"Itu pegawai baru ya mas?" Seorang mbak-mbak pelanggan yang mau bayar makanan bertanya.
"Iya mbak."
"Cantik ya mas."
Saka hanya tersenyum.
"Ada pegawai baru ya mas?" Kini ganti seorang pelanggan cowok.
"Iya mas."
"Dapat dari mana mas yang kayak gitu? Mau dong satu yang seperti itu."
Saka diam serasa ingin banting meja.
" Wah pegawai barunya cantik banget mas," seorang ibu-ibu histeris kagum.
"Makasih Bu"
"Tak jadiin mantu mau gak ya dia?" Si ibu terkikik suka. Dan Saka jengkel tak terhingga.
"Kakak. Kakak!" Sekarang malah anak kecil yang menarik-narik baju Saka ketika cowok itu meletakkan pesanan ke meja sebuah keluarga, "kakak cewek itu cantik banget."
Saka kembali hanya tersenyum.
"Boleh gak aku kenalan dengan kakak cantik itu?"
Agak greget tapi tetap tersenyum, Saka menjawab, "boleh."
Dan si bocah laki-laki kecil itu langsung melesat menghampiri Lala yang sedang menyiapkan pesanan.
"Kakak cantik," panggilnya manja.
"Iya sayang."
"Kakak cantik banget."
"Makasih"
"Kaka mau gak jadi pacarku?"
Kali ini gak cuma Saka saja yang gemas. Danu Candra dan fikri ikutan sebal sama anak kecil itu.
Entah sudah berapa kali Saka menjawab pertanyaan-pertanyaan para pelanggan tentang Lala. Bukan hanya Saka, tapi Danu Candra dan Fikri juga mendapat pertanyaan yang serupa dari para pe-ngepo Lala. Bahkan ada juga customer cowok yang kurang ajar sok minta ijin pengen godain mbak kesayangan mereka.
Padahal baru dua minggu Lala ikut membantu di warung tapi dia sudah sangat terkenal. Bukan hanya terkenal di antara para pelanggan warung, tapi juga para penjual kanan kiri warung Saka dan bahkan sampai masyarakat sekitar.
Gadis pendiam dengan mata agak sipit yang memancarkan kehangatan. Gadis yang sopan tapi juga berani jika ada yang menggangu berlebihan. Gadis yang cantik, yang terlihat kuat tapi juga terlihat anggun secara bersamaan.
"Pegawai barumu langsung viral Ka," ujar kang Maman, penjual bubur kacang hijau di sebelah kanan warung Saka.
Saka tidak menjawab. Hanya memandang Lala yang sedang membersihkan meja bekas pelanggan sambil makan bubur. Disendoknya sedikit demi sedikit semangkuk bubur kacang hijau, menikmatinya. Sudah menjadi kebiasaan memang, jika pelanggan warung sudah gak begitu ramai, maka cowok penyuka manis itu pasti membeli bubur kang Maman.
"Udah denger belum kabar soal mbak Dewi, penjual warung kopi di seberang?"
Kali ini Saka menoleh pada kang Maman, mengerutkan alis, bertanya.
"Katanya dia sebal dan marah gara-gara para pelanggannya pada pindah ke tempatmu."
"Pindah apanya," koreksi Saka, "mereka cuma duduk-duduk tuh di situ tanpa pesen apapun," sebalnya. Dagunya menunjuk pada segerombolan anak muda yang pada nongkrong di atas motor dekat warungnya. Mereka terus-terusan mengarahkan hp pada setiap gerak gerik Lala. Berbisik-bisik dan tertawa menjijikkan sambil memandangnya.
Saka yang gregetan, sudah benar-benar menahan diri untuk tidak mengusir para berandalan itu.
"Terus rencanamu gimana?"
"Yah mau gimana lagi. Biarin ajalah kang. Lagipula ini kan tempat umum. Gak ada tulisan dilarang nongkrong di sini."
"Jangan gitu, Ka. Sekarang baru segerombolan aja tuh anak berandal. Lah kalau besok-besok gerombolannya lebih banyak lagi gimana?"
Saka diam. Dia juga sebenarnya sudah mewanti-wanti hal itu. Tapi dia kan bukan satpol PP. Dia tidak punya wewenang melarang anak-anak yang ingin bergerombol.
Melihat Saka yang diam dan ragu, kang Maman melanjutkan, "yang lebih mengkhawatirkan sebenarnya jika sampai para berandalan itu masuk warung dan menggoda pegawaimu. Oke lah cuma cari perhatian dengan nongkrong aja bisa di maklumi. Tapi jika sampai terjadi hal-hal diluar kendali, gimana?"
Saka tersentak dengan kata-kata kang Maman yang terakhir.
Hal-hal diluar kendali.
Seketika netranya langsung jelalatan mencari keberadaan Lala.
Tidak ada. Dia tidak ada.
Tanpa memperdulikan Buburnya yang belum habis, dia langsung berdiri dan berlari ke warung.
Dapur juga gak ada.
Dia berlari lagi.
Di tempat cucian piring juga gaka ada.
Berlari lagi semakin cepat.
Di toko juga gak ada.
"Nyari apa mas?" Bu Arum, pemilik toko yang dihampiri Saka bertanya.
"Kak Lala gak ke sini Bu?"
"Oh nak Lala. Iya tadi ke sini mau beli gas elpiji tapi gas elpiji ku lagi habis."
Saka kaget, "lalu ke mana kak Lala Bu?"
"Katanya sih mau ke tokonya Haji Badrun."
Sial sial siaaaaaaalllllll. Toko Haji Badrun kan lumayan jauh dan melewati gang sepi.
"Oke Bu. Makasih!"
Secepat kilat Saka segera berlari menuju toko pak Haji. Mungkin jika dia tidak melihat gerombolan cowok tadi berkurang, yang awalnya 7 cowok jadi 4 cowok, dia gak akan segila ini mencari Lala.
Kata-kata kang Maman terus menerus terngiang di benaknya.
Bagaimana ini? Bagaimana jika kak lala kenapa-napa?
Dia semakin cepat berlari. Sampai dipertigaan dia segera berbelok ke gang yang penerangannya sangat kurang. Dia memaki pak RT komplek yang tidak mau segera mengganti lampu jalan yang mati.
Dia terus saja berlari dan berlari secepat mungkin. Baru kali ini dia merasa larinya begitu lamban dan toko pak Haji begitu jauh.
"KAK LALA.....!!!!!" teriaknya histeris ketika melihat Lala di toko pak Haji.
Gadis yang dipanggilnya itu, yang sedang mengulurkan uang untuk membayar jadi kaget. Apalagi melihat Saka yang berlari cepat kearahnya membuat gadis itu heran.
"Hei kenapa Saka?" Tanyanya bingung melihat Saka membungkuk, memegang lutut dan masih ngos-ngosan. Sepertinya dia kelelahan.
Saka tidak menjawab. Dia diam, mencoba meredakan debaran jantungnya yang serasa mau meledak.
"Hei...." Lala mencoba mencolek pundak Saka tapi......
Pluk......
Saka malah menarik tangan Lala dan memeluknya.
"Kenapa kakak gak ada di warung? Kenapa kakak malah kelayapan sendiri? Kenapa kakak membeli gasnya begitu jauh?" Cerocos Saka.
"Aku....."
"Kenapa gak nyuruh Danu, Candra atau Fikri saja? Kenapa gak nyuruh aku? Emangnya kakak bodoh. Kenapa sudah larut begini malah keluyuran nyari elpiji?"
"Saka, aku ...."
"Kakak tau, aku berlarian kesana kemar nyari kakak. Hampir gila rasanya aku gak nemuin kakak di manapun."
Tuk tuk tuk
Sebuah tongkat mengetuk pundak Saka pelan. Saka mendongak, melihat pak Haji Badrun yang mengacungkan penggaris.
"Aku tau kamu lagi kasmaran. Tapi kalau mau main peluk-pelukan liat sekeliling dulu dong."
Patuh, Saka mengedarkan pandangan ke sekeliling toko pak haji dan......
Bluuusssshhhh.....
Wajah Saka langsung memerah malu. Ternyata di toko pak haji lagi banyak pembeli. Dan semuanya menatap Saka dan Lala dengan penuh penasaran. Seperti melihat drama Indosiar secara live. Maklum aja kebanyakan para emak-emak yang beli.
Lala malah sudah menahan malu sejak Saka berteriak memanggilnya tadi, dan makin malu saat dia memeluknya sambil ngoceh gak jelas.
"Maaf" ucap Saka lirih.
Salah seorang pembeli ibu-ibu berjalan mendekati mereka dan menepuk bahu Saka, "oh gara-gara ini ya makanya tadi pas aku bilang pengen ngambil mantu nak Lala kamu diam aja."
Makin malu lah Saka. Ternyata ibu-ibu yang tadi berbincang di warungnya ada di sini juga.
Ibu itu menepuk-nepuk pundak Saka lagi, "gak papa cah bagus. Lanjutkan. Ibu merestui kalian walau gagal dapat mantu secantik nak Lala." Ucap ibu sok bijak.
Lala yang bingung hanya bisa diam dan bengong
Loh kok jadi gini