BAB 34 Diketuknya pintu kamar Celia, tetapi gadis itu tak mendengar. Mungkin kedua telinganya tengah ditutup handsfree, seperti kebiasaannya. Nuria mencoba mendorong daun pintu, berharap tak dikunci. Rupanya, keberuntungan tengah berpihak padanya. Benar, pintu itu tak dikunci. Ruang kamar tampak lengang. Hanya ada beberapa bantal berserak di lantai dan selimut menumpuk pada ujung tempat tidur. Di meja kecil sana, gawai tampak menyala dengan musik yang diputar dari YouTube. Dua tangkup roti bakar sisa dengan cangrir cokelat yang sudah tandas. “Kak? Kakak!” Nuria memanggil gadis yang tengah berdiri di balkon. Namun, Celia tak menoleh. Nuria menghentikan langkah ketika jarak sekitar satu meter lagi dengan anak gadisnya. Kedua alis Nuria saling bertaut ketika pandangannya mengarah ke sosok

