Karena jika kita hanya sibuk menerima tanpa memberi tentu saja akan banyak hal yang datang berlalu ketika tidak ikhlas dan berusaha menerima.
Nana tidak masalah mau bagaimanapun dan kapanpun tentu saja dia akan terus bersyukur, mungkin menurut orang lain itu akan menjadi hal yang sia-sia tetapi tidak akan pernah ada kata-kata yang terkubur bersama sia-sia, jika terus berusaha melakukan yang terbaik.
Pagi ini cuaca masih samar terlihat, seperti ingin hujan tapi tak kunjung turun, seperti ingin panas tetapi mendung ternyata semesta memang ada-ada saja tingkah lakunya.
"Nana, hari ini temenin gue dulu ya, mau kasih adek-adek yang sering ngamen itu makan, " ucap Reygan sambil memperlihatkan beberapa makanan yang sudah dia bingkis.
"Emang kapan bingkisan Gan?" tanya Nana yang masih sibuk dengan camera ditanganya, dia juga menyimpan dokumentasi untuk dilampirkan nantinya.
"Tadi malam gue sama Aji enggak tidur, mau bingkisin kado biar anak-anak bisa semangat terus. "
"Keren kalian berdua, kok enggak ajak gue? "
"Mendadak Na, soalnya tadi malam ada beberapa anak kecil yang SD udah ngamen aja, katanya dari siang sampai malam. "
Nana paham sekarang, memang tidak enak sekali rasanya harus bekerja sementara melihat banyak anak kecil yang belum makan, mereka rela meninggalkan waktu istirahatnya untuk membantu ibu di rumah.
Ternyata benar apa yang dikatakan Reygan ketika bisa menerima dan memberi apa yang lebih, tentu saja akan sangat menyenangkan.
Agal baru saja datang dan membawakan sarapan pagi untuk Nana, ada bubur ayam yang masih panas dalam bungkusan.
"Jangan lupa dimakan," ucap Agal dengan memberikan sendok nasi dengannya.
Ternyata memang Nana belum makan dari tadi dan dia kuat sekali, pikirannya yang begitu luar biasa membuat dia merasa sedikit melupakan makan karena dia pikir tidak masalah belum makan tetapi dia lupa jika telat makan akan membuat maagh.
"Makan yang teratur kalo kamu sakit saya juga yang repot, " ucap Agal yang ternyata tidak didengar oleh Reygan karena memeng tadi Nana mengajak Agal agar menjauh.
Tapi ternyata Agal melihat keduanya dengan tatapan yang sulit diartikan, Nana juga bingung kenapa Agal tidak menyukai Reygan padahal kan dia teman yang baik.
"Kamu mau ke mana? "
"Mau pergi sama Reygan. "
Mata Agal langsung terbuka lebar, bisa-bisanya dengan enteng Nana bilang begitu, padahal kan seharusnya Nana jalan dengan dirinya apalagi mereka jarang bertemu.
"Mau anterin Reygan buat sumbangin makanan, itu mau kami angkut, kalo Gagal mau ikut ayo, " ajak Nana dengan senyuman senang.
Tidak tahu kenapa tiba-tiba Agal mau mengomel saja sudah seperti ibu-ibu yang memarahi anaknya, tapi Agal tidak mengerti perasaan apa, dia tidak mungkinlah cemburu dengan Nana karena dia tidak mungkin ada rasa dengan gadis pecicilan yang menyebalkan ini.
"Lagian Na, kamu kan tahu saya ini suami kamu, kalo teman-teman saya di sini lihat kamu sama seorang laki-laki apa kata orang, saya ikut. "
"Kan Nana cuma bantu Reygan enggak ngapa-ngapain, " jawab Nana polos dengan nada yang tenang dan tidak ada sedikitpun bentakkan atau kalimat yang tidak halus.
Agal menatap Nana dengan sebuah pandangan yang mengisyaratkan turuti saja perkataannya karena tidak akan merugikan ataupun membuat Nana menjadi terbebani.
"Iya iya Nana salah, kan sekarang Nana udah ajak Agal buat ikut. "
"Ayo ke sana." Agal menarik tangan Nana ke arah Reygan yang sudah menunggu mereka dengan membawa beberapa bingkisan ketika mereka berdua berdiskusi ternyata Reygan sambil mengangkut barang yang akan dia bawa.
"Apa kabar Kapten? " tanya Reygan ramah, dia sama sekali tidak terbebani.
"Baik. Ayo kita mulai," ajak Agal yang tidak ingin berlama-lama basa-basi, Nana heran kenapa anak kecil bisa sangat dekat dengan Agal padahal pria itu sangat dingin belum lagi dengan Reygan.
"Ayo Kapten, berhubung gue enggak tahu jalan, jadi gapapa kan lo yang bawa mobil? "
"Iya, nanti saya yang anterin kalian berdua. "
"Wah, thanks ya bro." Sambil memegang pundak Agal seperti teman dekat Reygan mulai tertawa dan mengajak untuk segera pergi hari ini.
Ketiganya memegang sama banyak bingkisan ternyata banyak sekali bingkisan yang sudah Reygan siapkan sebagai cemilan untuk anak jalanan.
Perjalanan yang mereka tempuh lumayan jauh jadinya Agal mengajak cepat pergi untuk menghemat waktu dan nanti bisa berlama di sana kebetulan hari ini Agal bisa keluar karena tidak terlalu padat jadwalnya.
"Kalian berdua di depan aja ya, biar Nana di belakang. "
"Apa gue di samping lo aja kali ya Na, " tawar Reygan sambil bersiap membuka pintu belakang.
"Reygan di depan aja, saya bukan supir, " balas Agal tidak terima.
"Hahha becanda, sensi banget. "
Ternyata Reygan ingin melihat bagaimana reaksi Agal ternyata dia masih cemburu jika Nana dekat dengan laki-laki lain.
Mereka akhirnya menempuh beberapa menit perjalanan hingga sampai di tempat anak-anak yanh sering berada di jalanan dekat hotel mereka itu berkumpul. Sebuah yayasan sederhana dengan bangunan seadanya membuat orang-orang yang datang menjadi prihatin tetapi anak-anak di sana sangat menikmati suasana bermain dan berlarian dengan tawa yang sangat hangat.
Nana yang turun dibuat kaget dengan kondisi yang dia lihat, pondasinya yang hanya kayu dan dinding-dinding kayu yang sudah lapuk, dia hanya takut anak-anak itu terkena kayu saat bermain.
"Wahh ada tamu, " ucap seorang anak kecil yang berbadan besar sambil tertawa senang.
Mereka menyambut kedatangan tamu berjajar rapi, terlihat anak yang kemarin di lampu merah dengan gitar kesayangannya. Keluarlah Kak Adi--yang merupakan pembina di yayasan ini--- Dia sudah dihubungi sebelumnya akan kedatangan tamu untuk memberikan bingkisan kepada anak-anak.
"Wah, terima kasih ya sudah mau berkunjung ke tempat kami yang memang masih seadanya ini, anak-anak senang sekali ketika ada yang menjenguk."
"Saya Agal Kak, senang bisa bertemu kembali. "
"Saya Reygan Kak, senang juga bisa melihat anak-anak hebat di sini. "
"Saya Nana, mereka lucu-lucu ya. "
"Wah Mas Agal ternyata datang lagi kemari, sekarang sama teman-temannya yang masya allah semoga selalu dilancarkan ya. "
"Iya Kak, saya sama istri dan temannya ingin memberikan sedikit bingkisan, semoga saja ini bisa membantu adik-adik agar lebih semangat lagi. "
Mendengar itu membuat Nana tersenyum senang karena bisa menjadi bagian dalam acara ini. Mereka mulai membariskan anak-anak untuk memberikan bingkisan.
"Sebenarnya saya sudah lama tidak menyuruh mereka untuk mengamen, cukup saya yang bekerja. Tetapi mereka bilang untuk menolong saya karena tidak tega melihat saya yang kelelahan. "
Nana menjadi terharu mendengar cerita itu, mereka sangat memikirkan Kaka Adi, kadang juga ada yang sampai hampir ditabrak kendaraan, ada yang juga sakit jika sering terkena hujan, sampai yang sering terjadi dimarahi orang lain, dikasari dan dibentak ternyata kadang-kadang orang lain mempunyai banyak sekali rasa amarah yang sebenarnya itu sangat merugikan.
Mereka akhirnya berbaris rapih dengan senyuman manis berharap akan selalu ada kemudahan agar mereka bisa terus dilancarkan segala urusan.
"Mbak Nana, kami seneng bisa ketemu sama Mbak Nana yang cantik, " ucap mereka kompak karena sebelumnya memang Kak Adi memberi izin mereka untuk bermain dan banyak bertanya.
Mereka pun tertawa senang ketika Nana mengajak untuk bermain sambil mengetes kemampuan ingatan mereka dalam menebak lagi dan menyambung lagu.
"Itu potong bebek angsa, " ucap anak itu sambil tertawa. Ternyata mereka masih sangat mengetahui lagu anak-anak yang dibawakan.
Tentu saja hal itu membuat Nana ikut menjadi senang. Mereka terus bermain sambil setelah itu bermain kereta api putar tebak-tebakkan dan membuat mereka berlarian menghampiri.
Menyenangkan sekali bersama anak-anak di sini mereka selalu ceria ada Bayu, Ika, Cari, Mukti dan masih banyak lagi anak-anak lain yang tinggal di sini.
"Kaka Nana, ini kenapa bisa bergerak ya? " tanya Cari yang suka sekali dengan banyak pertanyaan di dalam lubuk hatinya.
"Ini karena ada kalimat enggak sebenarnya Car, nah nanti Cari akan tahu sendiri kalimat-kalimat itu."
"Wah keren ya Kak, nanti Cari mau jadi penulis terkenal dan angkat nama panti ini, " ucap Cari tulus karena dia memang selalu saja ingin berkembang dan menjadi lebih baik lagi.
"Alhamdulillah keren banget, aamiin semoga niat tulus Cari untuk terus berusaha menjadi yang terbaik. "
"Jadi Bayu juga mau jadi TNI sama kaya Kak Agal, mau jadi gagah dan ganteng," balas Bayu juga sangat polos kadang anak kecil seperti ini megungkapkan apa yang mereka rasa dengan sebuah senyuman.
"Aamiin, Bayu pasti bisa, harus rajin olahraga dan selalu latihan, " ucap Agal memberikan tips agar anak-anak selalu semangat.
"Mukti mau jadi apa? "
"Mau jadi kaya Bang Reygan kerja kantoran terus sering di ruang ber ac dan bertemu banyak orang, " balas Mukti tersenyum senang.
"Pasti bisa jadi kaya Abang, semoga kamu selalu rajin dan kerjakan apa yang kamu sukai jangan sampai itu menjadi beban. "
Mereka senang sekali hari ini rumah ramai dan diajak bermain oleh orang-orang hebat. Akhirnya mereka bertiga berpamitan pulang karena masih banyak pekerjaan yang harus dilaksanakan.
"Makasih banyak ya Kak Adi, udah memperkenankan menerima kami semua dengan banyak kekurangan, " ucap Agal yang sudah memimpin untuk pulang.
"Sama-sama Mas Agal, Mas Reygan dan Mbak Nana semoga kebaikan ini selalu Allah berikan limpahin rezeki untuk kalian bertiga. "
"Aamiin," balas ketiganya berharap mereka bisa terus berbagi kepada yang membutuhkan dan terus berproses bersama-sama.
Mereka tersenyum bahagia bisa terus berbagi karena hal yang membuat tawa anak-anak itu hangat semoga saja bisa terus bertemu mereka dengan banyak proses nantinya.
***
Sekarang tinggal Agal dan Nana yang masih duduk di meja depan hotel, "Kamu telat makan kan, makanya jadi sakit. "
"Maafin ya Gagal, namanya juga manusia pasti suka sakit. "
"Kamu suka bandel. "
"Jadi Gagal udah sayang Nana belum? " tanya Nana penasaran dan masih terus berjuang.
"Enggak. "
"Padahal kan Nana sayang Gagal. "
"Na, kan saya selalu bilang. "
"Iya selalu bilang sayang, " balas Nana memotong ucapan Agal karena sangat tidak ingin Agal bicara yang aneh-aneh.
"Ini cokelat biar kamu selalu bahagia. "
Ternyata Agal selalu memberikan banyak sekali makanan kepada Nana, dia memang sangat tidak ingin Nana merasa kelaparan atau bahkan merasa sakit.
"Wah Gagal perhatian banget sama Nana. "
"Ini kebetulan ada toko lagi promo. "
"Tapi Nana emang suka cokelat, makasih ya. "
"Iya sama-sama, kamu makan ya. "
"Maunya disuapin. "
"Manja banget sih, sini saya buka dan suapin. "
Meskipun mengomel tetapi Agal akan selalu mengingat apa yang dikatakan Nana sampai khawatir kalo Nana telat pulang ke rumah.