orang kaya, toh mereka nanti juga gua yang nafkahin. Tapi ya orang kolot tetep saja kolot. Bagi mereka, tak ada uang maka tak ada perestuan." Candra tertawa hambar. "Aneh kan, Mbak?" Ini bukan pertanyaan, Lala tahu itu. Jadi gadis itu hanya diam dan tetap khusuk menyimak cerita Candra. "Suatu hari, aku merasa ada gelagat aneh pada kekasih gua. Dia sulit sekali dihubungi, dan setiap gua mencarinya ke kost-nya, dia juga selalu nggak ada. Dia sempat menghilang hampir dua bulan. Dan gua kalang kabut mencarinya. Gua yakin, papa dan mama pasti mengancam gadis gua lagi. Tapi biasanya gadis gua selalu tangguh dan kuat. Diancam seperti apapun, dia tidak gentar. Bahkan ketika dia dikeluarkan dari kampus dan dipermalukan mama di depan umum, dia masih sanggup berdiri di samping gua. Tapi entah mengapa, dia tiba-tiba menghilang." Ada nada sendu ketika Candra mengucapkan kalimat terakhirnya. Cowok itu benar-benar merasa kehilangan hingga putus asa. "Ketika gua melabrak mama, bertanya apa yang sudah dilakukannya pada gadis gua, mama hanya bilang, dia tidak melakukan apa-apa. Tentu saja gua nggak percaya. Siapa yang bisa percaya dengan wanita yang dengan sombong mempermainkan wanita lain di depan umum. Semua hanya tipuannya. Gua yakin itu. Jadi gua tetap berusaha nyari gadis gua yang hilang " "Suatu hari, di tengah-tengah pencarian gua, sekelebat gua seperti melihat sosok seperti cewek gua masuk rumah sakit. Tanpa pikir panjang, gua langsung mengejarnya. Ternyata benar. Gua lihat dia masuk ke ruang dokter kandungan. Ingin sekali gua terobos ruangan itu, tapi ngga mungkin. Alih-alih bertemu dengannya, bisa-bisa gua malah diseret ke kantor polisi." Candra tertawa. Lala heran dengan cowok satu ini, di tengah-tengah ceritanya yang serius dia masih bisa becanda. "Lalu apa yang terjadi selanjutnya?" tanya Lala. "Apa kamu menuduhnya seperti tadi Fikri menuduhku?" "Ya. Mbak benar. Gua menuduhnya seperti yang dilakukan Fikri tadi." Kini Lala mulai paham yang menjadi penyulut emosi Candra yang tidak terkontrol tadi. Dia melihat dirinya sendiri pada Fikri. Menuduh tanpa mau mendengarkan penjelasan lebih dahulu. Dan Candra tidak mau nanti Fikri akan menyesal seperti dirinya. Candra menghela nafas lalu menunduk. "Tapi lebih kejam dari pada Fikri tadi." Lanjutnya. Lala kaget, Fikri yang marah begitu saja dia sudah sangat sakit. Apalagi jika lebih kejam, dan yang menuduhnya adalah kekasihnya sendiri. Pasti lebih sakit lagi. "Gua tanpa mau mendengar penjelasannya, menuduhnya tanpa ampun dan mempermalukannya di rumah sakit. Menuduhnya p*****r dan menuduhnya mengkhianati gua yang jungkir balik mencarinya ketika dia hilang. Gua memang b******k. Ternyata buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya. Gua yang memarahi mama karena mempermalukannya di tempat umum kampus, malah ganti aku yang mempermalukannya di rumah sakit. Gua memang bajingan." Lala memegang jemari Candra. Meremasnya. Menguatkannya. "Setelah puas menghinanya. Gua yang marah ingin pergi meninggalkannya. Tapi dia menahan, ingin menjelaskan, tapi gua nggak mau mendengarkan. Akhirnya dia hanya ingin gua menunggunya sebentar saja. Dia bilang tak akan lama. Tak ada sepuluh menit. Dan aku memang menunggu." Lala diam menunggu kelanjutan cerita Candra. "Gadis gua mengeluarkan gunting dan kertas dari dalam tasnya. Kertas itu adalah surat cinta gua, yang gua berikan padanya ketika kita masih SMA. Dan dia ternyata masih dan selalu menyimpannya." Candra berhenti, suaranya terdengar agak bergetar. Lala yang merasa aneh segera menoleh pada Candra. Tampak mata cowok itu memerah menahan tangis. "Dia bilang bahwa dia begitu mencintai gua. Dia bilang ..." Suara Candra mulai terputus-putus. "Dia bilang bahwa gua adalah hidupnya, bahwa gua ... bahwa gua adalah dunianya." Satu tetes air mata meluncur turun ke pipi Candra. "Dia bilang bahwa dia begitu menyayangi gua. Hingga ... hingga dia ... dia nggak sanggup menatap gua. Dia nggak sanggup berdiri di samping gua." Air mata sudah deras turun di kedua pipi Candra. Cowok itu dengan kasar mengusap air mata yang berjatuhan. "Dia merobek surat cinta itu, Mbak. Dia merobeknya. Dengan menangis terisak dia menggunting surat cinta itu, Mbak. Surat cinta yang gua berikan cuma buat dia." Candra semakin gencar menangis. Cowok itu bahkan sampai terisak-isak. "Lalu ... Lalu dia ... dia ... dia menusuk dirinya sendiri, Mbak. Dia menusuk perutnya dengan gunting di tangannya. Huwaaaaa!" Candra menangis histeris. "Dia bilang ... dia bilang nggak mau mengandung adek gua, Mbak. Dia ... dia nggak mau hamil adek gua!" Tubuh Candra semakin gemetar hebat. Lala kaget. Sungguh sangat kaget. Kisah cinta Candra begitu sangat tragis. Siapa yang menyangka, cowok playboy petakilan ini mempunyai kisah sendu di balik setiap gurauannya. Dan apa yang tadi dia bilang? Hamil adeknya? Adek Candra? Apakah Papanya menghamili kekasihnya? Ya Tuhan. Apakah benar seperti itu? Lala segera menatap Candra. Cowok itu masih menangis sesenggukan dengan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Segera direngkuhnya Candra dalam dekapan Lala. Cowok itu semakin kencang menangis. "Dia ... dia meninggal, Mbak! Dia meninggal di depan mata gua!" Candra meraung. "Dia meninggal di pangkuan gua, Mbak! Dia meninggal!" Lala mengeratkan pelukannya pada Candra. Dan cowok itu semakin keras meraung. "Dia meninggal, Mbak! Dia meninggal!" "Huwaaaa!!!" "Huwaaa!!!" "Huwaaaaaaaaa!!!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD