11. Kisah Danu

1819 Words
Sreng sreng sreng Terdengar suara penggorengan wajan. Suara minyak panas yang beradu dengan bumbu-bumbu masakan. Bukan hanya suaranya yang memenuhi dapur, tapi aroma yang wangi tercium di seantero wilayah dapur. "Wow! Wangi banget!" Lala masuk dan langsung mencium aroma yang menggugah selera, "lagi bikin apa, Dan?" Lala berdiri disebelah Danu yang sedang menumis bumbu. "Mau bikin menu baru, Mbak." "Benarkah?" "Yap! Betul!" "Boleh aku membantu?" "Tentu! Tolong kupas tempe-tempe ini kemudian dikukus ya, Mbak!" "Oke! Siap, Komandan!" Dengan cekatan, Lala mengupas tempe dan memasukkannya ke dalam kukusan yang mulai panas. "Apa Saka yang minta menu baru untuk warung, Dan?" tanya Lala. Setelah menyelesaikan tugas tempenya, gadis itu kemudian mengambil lima buah wortel dan mengupasnya. Danu tertawa disela-sela mengupas beberapa siung bawang putih. "Nggaklah, Mbak! Bocah itu malah nggak tahu menahu soal menu warung." "Kok bisa?" "Semua yang berkaitan dengan menu, dia serahkan semua padaku!" Danu menepuk dadanya sendiri, bangga. Puk! Puk! Puk! Lala pun ikutan menepuk-nepuk punggung Danu. Gadis itu juga bangga padanya, "wah ternyata koki kita hebat banget ya!" Danu mesam mesem senang. Dia semakin semangat menghaluskan bawang putih di atas ulekan. "Lalu bagaimana dengan menu baru ini?" "Seperti biasa, jika aku lagi pengen eksperimen makanan, aku tinggal bilang si si bos aja!" "Lalu Saka bilang apa?" "Paling-paling ngasih uang dan bilang, 'segini cukup?'" Lala ngakak, "Segitu nggak tahunya dia tentang menu warung?" Gadis itu masih tertawa, "dia nggak mau tahu atau memang nggak tahu sih?" "Sebenarnya bukan dua-duanya sih, Mbak! Dia hanya percaya saja! Dia hanya percaya padaku apapun yang aku buat." Ada sedikit rasa malu yang menyelusup mendengar jawaban Danu. Ternyata dia memang sebaik itu. Puji Lala dalam hati. "Boleh tanya sesuatu nggak, Dan?" tanya Lala tanpa melihat Danu. Dia fokus membantu mnegupas kentang yang masih lumayan banyak. "Boleh dong! Apa sih yang nggak buat mbak cantikku?" gombalnya, melirik Lala. Lala tertawa renyah. "Bagaimana kamu bisa mengenal Saka dan bekerja padanya?" Kaget, Danu yang memotong buncis tiba-tiba berhenti. Tapi seperkian detik kemudian, dia melanjutkan kerjaannya lagi. "Janganlah, Mbak!" elaknya. "Kenapa?" Lala menatap Danu sejenak, "apa terlalu berat?" "Nggak juga sih. Cuma terlalu memalukan!" Lala lagi-lagi tertawa. " Memalukan mana sama aku, yang bisa bersama kalian gara-gara minta makan nasi?" Ada malu yang begitu menggelayut ketika Lala ingat pertama kali bertemu dengan para Pangeran lele. Dengan kondisi yang paling buruk yang pernah dirasanya. Kaos kedodoran yang dia ambil dari kantong kresek hitam di tempat sampah umum. Serta celana pendek yang ada di situ juga. Mana nggak mandi selama seminggu. Dan mukanya yang pasti kucel abis. Nekad belok ke warung pangeran karena mencium aroma masakan Danu yang begitu menggoda. Dan saat itu, Lala benar-benar sudah tidak sanggup menahan laparnya lagi. "Kalau itu sih, nggak memalukan, menurutku, Mbak." jawab Danu. Cowok itu mengambil wortel yang sudah dikupas Lala, mencucinya, lalu memotongnya menjadi kotak-kotak kecil. "Diantara aku, Candra dan Fikri, justru akulah yang paling parah ketika ditemukan Saka." Danu melanjutkan. "Ditemukan?" Gadis itu tak mengerti. Danu tertawa. "Kami semua bisa berada disini karena Saka yang menemukan kami, Mbak. Atau lebih tepatnya, tanpa sengaja menemukan kami." Cowok itu membuka tutup pengukus, mengecek tempe, merasa sudah cukup matang, tempe itupun diangkat dan ditiriskan. "Dan yang paling parah adalah aku. Saka menemukan di kantor polisi." "Apa?" Gerakan Lala mencuci kentang yang sudah dikupas, terhenti karena kaget. Dia bahkan sampai lupa mematikan kran wastafel. Saking kagetnya, dia langsung menatap Danu dalam. "Bagaimana bisa? Apa ada sesuatu yang terjadi padamu waktu itu?" Danu tersenyum, "Bukan terjadi padaku, Mbak. Tapi sesuatu terjadi pada Saka." "Aku tidak mengerti." Tangan Danu terulur, meraih kran wastafel dan mematikan airnya. Meniriskan kentang yang masih basah habis di cuci, meletakkannya di baskom. "Oke aku cerita, tapi sambil meneruskan eksperimen ya?" "Ups, sorry!" Lala baru tersadar sudah menelantarkan kentang yang dicucinya. Danu tertawa, "Kalau ditambah sambil peluk cium gimana, Mbak?" godanya. "Danu...!" Danu semakin terbahak. Memberikan kentang bersih pada Lala untuk dipotong tipis-tipis memanjang. Sedangkan dia sendiri memasukkan potongan wortel dan buncis ke dalam kukusan. "Waktu itu aku masih begitu nakal. Umurku sudah dua puluh dua tahun tapi aku sama sekali belum tahu apa itu tanggung jawab." Danu mengawali ceritanya. Cowok itu sedikit demi sedikit menghaluskan tempe yang sudah dikukus tadi. "Mbak tahu kan kan, anak pank?" Lala mengangguk. Setahunya anak pank itu adalah anak yang suka berkeliaran di jalan-jalan dengan rambut dibikin berdiri ke atas. "Dulu, aku juga termasuk anak-anak nakal itu." Lala diam menyimak, dengan tangan masih bergerak memotong kentang. "Aku nggak pernah pulang ke rumah, karena aku benci rumah!" Lala berhenti memotong ketika menyadari, ada nada sendu dalam kalimat Danu tadi. "Aku nggak suka lihat papa tiap hari selalu membawa wanita berbeda ketika pulang ke rumah. Sejak mama meninggal, papa seperti orang yang hilang arah. Dia bahkan lupa kalau masih punya anak yang harus diurus dan dipertanggungjawabkan, aku!" Danu semakin kuat menghaluskan tempe diulekan. Bercerita tentang papanya, membuatnya sedikit sesak. "Aku yang tidak punya pegangan dan muak, akhirnya pergi dari rumah, bertemu anak-anak pank dan melampiaskan amarahku di sana." Selesai mengulek tempe, Danu mengecek wortel dan buncis yang dikukus. Merasa dua sayuran itu sudah matang, dia lalu meniriskan dua-duanya. "Aku ikut kemanapun mereka pergi. Jika mereka ngamen, aku ikut ngamen. Jika mereka tidur di emperan toko, aku juga ikut. Jika mereka nyopet, akupun ikut serta. Bahkan, ketika mereka merampok dan menodong orang dengan pisau, aku adalah salah satu pelakunya." Lala menahan napas kaget. Menatap Danu dan menyentuh bahunya lembut. "Apa kamu baik-baik saja?" "Dulu aku nggak baik-baik saja. Setiap aku melakukan hal yang menyakiti orang lain, hatiku terus saja berontak. Tapi pikiranku selalu membenarkan perbuatanku. Selalu saja begitu. Pikiran dan hatiku selalu berperang. Tapi pada akhirnya aku tetap melakukannya. Aku tetap menyakiti orang lain dengan alasan, karena aku juga sakit. Jahat banget kan aku, Mbak?" Danu tersenyum miris. "Kata siapa? Kamu nggak jahat! Waktu itu, kamu hanyalah anak yang terluka dan butuh pelampiasan." Danu diam. Meresapi kata-kata Lal. Mencoba membenarkan segala sikapnya dulu. Tapi tetap saja dia merasa salah. Karena dia tahu, dia salah. "Dan!" Lala menyentuh dan menggenggam tangan Danu lembut. "Maukah jika kita duduk dulu? Aku ingin mendengar ceritamu dengan seksama." Danu diam tak menjawab. Tapi ketika tangannya di tarik dan dibimbing menuju kursi meja makan, cowok itu tidak menolak. Lala menggeser kursi lain, mendekat ke Danu. Lalu duduk di depan sang koki warung. "Sekarang kamu bisa lanjutkan!" pinta Lala. Danu masih diam, merenung. Menarik napas dalam lalu menghembuskannya "Suatu malam, di jalan yang sepi, aku dan gengku melihat seorang pemuda yang turun dari mobil dan memborong dagangan seorang kakek yang berjualan digerobak. Kakek itu menjual beraneka macam rebusan. Kacang rebus, ubi rebus dan jagung rebus dalam satu wadah. Kakek itu sangat gembira karena pemuda itu tidak mau di kasih uang kembalian." Danu berhenti sejenak. "Aku sudah merasa nggak enak di awal. Sejak ada yang bilang 'ada yang mangsa ya g empuk', hatiku merasa tidak tenang. Apalagi, satu dari tujuh temanku itu, mengeluarkan pisau. Aku merasa benar-benar ada yang salah. Aku ingin menahan, tapi aku juga nggak kuasa. Akhirnya aku pun hanya bisa diam mengikuti kemauan mereka." "Setelah kakek itu pergi dengan gerobaknya. Pemuda itu menghampiri kami dan memberikan seluruh makanan yang dibelinya untuk kami. Tentu saja kami senang." "Tapi ketika pemuda itu pamit pergi, satu orang diantara kami, segera menahannya dan mengancamnya. Dia meminta seluruh uang yang ada di dompetnya, jam tangan dan barang berharga lainnya. Tak terkecuali. Kalau dia tidak mau, laki-laki itu tidak segan untuk melukainya." "Apa mbak Lala tahu? Pemuda itu bahkan tak gentar sedikitpun. Dengan tenang, dia mengeluarkan dompet di saku jasnya, mencabut satu lembar isinya dan memberikan dompet itu pada kami. Dia bilang, 'ambil saja semuanya, kecuali ini'" "Kami tentu saja makin girang. Tapi laki-laki yang membawa pisau tadi malah berulah. Dia ngotot ingin satu lembar yang diambil pemuda itu. Padahal itu bukanlah uang atau ATM. Itu hanya selembar foto." Foto? Foto siapa? Tanya Lala dalam hati. Dia nggak mau menyela cerita Danu. "Pemuda itu tetap kekeh mempertahankan foto itu. Karena emosi, laki-laki b*****t yang memegang pisau tadi, menusuk dia. Aku kaget, kami semua kaget. Kaget, karena baru pertama kali itu melakukan penusukan. Dan takut, takut karena biasanya pisau itu hanyalah alat untuk mengancam. Bukan untuk menyakiti orang. Satu orang kami, dua orang kabur, dan akhirnya kami semua kabur. Sedangkan pemuda itu tergeletak tak berdaya di pinggir jalan yang sepi. Sendirian." Lala menutup mulut dengan kedua tangan. Kaget dan ngeri membayangkan yang dialami Danu. Danu menghembuskan nafas kasar dan menutup wajahnya. Dia merasa begitu sangat jahat sudah melakukan hal keji itu. "Lalu dipertengahan pelarianku, aku seperti di hentikan dengan sesuatu. Hatiku. Hatiku benar-benar nggak enak telah meninggalkan pemuda yang sekarat itu sendirian. Akhirnya, aku kembali menghampirinya." "Dia masih di sana. Terbaring sendirian tergenang darahnya sendiri, yang mengucur dari perutnya. Entah kesadaran dari mana, entah kekuatan dari mana, aku yang saat itu melihatnya terluka, dengan susah payah langsung menggendongnya di punggung. Mobil pemuda itu masih terparkir di bahu jalan, tapi aku tidak bisa mengendarainya. Akhirnya, aku menggendongnya berlari menuju jalan raya." "Dan apa Mbak tahu yang paling lucu?" Danu menatap Lala. Ada genangan air di bola mata cowok itu yang berusaha ditahannya. "Dia sempat bertanya padaku begini, 'apa aku tidak berat?', lalu aku jawab 'diam, b******k!' dan kemudian dia pingsan." Cowok yang hampir menangis itu malah tertawa. Lala tahu, itu hanya untuk menutupi kesedihannya, jadi Lala hanya diam memperhatikan Danu. Setelah beberapa detik, tawa Danu pun reda. "Setelah sampai di pinggir jalan raya, aku segera menghentikan taksi dan membawa pemuda itu ke rumah sakit. Di rumah sakit, pemuda itu langsung ditangani dan dirawat. Sedangkan aku di bawa ke petugas keamanan rumah sakit dan diinterogasi. Ditanya kronologi kejadiannya. Setelah aku bercerita, tidak membutuhkan waktu lama, beberapa polisi datang dan membawaku ke kantor polisi. Dua hari dua malam aku di penjara. Hari ketiga, pemuda itu datang ke kantor polisi dengan wajah yang masih pucat. Membebaskan ku dan memintaku membuat pilihan. Pulang atau ikut dengannya. Dan aku memilih pilihan kedua. Ikut dengannya." "Itulah awal kebersamaanku dengan Saka!" Lala terenyuh mendengar kisah Danu. Tak terasa matanya pun mengembun, ikut merasakan betapa beratnya hidup Danu dulu. "Lagi mengenang masa lalu?" tanya Saka yang tiba-tiba sudah muncul dan berdiri di pintu dapur. "Nggak jadi eksperimen menu baru, Dan?" Lala dan Danu saling berpandangan terkikik. Gara-gara Lala yang penasaran dengan kisah Danu, dia sampai mengajak Danu menunda eksperimennya. "Sorry bos! Ada iklan tadi." Cowok itu lagi-lagi terkikik geli, menyadari dirinya begitu bisa menuruti keinginan Lala. "Oke, aku akan lanjutin dulu eksperimen menu barunya." Danu beranjak dan kembali menghadapi bumbu-bumbu yang sudah menantinya. Sekarang giliran Saka yang duduk menggantikan Danu. Lala yang sudah mendengar cerita dari Danu, menatap Saka penuh kekaguman. Ada suatu rasa yang menyelinap masuk tanpa dia sadari setelah mendengar sisi lain dari si bos dingin ini. "Jangan menatapku begitu, Kak!" Eh! Saka membalas tatapan Lala dengan intens. "Jika Kakak menatapku begitu, aku jadi nggak yakin bisa mengendalikan diriku lagi." Alis Lala bertaut tak mengerti. Saka mencondongkan tubuhnya mendekat pada Lala, "jika nanti aku khilaf nyium Kakak lagi gimana? Bukan hanya di hidung, tapi di bibir?" Eh! Apa?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD