8. Rindu setengah mati

1015 Words
"Dari mana Ka?" Tanya Candra melihat Saka datang membawa gas elpiji dengan Lala. "Dari tokonya pak Haji Badrun." "Di tokonya Bu Arum habis emang?" Saka diam melirik Candra dengan sengit. Yang dilirik diam aja gak paham arti lirikan Saka. "Kak boleh minta tolong, bantuan Danu dulu?" Pinta Saka. Lala mengangguk dan langsung menuju dapur, wilayah eksperimen Danu. "Kamu yang nyuruh kak Lala beli gas?" sepeninggal Lala, Saka langsung saja menyemprot Candra. Cowok itu mengangguk. "Kenapa nyuruh dia?" "Lah....bukannya lo sendiri yang bilang, kalau butuh sesuatu yang mendadak bisa minta tolong mbak Lala buat beliin. Biar dia bisa akrab sama penjual lain. Lo amnesia, Bos?" Saka terdiam. Dia baru ingat kalau pernah bilang kayak gitu ke anak buahnya. "Justru lo itu yang kenapa? Pulang beli gas kok malah ngamuk." gerutu Candra nggak terima kena marah. Saka baru sadar ternyata dia sedari tadi kayak orang emosi yang pengen nelen orang dengan gak jelas. Gara-gara kang Maman tadi. batinnya kesal juga ingat kata-kata kang Maman yang nakut-nakutin. Jreng..... Terdengar suara gitar dipetik. Saka, Candra dan seluruh pengunjung warung menoleh ke asal suara. "Mau apa mereka?" Tanya Saka melihat salah satu gerombalan anak yang sempat meresahkannya tadi, sekarang membawa gitar. Ternyata tanpa dia sadari, entah sejak kapan, formasi anak-anak itu sudah kembali lengkap jadi tujuh. "Tadi sih minta ijin mau nyanyi di sini, ya aku ijinin aja. toh nggak merugikan kita." Candra menjawab asal. Oh jadi tadi pas aku lihat jumlah mereka berkurang itu ternyata ngambil gitar. Saka mengangguk-angguk mengerti. "Ngamen?" Saka bertanya kembali. "Bukan." "Lalu?" "Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barokatuh. Selamat malam semuanya!" Percakapan Saka dam Candra terputus oleh salam anak gitar. "Perkenalkan nama gua Rio," suaranya lantang, "ijinkan gua menyanyikan sebuah lagu khusus untuk mbak Lala yang cantik, di sana." Tunjuknya pada Lala. Semua telinga yang mendengar langsung beralih menatap Lala. Yang di tatap hanya diam dan bingung. Saking kagetnya dia sampai gak bisa bereaksi. "Mbak Lala terimalah lagu persembahan gua ini. Lagu ini mewakili perasaan gua buat Mbak Lala." Semua yang mendengar ucapan Rio langsung bersorak-sorai riuh. "Wuuuuuuu ... nembak ni ye." Sorak salah satu pendengar. "Cieeeee ...." "Suit suit ... icik iwir." Saka yang mendengar sorak sorakan itu merasa kupingnya panas. bukan hanya kupingnya, hati dan pikirannya pun juga panas Jreeeengggg..... Jreng.... jreng ... Jreeeeennnnngggggg... Kau gadisku yang cantik Coba lihat aku di sini Di sini ada aku yang cinta padamu Saka, Danu, Candra, Fikri, Lala dan seluruh orang yang berada di sekitaran itu takjub. Ternyata suara anak ingusan itu bagus dan enak di dengar juga. Permainan gitarnya juga oke. Mau tak mau Saka juga ikutan memuji si bocah nekat. Kau gadisku yang manis Coba lihat aku di sini Di sini ada aku yang sayang padamu Hooooo hooooo Walau kutahu bahwa dirimu Sudah ada yang punya Namun kan kutunggu Sampai kau mau Wow....wow Sorak sorakan kembali terdengar. Kini lebih keras dan lebih ramai dari pada yang tadi. Entah kenapa Saka tiba-tiba ingin banting tuh gitar. Jangan-jangan kau menolak cintaku Jangan-jangan kau ragukan hatiku Ku kan selalu setia menunggu Untuk jadi pacarmu Wow.....wow Jangan-jangan kau tak trima cintaku Jangan-jangan kau hiraukan pacarmu Putuskan lah saja pacarmu Lalu bilang I love you Padaku Dosa gak ya bunuh satu anak nyebelin ini? Batin Saka, Candra ,Danu dan Fikri. Ternyata tak hanya Saka yang kesal. Para pangeran lele yang lain, rasanya juga pengen Nabil tuh mulut yang nyanyi begitu apik. Plok plok plok plok plok plok plok. Tepuk tangan yang begitu meriah. Walau terkesan nekat ala anak remaja, tapi suara bocah itu memang patut dinilai sepuluh. Saka yang tadi sempat ingin marah akhirnya mendesah pasrah. Walau greget tapi dia mengakui kalau anak itu gentle. Meskipun masih anak-anak, mungkin masih SMA, tapi keberaniannya pantas diacungi jempol. "TUNGGU! TUNGGU! TUNGGU SEBENTAR!" Teriakan Candra memecah ramainya uploas, "biar makin rame dan meriah, gimana kalau ada penantangnya?" Para pengunjung kembali antusias. "Pihak kami juga ada yang jago main gitar dan bernyanyi. Gimana kalau saling menantang lagu? Siapa yang paling bagus dan mendapat tepuk tangan paling meriah akan mendapatkan hadiah CIUM PIPI DARI MBAK LALA...!!!!!" HA...... Lala kaget bukan main. "Kamu gila, Can?" Umpat Saka berbisik. Tapi Candra sama sekali tidak menghiraukannya. "BAGIAMANA????? SETUJUUUU??????" "SETUJUUUUUUUUU....!!!!" tentu saja para peng*njung itu tidak akan menolak melihat tontonan gratis yang pasti seru ini. "Oke. Kalau gitu yang akan menantang anak itu adalah jagoan kami yang bernama..........." "SAKA!!!!!" Uploas kembali terdengar meriah. "Setres kamu" umpat Saka. "Udah diem aja." Candra balik membentak Saka tapi dengan berbisik. "Kalau gak mau mbak Lala nyium tuh bocah, lo harus menang." "Tapi...." Belum selesai protes, Candra sudah ngacir meninggalkan pemuda tersebut menghampiri anak pembawa gitar. Meminjam gitar si bocah tukang nekat. "Nih," diberikannya gitar itu pada Saka, "fighting...!!!" Dengan senyum penyemangat tanpa dosa Candra langsung meninggalkan Saka lagi. Walau sebal tapi Saka sudah gak bisa berbuat apa-apa. Nasi sudah menjadi bubur kayak buburnya kang Maman. Mau tak mau dia harus melakukanya. Diambilnya sebuah kursi di dekatnya. Membuat posisi senyaman mungkin ketika duduk. Di taruhnya gitar dalam pangkuan. Sebelum memulai dia sempat mencari sosok yang jadi topik semua ini. Dipandangnya Lala yang berdiri di dekat Danu. Tiba-tiba saja dia merasa pikirannya mengelana. Melihat Lala tiba-tiba membuat perasaannya membuncah. Mengamati Lala tiba-tiba membuat hatinya begitu sesak. Pikirannya melayang, mengembara, meresapi rasa yang dipendamnya. Dipejamkannya matanya. Jreeeeennnnngggggg Jreng...... Jreng..... Jreng... Jreeeeennnnngggggg Aku ingin engkau ada di sini Menemaniku saat sepi Menemaniku saat gundah penonton yang mendengar juga takjub dengan suara Saka ketika menyanyi. Mereka tak menyangka, ternyata suara pangeran lele ada yang seindah dan selembut ini. Mereka bahkan, tanpa sadar, menggoyangkan bahu mereka ke kiri dan ke kanan, mengikuti alunan lagu Saka. Berat hidup ini tanpa dirimu Kuhanya mencintai kamu Ku hanya memiliki kamu Saka membuka mata dan pandangannya langsung tertancap di diri Lala. Aku rindu setengah mati kepadamu Sungguh ku ingin kau tahu Aku rindu setengah mati Meski telah lama kita tak bertemu Ku selalu memimpikan kamu Ku tak bisa hidup tanpamu Oh Semua yang mendengar larut dengan suara Saka. Saka begitu menghayati lagi itu. Seakan-akan setiap kata yang terucap dari lagu itu mewakili hatinya, menggambarkan resahnya, menjabarkan rindunya. Aku rindu setengah mati kepadamu Sungguh ku ingin kau tahu Aku rindu setengah mati Aku rindu
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD