"Jadi bagaimana kabarmu ketika aku sudah pergi? Apakah masih ada yang mengganggumu?" tanya Lala. Setelah tangis memalukan yang dilakukan gadis itu di atas tubuh Saka, kini mereka duduk berdampingan, selonjoran menatap langit.
"Tentu saja tidak. Bukankah Kakak berpesan agar aku membela diri jika dibully lagi. Jadi aku lawan setiap anak yang ingin menindasku."
"Wow, Si Jabrik kecilku ternyata hebat ya!" Reflek Lala mengusap kepala Saka dengan sayang. Dia lupa bahwa si jabrik kecilnya dulu sudah dewasa dan sudah menjadi seorang pria.
Saka yang kaget dengan sentuhan Lala, segera menangkap tangan Lala dan menggenggamnya.
Lala malah menatap tidak mengerti ke arah Saka. Apa dia sudah tidak suka dielus-elus kepalanya. Padahal maksud Saka menghentikan sentuhan Lala karena tubuhnya terasa menegang dan panas. Sentuhan gadis itu, walau sepele sudah sanggup membuat tubuh Saka serasa berbeda.
"Kenapa?" tanya Lala menatap tangannya yang berada di genggaman Saka.
"Nggak papa. Aku hanya masih kangen sama Kakak."
Lala mengangkat alis. "Benarkah?"
Saka menganguk.
"Lalu kenapa kamu nggak langsung bilang pas kita pertama kali ketemu, kalau kamu Si Jabrik?" protes Lala.
"Kakak aja nggak ngenalin aku, bagaimana aku bisa bilang siapa aku sebenarnya. Jika kakak sudah lupa sama aku, lalu aku harus gimana?" Ada nada ragu dan sedikit protes yang begitu ketara dalam setiap kalimat Saka.
Mendengarnya, karena merasa bersalah, entah gerakan impulsif atau insting saja, Lala langsung meraih kepala Saka dan membawanya ke dalam dadanya. Memeluknya. "Hei, jangan begitu. Maaf karena aku nggak ngenalin kamu. Dulu kamu begitu kecil, dan sekarang sudah begini besar. Jadi aku nggak bisa ngenalin kamu. Maaf ya!"
Lala tidak sadar, tubuh Saka kembali menegang.
"Kak!"panggilnya agak parau. "Seperti yang Kakak bilang, kalau aku kan sudah besar. Kukira Kakak nggak harus memelukku seperti ini."
Lala melepaskan pelukannya dan menatap wajah Saka. Gadis itu lalu tertawa lucu. "Memangnya kenapa? Kamu masih adek kecilku yang lucu."
"Tidak!" tolak Saka. "Sudah kubilang, aku nggak mau jadi adek Kakak. Dan aku adalah pria dewasa." Tiba-tiba Saka langsung meraih pinggang Lala dan merapatkan tubuh Lala ke tubuhnya sendiri. "Jika Kakak melakukan hal seperti memeluk kepalaku ke d**a Kakak, itu membuat tubuhku merasa panas." bisiknya. "Apa Kakak sudah lupa tentang ciuman kita di dalam kamarku?"
Lala kaget. Ya, si Jabrik kecil dulu kini memang sudah dewasa. Karena mengenang kenangan mereka di panti tadi, dia sempat lupa bahwa bocah kecil itu sudah menjadi pria.
Merasa Saka semakin mempererat pelukannya, Lala menahan d**a bidang cowok itu. "Bukankah ini terlalu dekat?" gugup gadis itu.
"Ini tidak seberapa. Apa Kakak tahu bagaimana pikiran liarku ketika Kakak memeluk kepalaku di d**a Kakak?"
Wajah Lala langsung memerah. Dia merutuki dirinya sendiri yang bergerak terlalu impulsif tadi.
"Saka, kukira ini sudah cukup. Nanti kalau anak-anak yang lain datang dan melihat kita, gimana?"
"Jadi kalau nggak ada yang melihat, apakah tidak apa-apa seperti ini?"
Lala yang kaget mendengar balasan pertanyaannya, reflek menatap Saka. "Bukan begitu, maksudku ..."
Cup!
Satu kecupan mendarat di bibir Lala.
Kalimat Lala terhenti dan malah melotot kaget melihat Saka.
"Jangan berekspresi kaget hingga menggemaskan seperti itu, Kak!"
Eh!
Apa?
Lala yang bingung menautkan alisnya. Dan ...
Cup!
Satu kecupan lagi di bibir Lala.
"Nah kan, bikin aku pengen ngecup Kakak lagi."
"Saka!"
"Kenapa?" Suara Saka terdengar semakin lirih dan parau. "Apa kecupannya mau diubah jadi ciuman?"
Tanpa menunggu jawaban Lala, cowok itu kembali meraih bibir Lala dan melumatnya. Cowok itu semakin mempererat pelukannya.
Ditariknya kepalanya, melepas ciumannya sebentar. "Aku kangen, Kak. Aku sungguh kangen." Bisik Saka dengan bibir yang masih menempel pada bibir lala. "Kangen berat!" Lalu kembali menyergap bibir Lala semakin rakus. Tangannya bergerak meraih tubuh Lala dan mengangkatnya ke atas pangkuannya, membuat mereka berhadap-hadapan dan berciuman dengan gairah yang lebih panas.
Mungkin, karena rindu juga. Lala juga melingkarkan tangannya ke leher Saka, membalas ciuman cowok itu dengan tak kalah rakus.
Lala tidak mengerti dengan sikapnya sendiri. Bagaimana dia bisa sebodoh itu mengikuti permainan ciuman Saka. Tapi Lala juga tidak bisa menolak. Ciuman cowok berondongnya ini, memang sungguh memabukkan.
Lala mencoba menarik bibirnya, menjeda ciuman. "Saka ..."
Tidak membiarkan ciumannya terputus, Saka kembali menyerbu bibir Lala dan bahkan malah mendorong tubuh Lala hingga gadis itu berbaring dengan Saka yang menindihnya. Cowok itu sudah lupa segalanya. Pikirannya hanya tertuju pada hasrat dan tubuh Lala. Dia bahkan mungkin lupa kalau mereka masih ada di teras.
Lala yang kaget atas tindakan Saka segera mendorong d**a pria di atasnya ini dengan kuat. "Saka, tunggu!"
Saka yang sudah hilang kendali tidak memperdulikan teguran Lala. Cowok itu begitu buas mencium dan mendekap Lala. Bahkan tangannya mulai bergerilya di tubuh gadis itu.
"Saka! Berhenti! Aku hamil!"
Deg!
Satu kalimat itu seakan langsung menyadarkan kegilaan sesaat Saka. Dia lupa dengan keadaan Lala. Segera cowok itu pindah dari atas tubuh Lala dan duduk gelisah.
Lala juga bangun dari posisi berbaringnya dan duduk di depan Saka.
"Maaf, Kak! Apa aku menyakiti Kakak?"
"Tidak! Bukan begitu! Aku tidak apa-apa."
Lala yang sempat terlena dengan ciuman Saka tadi, tiba-tiba tersadar dengan kenyataan yang seperti menghantam kepalanya kuat.
Ya, dia hamil. Dan sudah bersuami. Tidak seharusnya dia melakukan hal itu dengan pria lain. Apalagi gadis itu merasa pernah dijual oleh suaminya. Dia merasa begitu buruk dan kotor.
Perasaan minder dan tidak percaya diri langsung menggerogoti hati dan pikirannya.
Ya, seharusnya Saka bisa mendapatkan gadis baik-baik untuk dirinya sendiri. Bukan istri dari orang lain. Seharusnya dia bisa mendapatkan gadis yang sesuai dengan dirinya.
"Maafkan aku! Seharusnya aku bisa mencegah ciuman tadi. Seharusnya aku bisa mengontrol diriku sendiri."
"Kenapa Kakak minta maaf? Kenapa Kakak harus mencegah ciuman? Kenapa kakak harus mengontrol diri segala?" Saka tidak terima. Kenapa dengan ciumannya. Apa Lala tidak suka gaya ciumannya.
"Saka. Aku adalah wanita yang sudah menikah. Dan aku sedang hamil. Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik dari ini."
Oh jadi karena ini, Kakak memutus ciuman. Batin Saka.
"Memangnya kenapa kalau Kakak sudah menikah? Cerai saja! Toh suami Kakak jahat. Dan mengenai Kakak hamil, aku mau jadi ayah dari bayi Kakak. Jadi jangan bilang lagi kalau Kakak nggak pantas buatku."
"Tapi, Saka! Tetap saja nggak bisa begitu. Aku bahkan pernah dijual dan ...." Lala berhenti, tenggorokannya terasa tercekat ketika mengingat kejadian di kapal pesiar itu. "Pokoknya kamu bisa mendapatkan yang lebih baik dariku."
Saka melihatnya. Cowok itu melihatnya ketika Lala seperti orang yang merasa hina dan putus asa ketika mengenang kejadian di kapal. Ingin sekali Saka mengatakan bahwa dialah yang bersama Lala, tapi dia takut jika nanti dia bilang begitu, Lala akan membencinya.
Lala berdiri. "Turunlah! Malam sudah semakin larut!"
Ketika Lala berbalik dan hendak pergi, Saka menangkap tangannya. "Lalu apa yang akan Kakak lakukan pada bayinya? Apa Kakak akan kembali pada ayah si bayi?"
Lala terdiam sebentar, berpikir. Kembali pada Brian? Tidak. Tidak. Sudah cukup dia merasakan siksaan pria itu. Dia tidak akan sanggup lagi menahan semua penganiayaan kedua bersaudara psikopat itu. Apalagi sekarang dia hamil. Lala tidak mau nanti anaknya akan mengalami hal yang sama dengan dirinya.
Melihat Lala yang hanya diam. Saka ikutan berdiri. Menyentuh bahu Lala dan menariknya menghadapnya. "Kak?"
"Tidak." jawab Lala. "Aku tidak akan kembali pada suamiku. Aku tidak mau anakku nanti mengalami hal sama denganku. Walaupun dia adalah ayahnya sekalipun, aku tidak bisa menjamin kalau dia tidak akan menyiksa anak ini." Lala menyentuh lembut perutnya. Dia bertekad, dia harus melindungi anaknya. Apapun yang terjadi.
"Kalau begitu menikahlah denganku, Kak!" Saka mengeratkan pegangannya pada bahu Lala. Mengisyaratkan bahwa dia nggak main-main dengan lamarannya.
Lala tersenyum, "Tidak! Tidak Saka! Kamu berhak mendapatkan yang lebih baik dariku."
"Tidak! Tidak ada yang lebih baik lagi selain Kakak!" Saka membalas dengan penuh keyakinan. "Jadi kumohon, Kak! Menikahlah denganku!"
"Tidak Saka. Aku nggak mau merepotkan kamu atau anak-anak yang lain. Bagaimana jika suatu hari nanti suamiku menemukanku?"
"Tidak akan, Kak! Aku jamin, suami Kakak nggak akan bisa menemukan Kakak!"
"Bagaimana kamu bisa seyakin itu?"
Karena dia menganggap kalau Kakak sudah meninggal. Batin Saka. Tentu saja itu hanya jeritan hati Saka. Nggak mungkin dia bilang, kalau dia tahu, dan bahkan yang memberitahunya adalah Brian sendiri, suami Lala sendiri.
Saka akhirnya hanya bisa diam, tidak mungkin dia mengatakan yang sesungguhnya. Dan dia juga tak pandai mengarang alasan.
Melihat Saka yang diam, Lala berpikir bahwa dia memang tak ada harapan. Selama sisa hidupnya, pasti gadis itu akan selalu di bayang-bayangi sosok suaminya.
Lala menurunkan tangan Saka yang memegang bahunya dari tadi. Gadis itu tidak mengerti, kenapa ada rasa kecewa yang menyelusup ke dalam hatinya melihat diamnya Saka. "Sudahlah! Cepatlah turun!" perintahnya. "Aku juga mau istirahat." Agak lesu, Lala berjalan sempoyongan menuju kamarnya.
Baru saja Lala akan meraih pintu kamar, tiba-tiba Saka mengejarnya dan meraih tangan Lala. Mencegah Lala masuk ke dalam kamar.
Lala menatap Saka kebingungan.
'Ada apa lagi dengan bocah ini?' batin Lala.
"Jika Kakak hamil tanpa ada suami disamping Kakak, bagaimana dengan warga sekitar? Bukankah nanti orang-orang akan berpikir aneh jika Kakak hamil dan tidak ada suami Kakak di sisi Kakak? Sedangkan Kakak tinggal serumah dengan empat pria." Saka berspekulasi sendiri atau lebih tepatnya hanya membuat alasan untuk dirinya sendiri. "Bagaimana jika nanti warga menuduh Kakak yang tidak-tidak?"
"Maksudmu?"
"Karena Kakak hamil, bisa saja para warga sini nanti menuduh Kakak tidur dengan salah satu dari kami. Atau yang lebih parahnya, dituduh tidur dengan kami berempat."
"Apa maksudmu dengan berkata seperti itu?" Lala agak emosi dengan arah pembicaraan Saka. Apa bocah ini menganggap Lala adalah cewek segampang itu.
"Kak!" Saka meremas tangan Lala. "Aku tidak mungkin berpikir seperti itu. Maksudku adalah penilaian dari para warga. Bagaimana penilaian orang-orang sini jika tahu Kakak hamil? Apalagi para ibu-ibu gosip di kompleks sini? Kakak pasti jadi bahan gosipan mereka. Bahkan, bisa jadi nanti kita semua harus dihadapkan pada ketua RT setempat. Diinterogasi siapa ayah dari bayi ini?"
"Bukankah kita tinggal bilang yang sebenarnya pada mereka?" Dengan polos Lala menjawab kekhawatiran Saka.
"Apa Kakak yakin, mereka akan percaya?"
Lala diam. Betul juga apa yang dikatakan Saka. Pandangan warga pastilah negatif. Walau Lala berkata jujur pun , belum tentu kejujuran itu diterima oleh mereka.
"Jadi apa solusimu?" Lala mulai terpancing.
Dan Saka tersenyum. "Biarkan aku jadi ayah si bayi!"
"Maksudmu?"
Lagi-lagi Saka tersenyum. Tersenyum penuh kemenangan. "Biarkan aku jadi suami Kakak, walau cuma jadi suami bohongan. Jadi warga nggak akan menyorot kehamilan Kakak dengan negatif."
"Apakah harus seperti itu?" ragu Lala.
"Tentu. Bagaimanapun, harus ada yang bertanggung jawab. Harus ada ayah dari si bayi. Kalau nggak gitu kita harus siap-siap di arak warga, keliling komplek karena mereka menganggap kita semua tidur bareng hingga Kakak hamil." Saka malah menakut-nakuti wanita hamil itu. "Bagaimana? Apa Kakak setuju dengan saranku?" tanya Saka dengan hati yang begitu senang dan ringan. Ini bukanlah saran. Ini adalah modus Saka agar bisa selalu bersama dengan Lala.
"Entahlah. Aku tidak tahu, apa itu baik untuk kita atau tidak." Lala mulai termakan modus Saka.
"Tentu saja baik untuk kita semua, Kak! Apa Kakak mau kita di arak warga?"
Hati Lala mulai menciut takut. Di arak warga? Wanita itu bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana jika itu benar-benar terjadi.
"Gimana, Kak? Mau?" desak Saka.
Lala masih ragu.
"Gimana, Kak?" Saka tidak sabar.
"Baiklah. Jika menurutmu itu yang baik untuk kita."
Iyeesss. Saka bersorak girang dalam hati. Ingin sekali cowok itu berjingkrak kesenengan.
Asyiiikkk!!!
Horeee!!!