6. Bocah Sableng

1022 Words
"Waaahhhh borong nih." Goda Danu ketika melihat Saka dan Lala pulang membawa banyak sekali barang belanjaan. Selain belanjaan dari pasar, mereka juga membawa 10 tas belanja cantik. Terlihat keduanya kesusahan membawa barang belanjaan sebanyak itu. Karena kasian, Fikri berinisiatif menghampiri Lala dan ingin membantunya, "aku bantu mbak." "JANGAAANNNN...!" Diluar dugaan Lala tanpa sadar malah berteriak, "anu ... maaf. aku bisa bawa sendiri. Makasih." Lanjutnya gak enak. Fikri yang tadi sempat kaget hanya nyengir malu. Udah ditolak, diteriakin pula. Emang lagi apes dia. Sedikit kesusahan Lala membawa 5 tas belanjaan di kanan kiri tangannya menuju tangga. Dan ketika sampai di ujung tangga dia berhenti dan berbalik. "Saka.."panggilnya agak tertahan. Seperti sedang menahan kesal dan lega secara bersamaan. Yang di panggil malah garuk-garuk kepala yang gak gatal. Canggung dan merasa bersalah. Melihat ekspresi Saka yang seperti itu, Lala hanya bisa menghembuskan nafas untuk mengurangi rasa kesalnya, gadis itu lalu berucap, "terima kasih." "Sama-sama," jawab Saka, "dan maaf" lirihnya. Setelah itu Lala benar-benar naik tangga dan berjalan menuju gudang atas, kamarnya. Candra yang memperhatikan tas-tas belanjaan Lala tadi merasa agak aneh dengan berbagai merk yang tertulis di paper bag itu. Dia merasa itu seperti bukan merek baju. "Suasana canggung apa ini?" Fikri, si ceplas ceplos, merasa aneh dengan situasinya. "Ada apa dengan kalian?" liriknya ke Saka. "Apa sesuatu sudah terjadi pada kalian berdua?" "Bukan apa-apa," gak mau menjelaskan, Saka langsung berjalan ke arah dapur sambil membawa berbagai belanjaan bahan masakan dari pasar tadi, "ayo bikin adonan bumbu buat entar sore!" ajaknya mengalihkan perhatian. Ketiga cowok itu hanya saling berpandangan tak mengerti. "Bukankah bos kelihatan aneh?" tanya Fikri pada kedua temannya. "Kadang aku merasa, dia memang selalu terlihat aneh." Danu menanggapi. Walau ketiganya merasa curiga pada Saka dengan pemikiran masing-masing, tapi ketiga cowok itu hanya bungkam. Nggak mau mengorek, dan bertanya lebih dalam lagi. Toh, Saka juga nggak bakalan mau cerita tentang masalahnya. Tapi beda dengan Candra. Cowok itu benar-benar kepo dengan merek yang bertuliskan di tas Lala tadi. "Ka, bukannya tas yang dibawa mbak Lala itu merek underwear?" Bisik Candra kepo ketika mereka sampai di dapur. Sebelum menjawab Saka melirik Danu dan Fikri yang berdiri agak jauh dari mereka,"Kok kamu tau Can?" cowok itu kaget Candra tahu tentang hal itu. Padahal tadi dia berjanji kejadian hari ini akan menjadi rahasia antara dia dan Lala saja. Candra tepuk jidat, "Jangan bilang lo gak jadi beliin mbak Lala baju tapi malah borongin dia underwear?" Saka hanya mendesah frustasi. Dia hampir gila jika mengingat kelakuannya sendiri. Seperti bukan dirinya yang biasanya. Candra menepuk-nepuk pundak Saka, "Semangat bro. Jangan kaget ntar jika mbak Lala agak ngambek ma lo." "Tolong rahasiain ini dari anak-anak ya, Can!" melas Saka. "Beres. Gua tahu ini adalah aib terburuk lo sepanjang jadi manusia Saka yang cool." Candra menepuk-nepuk pundak Saka lagi . Kasian tapi juga senang. Senang melihat bosnya ternyata bisa kacau juga. Hahaha. Dan Saka kembali mendesah frustasi. Di waktu yang sama. Di tempat yang berbeda. Lala yang sudah berada di gudang kamarnya juga merasa frustasi. Mengingat kejadian di toko underwear tadi dia benar-benar merasa malu. Cowok yang biasa cuek itu benar-benar membuatnya malu setengah mati. "G-String? Apa itu?" Lala yang mendengar pertanyaan Saka segera membekap mulut cowok itu. Dan tersenyum malu pada mbak SPG-nya, "Maaf mbak bisa minta tolong kasih saya underwear yang biasa?" Gak terima Saka segera melepaskan bekapan tangan Lala, "kok yang biasa?" protesnya. "Sudah. Diam!" Ancam Lala berbisik. "Jangan yang biasa mbak. Yang tadi aja. Yang mbak bilang G-String itu." Pintanya dengan bangga. Saka merasa mungkin underwear yang namanya G-String itu mahal. Makanya Lala menolak. "Saka!!!!" Teriak Lala tertahan. "Gak papa, Kak. G-String juga gak papa. Semahal apapun itu aku masih sanggup belikan." dengan ke-pede-an dan kebanggaan tingkat tinggi Saka mencoba menenangkan Lala. Boleh gak sih aku mengumpat anak ini dodol. Haiisshhhhh. Batin Lala gemas . Sekarang ganti SPG-nya yang agak kaget mendengar si cowok memanggil ceweknya dengan sebutan kak. Apa aku tadi salah merekomendasikan model ya. Batin si mbak SPG. "Bukan begitu...." Lala mau menjelaskan tapi udah dipotong Saka lagi. "Gak papa kak. Beneran!!!!" Pede Saka, lalu kembali menatap mbak SPG dan berucap mantap. "Mbak tolong ambilkan yang G-String itu ya!" "Iya, Tuan." Jawab SPG yang semula penuh keyakinan, sekarang ganti ragu. Dia berjalan lambat menuju dalam toko. Lala hanya menepuk jidat melihat kebodohan cowok di depannya ini. "Ini tuan G-String nya!" Si mbak SPG mengulurkan sepasang underwear yang masih tertata di hanger. Dan ketika Saka melihatnya langsung.... DOOEEEEENGGGGGGGG...... "Uhuk uhuk uhuk..."cowok ganteng itu terbatuk kaget. Dan Lala menutup muka menahan malu. Apaaaaaa iniiiiiiii? jeritnya dalam hati. Saka bukanlah cowok yang tidak tahu underwear itu apa. Dia tahu. Bra, celana dalam, tanktop dan sejenisnya. Sebagai laki-laki tentu saja dia tahu hal semacam itu. Tapi kalau untuk modelnya seperti apa, sungguh ini pertama kalinya dia melihat underwear yang begitu......seksi. seketika pikiran liarnya langsung membayangkan jika Lala memakai daleman itu. Eh.... "Ehem..."dehemnya untuk mensterilkan pikirannya yang kacau, "ada berapa model yang kayak gini mbak? Haaaaaaaaaa....??? bocah ini gila apa? kok malah tanya ada berapa model? Seketika ganti Lala yang pikirannya ngebleng. Anak ini benar-benar..... "Untuk G-String ada 5 model yang paling diminati saat ini tuan." "Dan mereknya?" Bagi Saka sudah terlanjur basah malunya. Daripada begitu menyelam aja sekalian. Anak ini.........gilaaaaaaaaaaa. Lala makin gemas. "Ada 10 merek di toko kami dengan berbagai model tuan." "Oke tolong berikan yang paling....." Saka diam sejenak. Bingung memilih kata-kata yang tepat untuk model underwear yang dipilihnya. Yang paling seksi....kok aku jadi kayak m***m. Yang paling lembut.......ah tidak. Yang paling cantik.....kok rasanya canggung. "Gimana tuan?" "Oh maaf." Saka agak tergagap dengan pertanyaan mbak SPG yang menyadarkannya dari lamunan. "Tolong berikan yang paling nyaman pakainya. Berikan 5 model untuk setiap merek. Berarti semuanya 15 model." "Arrrrgghhhhhhhhh......" Teriak Lala gemas mengingat tingkah Saka di toko underwear tadi. Entah bagaimana gadis itu seperti melihat bagian lain dari diri Saka selama shopping. Cowok itu entah mengapa terasa seperti los, apa adanya. Tidak menahan diri untuk bersikap tenang dan cool. Di lihatnya 5 paper bag cantik yang tergeletak di samping kakinya. Di jumputnya satu model underwear dari dalam tas. Digelarnya di lantai. Melihatnya membuat Lala gemes sendiri. Dan ada 15 underwear kayak gini. Lala benar-benar merasa frustasi. Sakaaaaaaaaaa....... Dasar bocah sableeeeeeeeengggggg
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD