“Gimana, Lin? Semoga aku dapet kabar baik, ya!” ucap Febi penuh harap. “Menejemen Misora udah diskusi soal proposal yang kamu ajuin kemarin, kita suka sih sama kobsep acaranya, tapi…” kata Delina. Febi terdiam, sambil mengerutkan kening. Di dalam pikirannya sesuatu terus berkecamuk, ia paling tak bisa menerima penolakan. Apa pun itu alasannya. “I'm a boss,” moto hidupnya Febi. “Hmm… gimana ya ngomongnya,” Delina melanjutkan. Kemudian menyerahkan proposal yang seminggu lalu diberikan Febi padanya. “Delina… Delina, dengerin aku! Pokonya aku gak peduli, apa pun yang kamu minta, atau Misora butuhkan, atau berapa pun budet yang harus aku siapakan, atau apa pun itu aku gak peduli. Yang penting Misora bisa tampil di acaraku, maksudku, di acara yang diseponsori sama Ayahku!” sambar Febi ti

