BAB 33 Beberapa detik berlalu, jawaban tak kunjung datang. Nuria menyimpan kembali gawainya dan menghela napas panjang. Dia pejamkan mata seraya melantunkan doa, berharap perempuan yang sudah berjuang mati-matian demi masa depannya itu segera pulang ke Tanah air. Ada rasa sesak yang menyeruak ketika rindu itu sudah tak tertahan lagi. Ibu, apa kamu baik-baik saja? Cepatlah pulang, Bu, batin Nuria. Ketukan pada daun pintu membuat Nuria menjeda semua kegalauan yang berkelindan. Nuria bangkit dan membuka pintu kamar. “Maaf ganggu, Nyonya.” Bi Menih yang datang. Dia sudah berdiri di depan pintu kamar dan tersenyum ke arah Nuria. “Ada apa, Bi?” “Ada tamu, Nya.” “Siapa?” “Katanya, bibi Nyonya. Apa mau ditemui?” Nuria bergeming. Bi Lela yang datang? Apakah ini terkait dengan kasus Paman N

