"Gajian! Gajian! Gajian!" terdengar suara koor Danu, Candra, dan Fikri kompak sambil menggebrak-gebrak meja makan.
Pagi ini, di meja makan, para personel pangeran lele lengkap menjadi empat orang. Fikri sudah nggak ngambek lagi, gara-gara ciuman Saka dan Lala.
Kemaren ketika ketiga cowok itu merengek, iri pengen dicium Lala juga, Saka mengumumkan bahwa hari ini mereka gajian dan ditambah bonus.
Alhasil, ketiga cowok perengek itu langsung berbinar dan sudah tidak mengusik Lala dengan ciuman. Ganti mengusik Saka dengan gajian plus bonus yang dijanjikan. Dan memang begitulah kekuatan uang. Bisa mengalihkan keinginan, bahkan dari ciuman.
Lala, yang melihat kekompakan, kegaduhan ketiga cowok di depannya merasa heran, takjub dan terpesona secara bersamaan. Terpesona lucu, dengan kelakuan tiga cowok tampan yang berlagak seperti bocah TK. Imuuut banget. Pengen banget Lala nyubit pipi satu persatu para bocah ini.
"Gajian! Gajian! Gajian!"
"Berisiiik! Bisa diem nggak!" protes Saka risih.
Cep!
Ketiga cowok itu langsung diem. Mancep.
"Nih, gaji kalian dan bonusnya sekalian!" Saka memberikan mereka, masing-masing satu amplop coklat.
Danu, Candra dan Fikri begitu sumringah mendapat amplop bagian mereka. Membayangkan berapa bonus yang mereka dapat. Pasti tidak sedikit.
Saka menghampiri Lala. " Ini, Kak. Gaji Kakak selama dua minggu."
Lala memandang amplop itu dengan terharu, "Apa nggak papa, Ka, aku menerimanya?"
"Nggak papa, Kak. Itu adalah hasil dari kerja keras Kakak selama ikut membantu di warung."
"Makasih ya, Ka!"
"Sama-sama, Kak!"
Lala menerima amplop pemberian Saka. Agak heran dia, amplopnya terasa begitu tebal. Dan ketika Lala membukanya, dia kaget bukan main. Tiga juta? Gaji selama dua Minggu, tiga juta?
"Ka, apa ini nggak salah?" tanya Lala
"Salah gimana, Kak?"
"Kenapa banyak sekali. Tiga juta untuk 2 minggu?"
"Iya, Kak. Betul. Itu nggak salah." Ganti Saka yang heran dengan pertanyaan Lala.
"Banyak sekali." takjub Lala.
"Masih banyakan gua, Kak." timpal Fikri. Dikeluarkannya uang dari dalam amplop, mengipas-ngipaskannya pada wajah cute-nya. "Lima juta, Kak. Lima juta." bongkarnya senang dan sombong.
Lala lagi-lagi takjub.
"Kok sama kayak gua, Fik?" Candra nggak terima. "Bos, gaji kita kok sama? Kan gua lebih tua dari dia!" protesnya.
"Karena gua lebih pemes dari pada lo. Gua lebih terkenal serta lebih ganteng dan imut. Karena gua adalah icon dari warung Pangeran. Dan kebanyakan para pelanggan, suka sama gua!" sombong Fikri, menepuk bangga dadanya sendiri.
"Dasa bocil k*****t!" Candra langsung memiting leher Fikri. Menjitakinya greget.
"Masih banyakan aku-lah," Danu mengompori. Cowok itu mengeluarkan uang segepok dari dalam amplop. "Tujuh juta, gaeees. Tujuh juta. Wkwkwkwk!"
"Apa?" kaget Candra dan Fikri.
"Serbu si Danu!" teriak Candra.
"Serbuuu!" balas Fikri.
Sebelum tertangkap, Danu sudah lari duluan keluar dari ruang makan. Dan dikejar Candra dan Fikri. Ketiga cowok itu lari kejar-kejaran seperti Tom dan Jerry serta si anjing.
Lala hanya geleng-geleng melihat kelakuan ketiga bocah nakal itu.
"Kak!" Panggil Saka. "Mau jalan-jalan?"
"Kemana?"
"Ke mall mungkin?"
Lala mengerutkan alis menatap Saka. "Oke, asal jangan beli G-String lagi!"
Saka tersenyum kecut mengingat hal konyol yang pernah di lakukannya.
#####
"Wah, rame banget!" Entah untuk keberatan kali dalam sehari ini, Lala selalu takjub dengan hal apapun yang dilihat dan dirasakannya.
Mall malam ini begitu sangat ramai. Seingatnya ketika dia dan Saka ke mall kemaren, tidak serami ini. Apa mungkin karena ini malam Minggu?
"Apa nggak papa, Ka, warung tutup malam Minggu begini?" tanya Lala khawatir.
"Nggak papa, Kak. Sekali-kali kita juga butuh refreshing."
"Betul itu!" sahut Fikri yang berada di sebelah kiri Lala, mengangguk-angguk.
"Tapi apa nggak papa juga, kita berjalan seperti ini?" tanya Lala lagi merasa agak malu dengan posisi berjalan mereka, mereka berlima, berjalan beriringan memenuhi jalan mall. Di mulai dari posisi paling kanan, ada Danu, Saka, Lala, Fikri, dan Candra. Dari awal masuk mall, mereka sudah mencuri pandangan para pengunjung mall yang lain. Entah terpesona dengan ketampanan mereka, entah greget karena mereka jadi menghalangi jalan orang lain. Lala tidak bisa menebak.
"Nggak papa, Kak. Orang ganteng mah, bebas." sombong Candra.
Kelima orang itu berjalan menyusuri setiap stand di mall. Mereka bermain game, keluar masuk toko, memborong pakaian, membeli aksesoris, dan menonton bioskop. Bioskop horor.
"Kamu yakin ingin nonton film ini, Fik?" tanya Danu curiga ketika Fikri membeli tiket nonton film horor.
"Yakin!" Fikri mengangguk mantap.
"Beneran?" kali ini Lala yang bertanya, ragu dengan keyakinan Fikri.
"Bener, Mbak! Entar kalau Mbak Lala takut, duduk disampingku saja!" Niat hati Fikri memang ingin mencuri kesempatan dalam kesempitan pada Lala nanti di dalam bioskop.
"Jangan-jangan, nanti lo yang malah ketakutan, Cil?" ledek Candra.
"Enak saja! Gini-gini gua pemberani tahu!"
Tapi...
"Ih ih ih ih ih!"
"Ih ih ih ih ih!"
"Arrrggghhh!"
"Arrrggghhh!"
Candra dan Fikri berteriak, ketakutan, bersahut-sahutan, setiap tokoh setannya, kuntilanak, keluar.
"Ih ih ih ih ih!"
"Arrrggghhh!"
"Ih ih ih ih ih!"
"Arrrggghhh!'
"Ka!" panggil Danu, "boleh nggak aku sumpal saja tuh mulut dua bocah. Berisik dan bikin malu saja!"
"Jangan cuma sumpal. Buang aja kalau perlu dua bocah itu, Dan!" Saka juga malu tak terhingga dengan tingkah mereka. Dia sampai menutup wajahnya dengan tangan.
"Kakak, nggak takut?" tanya Saka yang melihat Lala, duduk di sebelahnya, hanya diam.
Awalnya, ketika baru masuk bioskop, Candra dan Fikri ngotot sama-sama pengen duduk di sebelah Lala. Mereka ingin duduk mengapit Lala. Tapi Saka sigap, segera menyembunyikan Lala di balik punggungnya. Menolak permintaan Candra dan Fikri dengan tegas. Dan mengumumkan bahwa, Lala hanya boleh duduk di sebelahnya.
Tentu saja mereka protes. Danu pun ikut protes. Mereka tetap ingin duduk di sebelah Lala. Tapi protes itu segera hilang ketika Saka memberikan ultimatum, siapa yang protes lagi maka uang bonusnya di tarik kembali. Akhirnya, mau tak mau, mereka mengalah dengan posisi duduk Lala, Saka, Danu, Candra dan Fikri. Tidak ada yang boleh mendekat pada Lala kecuali Saka sendiri. Titik. Nggak bisa diganggu gugat.
Ketiga cowok itu cemberut, tapi nggak bisa protes juga. Takut bonus gajian, diambil lagi sama si bos.
"Jujur, sebenarnya aku lebih takut jika ada yang ngelabrak kita gara-gara suara Candra dan Fikri. Mereka terlalu keras berteriak, untuk ukuran ketakutan, seorang cowok!" kata Lala melirik kanan kiri, depan belakang. Terlihat sangat jelas jika penonton yang lain, terganggu dengan suara dua bocah itu,akar dari segala biang masalah.
Lihatlah mereka, masih saja teriak-teriak nggak jelas. Bahkan sambil berpelukan. Hadeeechhh!
#######
Pulang dari jalan-jalan, Lala langsung naik ke atas, lantai dua, lewat tangga luar rumah. Mereka berpisah di depan pintu rumah.
Klik!
Lala membuka pintu gudang, menyalakan lampu.
Sudah lebih dari dua minggu, Lala tinggal di gudang ini. Dari gudang yang sangat kotor, sumpek dan berantakan. Kini jadi lebih bersih, lega, dan nyaman.
Sudah ada ranjang di sana, almari dan meja rias. Terhitung tiga hari setelah kedatangannya, Saka membelikan semuanya tanpa memberitahu Lala lebih dulu. Pulang dari warung, tengah malam, tiba-tiba saja sudah ada semua barang itu. Gudangpun juga terlihat sangat bersih. Semua benda rongsokan hilang entah kemana. Dinding gudangpun juga berganti warna. Yang semula berwarna putih kusam, yang sudah luntur dan kotor, berganti jadi wallpaper yang cantik dan indah. Lampu bohlam yang remang-remang, berganti lampu terang. Dan ada lampu tidur di atas nakas samping ranjang. Gudang kotor itu, dalam waktu singkat, cuma sepuluh jam, berubah. Dari gudang yang kotor dan berdebu, menjadi kamar gadis yang bersih, nyaman dan elegan.
Lala meletakkan semua barang belanjaannya di atas ranjang. Masih ingat dia, gimana ributnya mereka ketika berbelanja. Apalagi ketika masuk gerai baju wanita.
"Mbak! Lihat ini! Cantik banget kan?" Fikri memperlihatkan baju setelan pelayan yang sangat seksi, "jika Mbak Lala pakai ini di warung, gua yakin, semua orang pasti gempar!" bocah semprul itu malah tertawa, membayangkan.
Pletak!
"Waduuuh! Sakit tahu, Ka!" Bocah yang selalu kena jitak itu, mengelus-elus kepalanya yang nyut-nyutan. Mana Saka jitaknya kuat banget lagi.
Saka memasang wajah tegang dan seram. "Kalau kamu nggak bisa milihin baju yang cocok buat Kak Lala. Mending nggak usah, atau kamu minggat sekalian!'
Melihat tampang Saka, Fikri langsung mengkeret takut, "Maaf!"
Candra ngakak, "Woi, bocil! Ngeri juga otak kecil lo itu. Wkwkwk!"
Fikri menatap Candra sengit, "Emang lo bisa, milihin baju buat Mbak Lala?"
"Bisa dong!"
"Sudah. Sudah! Aku milih sendiri aja bajunya." lerai Lala.
"Nggak bisa!" Candra dan Fikri menjawab bersamaan.
"Gua bisa nyariin baju yang cocok buat Mbak Lala." Semangat Candra. Cowok itu langsung melesat, memutari seluruh gerai, dan kembali dengan baju setelan rok sepan mini, dengan atasan tanktop, sepatu boot cewek selutut serta mantel panjang sepaha.
"Gimana? Cocok kan?" tanyanya bangga. "Memakai ini, Mbak Lala pasti keliatan masih remaja berumur dua puluh tahunan. Dengan rok mini dan sepatu boot warna merah ini, kulit paha Mbak Lala yang mulus terekspos sedikit, membuat yang melihatnya jadi gerah dan penasaran. Atasan tanktop yang dibungkus mantel panjang, pasti terlihat begitu menggoda." Candra terkikik mengandai-andai.
"Can!" panggil Saka seram. Melebihi seramnya suara kuntilanak di bioskop tadi. "Kalau baju itu nggak segera kamu buang, maka, kamu yang akan kubuang!"
Dengan secepat kilat, Candra langsung berlari mengembalikan baju pilihannya.
Kali ini ganti Danu dan Fikri yang menertawakan Candra.
"Sekarang giliran ku memilihkan baju buat Mbak Lala!" Danu memproklamirkan diri.
"Tidak!" cegah Saka, "aku yakin, pilihanmu pun tak akan jauh berbeda dengan duo bocah m***m itu."
"Tidak! Pilihanku pasti beda dan cocok untuk Mbak Lala nanti."
"Tidak! Tidak usah! Biar Kak Lala sendiri yang memilih bajunya sendiri!"
"Nggak bisa, Ka! Kan tadi Fikri sama Candra udah milihin, sekarang ganti aku dong!" protes Danu.
"Nggak perlu dan nggak usah!"
"Pokonya aku mau milihin!" ngotot Danu.
"Oke! Tapi nanti, apapun pilihanmu, kamu sendiri yang harus memakainya!"
Danu langsung terdiam, pikirannya yang sempat berkelana tadi, membayangkan baju seksi, langsung buyar.
"Sekarang kita keluar! Biar kak Lala sendiri yang memilih baju yang cocok untuknya!" putus Saka.
"Tapi ...!" ketiga cowok m***m masih sempat protes.
"Sekarang atau balikin bonusnya?"
Mendengar kalimat, 'balikin bonusnya' ketiga cowok penggila baju seksi itu, langsung berlarian, berlomba keluar dari gerai baju wanita
Saka menghembuskan nafas sebal melihat ketiga semprul pegawainya.
"Maaf ya, Kak, atas kekonyolan anak-anak. Sebenarnya mereka semua baik, cuma ya gitu...!" Saka tersenyum canggung.
"Nggak papa, Ka! Aku tahu kok maksud mereka itu baik. Jadi, jangan terlalu dipikirkan ya!" Lala tersenyum mafhum.
Mendengar itu, Saka akhirnya bisa bernafas lega. Paling nggak, Lala tidak tersinggung dengan kelakuan m***m mereka.
Diangsurkannya ATM platinum berwarna hitam ke tangan Lala. Mengeluarkan pensil dari saku kemeja, dan menuliskan angka-angka pin dari ATM tersebut di telapak tangan Lala.
"Belanja pakai ini saja, Kak!"
"Nggak usah, Ka! Tadi kan kamu udah ngasih gaji ke aku." tolak Lala.
"Gaji itu Kakak simpan saja. Buat tabungan. Ini buat belanja Kakak hari ini."
"Tapi?"
"Anggap saja sebagai permintaan maaf ku atas kelakuan bocah-bocah m***m tadi."
"Ya udah! Makasih ya, Ka!" pasrah Lala.
Setelah mengangguk, Saka pergi keluar dari gerai menyusul para anak buahnya.
Lala mulai memilih baju. Setelah mendapat tiga setel baju yang menurutnya cocok, dia segera pergi ke kasir. Tapi kasir menolak kartu atm-nya.
"Kenapa ditolak, Mbak?" tanya Lala tak mengerti.
"Maaf, Mbak! Sesuai permintaan dari pemilik ATM, mbak harus memilih minimal sepuluh setel baju. Kalau bisa lima belas setel atau dua puluh setel. Kurang dari itu, mbak nggak boleh transaksi pakai ATM itu." Si Mbak kasir tersenyum ramah, menjelaskan.
"Kalau gitu, aku bayar tunai saja, Mbak!" Baru saja Lala ingin mengeluarkan dompet, tapi terhenti gara-gara mendengar jawaban si Mbak kasir.
"Maaf, Mbak! Toko kami, khusus Mbak, nggak menerima uang cash!"
Apa? Ini pasti ulah Saka! Batin Lala menggerutu.
Akhirnya, mau tak mau, Lala memilih sepuluh setel baju.
Sekarang, di dalam kamar, dia menatap baju-baju yang masih terbungkus rapi itu.
"Huf!" Dia menghembuskan nafas pasrah tapi juga geli. Pikirannya melayang, kembali mengingat momen balada G-String dulu, dengan Saka.
"Lho, inikan ATM Saka!" kaget Lala ketika membongkar tasnya dan menemukan ATM Saka tadi. Ternyata dia lupa mengembalikannya pada Saka.
Tanpa pikir panjang, Lala langsung menuju pintu yang mengarah pada tangga. Di dalam rumah juga ada tangga yang menghubungkan antara lantai atas dan lantai bawah. Cuma khusus tangga dalam rumah ini selalu dikunci Saka, dengan alasan melindungi privasi Lala. Dan kuncinya sendiri, diberikan pada Lala. Jika sewaktu-waktu Lala ingin ke lantai bawah, bisa pakai tangga yang di dalam rumah. Jadi nggak perlu keluar rumah dulu.
Lala memutar kunci, membuka pintu, dan langsung menuruni tangga ke bawah.
Sepi. Apa semua sudah tidur? Tanya Lala pada dirinya sendiri. Dia lalu berjalan menuju kamar Saka.
Tok! Tok! Tok!
Tak membutuhkan waktu lama, pintu yang diketuk Lala tadi terbuka, menampakkan penampakan yang membuat Lala menahan napas.
Saka tampak baru saja selesai mandi. Dengan rambut yang basah menetes-netes dan tidak memakai baju. Hanya memakai celana pendek di atas lutut dan handuk kecil yang melingkar di lehernya. Cowok itu terlihat begitu seksi.
Wow, kotak-kotak. Batin Lala melihat perut sixpack Saka. Pikirannya berkeliaran, mengembara.
"Ada apa, Kak?" tanya Saka, mengembalikan pikiran Lala yang entah sudah sampai mana.
"Eh. Ini." Lala mengangsurkan ATM Saka tadi yang tertinggal di tasnya. "Terima kasih dan maaf. Maaf tadi lupa nggak langsung mengembalikan ATM mu!"
Saka menerimanya. "Nggak papa, Kak. Besok saja juga nggak papa sebenarnya."
Lala hanya tersenyum.
"Eh. Itu!" kata Lala sedikit kaget ketika matanya menangkap bekas luka di perut bawah sebelah kiri Saka. "Apa itu bekas tusukan?'
"Bagaimana Kakak tahu?'
"Danu pernah cerita, waktu di dapur kemaren."
"Oooh!"
"Apa aku boleh menyentuhnya?" tanya Lala ragu. Entah mengapa, tangannya begitu gatal ingin menyentuh bekas luka Saka.
Cowok itu sedikit kaget. "Boleh!"
Lala mengulurkan tangan, menyentuh sedikit bekas luka Saka dengan jarinya.
"Apa masih sakit?" tanya Lala fokus pada bekas luka. Dia tidak menyadari perubahan wajah Saka yang menghangat.
"Hmmm!"
Lala mengelus pelan bekas luka, membuat Saka merinding dan deg-degan. Cowok itu berusaha keras untuk tidak mengeluarkan suara yang tak nyaman.
"Kak!" panggil Saka, suaranya begitu parau.
"Ya?" tanya gadis yang masih tidak menyadari perubahan Saka. Dia terlalu fokus pada bekas luka.
Greb!
Tak tahan, Saka segera menangkap tangan Lala dan menarik tubuh gadis itu masuk ke dalam kamarnya. Lalu dengan cepat, dia mendorong tubuh Lala ke pintu, yang secara otomatis menutup pintu juga.
Eh! Apa ini? Lala kebingungan.
"Bisakah Kakak menyentuh bekas lukaku lagi? Mengelusnya?" pinta Saka.
Apa?
"Bolehkah aku mengecup bibir Kakak? Sedikit saja?"
Apa? Apa ini? Kenapa dengan bocah ini?