Malam ini, warung di tutup.
Saka mengumpulkan semua orang di lantai atas. Di teras kamar Lala. Cowok itu menggelar tikar dan memenuhinya dengan berbagai makanan camilan dan minuman beraneka rasa.
Ketika Candra dan Lala keluar tadi pagi. Saka berinisiatif mengajak Danu dan Fikri keluar belanja ke Indomaret. Memborong berbagai makanan camilan dan minuman. Mulai dari fitbar, wafer tango, biskuit Oreo, keripik lays, Cadbury chocolate, oishi pillow dan masih banyak lagi, dan tak lupa dengan berbagai minumannya, hingga penuh lima keranjang. Danu dan Fikri hanya bengong melihat bosnya jajan gila-gilaan. Mereka tidak mengerti arah pemikiran bosnya itu. Si bos juga nggak mengatakan, apa rencananya dengan semua jajanan ini. Saka hanya menyuruh keduanya untuk ikut dan menyuruh membawa semua barang belanjaannya.
Selesai dari Indomaret, Saka mampir ke toko kue. Membeli berbagai macam cake. Mulai dari blackforest, brownies, malfines, pan cake, short cake, oat cake eggless, cinnamon dates cake,basic sponge cake, rainbow cake, cheddar cake, choco cheese butter cake, dan entah cake apa lagi.
Danu dan Fikri hanya melongo melihat apa yang Saka borong. Dan ketika di tanya jawabannya sungguh mencengangkan. "Bukankah semua cewek itu suka cake? Kak Lala mungkin juga suka. Tapi aku nggak tahu cake apa yang dia suka, makanya aku beli semua."
Gubrak!
Sungguh tidak akan ada bos lele semanis ini pada anak buahnya, selain Saka.
Dan sekarang, malam ini, semua itu di gelar di atas karpet permadani yang sangat empuk di teras lantai dua. Saking banyaknya makanan dan minuman sampai mereka nggak kebagian tempat duduk di karpet. Mereka duduk melingkar di luar karpet, mengelilingi makanan di tengah-tengah permadani.
"Lo mau ganti jualan camilan, Ka?" tanya Candra sedikit syok dengan aneka makanan di depannya.
"Bukan hanya ganti jualan, kayaknya dia juga mau ganti status juga." Greget Danu. Tadi cowok itu bahkan di seret Saka ke toko perhiasan. Di suruh memilihkan perhiasan yang bagus buat hadiah.
Kaget, segera Saka menatap tajam Danu penuh ancaman. Jangan sampai mulut cowok satu ini ember.
"Bukan begitu!" ralat Saka. "Aku tahu suasana kita sekarang pasti masih canggung gara-gara kemaren. Aku menutup warung, dan mengajak kalian berkumpul di sini untuk membahas masalah tadi pagi. Jangan sampai ada kesalahpahaman yang berlarut-larut. Nanti bisa memecah belah kita. Jangan sampai kita bertengkar hingga berpisah hanya karena suatu masalah. Semua masalah bisa dihadapi asal kita terus bersama dan saling percaya. Jadi mari kita selesaikan apa yang memang harus kita selesaikan."
Semua diam mendengar penuturan Saka. Ya, mereka semua satu pemahaman bahwa apa yang Saka katakan memang benar. Semua itu harus dibahas agar semua jelas. Jangan sampai ada yang mengganjal. Karena mereka hidup bersama dan tak mungkin jika hidup bersama tapi tidak saling menyapa gara-gara kesalahpahaman.
Fikri melirik Candra, dan tanpa sengaja Candra pun melirik Fikri. Duo yang biasa gelut itu pun kembali menunduk. Keduanya sama-sama merasa canggung dengan apa yang sudah terjadi tadi pagi.
Fikri canggung karena sudah berkata kasar pada Lala dan itu pasti memancing amarah Candra. Dan Candra canggung karena sudah menampar Fikri begitu keras dan memarahinya.
Fikri lalu beralih menatap Lala yang sedari tadi hanya menunduk dan diam. Ada rasa bersalah yang begitu besar yang menggelayut hati Fikri. Dia merasa kata-katanya tadi pagi begitu kasar. Dan Fikri yakin, pasti Lala begitu terpukul dan sakit gara-gara tuduhannya. Fikri ragu, apa minta maaf saja cukup untuk mengganti sakit hati Lala yang disebabkannya.
"Mbak Lala!" Fikri memberanikan diri memanggil Lala, walau dengan suara yang sangat pelan. Lala mendongak, menatap Fikri. Tapi yang ditatap kembali menunduk, malu dan takut.
"Maaf!" lirih Fikri. "Maaf atas kekasaran gua tadi pagi ya, Mbak. Maaf atas semua kata-kata gua yang menyakiti Mbak Lala. Aku memang jahat. Bukannya melindungi Mbak Lala malah menuduh dan menyakiti Mbak."
Hening. Untuk beberapa detik, nggak ada yang bersuara. Baik Saka, Danu, Candra dan Lala masih diam. Detik-detik yang sungguh menegangkan untuk Fikri.
"Nggak papa, Fik!" balas Lala akhirnya. Membuat Fikri mendongak menatap Lala. "Aku paham maksudmu tadi pagi. Kamu kecewa dan kamu hanya mengekspresikan kekecewaanmu. Aku tahu, kamu begitu menyayangiku hingga kamu kecewa. Rasa sayang yang begitu dalam membuat rasa kecewa juga dalam. Jadi kamu nggak salah. Aku paham posisimu."
Mata Fikri memerah, mengembun, terharu dengan pengertian Lala yang begitu besar. "Makasih ya, Mbak. Makasih banyak."
Lala tersenyum melihat ketulusan Fikri. Bagi gadis itu, yang penting adalah ketulusan itu. Jika membuat kesalahan dan minta maaf dengan tulus maka kesalahan apapun itu pasti bisa termaafkan. Karena ketika kamu tulus minta maaf maka kamu nggak akan pernah mengulangi kesalahan itu lagi. Itulah yang dipercaya Lala.
"Aku juga minta maaf ya, Mbak!" Kini giliran Danu. "Tadi pagi aku juga sempat ragu sama Mbak." Cowok itupun juga menunduk malu dengan kelakuannya sendiri yang kayak bocah.
Lala tersenyum. "Nggak papa, Dan. Aku mengerti kok. Jadi semua sudah nggak papa."
"Gua juga!" Candra menyambung. "Gua juga mau minta maaf, Fik!" Cowok itu menatap Fikri. "Gua minta maaf karena udah nampar lo."
Fikri yang kaget segera menatap Candra. Cowok itu nggak mengerti kenapa Candra minta maaf padanya. Dia tahu, Candra melakukan itu karena memang dia yang salah. Jadi dia nggak tahu harus menjawab apa atas permintaan maaf Candra ini, jadi dia hanya mengangguk.
Saka yang memperhatikan dari tadi hanya geleng-geleng kepala, merasa lucu. Bocah yang terbiasa adu mulut dan bertengkar itu, keduanya sama-sama mati kutu. Keduanya canggung dan bingung dihadapkan dalam kondisi yang tidak biasa.
"Fik! Can!" panggil Saka. Yang dipanggil menoleh. Bukan hanya Fikri dan Candra, tapi Danu dan Lala pun juga ikut menoleh. "Sekarang kalian pelukan!" Perintahnya.
"Apa?" Candra kaget
"Apa?" Fikri apalagi.
"Dan juga harus saling cipika cipiki. Cium pipi masing-masing. Harus mau! Dan tidak boleh menolak."
Kaget dan aneh dengan perintah Saka, Candra dan Fikri saling pandang. Membayangkan mereka cipika cipiki. Mencium pipi lawannya. Dan ...
"Huweeekkkk! Najis!" Teriak keduanya berbarengan.
"Harus mau! Tidak boleh menolak! Kalau nggak mau Minggu depan kalian nggak gajian!"
"SAKAAA ...!" Jerit keduanya tak terima.
"Bwahahahahahahaaha!" Terdengar suara tawa yang begitu para pangeran lele rindukan. Keempat empatnya langsung menoleh ke asal suara tawa. Lala tertawa terpingkal-pingkal sampai memegang perutnya. "Bwahahahahahahaaha!"
Seperkian detik kemudian, gadis yang tertawa sendiri itu merasa malu karena ditatap begitu intens oleh keempat cowok yang mengelilinginya.
"Maaf. Sungguh kalian begitu lucu hingga aku nggak bisa nahan tawa. Aku jadi ingat ketika pertama kali bertemu kalian. Kalian juga begitu lucu seperti ini." Lala terkekeh.
"Jangan bertengkar lagi!" pinta Lala. "Apapun yang terjadi jangan bertengkar lagi seperti tadi pagi." Gadis itu tersenyum. "Mari kita hidup rukun. Saling tolong menolong dan saling mengerti. Serta saling menjaga dan saling menyayangi."
Melihat Lala dengan senyum yang begitu manis, keempat cowok itu mengangguk mantap. Meyakini diri mereka sendiri bahwa setelah ini mereka akan hidup lebih saling pengertian lagi.
"Mbak Lala!" panggil Fikri. "Boleh nggak gua minta peluk cium sama Mbak?" Kemanjaan cowok itu sudah kembali.
"Woi, dasar bocil! Minta di kepret lo!" Semprot Candra.
"Dasar! Kamu udah kangen sama jitakanku apa, Cil?" Danu ikutan greget.
Dan Lala lagi-lagi tertawa.
Suasana canggung dan nggak enak yang sempat tercipta tadi, kini sudah mencair. Melebur dengan tawa dan kekonyolan mereka. Hilang walau masih ada bekasnya yang samar, tapi paling nggak, semuanya sudah kembali seperti di awal. Dan semua itu berkat Saka.
Lala menatap Saka di tengah-tengah kekonyolan Fikri, Candra dan Danu. Gadis itu memberikan senyum terbaiknya pada Saka. Senyum terima kasih atas apa yang sudah dilakukan cowok itu.
Saka yang juga melihat Lala, mengerti akan maksud senyum Lala, hanya mengangguk dan membalas senyumnya. Senyum yang tak kalah manis dengan senyum Lala.
Mereka sudah kembali seperti biasa. Seperti tak ada apa-apa. Mereka sudah bisa bercengkrama. Saling melempar olokan. Saling menyombongkan kenarsisan. Dan saling menjitak. Mereka berbagi makanan camilan dan juga minuman.
"Maaf! Boleh minta waktunya sebentar!" Kata Lala membuat kekacauan trio perusuh itu berhenti. "Seperi kata Saka tadi, biar nggak ada kesalahpahaman lagi diantara kita. Maka aku akan membuat pengakuan siapa aku sebenarnya."
Lala menatap satu persatu cowok yang sudah membersamainya selama dua bulan ini.
"Aku bukanlah seorang gadis seperti yang kalian perkirakan selama ini." Lala memulai. "Aku adalah seorang wanita yang sudah menikah." Lala berhenti sebentar, menunggu reaksi keempat cowok itu.
Tentu saja, seperti perkiraan Lala, mereka semua kaget. Tapi Lala tidak memperhatikan ekspresi Saka. Ekspresi yang biasa saja. Diam dan dingin.
"Aku adalah wanita yang sudah menikah." ulang Lala. "Dan lagi dalam pelarian dari suami dan kakak ipar ku."
Tampak Candra, Fikri dan Danu menahan nafas mendengar pengakuan Lala. Sungguh mereka nggak menyangka dengan pengakuan Lala ini. Tapi mereka masih diam, menunggu dengan sabar kelanjutan dari kisah Lala.
"Suami dan kakak ipar ku adalah seorang psikopat. Mereka suka sekali menyiksa tubuhku. Bagi mereka, melukai tubuhku, adalah kepuasan tersendiri untuk mereka."
Lala menggulung lengan kaosnya hingga mentok di pundak. Tampak sesuatu yang seperti bekas sayatan pisau yang memanjang dan melingkar di bahu atas Lala. Setelah beberapa detik Lala menurunkan lengan kaosnya lagi.
Gadis itu lalu menyingkap roknya ke atas sedikit. Tampaklah dipahanya bekas luka bakar yang agak besar. Bentuknya agak segitiga, seperti bekas kena setrika panas. Dan tak lama kemudian Lala menurunkan roknya lagi.
Lala berbalik, memunggungi para cowok itu. Diangkatnya kaosnya ke atas sedikit. Tampak ada beberapa bekas sundutan rokok di kulit punggung bawahnya yang putih. Bukan hanya satu dua. Tapi banyak. Sebentar kemudian Lala segera menurunkan kaosnya lagi, malu dengan semua bekas luka yang didapatnya.
"Mereka hanya melukai tubuhku yang tersembunyi saja. Karena bagi suamiku, aku adalah boneka yang juga dipamerkan pada teman-teman kantornya. Jadi penampilanku harus sempurna. Dan mereka tetap menyiksa dengan melukai bagian tersembunyi jadi nggak akan ada yang tahu jika aku tidak bilang."
Sungguh, mereka benar-benar tidak menyangka ternyata gadis yang mereka puja, mengalami hal yang setragis itu.
"Kenapa Mbak nggak lapor polisi saja?" tanya Danu prihatin.
Lala tersenyum. "Lapor polisi jika tak ada uang, percuma juga lapor. Suamiku pasti akan menutup laporanku dengan uangnya. Jadi daripada aku ketahuan melapor dan akhirnya disiksa makin pedih, aku hanya diam saja."
Ada sesuatu yang berdenyut sakit saat Lala mengenang masa lalu kelamnya.
"Apa suami Mbak tahu kalau Mbak hamil?" Candra bertanya miris.
"Aku yakin dia nggak tahu. Aku saja baru tahu kemaren di rumah sakit dengan kalian."
"Lalu gimana jika suami Mbak mencari Mbak?" Danu bertanya lagi.
"Entahlah, aku juga nggak tahu." Lala menatap botol minuman air mineral yang dipegangnya. "Aku sendiri nggak punya bayangan, bagaimana nanti jika suamiku menemukanku."
Takut. Tentu saja Lala merasakan hal itu. Tapi sudah terlanjur begini dan sudah selama ini. Jadi Lala sudah tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi padanya seumpama suaminya menemukannya. Makin kejam? Mungkin.
"Tenang saja, Mbak!" Fikri bersuara. "Gua akan melindungi Mbak Lala apapun yang terjadi."
"Aku juga, Mbak!" Danu mengangkat tangan. "Aku juga akan menjaga Mbak sekuat tenagaku."
"Gua juga!" Candra nggak mau kalah. "Gua nggak akan berdiam diri saja jika sampai suami Mbak menemukan Mbak."
"Terima kasih semuanya!" Ucap Lala terharu.
"Bos!" panggil Fikri, sebal melihat Saka hanya diam saja, tidak ikut menyemangati Lala dengan menggebu-gebu seperti mereka. "Katakan sesuatu dong! Masak lempeng gitu aja? Ngomong dong bos!"
Saka menatap Fikri tak mengerti. "Ngomong apa?"
"Ngomong apa kek, buat menyemangati Mbak Lala." Protes bocah yang memang tukang protes itu
Saka diam sebentar, kemudian menatap Lala dengan tatapan mantap. "Kak, jika nanti kakak sudah cerai dengan suami Kakak. Maka menikahlah denganku. Aku sanggup menunggu jandanya Kakak!"
Doeeengggg!!!
Lala langsung ngebleng mendengar kalimat penyemangat Saka.
"SAKAAA!!!" teriak Danu, Fikri dan Candra barengan. Frustasi.
"Apa?" Saka menatap ketiganya bingung. "Apa aku salah?"