"Kebahagiaan itu kita yang menentukan bukan orang lain yang menjabarkan dan menentukan alurnya. "
***
Kita sering kali bilang kenapa tidak bahagia-bahagia padahal standar kebahagiaan kita yang terlalu tinggi, memgikuti apa yang di asumsikan orang lain sampai kita lupa bahwa bahagia itu kita yang ciptakan dan menentukan.
Rara menjadi dokter yang berkerja bersama Agal dan kawan-kawan, ternyata hal itu sudah lama sampai di tempat kerja mereka selalu dijodohkan dan agal tidak pernah menepis gosip itu tapi semenjak menikah kabar itu hilang seketika.
Mereka makan di sebuah kedai yang menjual berbagai macam mie, kebetulan cuaca sering hujan dipenghujung bulan jadilalah Aji, Reygan, Nana, dan Ani memilih memakan di sana sambil mencicipi berbagai makanan yang lezat.
"Rey, nanti Nana mau yang indomie spesial ya, " ucap Nana semangat.
"Iya Na, rasanya kaya biasa kan, sedikit saus banyak kecep dan cabai sedang. "
"Nah bener banget. "
"Buat lo Ji yang kaya biasa juga kan, sedikit kecap banyakin cabai dan sayut."
"Cakep, bener banget Gan, " balas Aji sangat senang wajar saja Reygan memang punya ingatan yang luar biasa, makanya kalo mau pesan makanan biarlah dia saja yang memesankan karena dia hafal kesukaan anak-anak di kantor.
"Ani mah suka semua jadi menu komplit' kan Ni? "
"Iya Bener."
Reygan memang seseorang yang memiliki ingatan yang kuat, selesai itu dia langsung memberikan meni kepada kasir.
Semuanya menunggu sambil sesekali melihat layar gawainya masing-masing membaca materi yang dikirmkan di grup w******p.
Nana melihat Rara dan anak-anak TNI sedang makan juga dan di sana ada Agal sedang makan juga. Leon yang sedang bercerita tentang prngalamannya terjebak di hutan terdengar oleh Nana, ada Ajon juga serta Deri.
Awalnya mereka tidak sadar ada Nana dan yang lain di sana, akhirnya Deri yang melihat Nana segera menegur dan menyapa ke bangku Nana duduk.
"Mbak, sama siapa di sani? " tanya Deri yang melihat ke arah ketiga temannya, tentu saja Nana bersama teman-temannya.
"Itu bukan Mbak yang tadi ya? " tanya Aji memastikan orang yang berbaju putih setelan dokter itu adalah orang yang sama yang mereka ganggu tadi pagi, sekarang mereka memang pergi makan malam untuk memakan mie yang terkenal lezat di sini.
"Iya, Mbak yang tadi, " balas Ani menelaah lebij lanjut, Mbak yang memperhatikan Agal sangat lama dan Nana sindir.
Mendengar itu membuat Deri memperhatikan arah perhatian ketiganya. "Oh itu Dokter Rara, emang suka ikut kita kalo lagi latihan Mbak, " jelas Deri yang tidak diminta penjelasan sudah mengerti apa yang mereka mau.
Agal, Ajon, dan Leon ikut menghampiri kursi Nana yanh tidak berada jauh dari tampat duduk mereka.
"Mbak Nana, kita ketemu lagi. Mbak tau enggak film terbaru yang tayang setiap hari? "
Memang Leon dan Nana sama-sama suka nonton sinetron. "Belum Nonton Eon, kan sekarang lagi di sini waktu menontonnya juga dikurangin, " jawab Nana sambil tertawa.
"Gagal, udah selesai makannya? " tanya Nana juga melihat Agal yang memperhatikan dia dengan Reygan yang duduk bersebelahan.
"Udah, " jawab Agal cepat.
Nana mengaggukan kepalanya mengerti, tidak sengaja juga Reygan tersenyum kepada Agal.
"Na, nanti bantuin ya ngerjain laporan, " ucap Reygan sengaja dibesar-besarkan suara agar Agal cemburu.
Rara yang melihat kenapa anak-anak menghampiri tempat itu jadi penasaran dan ingin ikut bergabung dengan mereka.
"Ra, ini istri Kapten Agal, " ucap Deri yang pertama kali memperkenalkan Nana di depan teman-temannya yang lain juga.
"Oh, Mbak yang tadi pagi marahin saya 'kan, " ucap Rara tersenyum dengan wajah yang sangat manis dan baik, tentu saja orang-orang tidak akan curiga jika dia memiliki sifat yang tidak baik.
"Lah kenapa Mbak Nana sampai marahin kamu Ra? " tanya Leon yanh penasaran karena dia tahu Nana bukan orang yang mudah sekali marah.
Agal langsung melihat Nana dengan tatapan yang sulit diartikan. Nah Nana jadi bingung apakah Agal akan marah jika dia membuat ulah dengan menyalahkan orang karena kan Nana memang kesal Rara melihat dengan perasaan suka antara laki-laki dan perempuan.
"Lah orang Mbaknya sendiri merhatiin suami orang kaya pandangan suka gitu, wajar aja Nana marah, " balas Aji kesal dengan perempuan kecil yang merasa paling cantik sendiri.
Memang Rara itu selalu ingin apa yang dia mau harus didapatkan padahal tidak semua hal yang bukan hak kita harus dimiliki.
"Kan di sini juga udah tahu dulu saya sama Kapten Agal memang digosipkan dekat, " balas Rara seperti tidak ingin mainannya direbut.
Reygan yang tidak suka jika Nana disalahkan malah membenci Rara.
"Eh Mbak yang masih kecil, sok cantik, nyebelin banget! Inget batasan emang Mbak udah ngerasa paling baik? Inget ya yang ngambil hak orang lain itu adalah maling, " jawab Reygan yang kesal dan memandang Rara dengan pandangan paling mengesalkan.
"Udah!" ucap Agal singkat, padat, dan tegas. Dia membawa tangan Nana untuk ikut bersamanya, lagian kenapa orang-orang malah sibuk sekali.
Melihat kepergian keduanya membuat mereka yang tinggal menjadi memandang Rara dengan tatapan iba dan sedih.
"Seharusnya lo sadar posisi, " ucap Ani dengan memandang perempuan itu tajam.
"Lagian, lo kenapa jadi kaya gini sih? " tanya Ajon yang tiba-tiba saja berbicara.
"Kalian kenapa jadi nyalahin aku sih. "
"Iya, karena kamu salah, makanya kami beri arah biar berjalan ke arah yang benar, " timpal Deri juga.
Memangnya hanya karena gosip di masa pekerjaan membuat dia menjadi besar kepala, kadang memang orang-orang seperti itu harus lebih dikerasi agar sadar posisi, tidak semua kata harus ditelan mentah-mentah dan tidak semua harapan harus terkabul. Memang kalo ingin mengikuti apa yang dikatakan ego tidak akan pernah ada habisnya.
"Udah, kalian urusin ya temen kalian ini, Der, tolong ya dibilangin sadar diri di hukum dan negara Nana udah jadi istri sah Agal," ucap Ani yang tidak suka jika Nana harus berhadapan dengan orang semacam itu.
Akhirnya Rara pergi karena kesal dan malu, lagian apa salahnya terus berusaha mendapatkan cinta dari seseorang. Tidak ada salahnya hanya saja jika orang yang kita sukai sudah punya istri itu yang salah.
Berjalan saja selama kamu mau mendapatkan banyak rencana tetapi ketika dipersimpangan tidak kunjung menemukan muara maka berdamai pada keadaan. Setiap orang punya jalannya sendiri untuk bertahan atau berhenti.
***
"Kamu ngapain cari masalah? " tanya Agal pada Nana yang tangannya digenggam begitu erat.
"Aw, sakit. Ya wajar aja dong Nana marah. Lagain dia ngeliatin Gagal enggak berkedip. "
"Na, inget. Kita ini dijodohkan enggak ada perasaan saling suka, enggak usah membuat seolah kita sama-sama punya perasaan, " jawab Agal dengan nada yang penuh penekanan Nana yang mendengar itu merasa ciut dan sangat sedih.
"Gagal, seharusnya emang kita enggak punya perasaan, tapi Gagal tahu enggak? Perasaan itu bisa datang karena terbiasa. Lagian mau Gagal terus ingetin Nana tentang hal perasaan Nana akan berusaha untuk terus berjuang, " ucap Nana dengan senyuman di sudut bibirnya, dia percaya nanti akan selalu ada pelangi yang mewarnai setiap pertemuan menjadi lebih indah.
"Na, saya sudah ingetin kamu dari awal untuk memikirkan hal ini baik-baik."
"Agal suka sama Rara ya? " tanya Nana dengan pertanyaan yang penuh kekhawatiran dalam setiap katanya.
"Iya, saya suka Rara. "
Jawaban yang kalo boleh Nana meminta biar dia tidak tahu saja karena sangat menyakitkan mendengar itu, namun Nana harus terlihat baik-baik saja.
"Ya udah gapapa, yang penting kan Nana terus berusaha jadi istri yang baik buat Gagal. "
Agal pun menarik napas dalam dan meninggalkan Nana yang masih tersenyum, namun setelah Agal menghilang di balik pintu dia jadi merasa sangat sedih.
"Na, enggak papa ini masih terlalu awal buat menyerah, " ucap Nana pada dirinya sendiri. Entah kenapa harus jatuh cinta kepada orang yang tidak mencintai sebaliknya juga.