10. Para Bocah m***m

1391 Words
"Ayo, Ka! Kita pergi dari sini!" Ajak Lala segera beranjak berdiri. Gadis itu sudah terlanjur malu. Saka masih mencoba meredakan debaran jantungnya, dan masih mencoba menahan keinginannya. Tapi setiap melihat gadis itu, apalagi dengan kondisi wajah yang memerah menahan malu seperti itu, membuat cowok itu seperti kehilangan pengendalian diri. Dia seperti tidak dapat menahan hasratnya sendiri, dan akhirnya ... "Kak!" panggilnya. Suaranya begitu pelan dan serak. "Ya?" "Maaf!" Setelah berkata seperti itu, Saka tiba-tiba langsung mengambil tangan Lala dan menariknya cepat, hingga Lala kaget. Dia yang tidak dalam posisi siap, ditarik begitu cepat, membuat dia membungkuk dan menggunakan satu tangannya yang bebas bertumpu pada pundak Saka. Dan ... Cup! Satu ciuman mengenai hidung Lala. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Bibir Saka bergerak ke bawah. Bibir bawahnya menyentuh bibir atas Lala. Dan... Hmmpppp! Lala tiba-tiba sadar, dan dengan cepat gadis itu segera menutup bibir Saka dengan tangan. Saka yang semula menutup mata, kaget, dan segera membuka matanya. "Maaf, Kak!" Cowok itu menunduk, melepas cekalan tangannya sendiri pada Lala. Lala berdehem, berusaha menetralisir degup jantungnya yang sempat berlompatan tadi. "Oke nggak papa, anggap saja tadi aku khilaf." Kak Lala khilaf? Tanya Saka pada dirinya sendiri, bingung. Bukannya tadi aku yang khilaf? Pikirannya berkelana. Ketika Lala balik badan, akan meninggalkan Saka, cowok itu segera berdiri cepat dan meraih tangan Lala kembali. "Kak!" Lala berhenti, dan berbalik lagi menghadap Saka. "Maaf, atas kelancanganku tadi!" Cowok itu menunduk, "aku mohon, setelah ini, tolong jangan hindari aku! Jangan kayak aku yang pengecut. Ketika ada masalah malah menghindari kakak. Tolong jangan hindari aku ya, Kak!" Tangan Lala terasa diremas Saka. Bocah ini, tanpa alasan yang jelas, entah kenapa terlihat takut. "Saka! Lihat aku!" Perintah Lala. Saka masih diam menunduk. "Kalau kamu nggak mau lihat aku, maka setelah ini, aku nggak mau bicara sama kamu lagi." Ancam Lala. "Kak!" rajuk Saka menatap Lala. Gadis itu terbahak, " sejak kapan, Saka si cowok dingin berubah jadi cowok merajuk kayak gini?" ejeknya. "Kakak! Nggak lucu!" Lala masih saja tertawa. "Kak!" "Oke! Oke!" Lala maju satu langkah mendekati Saka. Gadis itu berjinjit dan meraih puncak kepala Saka dan mengelusnya. "Anak pintar!' puji Lala tulus. Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang melihat kedua orang itu dengan penuh kecemburuan. Keesokan harinya. "Fikri mana?" tanya Lala ketika melihat hanya ada tiga orang yang berkumpul di meja makan pagi ini. "Nggak tahu, Mbak. Dari tadi pagi belum keluar kamar dia." jawab Candra. Cowok itu kamarnya memang yang paling dekat dengan kamar Fikri. "Apa dia sakit?" tanya Lala. "Entah, dari semalam bocah itu emang udah agak aneh. Diem aja!" Danu mengingat-ingat. "He'em. Gua kerjain juga, dia nggak nanggepin sama sekali. Malah marah-marah nggak jelas." Candra menimpali. Lala mengernyit heran. Tumben tuh anak, yang biasanya ceriwis dan ceria tiba-tiba jadi diem. "Aku lihat ke kamar dia dulu!" pamit Saka. Saka beranjak berdiri, niat hati ingin segera melihat keadaan Fikri. Tapi terhenti gara-gara dengar permintaan Candra. "Mbak! Nanti mau nggak ikut gua?'' "Kemana?" "Ke mall. Kita nonton sekalian kencan?" Goda Candra, menaik turunkan alis. "Tidak boleh!" Tanpa sadar, Saka berteriak keras, membuat Candra dan Lala kaget. "Kenapa?' protes Candra. "Karena dia cemburu." Danu yang menjawab. Cowok itu dengan santai menjawab sambil memakan sarapan yang disediakan. "Bukan begitu!" Saka kebingungan. "Kalau nggak cemburu, namanya apa?" kejar Danu. "Saka, jika ingin bersaing, kita harus care! Nggak boleh curang!" Timpal Candra berapi-api. Lala menatap tiga cowok ini dengan bingung. Yang satu, sangat santai memakan sarapannya sambil memojokkan Saka. Yang satu, menantang Saka dengan penuh semangat. Dan yang satunya lagi, bingung harus bersikap bagaimana. "Ahhh ... sudahlah! Terserah kamu saja!" Putus Saka akhirnya, lalu berbalik lagi dan mulai berjalan meninggalkan ruang makan, "aku mau lihat keadaan Fikri dulu." Saka berjalan cepat meninggalkan ruang makan, nggak mau lagi terpancing dengan gombalan Candra yang selalu menggoda Lala. Sesampainya di depan kamar Fikri, Saka mengetuk pintunya. "Fik!" panggilnya. Tok! Tok! Tok! "Fikri!" panggilnya lagi. "Kamu nggak papa?" "JANGAN KE SINI! GUA BENCI LO!" Teriak Fikri sangat keras dari dalam kamarnya. Saking kerasnya, suaranya sampai terdengar oleh Lala, Danu dan Candra yang berada di ruang makan. "Kenapa tuh bocah?" Danu bersuara. Candra hanya menggeleng tak tahu. " Kita samperin aja!" Akhirnya ketiga orang yang penasaran gara-gara suara keras itu, ikut menyusul ke kamar Fikri. "Kenapa dia, Ka?" tanya Danu setelah sampai di depan kamar Fikri. "Entah. Aku baru saja mengetuk pintu dan dia malah teriak-teriak." Dok! Dok! Dok! Candra menendang pintu kamar Fikri. "Woi... keluar lo kunyuk! Gua libas jadi penyetan baru tahu rasa lo!" "BODO AMAT! MINGGAT LO SEMUA!" balas Fikri teriak. "Nih, anak!" Candra mulai emosi, dia menggulung lengan kaos ke atas. "Gua dobrak aja pintunya! Biar nyahok tuh anak!" "Tunggu!" Lala menahan bahu Candra. "Jangan gitu! Mungkin aja dia lagi kesal." bela Lala. "Kesalpun juga bukan begitu kali caranya." Danu tidak setuju. "Betul!" Sahut Candra. "Kekanak-kanakan banget!" "Dia kan masih anak-anak. Nggak papa, biar dia redam dulu rasa kesalnya." "Jangan terlalu dimanja, Kak!" Kali ini Saka yang bersuara. "Jika seorang laki-laki sudah berumur dua puluh tahunan, bukan lagi anak-anak namanya, dia nggak bisa melampiaskan emosinya seenaknya kayak anak TK. Bagaimana kedepannya jika sekarang saja dia masih begitu." Lala diam. Apa yang dikatakan Saka, ada benarnya juga. Tapi tetap saja, hati nurani Lala merasa kalau mendobrak pintu itu salah. Ketika ketiga cowok itu maju bersamaan, mau mendobrak pintu kamar Fikri. Lala dengan cepat, maju menghadang mereka. Direntangkannya tangannya, menahan para cowok itu. "Jangan! Jangan dulu!" pintanya, "biar aku bicara dengannya dulu sebentar. Oke?" "Oke!" Saka memutuskan. Lala berbalik. Menghadap pintu dan mengetuknya. "Fik, bisa kita bicara sebentar?" "NGGAK! GUA BENCI MBAK LALA!" "Kalau lo nggak bisa bicara baik-baik, gua patahin kaki lo, gua nggak becanda, Fik!" Teriak Candra mengancam. Sepi. Tak ada sahutan lagi dari dalam kamar Fikri. Klik! Klik! Suara kunci pintu diputar. Ceklek. Krieeeet... Tampak Fikri, dengan muka awut-awutan dan mata sembab muncul dari balik pintu kamar. Ketika matanya menatap sosok Lala di depannya, air matanya kembali menggenang dan siap tumpah. Dia langsung menghambur, memeluk Lala dengan sangat erat. "Mbak Lala, huwaaaa!" Cowok itu menangis histeris, "Mbak Lala!" "Hei!" Lala menepuk-nepuk punggung Fikri lembut, "cup cup cup! Sudah, jangan nangis lagi!" "Cih, drama!" olok Candra. Padahal sebenarnya dia juga ingin dapat pelukan kayak gitu. "Iri? Bilang bos!" Ganti dia yang diolok Danu, cowok itu tertawa tertahan. "Sialan Lo!" "Ayo kita masuk ke dalam dulu, Fik!" Lala memapah Fikri yang masih menangis ke dalam kamar Ketiga cowok dibelakang mereka, mengikuti masuk. Didudukannya Fikri di pinggiran ranjang, dan Lala juga ikut duduk di sebelah Fikri. "Kenapa?" tanya Lala lembut, "kamu ada masalah?" Fikri mengangguk-angguk kayak bocah TK yang habis ngambek. "Masalah apa?" "Masalah hati." "Alesan!" Lagi-lagi Candra mengoloknya. "Can! Diem!" peringat Saka. Candra memutar bola matanya jengah. Bosen lihat drama tangis menangis Fikri. "Coba cerita!" pinta Lala lembut. "Gua sakit hati , Mbak. Sakiiit banget!" Fikri memegang dadanya sendiri, menekannya. Seolah-olah ada rasa sakit yang begitu menghujam hatinya. Lala masih diam, menanti kelanjutan cerita Fikri. "Gua sakit melihat Mbak Lala dan Saka ciuman!" "APAAA?" teriak Danu dan Candra bersamaan. "Bener, Ka?" Danu yang sedari tadi kalem, sekejab mata langsung berubah jadi marah. "Bener, Mbak?" Candra yang sedari tadi udah emosi, kini makin emosi. Saka dan Lala yang menerima pertanyaan itu, seketika langsung jadi gugup. "I-itu...!" Lala gugup bukan main. "Bu-bukan ciuman!" Saka ngeles. "Lalu apa?" Tantang Fikri, "gua lihat sendiri lo ciuman sama Mbak Lala di depan Indomaret." "Bukan ciuman! Tapi aku yang mencium. Mencium hidungnya!'" "Mau hidung kek, mau jidat kek, mau bibir, sama aja dodol. Itu namanya ciuman!" Danu nggak terima. Ingin sekali dia mengambil ciuman Saka yang sudah bersarang di Lala. Dia nggak rela. "Beda. Kak Lala sama sekali nggak bales ciumanku." Seettt Wuuushhhh Ketiga cowok yang sedang dibakar rasa cemburu itu langsung menatap Lala. Minta penjelasan. Lala yang tidak siap mendapat tatapan seperti itu, nggak tahu harus memberi penjelasan seperti apa. "Mmmmm ... aku ... aku ...!" "Mbak! Gua minta cium!" rajuk Fikri, "pokok gua juga pengen nyium!" Eh! Apa? "Gua juga!" Candra menambahi. "Aku juga! Aku nggak mau kalah!" Danu mengompori. Lala kebingungan menatap satu persatu cowok yang menghampirinya. Fikri yang dari tadi duduk di sebelah kirinya, menggelendot di lengan Lala. Candra duduk di sebelah kanan Lala, dan memasang wajah sok imut. Dan Danu duduk bersimpuh di hadapan Lala, dengan kepala bersandar pada pangkuannya. Ketiga cowok itu merengek minta cium semua. Saka yang melihat sikap ketiga kawannya itu menepuk jidat putus asa. "Dasar para bocah m***m!" Umpat Saka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD