25. Cinta Pertama

1348 Words
Flashback panti asuhan. Seorang bocah laki-laki kecil sedang dirudung beberapa anak yang lebih besar darinya. Di sudut sebuah bangunan, anak itu entah sudah dibully untuk keberapa kali oleh teman-teman sepantinya. "Hei, Jabrik!" panggil seorang anak laki-laki kecil berbadan agak gempal. "Badan kurus segitu, kuat nggak angkat beras sekarung?" ejeknya. "Jangan-jangan baru mau ngangkat aja udah KO!" balas anak yang lain. Yang sama kurusnya dengan anak yang diejeknya. Terdengar tawa ejekan dari tiga anak yang mengerubungi bocah laki-laki kecil yang dipanggil Jabrik itu. "Jangan diam saja dong!" tukas anak yang berbadan tinggi dan agak besar, mendorong tubuh kecil Jabrik mendekat pada sekarung beras lima belas kilogram di depannya. "Cepat angkat! Bunda Lisa udah nungguin tuh!" Bocah yang dipanggil Jabrik itu, membungkukkan badan, meraih ujung-ujung karung beras dengan niat mengangkatnya. Tapi karung itu bahkan tidak bergeser sedikitpun. "Hahahaha ...." "Hahahaha ...." "Hahahahaha ...." Lagi, para bocah itu menertawakan si bocah Jabrik. Tapi bocah laki-laki itu hanya diam saja, tanpa ekspresi. "Dasar Jabrik! Udah item, kurus, dekil, loyo pisan! Paket lengkap dech." Suara tawa kembali menggema untuk bocah kurus itu. "Bagas! Azriel! Toni!" sebuah suara menginterupsi aktivitas mereka membuly temannya. Ketiga bocah itu kompak langsung berhenti dan berbalik menghadap si pemanggil. Seketika itu juga, mereka terkejut takut. "Ka-Kak Lala!" cicit anak yang berbadan agak gempal, Azriel. Mereka takut karena ketahuan mengerjai teman sepanti mereka. "Apa yang kalian lakukan?" tanya si pemanggil, yang dipanggil Kak Lala tadi oleh Azriel. "Bukankah bunda Lisa meminta kalian mengambil sekarung beras bersama-sama di gudang?" Tak ada yang berani menjawab. Tiga anak laki-laki itu hanya diam dan saling melirik. Si jabrik pun juga hanya diam. Nggak ada kamus dalam hatinya ingin mengadu karena ketahuan diusili teman-temannya. Lala, si pemanggil tadi hanya menghela nafas prihatin, dilihatnya tiga anak yang memang sudah terkenal suka mengganggu teman sepantinya. Kadang ingin sekali Lala memarahi mereka karena keusilannya, tapi jika diingat-ingat lagi, merekapun sama, anak yatim piatu juga. Dan itu membuat Lala nggak akan tega memarahi mereka. Rasa kasihan gadis itu, lebih mendominasi dari pada rasa marah. "Ada apa dengan kalian?" tanyanya putus asa. "Kenapa kalian suka sekali mengganggu anak-anak yang lain? Dan anak ini." Lala menunjuk Si Jabrik. "Dia adalah anak baru di panti ini. Bukankah seharusnya kalian menemaninya? Berteman dengannya? Bukan malah mengganggunya seperti ini." Lala sama sekali nggak punya niat memarahi mereka. Mungkin sedikit menegur bisa membuka hati mereka agar bisa lebih perhatian dengan teman-temannya. "Tapi si Jabrik kan anak haram, Kak!" Toni, si bocah kurus membela diri. Lala membelalakkan mata kaget. "Toni, kenapa kamu bicara seperti itu? Siapa yang bilang?" "Banyak yang bilang, Kak!" Kali ini Bagas yang berbicara. "Semua anak panti membicarakannya." Lala melihat anak yang di di tuduh sebagai 'anak haram' itu, membuang muka. Kedua tangannya terkepal memegang ujung kaos yang dikenakannya. Entah malu atau marah. Lala tidak bisa membaca ekspresi anak kurus itu. "Sudah! Sudah! Sekarang kalian bubar saja. Biar Kakak yang membawa karung berasnya." Tak membantah, anak-anak itu langsung membubarkan diri. "Hei!" panggil Lala pada si kecil Jabrik ketika anak itu akan ikut beranjak bubar. Si jabrik berhenti dan menatap Lala ragu. "Iya, kamu! Kesinilah!" pintanya. Anak itu masih diam di tempatnya berdiri. Ragu. Apakah dia harus menghampiri gadis penolongnya itu atau tidak. Lala mengerti sikap diam bocah itu. Gadis manis itu duduk di atas karung beras lalu menepuk-nepuk karung di sebelahnya, mengisyaratkan agar si bocah agar duduk di sampingnya. Walau masih ragu, tapi bocah itu mulai memberanikan diri menghampiri Lala dan duduk di sebelah gadis itu. Lala mengelus kepala si bocah. "Namamu siapa, Sayang?" Yang ditanya hanya menunduk. "Jangan bilang kalau namamu si Jabrik, kayak yang di katakan temanmu tadi?" Si bocah semakin menunduk. Dan Lala tertawa, menganggap bahwa itu memang benar nama si bocah. "Ternyata kamu punya nama yang unik juga ya, Bocah." Si gadis masih terkekeh. "Makanya teman-temanmu suka sekali mengganggumu." Lala kembali mengelus kepala Si Jabrik, yang memang rambut bocah itu tumbuh begitu jarang, dan hampir kesemuanya rambutnya berdiri. Mungkin karena itulah dia dipanggil Si Jabrik. "Dengar bocah! Apapun yang dikatakan oleh teman-temanmu itu atau orang-orang disekelilingmu, itu tidaklah benar." Hibur Lala. "Nggak ada yang namanya anak haram. Semua anak itu sama. Anak hanyalah seorang anak. Sama sepertimu. Kamu adalah kamu. Tidak peduli siapa orang tuamu dan bagaimana mereka dulu. Mereka adalah mereka. Dan kamu adalah kamu. Kamu yang menjalani kehidupan ini. Bukan orang tuamu, bukan teman-temanmu dan juga bukan Kakak. Jadi apapun yang dikatakan mereka, jangan di ambil hati. Anggap saja semua itu hanyalah angin lalu yang bisa hilang kapanpun. Jadi kamu harus bisa selalu percaya diri pada dirimu sendiri. Oke?" Kalimat gadis itu yang panjang lebar, tidak dapat ditangkap Si Jabrik sepenuhnya. Anak sepuluh tahun itu hanya bisa menangkap kalimat terakhir Lala. 'Jadi kamu harus bisa selalu percaya diri pada dirimu sendiri. Oke?'. Cuma itu yang benar-benar membekas diingatannya hingga dia dewasa kelak. Mungkin, karena agak bingung, tidak bisa mencerna seluruh kalimat Lala, bocah itu hanya diam menunduk. Gemas, Lala meraih kedua bahu Si Jabrik, menariknya sampai mereka berhadap-hadapan. Ditatapnya kedua mata bocah kecil itu yang masih tampak begitu jernih. "Jika ada yang menggangumu lagi, kamu bisa bilang sama Kakak. Biar nanti Kakak yang menghajar mereka untukmu. Gimana?" Lala mencoba berkelakar. Tapi Si Bocah ini masih diam tanpa ekspresi. "Kamu mengerti?" Tanyanya semakin gemas. Si Bocah hanya mengangguk. "Tahu nama Kakak kan?" Lagi, dia mengangguk. "Siapa?" "Kak Lala." Jawabnya lirih, masih dengan menunduk. "Hei, tatap aku dong kalau bicara. Kalau kamu menunduk begitu, aku mana dengar jawabanmu." protes si gadis yang memang terkenal dengan kecerewetannya itu. Si jabrik mendongak menatap mata Lala. "Kak Lala." "Pinter." Lala kembali mengusap rambut si Jabrik yang memang jabrik itu. Entah mengapa, sentuhan Lala yang ini menerbitkan senyum di wajah anak yang selalu kena bully itu. Ada rasa tenang yang menjalar dari sentuhan Lala. Ada rasa damai yang dirasakan bocah itu dari sentuhan lembut si gadis. "Oke! Sekarang ayo kita antar beras ini ke Bunda Lisa. Aku yakin, Bunda sedang menunggu kita." Lala berusaha mengangkat karung beras itu sendiri. Sebenarnya karung itu tidaklah berat bagi Lala, tapi gadis itu berpura-pura layaknya kewalahan. Bukannya apa-apa, Lala hanya ingin memancing reaksi si bocah Jabrik. Kalau bisa, dia ingin membuat bocah kucel itu selalu tersenyum. Bocah itu, selama pengamatan Lala sejak dia tiba di panti, tidak pernah terlihat menangis walau di bully seperti apapun. Anak itu, hanya diam dan melakukan apapun yang diperintahkan temannya yang membuly-nya. Di situlah Lala mulai tertarik mengamati Si Jabrik. Bocah pendiam, walau penurut tapi tetap selalu terlihat tenang dan jarang berekspresi. Dan lihatlah sekarang, ketika melihat Lala kesulitan pun, tak ada ekspresi apapun di wajahnya. Bocah itu hanya diam tanpa kata dan langsung membantu Lala mengangkat karung beras. Walau yang banyak mendominasi ngangkat adalah Lala. Semenjak kejadian itu, Lala seakan-akan terus dan selalu saja berada di sekitaran Si Jabrik. Mengamati dan melindungi bocah itu dari segala pengganggu. Selalu mengajak bocah itu berbicara, bercanda dan bergurau. Dan berharap kelak nanti, bocah itu akan bisa mengekspresikan apa yang dirasanya. Dan si Jabrik, karena selalu diikuti Lala, membuat keberadaan gadis itu seperti candu baginya. Jika Lala tak terlihat sebentar saja, bocah itu pasti langsung merasa gelisah. Ingin mencarinya, tapi malu. Tapi bocah itu tetap mencari gadis penolongnya, walau tidak secara terang-terangan, karena bocah itu memang sangatlah pemalu. Si Jabrik mencari Lala, bukan karena takut di bully lagi jika Lala tidak nampak. Bukan itu. Memang sih, sejak Lala berada disekitaran Si Jabrik, nggak ada lagi yang berani mengganggunya, tapi bukan itu alasan bocah itu mencari Lala. Anak itu hanya merasa nyaman dan tentram jika berada di dekat Lala. Semua kemalangan dan kesedihan yang dirasakannya selama ini, seakan-akan menguap, menghilang ketika berada di dekat gadis itu. Ketika mendengar tawanya, ketika memperhatikan kecerewetannya, ketika merasakan kasih sayang tulusnya. Hatinya begitu merasa tenang dan senang. Tanpa bocah itu sadari, sosok Lala begitu menancap kuat di hati dan di pikirannya. Di alam bawah sadarnya, sosok gadis itu sudah menjelma menjadi hati bocah itu sendiri. Sosok yang begitu disayanginya dan dikasihinya tanpa sanggup dia ganti dengan yang lain. Mungkin bagi Si kecil Jabrik yang selalu sendiri, sosok Lala adalah pengisi ruang kosongnya. Membuatnya menjadi merasa 'ada' dan membuat bocah kecil itu jatuh cinta. Jatuh cinta untuk pertama kalinya. Cinta pertamanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD