13. Insiden hotel

2060 Words
Pantai adalah tempat terbaik untuk menghabiskan waktu di sore hari. Matahari yang terbenam di pantai, sangat indah dipandang mata, semburat jingga di ujung langit, benar-benar menyajikan pemandangan terbaik. Belum lagi riak ombak yang seakan memanggil, juga semilir angin yang membuat suasana semakin syahdu. Di sore hari, angin laut terasa sejuk sehingga siapapun betah berlama-lama di pantai. Begitu juga dengan empat Pangeran lele dan juga Lala. Setelah semalam mereka shopping gila-gilaan di mall, hari ini, Saka memutuskan warung tutup dan diliburkan lagi. Siang tadi, dia mengajak semuanya naik mobil Van untuk pergi ke laut. Tentu saja mereka senang bukan main. Habis gajian plus bonus, dan sekarang dapat bonus lagi liburan ke pantai. "Mbak Lala! Ayo sini!" Teriak Fikri yang bermain di dalam air. Lala hanya menggeleng dan tersenyum. Gadis yang memakai kaos ketat dan celana pendek sepaha itu, hanya duduk di pasir sambil mengamati Saka, Danu, Candra dan Fikri yang lagi asyik berenang. Ketika Lala menatap Saka, tiba-tiba saja Saka juga menatapnya. Dengan cepat, gadis yang digoda Candra untuk pakai bikini pantai tapi menolak itu, langsung memalingkan muka. Wajahnya juga bersemu merah. "Bisakah Kakak menyentuh bekas lukaku lagi?" Terngiang lagi permintaan Saka semalam, ketika cowok itu berhasil menarik paksa Lala masuk ke dalam kamarnya. "Bisakah aku mengecup bibir Kakak, sedikit saja!" Entah mungkin, karena Lala yang sudah lama tidak bersentuhan dengan pria. Atau entah mungkin, libido gadis itu yang lagi memuncak. Dan entah kegilaan darimana, Lala mengangguk begitu saja. Tahu bahwa dirinya sudah mendapat ijin, Saka langsung saja menyergap bibir Lala rakus. Janji yang minta kecup sedikit saja, langsung hilang tak berbekas seperti asap putih yang hilang diterpa angin. Tak berbekas sama sekali di ingatan. Dengan sedikit tergesa dan serakah, Saka melahap dan melumat bibir Lala. Tangan kirinya menekan leher belakang Lala, membuat gadis itu tidak bisa mengelak sedikitpun. Dan tangan kanannya memeluk tubuh Lala erat. Seperti menyalurkan sesuatu yang tertahan sejak lama dalam dirinya. Saka seakan ingin menelan Lala. Sedangkan Lala sendiri melingkarkan tangannya di leher Saka. Sudah lebih dari dua menit mereka bertahan dalam posisi itu. Lala mulai kehabisan nafas. Direnggangkannya tangannya dari leher Saka, turun ke d**a cowok itu, mendorong tubuh Saka dari tubuhnya, dan ciumanpun terlepas. Merasa kurang, Saka menyergap lagi bibir Lala. Bahkan tangannya mulai tak terkendali. Lala lagi-lagi mendorong tubuh Saka, tapi tubuh Saka malah bergeming, tak menggeser sedikitpun. Akhirnya dengan terpaksa, Lala mengigit bibir bawah Saka. Saka yang kaget, langsung melepas ciuman. Melihat nafas Lala yang ngos-ngosan, bos muda itu merasa bersalah. "Kak! Maaf! Maafkan aku! Apa ciumanku terlalu kasar?" Saka mengusap bibir Lala yang basah karena ulahnya. Lala menggeleng. "Justru akulah yang minta maaf karena sudah menggigitmu!" "Nggak! Aku lah yang harus minta maaf, karena tidak bisa mengendalikan diri." Dengan lembut dan penuh perasaan, Saka kembali mengusap bibir Lala dengan penuh sayang. "Saka!" "Iya, Kak!" Lala menatap Saka. Bingung sendiri dengan apa yang akan dikatakannya. "Ada apa, Kak?" Lala mengalihkan pandangan, malu. "Jangan bilang sama anak-anak yang lain ya!" "Woi, Ka!" Kenangan Lala yang panas semalam , terputus gara-gara teriakan Candra. "Bibir lo kenapa? Kok bengkak gede kayak gitu?" "Iya, sejak tadi pagi sebenarnya gua juga mau tanya, tapi males. Soalnya nggak bakalan dijawab sama si bos dingin." Fikri menimpali. "Jangan-jangan kamu semalam mimpi basah, Ka!" Tebak Danu sekalian meledek Saka. Mereka terbahak. Saka menyentuh bibir bawahnya, "oh, ini!" tatapannya beralih pada Lala. Dan gadis itu, terlihat dari wajahnya, kalau takut jika sampai Saka mengatakan yang sebenarnya. Dan tiba-tiba saja, satu ide jahil melintas di benak Saka. "Digigit." Jawab cowok itu menggantung. Saka memperhatikan ekspresi Lala yang membelalak kaget. "Digigit apa emangnya? Kok bisa parah gitu bengkaknya?" Fikri kepo. "Digigit semut dengan berat 500 ons!" Jawab Saka geli, gara-gara melihat Lala sekarang malah memelototinya. "Busyet dah! Semut raksasa dong!" Kelakar Candra. Dan mereka tertawa. Lala kembali mengamati Saka. Melihat Saka tertawa dengan bibir indahnya. Tanpa sadar Lala juga menyentuh bibirnya sendiri. Mengenang rasa bibir Saka yang masih tertinggal di bibirnya. Dan lagi-lagi, seperti magnet, mata Saka seperti tertarik untuk membalas tatapan Lala. Melihat Lala menyentuh bibirnya sendiri, Saka pun mengerucutkan bibir, membentuk seperti ingin mencium, menggoda Lala. "Gila tuh bocah!" umpat Lala bergumam. Lalu beranjak berdiri, meninggalkan para Pangeran lele yang betah bermain air. Gadis itu berjalan sendirian, menyusuri pasir sepanjang pantai. "Gila! Gila kamu La!" gumamnya, memukuli kepalanya sendiri. "Gimana bisa kamu nyium Saka sih. Dia kan jauh lebih muda darimu. Kayak nggak pernah ciuman saja. Kamu jangan gila, La. Masak iya ciuman sama brondong. Dasar Lala oon!" Lagi-lagi Lala memukuli kepalanya sendiri. Mengutuk kebodohannya. Tak tahan dengan kecerobohannya sendiri, Lala berhenti berjalan dan berjongkok, menyembunyikan wajahnya di antara lututnya yang tertekuk. Dia merasa nggak punya muka jika harus bertemu dengan Saka. "Kak!" panggil Saka. Kaget mendengar suara Saka, Lala langsung mengangkat wajahnya. Tampak Saka yang sudah duduk bersila di pasir, cowok itu seperti dalam posisi mengintip wajah Lala. "Kenapa menghindar?" "Aku?" Lala tertawa sok pede, padahal canggung berat. "Nggaklah! Kenapa juga aku menghindarimu?" "Benarkah?" "Ya, tentu saja!" "Kalau gitu, coba cium aku lagi!" Deg! Lala kaget. " Saka! Bukankah aku sudah melarang kamu! Jangan membahas itu lagi!" "Tidak! Kakak nggak bilang kayak gitu semalam. Kakak hanya bilang, 'jangan bilang sama anak-anak yang lain!'" "Sama saja, Saka!" "Beda, Kakak!" "Ayolah, Saka! Umur kita terpaut jauh dan kamu sudah seperti adek bagiku. Dan untuk yang semalam, maaf, itu adalah salahku. Salahku yang tidak bisa menahan diriku sendiri." "Memang kenapa kalau kakak lebih tua dariku?" Tampak dari suaranya, cowok itu agak ngambek. "Lagipula aku nggak mau jadi adek kakak. Dan semalam itu, bukan salah Kakak. Akulah yang meminta cium." "Tetap saja, Saka! Aku itu sudah ... !" "Mbak Lala ... !" teriak Fikri. Deg! Ups! Hampir saja keceplosan. Batin Lala. Baik Lala maupun Saka, menoleh pada Fikri. Wajah Lala terlihat senang karena terselamatkan gara-gara teriakan Fikri. Sedangkan wajah Saka terlihat kesal karena gangguan dari bocah itu. Trio pengacau berlarian menyusul Saka dan Lala. Mereka ikut duduk di atas pasir yang lembut. Kelima orang itu duduk selonjoran menghadap laut, bercengkrama dan tertawa dan saling melempar olok-olokan. Pada sore itu, dan di pantai itu, mereka menantikan cahaya jingga di ujung cakrawala. Lembayung senja adalah pemandangan yang sangat indah dan itu sangat disayangkan jika sampai terlewat. #### "Tiga kamar, Tuan?" Tanya resepsionis pada Saka yang memesan kamar. Akhirnya, setelah puas bermain di pantai mereka tidak pulang ke rumah huni. Tetapi Saka mengajak mereka menginap di hotel, di dekat pantai. Tentu saja setelah membeli pakaian ganti di kios-kios kecil dekat pantai. "Iya, Mbak! Tolong yang VIP ya!" Si mbak resepsionis yang manis, tersenyum. Dan langsung menginput pesanan Saka. "Kok VIP, Ka?" tanya Lala khawatir. Gadis itu heran dengan kondisi keuangan Saka. Bos warung lele ini, apakah memang segitu banyaknya omsetnya? Kemaren aja ngasih gaji Lala tiga juta, Danu tujuh juta, Candra dan Fikri masing-masing lima juta. Menggaji empat karyawan selama dua Minggu saja udah dua puluh juta. Dan sekarang ngajak ke pantai dan tidur di hotel Dengan kamar VIP. "Nggak papa, Kak. Biar istirahat kita nyaman." "Tapi ... !" "Bos!" panggil Danu. " Kok cuma tiga kamar sih?" protesnya tak terima. Cowok itu yakin, jika tidak memesan kamar sendiri-sendiri, pasti nanti dia, kalau nggak sekamar sama Candra ya, pasti sama Fiki. Males banget dia sekamar sama tukang ngorok itu. "Kenapa? Kamu mau kamar sendiri?" "Ya, iya lah!" "Tidak untuk hari ini. Kalian bertiga!" Saka menunjuk Danu, Candra dan Fikri. "Harus sekamar!" "Apa? Kok gitu?" Teriak trio perusuh. "Nggak bisa gitu dong!" Protes Candra. "Curang itu namannya!" Tambah Fikri. "Nggak adil!" Danu menimpali. "Adil. Itu sangat adil." jawab Saka. "Karena, jika kalian tidak bersama, pasti kalian, para trio m***m, nanti tengah malam, ingin pergi ke kamar Kak Lala. Dan aku nggak mau itu terjadi." "Lalu lo sekamar sama siapa dong?" Fikri masih tak terima. "Tentu saja aku punya kamar sendiri. Begitu juga dengan Kak Lala!" Sombong Saka, menang telak. Puas! "Curaaanggg!" protes ketiganya. "Kalau gitu gua mau sekamar dengan Mbak Lala saja!" Dengan ekspresi ngambek, tiba-tiba saja Fikri berjalan mendekati Lala dengan merentangkan tangan. Ingin memeluk. Dengan sigap, Saka langsung menarik kerah belakang Fikri. "Kalau nggak setuju, kalian bisa pulang. Dengan jalan kaki." "Nggak mau!" "No way!" Ketika keempat cowok itu terus berdebat tentang kamar, Lala hanya tersenyum dan memperhatikan mereka saja. Merasa lelah karena terlalu lama berdiri, Lala berinisiatif duduk di sofa tunggu dekat dengan resepsionis. Ketika hampir mencapai sofa, tiba-tiba Lala di tabrak oleh seseorang hingga terjatuh di lantai. Saking kerasnya terjatuh, hingga ada bunyi gedebuk yang cukup nyaring. "Hei! Kalau jalan tuh pakai mata dong!" Teriak seseorang yang menabraknya. Dari suaranya, itu pasti seorang wanita Mendengar suara wanita itu, tubuh Lala terdiam kaku. Masih denga posisi terjatuh dengan wajah yang menatap lantai. Karena nggak ada respon, tangan wanita itu tergerak ke arah rambut Lala, seakan ingin menjambak. Tapi sebelum tangan wanita itu sempat meraih rambut Lala, seseorang sudah lebih dulu menangkap lengannya. "Mbak! Jangan gitu! Malu dilihat orang!" Suara seorang laki-laki. Suara yang begitu sangat dihapal Lala. Tubuh Lala semakin menegang. Takut. "Maaf, Nona! Anda tidak apa-apa?" Ketika laki-laki itu ingin menyentuh pundak Lala, ada tangan lain yang menepisnya. Danu! Danu langsung berdiri menghadang laki-laki dan wanita yang tidak dikenalnya ini. Sedangkan Candra dan Fikri langsung menghampiri Lala. "Siapa anda? Apa yang telah anda lakukan pada kekasih saya?" Tuduh Danu. "Iya. Siapa lo? Berani-beraninya lo ngelukain pacar gua!" Fikri emosi. "Awas aja jika sampai terjadi sesuatu sama cewek gua. Mampus kalian!" Candra meledak. Saka yang masih di resepsionis, mengurus administrasi kamar, mengangkat alis heran melihat Danu, Fikri, dan Candra mengakui bahwa Lala adalah kekasih mereka. Si wanita tertawa merendahkan, "Ternyata cuma p*****r, punya tiga cowok sekaligus. Gayanya aja yang sok-sokan!" "Lo ... !" Fikri, yang memang paling muda di antara mereka, mudah sekali tersulut emosi dengan kelabilannya. "Mbak! Aku mohon! Sudahlah!" pinta si laki-laki. Lalu laki-laki itu menghadap lawannya lagi. "Maaf, Tuan! Nona! Ini kesalahan saya!" "Siapa bilang!" Si wanita lagi-lagi nggak terima. Dia nyolot. "Dia aja, jalan nggak pake mata." "Mbak!" Teriak si laki-laki frustasi. "Sudahlah! Oke!" Barulah, si wanita mau diam. "Maafkan kami, Tuan! Nona!" Laki-laki itu membungkuk hormat. Setelah mengatakan itu, laki-laki itu meninggalkan Candra, Danu Fikri dan Lala, dengan sedikit menyeret tubuh sang wanita. Saka yang sudah selesai dengan urusan di resepsionis, segera menghampiri mereka. "Apa Kak Lala nggak papa?" tanyanya khawatir. "Sepertinya Mbak Lala syok!" Danu yang menjawab. "Aku nggak tahu alasannya apa, tapi jika ditabrak seseorang dan jatuh, seharusnya yang terasa itu cuma sakit. Tapi Mbak Lala sepertinya syok juga!" Danu mengamati Lala yang sudah duduk di kursi sofa, dibantu Candra dan Fikri. Setelah laki-laki dan wanita itu pergi, Lala baru mau bangun, dan kedua cowok disampingnya sigap memapahnya. "Mungkin dia kecapekan. Ayo segera kita istirahat!" Saka menghampiri Lala, mengambil alih tangan Lala kemudian menuntutnya. Ingin sekali dia menggendong gadis itu, tapi tidak mungkin, karena masih ada Danu, Candra dan Fikri didekat mereka. Bisa-bisa mereka bertiga keroyokan pengen gendong juga. Alhasil, dia hanya bisa menuntunnya, dibantu Fikri juga. Sampai di lift, dengan cekatan, Candra memencet tombol dan langsung terbuka. Di hotel ini lift untuk kamar VIP memang khusus. Sampai di lantai sepuluh, lampu lift berdenting dan pintu terbuka. Mereka berjalan pelan sampai di pintu kamar yang bertuliskan 1921. Kamar Lala. Saka memberikan kunci kamar pada Danu, dan cowok itu segera membukanya dan masuk duluan untuk menyalakan lampu kamar. "Mbak benar nggak papa?" tanya Fikri khawatir. "Nggak papa Fik! Aku hanya butuh istirahat saja." Lala tersenyum menenangkan. "Maaf membuat kalian semua khawatir." "Baiklah kalau begitu, ayo kita keluar! Biar Kak Lala bisa istirahat." ajak Saka. "Gua di sini dulu ya, Pak Bos! Gua masih pengen nemenin Mbak Lala!" rayu Fikri. "Enak aja lo bocil!" Candra langsung memiting leher Fikri. "Memangnya lo doang yang pengen nemenin Mbak Lala. Gua juga pengen tahu." Lalu segera menyeret bocah itu keluar dari kamar Lala. "Kami keluar dulu ya, Mbak! Mbak istirahat dulu aja!" pamit Danu ikut menyusul keluar. "Jika ada apa-apa, segera telepon aku ya, Kak!" Saka masih terlihat khawatir. "Maaf, karena kesalahanku, kakak jadi kena insiden hotel tadi." Lala tersenyum. "Nggak papa, Ka! Tadi aku aja yang teledor!" Saka melangkah mendekat pada Lala dan membungkuk sedikit dan memeluk gadis itu. Lala tentu saja kaget atas perlakuan Saka. "Ka! Jangan gini!" "Nggak papa, Kak! Biar Kakak nggak syok lagi. Biar Kakak bisa lebih tenang!" "Tapi ... !" "SAKAAA ... !" Teriak Danu, Candra dan Fikri bersamaan. Ternyata mereka masih menunggu Saka di depan kamar Lala. Saka yang kaget, segera melepas pelukannya pada Lala. "Aku juga pengen meluuukkk!" protes Danu. "Gua juga!" Candra. "Gua jugaaa!" Fikri
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD