"Kadang yang di harapkan hanya bisa terus sabar dan melakukan yang terbaik karena tidak semua hal bisa dilakukan, karena kita hanya manusia."
-Agal-
***
Nana bahagia untuk tahun ini bisa merayakan ulang tahunnya bersama orang yang dia sayang. Apalagi kado spesial hari ini adalah kedatangan Agal dan kepulangannya bersama dengan ke tiga adik-adiknya yang sudah dianggap keluarga.
"Makasih banyak ya, kalian semua udah repot-repot. "
"Enggak ngerepotin, kita seneng banget bisa ketemu Mbak, " ucap Deri yang memang senang jika datang ke acara ulang tahun, dia akan meminta piring untuk ikut memakan kue juga.
Leon juga sudah duduk seperti anak kecil di depan Nana, dia tersenyum melihat Nana yang sudah tertawa karena kepolosannya. Bagaimana tidak tertawa jika senyumannya sangat lebar bahkan dia juga memberikan piring untuk diberi kue.
"Mbak, Eon mau juga. Katanya kalo makan kue ulang tahun bisa cepet besar, " ucap Nana mengerjai Leon.
"Wah, kalo gitu yang Eon boleh di double enggak Mbak?"
Ajon memperhatikan kedua sahabatnya yang heboh, mereka jika dengan Nana seperti kakak dan adik, kadang tiba-tiba diam dan sama-sama tertawa setelahnya.
"Mbak Nana, kan pernah ya waktu itu Eon ketinggalan uang mau beli kue, udah percaya diri ngambil kuenya banyak lagi. "
"Terus gimana lagi Eon? "
"Eh, pas bayar di kasir dan dihitung, uangnya kurang. Alhasil Mbak mintak kurangin salah satu kue, terus ternyata masih kurang juga, jadi mintak kurangin lagi 'kan, tapi Malah Mbaknya nyebelin banget, dia malah bilang 'emang uangnya berapa sih Mbak' sambil nadanya jutek, kesel banget rasanya Mbak. "
"Lah kok gitu, kalo ada namanya bisa itu di catat."
"Jadi setiap orang itu kadang emang kalo lagi capek berimbasnya sama pembeli padahal kan pelayanan itu nomor satu, " ucap Ajon yang memang jika pembicaraan mengarah pada situasi serius dia akan menyesuaikan.
"Tapi bener etikanya juga harus dikedepankan, " balas Leon sambil mengambil kue yang sudah disiapkan Mama Lily.
"Wah ini kue agar-agar tiga rasa yang gue suka, Tante tahu aja makanan kesukaan gue," ucal Deri semangat, dia pun duduk dan memakan kue yang ada di depannya.
Leon juga ikut memakan agar-agar itu , tetapi dia lebih fokus dengan game di tangannya memang jika mereka sedang pulang sudah seperti liburan. Padahal jatah mereka hanya sedikit tetapi menurut Agal di waktu yang tidak banyak itulah belajar untuk menghargai waktu.
"Ini banyak banget bunga sama kadonya, makasih ya, " ucap Nana pada semuanya dengan senyuman bahagia.
Bunda Lily dan Ayah Beni juga menyiapkan berbagai masakan khas indonesia dari rendang, nasi goreng, tempe mendoan, dan molen kesukaan Agal ada semua.
"Bunda, kangen banget, " ucap Agal memeluk dan mencium ibunya sementara Nana yang melihat itu juga terharu meskipun Agal jarang memeluk dirinya tetapi lelaki itu sangat menyayangi ibunya.
"Sama Bunda, Juga kangen banget sama anak Bunda yang ganteng ini. "
Agal tersenyum senang melihat Bunda yang sehat dan bisa bahagia, sementara dia masih ragu dengan perasaannya dengan Nana.
"Kenapa lihatin Nana kaya gitu Nak? " tanya Bunda yang memperhatikan arah pandang Agal.
"Enggak tahu Bunda, Agal bingung sama perasaan ini, tapi jujur masih ada Dinda di dalam hati Agal. "
Bunda langsung saja ingat pertemuannya dengan Dinda kemarin, dia juga tidak tahu apakah Agal tahu keberadaan Dinda.
"Tapi kemarin Dinda ke rumah. "
Agal langsung menatap Bunda dengan harapan ada penjelasan yang lebih dalam lagi. Dulu memang dia yang memutuskan Dinda karena memang mereka sering bertengkar dan Agal juga merasa harus fokus bekerja hingga dia sadar jika hatinya masih tertinggal dengan Dinda.
"Sekarang dia di mana Bun? " tanya Agal penasaran dan ingin menemui Dinda.
"Dia bekerja di kantor pemerintahan juga kemarin kan sempat jadi duta bahasa, " jelas Bunda dengan senyuman.
Nana tidak tahu pembicaraan apa yang kedua anak itu sedang lakukan karena tampak sangat serius dan membuat Nana menjadi penasaran.
Tapi dia urungkan karena ada kejadia lucu Deri yang sengaja mengajak Nana menonton Drama Korea lalu menangis tersedu-sedu.
"Mbak Nana, itu seharusnta cowonya enggak ninggalin gitu aja. "
"Emang enggak gantle banget, " balas Leon dengan memakan cemilan yang sudah disediakan.
Sesekali Leon juga menari dan berjoget dengan sangat lentur bahkan dia juga kadang menyanyikan lagu milik girlband itu dengan pelafalan yang lancar.
"Eon kamu ke sana kayanya setiap hari muterin lagu ini deh, " ucap Nana dengan wajah yang tersenyum bahagia.
Menyenangkan sekali bisa berkumpul dengan semuanya, belum lagi Deri yang setip mendengar kata rindu langsung jiwa-jiwa anak indienya membuat puisi.
"Karena senyumu candu
Sekali kali ku tatap maka runtuh
Sering semuanya bagai aliran ketika darah beredar
Karena rindu adalah candu
Tetap membiru dan bertaut."
"Duh beneran makin jago nih. "
Nana memang selalu saja mengapresiasi karya sastra karena tidak semudah itu untuk membuat suatu karya yang indah.
"Terima kasih ya Mbak Nana yang cantik dan panutan Deri. "
Mereka terus saja berjoget, bernyanyi, dan menonton drakor sesekali Bunda Lily ikut juga.
Sedangkan Agal katanya tadi ingin membersihkan diri dan nanti ikut bergabung.
"Kapten ayo gabung, ini Mbak Nana kami kasih hukuman karena kalah main. "
Wajah Nana memang sudah penuh dengan coretan bedak dan itu membuat Agal tertawa.
"Selamat ulang tahun Na," ucap Agal sambil mengambil tempat duduk di sebelah Nana.
"Wah, Der, Jon, Eon. Lihat kapten Es udah ngucapin Mbak Nana selamat, " balas Nana semangat sekali karena baru hari ini Agal sangat romantis, beginilah jika jatuh cinta dengan pria beku, mengucapkan ulang tahun saja adalah sebuah kajaiban.
"Tapi Nana pengen hadiah Gagal. "
"Bilang aja mau apa? "
"Tuh Mbak Nana boleh request. Yang mahal-mahal aja Mbak, biar bisa dijual, " ujar Leon yang memang memgompori dengan sangat semangat.
"Eon lo bener-bener ya, Menimal bisa beli rumah baru Mbak, " balas Deri juga.
"Saya kan nanya sama Nana, kalian mau dihukum push up 100 kali? " tanya Agal sambil memperlihatkan wajah tegasnya kepada ketiganya.
"Maunya Nana bisa liburan bareng sama Gagal, terus dibeliin mobil, abis itu apa ya? "
"Banyak maunya. "
"Kan tadi Gagal bilang mau apa. "
"Iya, nanti saya turutin. Sekarang temenin dulu saya menghadiri acara perusahaan," ucap Agal yang sudah akan berangkat untuk acara perusahaan yang sudah lama dia rintis.
"Sugar Daddy, itu Mbak Nana, " tunjuk Leon dengan tertawa.
Ajon tiba-tiba diam ternyata dia sedang bertengkat dengan pacarnya yang memang sering mengancam untuk bunuh diri jika Ajon tidak mengikuti kemaunnya.
"Kenapa Jon? " tanya Deri melihat wajah Ajon sudah gusar, pasti saja ada yang sedang tidak beres.
"Mbak saya pamit pulang dulu ya. " Ajon mengambil barang-barangnya untuk pulang duluan, setiap kali Ajon pulang pasti pacarnya itu melakukan banyak keajaiban, drama sekali kalo kata Deri, yang tidak suka Ajon dengan perempuan itu. Tapi namanya sayang tidak bisa untuk kita yang menjadi penonton melarang karena kadang ada beberapa hal yang orang lain bisa komentark tetapi mereka tidak mengalaminya.
"Tuh Mbak Nana, itu yang Deri takutin kalo bucin kadang logika sama hati enggak sejalan, padahal kalo dilihat kaya anak kecil, " ucap Deri seperti komentator dikisah percintaan orang lain.
Nana menjadi berpikir tentang dirinya dengan Agal, kadang dia juga merasa sama seperti Ajon. Selalu mengupayakan untuk berjuang demi Agal tapi yang dijuang kadang kala tidak bisa diajak berkompromi.
"Mbak Nana, mau pergi dulu ya, nanti Deri sama Leon nunggu di sini dulu, mungkin besok baru pulang ke rumah," ucap Deri yang masih asyik bermain game.
Bunda Lily datang untuk mengajak makan terlebih dahulu karena sudah siap hidangan yang banyak belum lagi masakan Nana yang banyak.
Mereka pun makan dan mengajak Nana, tapi Nana ternyata ingin bersiap dulu berganti pakaian karena nanti Agal bisa mengomel kalo menunggu lama.
Nana mengambil dress putih yang sangat elegan dan mulai memadukannya dengan sepatu heels tinggi dengan rambutnya yang dikuncir, belum lagi lipstick warna pink menambah kecantikkan wajah Nana.
Agal pun sudah menunggu di ruang tamu bersama Leon yang sambil makan dan mereka tidak menyadari Nana yang turun dari tangga.
"Nanti Kapten lama perginya? " tanya Leon yang penasaran karena mereka mau mengajak main game tengah malam.
"Enggak Eon, sebentar. "
Nana sudah berada di depan mereka sambil tersenyum kepada keduanya yang tidak sadar Nana sudah berada di depannya.
"Ayo Gagal kita pergi. "
Agal yang mendengar suara Nana langsung menghadap ke arah Nana dan takjub dengan istrinya yang semakin cantik, sebenarnya jika dilihat orang-orang pasti akan lebih menyebutkan jika cantiklah Nana dari Dinda hanya saja Nana saja yang sering kali insecure duluan.
Leon melihat perubahan wajah kaptennya menjadi tertawa, ternyata kaptennya terpesona dengan Nana yang cantik.
"Kapten, ngedip dikit sama napas, takut Kapten lupa caranya bernapas," ujar Leon tertawa.
"Ayo pergi, lama banget dandannya. "
"Biasalah Mbak, kalo lagi salting emang suka gitu, bilang lama padahal terpesona, " jawab Leon enteng tanpa beban.
Tapi Nana malah tertawa dengan apa yang diucapkan oleh Leon. Nana menghampiri Bunda Lily dan pamit kepada bunda serta Deri yang sedang makan di meja.
"Iya hati-hati Mbak Nana sama Kapten."
"Agal, jangan Ngebut-ngebut. Hati-hati bawa Nana ya, " ucap Bunda Lily dengan senyuman.
Mereka lalu berangkat dan ternyata ketika menuju mobil Agal membukakan pintu dengan pelan lalu menyuruh Nana untuk masuk.
Setelah itu Nana tersenyum bahagia, suaminya bisa seromantis itu, memang pangeran batu es jika sudah mulai mencair akan lebih romantis dari yang memang dari sananya sudah romantis.
Jalanan kali ini tidak terlalu padat karena memang mereka mencari jalan tikus agar bisa cepat sampai di lokasi pesta di adakan.
Nana menghabiskan waktu dengan tidur karena sudah sangat mengantuk. Lagu yang mengiringi perjalanan mereka juga mendukung untuk tidur.
Agal masih fokus menyetir dan memberhentikan sebentar mobilnya untuk memberikan jasnya menyelimuti Nana.