"APAAA???" Teriak Danu, Candra dan Fikri penuh histeris.
Pagi ini, di meja makan, ketika sarapan pagi bersama, Saka mengungkapkan rencananya semalam pada mereka. Menjadi suami bohongan Lala, menjadi ayah si bayi dalam kandungan Lala.
"Aku nggak setuju!" tolak Danu mentah-mentah.
"Gua juga!" Candra menyahut.
"Gua apalagi. Gua tolak ide itu, gua nggak setuju, gua keberatan." Hiper Fikri.
"Kenapa emangnya?" tanya Saka santai sambil memakan sarapan roti selai coklat yang di bikin Lala. Menu pagi ini untuk para pangeran lele.
"Aku juga mau!"
"Gua juga mau!"
"Gua juga mau!"
Jawab mereka berbarengan penuh emosi. Urat-urat leher mereka sampai terlihat menonjol di rahang para cowok itu.
Lala yang mendengar teriakan tolakan mereka, kaget dan sampai menjatuhkan rotinya ke piring. Dilihatnya ketiga cowok itu satu persatu. Ketiga-tiganya, menatap Saka penuh dengan kecaman dan permusuhan. Kesemuanya tidak terima Saka mengambil keputusan yang menguntungkan untuk dirinya sendiri.
"Siapa bosnya di sini?" tanya Saka santai menatap ketiga anak buahnya. Menaik turunkan alisnya, menggoda mereka dengan kesombongannya.
"Curang! Mentang-mentang bos!" rutuk Fikri yang paling nggak terima dari ketiga cowok itu.
"Jadi?" Saka menatap satu persatu anak buahnya. "Masih ada yang menolak?"
Ketiganya diam.
Saka tersenyum puas. "Pinter!"
Ketiga cowok yang tertindas itu hanya bisa ngedumel nggak jelas. Nggak terima tapi nggak bisa protes juga. Mereka sebal dan kesal pada bosnya.
"Kamu, Fikri!" Saka mengendikkan dagu ke arah Fikri. "Mulai sekarang kamu dilarang bermanja-manja pada Kak Lala!"
"Kok gitu, Bos!" protesnya.
Tapi Saka nggak memperdulikan protes Fikri.
"Kamu, Danu!" Saka menatap tajam koki handalan warungnya. "Di larang berdekatan dan bersentuhan dengan Kak Lala ketika plating pesenan di warung!"
"Mana bisa? Dapurnya kan sempit, nggak mungkin kita nggak berdekatan dan bersentuhan!"
"Aku nggak peduli, pokoknya harus bisa!"
"Tapi ...."
Saka mengangkat tangan, dan secara otomatis menghentikan protesan Danu yang mau berkelanjutan.
"Dan kamu Candra!" Saka bersidekap, menatap tajam Candra. "Kamu adalah predator yang paling berbahaya!"
Candra kaget. "Apa? Aku?" Cowok itu menunjuk hidungnya sendiri.
"Ya, kamu!" Saka menopang tangannya ke meja, maju sedikit untuk memberi efek ancaman yang lebih maksimal. "Kamu di larang mendekat pada Kak Lala. Kamu harus selalu berada di radius jarak dua meter dengan Kak Lala. Nggak boleh terlalu dekat."
"APAAA?" histeris ketiganya. Bukan hanya Candra.
Mereka sepakat kalau bos mereka sudah gila.
Bucin dan gila.
Lala hanya bisa menepuk dahinya frustasi atas sikap aneh Saka. Suami bohongannya ini sudah benar-benar gila.
Malamnya di warung.
Saka yang berada di kursi kasir terus-menerus menatap Danu yang sedang plating makanan dengan Lala di dapur mungilnya. Matanya tidak mau lepas dari kedua orang itu. Sedikit saja Danu tanpa sengaja menempel pada Lala, Saka langsung berdehem keras mengingatkan keduanya.
Danu yang sedang plating pun tidak bisa konsentrasi dengan kerjaannya. Dia jadi lupa dengan beberapa sayuran lalapan yang seharusnya ditatanya.
Ketika tanpa sengaja mereka mengambil timun secara barengan dan tangan saling bersentuhan, Saka kembali berdehem keras.
"Danu!"
"Apa? Apa?" kesal koki ganteng itu. Malam ini benar-benar malam yang paling mengerikan selama dia bekerja di sini. Bagaimana tidak? Mata bosnya sama sekali tidak bisa beralih dari Lala. Dimana pun wanita itu berada. Entah itu ketika membantu Danu, ataupun membantu Fikri dan Candra. Saka selalu mengawasinya. Lala juga nggak bisa bekerja secara leluasa seperti biasanya. Saka benar-benar berperan sebagai suami bohongan dengan totalitas plus bonus bucinnya.
"Ingin aku colok saja mata si bos!" Danu ngedumel.
"Maaf ya, Dan! Ini semua gara-gara aku." kata Lala penuh penyesalan.
Danu menatap Lala, dia juga prihatin pada wanita itu sebenarnya. Pasti bagi Lala pun agak sulit menghadapi Saka yang lagi mode bucin kayak gini. "Mbak nggak salah. Bos pun sebenarnya juga nggak salah!"
Lala nggak mengerti ucapan Danu ini. "Maksudmu?"
"Si bos, dari pertama aku ketemu dengannya hingga dia berumur setua ini, baru kali ini dia menunjukkan suka sama cewek. Biasanya si bos begitu cuek dan dingin. Digoda cewek seperti apapun, secantik apapun, sebohai apapun, cowok itu sama sekali nggak melirik dan nggak tertarik. Dulu, aku kira dia malah kayak biksu. Anti cewek!"
Lala membulatkan mata kaget. "Benarkah?"
Danu mengangguk mantap. "Dulu kami mengira si bos memang nggak doyan cewek. Bahkan Fikri pernah berspekulasi, jangan-jangan si bos gay. Tapi segera dibantah Saka dengan menjitak Fikri."
Lala tertawa kecil mendengar tentang Fikri yang dijitak. Memang kesemuanya, suka sekali menjitak Fikri yang paling kecil itu. Lala tahu, mereka kayak gitu karena sayang pada bocah itu, bukan karena ingin menganiayanya.
"Pernah sekali, Candra bahkan memutarkan film p***o di depan Saka. Tapi cowok itu masih saja sedingin es. Padahal kami bertiga sudah blingsatan kepanasan." Danu tertawa. "Aku bahkan tidak yakin, sudah setua itu, apa si bos pernah berciuman dengan cewek. Aku yakin, kayaknya belum."
"Apa benar? Tapi kenapa ciumannya begitu terasa en ...!"
Ups! Keceplosan! Rutuk Lala dalam hati. Dia segera membungkam mulutnya sendiri.
Danu yang kaget langsung menatap Lala.
Kecewa? Tentu iya. Tak dipungkiri Danu juga tertarik dan suka sama Lala. Tapi tidak sampai dalam tahap ingin memiliki. Dia juga tahu bahwa semua cowok rumah huni, nggak ada yang nggak suka sama Lala. Bahkan si bos dinginnya juga. Cuma dia tidak menyangka, ternyata si bos dengan kepribadian kutub selatan itu ternyata sudah gerak cepat juga.
Danu terkekeh. Walau kecewa tapi dia tahu diri tidak bisa dibandingkan dengan si bos Saka. "Itu namanya insting pria, Mbak!"
Lala menatap Danu tak mengerti.
Danu tersenyum. "Pria dan wanita itu berbeda, Mbak. Wanita kalau belum pernah ciuman, sekali ciuman pasti kaku. Karena ada rasa malu yang menyelimuti setiap gerakannya. Tapi kalau pria, walau belum pernah melakukannya, entah itu ciuman atau b******a, tapi dalam sekali main pasti langsung jago. Itu namanya insting binatang pria."
Wajah Lala sedikit bersemu mendengar penjelasan Danu.
Melihat wajah Lala yang memerah, entah kenapa membuat Danu jadi gemas dan ingin menggodanya. Sedikit ditundukkannya kepalanya mendekat ke telinga Lala. "Apa Mbak ingin mencoba ciuman denganku juga? Aku juga jago lho!"
Belum sampai Lala menanggapi godaan Danu, sudah ada sebuah teriakan yang menghentikan gerak Danu.
"Woi, Koki!" Terdengar teriakan Saka menginterupsi kenekatan Danu.
Tahu bahwa dirinya dalam masalah, segera koki manis itu menarik wajahnya dan melihat si empunya suara.
"Mundur lima langkah!"
"Apa? Sadis kamu bos! Apa kamu mau aku masuk wajan penggorengan!" protes Danu. Karena di belakangnya ada kompor dan wajan besar diatasnya.
"Kalau gitu Minggu depan gaji kamu aku potong sejuta."
"Apa?" histeris Danu. "Bos, jangan kejam gitu lah! Oke dech aku nggak akan goda-goda Mbak Lala lagi."
"Bwahahahahahahaaha!"
Danu langsung melirik tajam si tukang tertawa.
"Rasain! Weeeekkkkk!" Terlihat Fikri begitu puas melihat Danu kena kartu merah dari Saka.
Ketika Danu ingin membalas olokan Fikri, tiba-tiba saja Lala berlari menjauh dari warung menuju toilet umum yang tak jauh dari warung.
Danu yang tidak mengerti berpandangan dengan Fikri serta Saka. Ketiganya tidak paham kenapa Lala berlari dengan begitu cepat.
Sesaat kemudian, ada dua ibu-ibu yang keluar dari toilet umum dan berjalan ke arah warung Saka.
"Mas Saka! Mbak Lala itu kenapa? Kok muntah-muntah?" tanya salah satu ibu yang langsung menghampiri Saka. Dua ibu-ibu ini adalah tetangga para pangeran. Warga sekitaran komplek rumah huni mereka.
Warung dan rumah huni memanglah tidak jauh. Jadi sudah biasa, jika sering berjumpa dengan warga sekitar. Para warga pun juga sering makan di warung Saka. Jadi tidak heran mereka hapal dengan semua personil warung pangeran itu.
"Apa masuk angin?" tanya ibu yang satunya.
"Tidak! Tidak mungkin!" bantah ibu yang bertanya pada Saka tadi. "Itu bukan muntah seperti muntah masuk angin. Kayak muntah orang yang lagi nyidam."
"Masak sih! Tapi dia kan seorang gadis, mana mungkin bisa hamil?"
"Bisa sajalah jeng, sekarang kan banyak gadis yang hamil walau masih sendiri." balasnya sambil melirik Saka.
Fix. Mereka ini adalah para ibu warga komplek tukang rumpi.
Fikri yang tadi ikut memperhatikan dua ibu-ibu itu sontak langsung emosi. "Apa maksud ibu-ibu ini berkata seperti itu?"
Bocah yang masih labil itu, tidak terima dan langsung menghampiri keduanya yang berada di dekat Saka.
Saka yang melihat emosi Fikri, langsung menghadang bocah itu. Memegang bahunya dan menekannya. Mata Saka menatap tajam Fikri, memperingatinya agar mengontrol emosi.
Ketika Saka merasa, Fikri sudah bisa menahan emosinya, Saka ganti menatap dua ibu-ibu tadi. Tampak dua ibu itu agak takut melihat emosi Fikri, tapi juga keras kepala dengan pemikiran mereka.
Aishh! Dasar ibu-ibu penggosip! Rutuk Saka dalam hati.
"Maaf ya Bu, atas ketidaksopanan ini!" Saka tersenyum manis pada dua ibu itu.
"Makanya Mas, kalau dagang itu yang sopan. Jangan petakilan kayak gitu!" Si ibu masih nyolot membuat Fikri naik darah lagi.
Tapi Saka langsung menekan bahu Fikri lagi. Mengisyaratkan agar cowok itu tetap tenang.
"Cepat lihat Kak Lala di toilet. Jangan sampai terjadi kenapa-napa padanya!" perintahnya berbisik. Dari pada nanti Fikri bikin rusuh dengan dua ibu penggosip ini, lebih baik mengirimnya untuk memastikan keadaan Lala.
Dengan sigap, Fikri langsung berlari menuju toilet.
Ya, Saka benar. Keadaan Mbak Lala lebih penting dari pada meladeni dua ibu ember itu. Batin Fikri masih dongkol.
Melihat Fikri yang sudah menghampiri Lala, cowok itu kembali beralih pada dua ibu berlidah ular ini.
"Iya, ibu. Maaf sekali lagi ya!" Saka masih tersenyum manis. "Bukankah ini Bu Mariyam dan Bu Dewi? Yang rumahnya dekat dengan rumah kami?" Saka berusaha mengalihkan topik. "Sepertinya rumah yang masuk gang lima itu ya?"
"Kok Mas Saka tahu?" tanya si ibu yang bernama Dewi. Ibu itu agak bangga ketika rumahnya dikenali oleh pemuda setampan Saka.
"Tahu lah, Bu. Kita kan satu komplek dan tetanggaan."
"Ah! Mas Saka ini bisa saja."
"Tapi apa benar, mbak Lala itu hamil, Mas? Aku yakin banget, tadi muntahnya itu, muntah nyidam lho!" Si ibu yang bernama Mariyam itu masih julid.
"Iya, Bu. Maaf atas ketidaknyamanannya. Maafkan istri saya jika mengganggu ibu-ibu ini dengan suara muntahannya!"
"Apa? Apa mbak Lala itu istri Mas Saka?" tanya Bu Dewi kaget.
"Iya, Ibu."
"Tapi kan, bukannya mbak itu pengemis yang dulu datang ke warung Mas minta makan."
Saka kembali tersenyum manis. Ternyata kabar Lala, si cantik yang tiba-tiba bergabung dengan warung Pangeran, sudah menyebar seluas itu. "Benar, Bu. Dan waktu itu aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama dengannya. Dan langsung menikahinya. Makanya aku bawa dia pulang ke rumah huni."
"Kok nggak undang-undang, Mas!" Ibu yang bernama Dewi ini, orangnya lebih mudah dikendalikan dengan cerita bualan Saka. Beda dengan ibu Mariyam. Ibu satu ini masih menaruh curiga pada Saka.
"Aku nggak mau merepotkan ibu-ibu yang cantik ini!"
Kalimat Saka terjeda ketika Danu datang mengantarkan dua kotak ayam bakar plus nasi pesanan kedua ibu julid itu.
"Ini Bu, pesanan ibu-ibu yang manis." Saka masih begitu sabar melayani kedua ibu itu. "Sebagai rasa syukur karena istri saya sudah hamil, ini gratis untuk ibu."
Ibu Dewi berbinar. "Benarkah?"
"Iya ibu. Silahkan dinikmati bersama keluarga tercinta ibu ya. Terima kasih."
Setelah Saka mengucapkan itu, kedua ibu itu berpamitan pulang.
"Gimana, Ka?" tanya Danu. Cowok itu juga mendengar bagaimana kedua ibu itu mempertanyakan tentang Lala.
"Untuk malam ini dan besok masih aman. Tapi aku kurang yakin jika lusa kelak."
"Apa karena ibu Mariyam itu?"
Saka mengangguk. "Istri Pak RT itu agak berbahaya. Mulutnya bisa lebih tajam daripada silet goal sekalipun. Bisa jadi, bentar lagi kita akan kedatangan tamu perangkat komplek."
Kedua cowok itu sama-sama diam. Mencoba berpikir, apa yang harus dilakukan dalam situasi seperti ini.
Tak lama kemudian, tampak Fikri memapah Lala keluar dari toilet.
"Dan, cariin taksi!" perintah Saka.
Tanpa menunggu perintah dua kali, Danu dengan sigap langsung ke jalan raya.
Saka langsung menghampiri Lala dan Fikri. Mengambil alih Lala dari papahan Fikri dan langsung menggendongnya di depan.
"Saka!" Kaget Lala.
"Sudah! Kakak diam saja! Kakak begitu tampak pucat dan lemas!" paksa Saka. Setelah itu dia beralih pada Fikri. "Titip warung ya!"
Si bocil kali ini nggak protes dan langsung mengangguk.
Melihat Danu sudah mendapat taksi, Saka segera membawa Lala dan dengan hati-hati mendudukkannya di kursi belakang. Saka juga ikut masuk ke dalam taksi dan meminta pak sopir jalan.
"Apa ini nggak berlebihan, Ka? Rumah huni kan dekat. Cuma butuh waktu lima belas menit berjalan." Lala merasa nggak enak. Gara-gara dirinya, cowok itu harus memanggil taksi untuk mengantarnya pulang.
"Kakak mau dicium?" tanya Saka gemas.
Apa Saka kumat lagi. Batin Lala greget. Kenapa setiap perkataanku selalu di balas dengan cium, cium dan cium.
"Kalau Kakak nggak mau dicium. Dilarang protes!"
Akhirnya Lala hanya bisa diam. Menurut saja pada bos yang lagi gila cium ini.
Sebentar kemudian, tak ada lima menit. Mereka sampai di rumah.
Seperti tadi, turun dari taksi, Saka kembali menggendong Lala di depan. Dan membopong wanita itu menuju rumah.
Sampai di tangga luar, masih dengan menggendong, Saka menaiki tangga.
"Saka! Aku bisa jalan sendiri."
Saka berhenti melangkah di tangga ke tiga. Menatap Lala agak greget dan gemas. "Kakak benar-benar bandel ya!"
"Apa ...."
Cup!
Lala membelalakkan mata kaget.
Cup!
Cup!
Tiga kali sudah Saka mengecup bibir Lala yang berada di dalam gendongannya.
"Jika Kakak masih protes lagi, kali ini aku nggak akan cuma mengecup." ancam Saka. "Aku janji, aku akan melumat bibir Kakak dan tidak akan berhenti. Aku tidak akan menahan diri lagi seperti kemaren."
Lala yang mendapat ancaman seperti itu langsung terdiam, tak berani lagi bersuara.
"Nah gitu dong. Pinter!"
Dan ...
Cup!
Lho?
"Saka! Aku kan sudah nggak protes. Kok dicium lagi!"
"Yang itu ciuman hadiah karena Kakak nurut!"
"Apa?"
"Gimana? Mau lagi?"
"Tidak! Terima kasih!"
"Kenapa? Bukankah tadi Kakak bilang pada Danu kalau ciumanku enak?"
Apa? Apa tadi Saka dengar? Batin Lala.
Duuuuhhh mampus aku. Kayaknya ciumannya nggak akan berhenti sampai di sini saja dech.