"Maaf! Boleh minta waktunya sebentar!" Kata Lala membuat kekacauan trio perusuh itu berhenti. "Seperi kata Saka tadi, biar nggak ada kesalahpahaman lagi diantara kita. Maka aku akan membuat pengakuan siapa aku sebenarnya."
Lala menatap satu persatu cowok yang sudah membersamainya selama dua bulan ini.
"Aku bukanlah seorang gadis seperti yang kalian perkirakan selama ini." Lala memulai. "Aku adalah seorang wanita yang sudah menikah." Lala berhenti sebentar, menunggu reaksi keempat cowok itu.
Tentu saja, seperti perkiraan Lala, mereka semua kaget. Tapi Lala tidak memperhatikan ekspresi Saka. Ekspresi yang biasa saja. Diam dan dingin.
"Aku adalah wanita yang sudah menikah." ulang Lala. "Dan lagi dalam pelarian dari suami dan kakak ipar ku."
Tampak Candra, Fikri dan Danu menahan nafas mendengar pengakuan Lala. Sungguh mereka nggak menyangka dengan pengakuan Lala ini. Tapi mereka masih diam, menunggu dengan sabar kelanjutan dari kisah Lala.
"Suami dan kakak ipar ku adalah seorang psikopat. Mereka suka sekali menyiksa tubuhku. Bagi mereka, melukai tubuhku, adalah kepuasan tersendiri untuk mereka."
Lala menggulung lengan kaosnya hingga mentok di pundak. Tampak sesuatu yang seperti bekas sayatan pisau yang memanjang dan melingkar di bahu atas Lala. Setelah beberapa detik Lala menurunkan lengan kaosnya lagi.
Gadis itu lalu menyingkap roknya ke atas sedikit. Tampaklah dipahanya bekas luka bakar yang agak besar. Bentuknya agak segitiga, seperti bekas kena setrika panas. Dan tak lama kemudian Lala menurunkan roknya lagi.
Lala berbalik, memunggungi para cowok itu. Diangkatnya kaosnya ke atas sedikit. Tampak ada beberapa bekas sundutan rokok di kulit punggung bawahnya yang putih. Bukan hanya satu dua. Tapi banyak. Sebentar kemudian Lala segera menurunkan kaosnya lagi, malu dengan semua bekas luka yang didapatnya.
"Mereka hanya melukai tubuhku yang tersembunyi saja. Karena bagi suamiku, aku adalah boneka yang juga dipamerkan pada teman-teman kantornya. Jadi penampilanku harus sempurna. Dan mereka tetap menyiksa dengan melukai bagian tersembunyi jadi nggak akan ada yang tahu jika aku tidak bilang."
Sungguh, mereka benar-benar tidak menyangka ternyata gadis yang mereka puja, mengalami hal yang setragis itu.
"Kenapa Mbak nggak lapor polisi saja?" tanya Danu prihatin.
Lala tersenyum. "Lapor polisi jika tak ada uang, percuma juga lapor. Suamiku pasti akan menutup laporanku dengan uangnya. Jadi daripada aku ketahuan melapor dan akhirnya disiksa makin pedih, aku hanya diam saja."
Ada sesuatu yang berdenyut sakit saat Lala mengenang masa lalu kelamnya.
"Apa suami Mbak tahu kalau Mbak hamil?" Candra bertanya miris.
"Aku yakin dia nggak tahu. Aku saja baru tahu kemaren di rumah sakit dengan kalian."
"Lalu gimana jika suami Mbak mencari Mbak?" Danu bertanya lagi.
"Entahlah, aku juga nggak tahu." Lala menatap botol minuman air mineral yang dipegangnya. "Aku sendiri nggak punya bayangan, bagaimana nanti jika suamiku menemukanku."
Takut. Tentu saja Lala merasakan hal itu. Tapi sudah terlanjur begini dan sudah selama ini. Jadi Lala sudah tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi padanya seumpama suaminya menemukannya. Makin kejam? Mungkin.
"Tenang saja, Mbak!" Fikri bersuara. "Gua akan melindungi Mbak Lala apapun yang terjadi."
"Aku juga, Mbak!" Danu mengangkat tangan. "Aku juga akan menjaga Mbak sekuat tenagaku."
"Gua juga!" Candra nggak mau kalah. "Gua nggak akan berdiam diri saja jika sampai suami Mbak menemukan Mbak."
"Terima kasih semuanya!" Ucap Lala terharu.
"Bos!" panggil Fikri, sebal melihat Saka hanya diam saja, tidak ikut menyemangati Lala dengan menggebu-gebu seperti mereka. "Katakan sesuatu dong! Masak lempeng gitu aja? Ngomong dong bos!"
Saka menatap Fikri tak mengerti. "Ngomong apa?"
"Ngomong apa kek, buat menyemangati Mbak Lala." Protes bocah yang memang tukang protes itu
Saka diam sebentar, kemudian menatap Lala dengan tatapan mantap. "Kak, jika nanti kakak sudah cerai dengan suami Kakak. Maka menikahlah denganku. Aku sanggup menunggu jandanya Kakak!"
Doeeengggg!!!
Lala langsung ngebleng mendengar kalimat penyemangat Saka.
"SAKAAA!!!" teriak Danu, Fikri dan Candra barengan. Frustasi.
"Apa?" Saka menatap ketiganya bingung. "Apa aku salah?"
"Tidak. Tidak salah!" jawab Danu.
"Lalu?"
"Kalau gitu caranya, kami semua juga mau." teriak Fikri tak terima. "Enak aja mau nungguin jandanya Mbak Lala sendirian, gua juga mau kali."
"Bwahahahahahahaaha." Untuk kesekian kalinya, di malam ini, Lala terus-menerus tertawa oleh tingkah konyol mereka. "Sudah! Sudah!" Lerainya di sela-sela tawanya. "Jangan ribut lagi! Aku bukan Drupadi, jadi aku nggak mungkin nikahin kalian semua." Lagi-lagi gadis itu tertawa.
Saka tersenyum mendengar tawa Lala dan gurauannya. Bukan hanya Saka. Danu, Candra dan Fikri sudah lega mendengar tawa yang biasanya Lala suguhkan buat mereka sudah kembali.
"Sebenarnya, aku ada satu pengakuan lagi." Lala berhenti sebentar, memberi jeda. "Namaku sebenarnya Laura. Cinta Laura."
"Wow. Kayak nama artis saja, Mbak!" Candra tertawa, ingat nama salah satu artis cantik Indonesia. "Apa jangan-jangan Mbak memang artis. Soalnya Mbak memang secantik artis." Goda cowok fuckboy itu.
"Apa ibu Mbak dulu nyidam pengen ketemu artis Cinta Laura ya sampai di kasih nama itu." Danu menimpali.
"Gua suka nama, Mbak. Cantik!" Fikri malah menggombal dan langsung mendapat serangan jitakan Danu dan Candra.
Lala yang melihatnya tertawa lucu. Mereka bertiga memang selalu begitu. Kompak dan penuh kasih sayang. Walau kasih sayangnya dengan cara agak beda.
Tapi mereka tidak menyadari satu hal.
Saka. Wajah cowok itu sudah berubah sejak Lala menyebutkan nama lengkapnya. Wajahnya kembali sedingin es dan agak kelam.
"Kenapa?" tanya Saka lirih.
"Apa, Ka?" Lala tidak begitu mendengar pertanyaan Saka karena suara ketiga berandalan yang terus saja debat menjitaki gemas Fikri.
"Kenapa?" Suara Saka berubah agak keras, hingga sanggup menghentikan guyonan ketiga anak buahnya.
Lala menatap Saka tak mengerti. Maksudnya 'kenapa?' apa?.
"Kenapa Kakak memperkenalkan diri pada kami dengan nama 'Lala'?"
Lala tersenyum. "Karena dulu, waktu aku tinggal di panti asuhan, aku biasa di panggil Lala."
"Mbak Lala pernah tinggal di panti asuhan?" tanya Danu kaget.
Lala mengangguk. "Iya. Dulu setelah ibuku meninggal, ayahku menaruhku di panti asuhan."
"Benarkah?" Fikri juga tak kalah kaget.
Dan Lala kembali mengangguk. "Aku tinggal di panti sampai besar. Hingga lulus SMP. Setelah itu ayah menjemputku dan menjualku." Lala tersenyum miris mengingat bagaimana ayahnya memaksanya masuk ke rumah megah dan meninggalkannya sendirian di sana.
"Kata ayah, Tuan Daniel lah yang sudah menyekolahkanku dari SMA hingga kuliah. Dan dia ingin aku membalas kebaikannya."
"Jadi apakah Tuan Daniel itu p*****l, Mbak?" tanya Fikri miris, membayangkan nasib Lala yang selalu saja tragis.
"Bukan. Bukan Tuan Daniel. Tapi Tuan itu memberikan aku pada anaknya. Dan menikahkan kami."
"Dan dia, putranya Tuan Daniel itu, menyiksa Mbak." Candra melanjutkan kalimat Lala.
Lala hanya tersenyum samar dan mengangguk.
"Kenapa Mbak nggak kembali ke panti asuhan?"
"Nggak. Nggak mungkin. Aku nggak mau merepotkan bunda Lisa lagi. Kalau aku lari ke panti dan suamiku menemukanku, aku yakin, suamiku pasti menghancurkan panti."
"Siapa Mbak tadi?" tanya Candra agak ngebet.
Lala bingung. "'Siapa' apa maksudnya?"
"Bunda? Tadi Mbak bilang bunda kan?"
Lala mengangguk. "Iya. Bunda Lisa. Kenapa emangnya?"
Ketiga cowok itu saling berpandangan.
"Bunda Lisa pengasuh panti asuhan Kasih Sayang?" Danu bertanya memastikan.
Lala mengangguk, tapi belum mengerti maksud ketiga cowok ini sepenuhnya. "Iya."
"Panti asuhan yang berada di jalan Kenangan nomer 216?" Ganti Fikri agak histeris.
"Iya."
"Yang memilih menjanda dengan merawat anak yatim piatu sejak suaminya meninggal dan belum punya anak?" Dan Candra semakin ngebet bertanya.
"Bagaimana kalian tahu?" Sekarang ganti Lala yang bertanya kaget.
Ketiga cowok itu tidak langsung menjawab Lala. Mereka malah menatap Saka yang hanya diam saja, menikmati kue sesendok demi sesendok.
Melihat gelagat ketiga cowok yang tidak segera menjawab pertanyaannya dan malah melihat ke Saka semua, Lala pun ikut menatap Saka.
"Apa?" tanya Saka santai melihat ketiga anak buahnya terlihat gregetan.
"Apa lo udah tahu, Ka?" Candra menginterupsi.
Saka diam.
"Kenapa nggak bilang dari awal?" protes Danu.
Masih nggak ada tanggapan.
"Lo bohongin kita lagi, Ka?" Tuduh Fikri.
Tepat setelah Fikri menuduh seperti itu, Saka langsung menggetok kepalanya pakai sendok yang dia pegang. "Nyerocos aja kamu, Cil!"
"Tunggu! Tunggu!" Cegah Lala ketika Fikri ingin protes. "Maksud kalian apa? Kenapa aku sendiri yang nggak mengerti arah pembicaraan kalian."
Danu menghela napas panjang. "Saka juga berasal dari panti asuhan itu, Mbak."
"Benarkah?" Lala yang kaget, segera menatap Saka.
"Iya, Kak."
"Sejak kapan?"
"Sejak aku kecil."
Lala tambah kaget. Sejak kecil. Jika Saka sejak kecil ada di panti, menilik umur mereka, seharusnya dia pernah bertemu dengan Saka.
Lala terdiam. Mencoba mengingat-ngingat apa saja yang sudah dia alami selama di panti.
Saka? batin Lala. Kenapa aku nggak ingat sama sekali pernah bertemu dengan bocah dengan nama itu? Pikiran Lala bingung. Saka?
"Kenapa, Kak?" Ini bukan pertanyaan. Saka hanya ingin memancing sudah sampai mana ingatan Lala.
Lala menggeleng frustasi. Di gigitnya kuku jarinya bingung. "Sekuat apapun aku mengingat kenapa aku nggat terlintas apapun kenangan dengan bocah bernama Saka. Apa aku sudah keluar dari panti ketika kamu masuk?"
"Tidak!" Saka menatap Lala tajam. "Kakak masih di sana dan aku bahkan masih mengingat Kakak. Hingga kita bertemu pertama kali pun setelah sekian tahun, aku langsung bisa mengenali Kakak."
"Benarkah?" Kaget Lala. "Ketika aku pertama kali ke warung, kamu sudah mengenaliku?"
Bukan. Batin Saka. Ketika kita bertemu di kapal pesiar, aku sudah mengenalimu dan begitu merindukanmu.
Ingin sekali Saka menjawab pertanyaan Saka dengan jawaban itu. Tapi cowok itu nggak sanggup. Akhirnya cuma diam, membiarkan Lala berspekulasi sesuai pikirannya sendiri.
"Tapi kenapa aku belum mengingatmu sama sekali?" Frustasi Lala.
"Bagaimana dengan nama 'jabrik'?" tanya Saka dengan wajah sendu, mata yang menatap tajam tadi berubah menjadi tatapan rindu.
Entah untuk keberapa kalinya, malam ini, Lala dibuat kaget Saka. Matanya sampai melotot mendengar kalimat Saka yang terakhir. "Ja-Jabrik?" Bahkan gadis itu sampai terbata-bata.
Saka mengangguk. "Iya, Kak!" Mata Saka mulai mengembun. Tenggorokan serasa tercekat. Dadanya begitu terasa sesak. Rindu yang sekian tahun dipendamnya sendiri tiba-tiba mencuat dan ingin terlepas. Tubuhnya sampai bergetar karena menahan tangis dan menahan rindu yang dalam. "Ini aku. Jabrik!"
Seperti tersengat, secara impulsif, Lala tiba-tiba saja langsung beranjak, menubruk Saka yang duduk di dekatnya.
Saka yang tidak siap dengan serangan pelukan Lala, oleng dan terjengkang ke belakang. Membuat cowok itu jatuh terbaring di lantai dengan Lala yang meringkuk, memeluk tubuhnya di atasnya.
"Ja-Jabrik!" panggil Lala terbata-bata. Gadis itupun merasakan hal yang sama dengan Saka. Tiba-tiba ada rasa rindu yang membuncah mengetahui bahwa cowok yang menolongnya adalah si kecil jabrik, kesayangannya dulu. Lala mengeratkan pelukannya. "Ja-Jabrik!" Sekarang gadis itu malah menangis.
Saka yang awalnya ragu ingin membalas memeluk Lala, mendengar suaranya yang serak karena menangis ketika memanggilnya, akhirnya langsung membalas mendekap tubuh lala yang berada di atas tubuhnya.
"Iya, Kak! Ini aku, Jabrik!"
Mendengar itu, Lala semakin sesenggukan. Ya ini jabriknya. Jabriknya dulu. Jabrik kesayangannya. Lala mengeratkan pelukannya lagi dan menyembunyikan wajahnya di d**a bidang Saka. Gadis itu semakin menangis tergugu.
Saka, yang sudah tidak kuat menahan rindu pun juga ikut menangis. Menangis dalam diam.
Danu, Candra dan Fikri yang melihat kejadian itu, kompak, dengan diam-diam beranjak dan pergi satu persatu dari tempat itu. Memberikan dua orang yang sudah lama tidak bertemu itu, ruang privasi untuk melampiaskan rasa rindu mereka.
Dan kedua orang yang sedang berpelukan dan menangis itu, sudah tidak sadar dengan keadaan sekitar. Mereka bahkan sudah lupa bahwa, masih ada tiga cowok yang melihat semenyedihkan apa mereka.
"Ja-Jabrik!" Dan Lala juga sudah tak sanggup berkata apa-apa lagi. Gadis itu hanya terus memanggil nama kecil Saka. Meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia sudah menemukan jabriknya. Jabrik kesayangannya.
"Jabrik!"
"Jabrik!"
"Jabrik!"