Dareel Jealous? ♥10♥
Bagian 10
♥♥♥♥ o(╥﹏╥)o ♥♥♥♥
Kedua tangan Delon mengepal kencang saat melihat Alona dan Dareel disana. Melihat Alona dan Dareel saling bergenggaman satu sama lain membuat Delon terbakar cemburu. Tawa kekasihnya itu sangat lepas disana saat bersama Dareel dan Delon tentu tidak menyukainya.
Lalu Delon melangkahkan kakinya dengan cepat menghampiri Alona, dia ingin menjauhkan Alona dari Dareel. Dia sangat kesal melihat kedekatan mereka.
Naya yang melihat kepergian Delon hanya menatap pria itu tanpa mengatakan apapun.
Saat berada di dekat Alona, Delon langsung menarik lengan Alona, sehingga wanita itu berbalik kearahnya.
"Delon?" seru Alona dengan senyuman lebar.
Sedetik kemudian sepasang mata Alona melebar ketika merasakan lumatan hangat pada bibirnya. Delon telah menciumnya dihadapan Dareel. Ciuman tiba-tiba dari Delon membuat Alona terkejut.
Dareel yang melihat pemandangan itu tangannya mengepal keras, ingin sekali dia menghajar Delon karena telah berani mencium Alona.
Tidak lama Delon melepaskan ciumannya kepada Alona, kemudian menatap Dareel yang sedang memandanginya dengan sorotan tajam. Delon sangat tahu Dareel sangat marah kepadanya, tapi dia tidak peduli. Alona adalah kekasihnya dan dia punya hak penuh atas Alona. Selain itu, Delon sengaja mencium Alona dihadapan Dareel. Delon ingin menunjukan kepada Dareel bahwa Alona adalah miliknya!
Sedangkan Alona wajahnya tertunduk, dia merasa tidak enak dengan Dareel saat ini.
"Mr. Dareel kami permisi dulu yah." Pamit Delon merangkul bahu Alona dengan senyuman penuh kemenangan disana. Lalu dia melesat pergi dari hadapan Dareel bersama Alona.
Tiba-tiba Alona menoleh kearahnya, Dareel hanya menatap Alona dengan rahang bergemertak.
Dareel menatap mereka dengan hembusan napas tidak beraturan, hatinya benar-benar kesal saat ini. Delon sialan!! Umpatnya penuh amarah.
Sementara itu, Naya langsung pergi dari tempat ini. Hatinya sangat hancur melihat Delon mencium Alona tadi.
♥♥♥♥ o(╥﹏╥)o ♥♥♥♥
Satu jam kemudian.
Alona baru saja tiba di kediamannya diantar oleh Delon, senyumnya mengembang dan tangan kanannya melambai kearah Delon.
"Hati-hati yah di jalan!" seru Alona kepada Delon.
Delon tersenyum, "aku akan memberimu kabar jika sudah sampai rumah." Ujarnya.
Tidak lama Delon menstrater mobilnya dan melesat pergi dari hadapan Alona. Jam sudah menunjukan hampir pukul dua belas malam. Setelah mobil Delon sudah tidak terlihat lagi, Alona membuka pintu gerbang rumahnya dengan mulut menguap. Pikiran Alona melayang jauh memikirkan Dareel.
Bicara tentang Dareel dia merasa tidak enak hati dengan pria itu. Sepanjang perjalanan pulang dia terus memikirkan atasannya itu. Biasanya ponselnya tidak pernah berhenti berdering, tetapi kini ponselnya terasa sepi, Dareel tidak menghubunginya seperti biasanya. Hatinya terus bertanya apakah Dareel marah kepadanya?
Masih ingat dibenak Alona saat Delon menciumnya dihadapan Dareel, wajah Dareel sangat marah tadi. Di lain sisi Alona tidak bisa menolak ciuman yang diberikan Delon kepadanya tadi, bagaimanapun juga Delon adalah kekasihnya. Tapi Dareel juga adalah kekasihnya, tidak seharusnya dia berciuman bersama Delon dihadapan Dareel. Situasi seperti ini membuat Alona dilema setengah mati.
Alona menghembuskan napasnya, tidak seharusnya dia peduli dengan perasaan Dareel. Lagipula dia menerima Dareel menjadi kekasihnya karena terpaksa, bukan atas keinginan hatinya.
Saat ingin membuka pintu gerbang rumahnya, tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti tepat di depan kediamannya. Alona kontan menoleh dengan kening berkerut.
"Pak Dareel?!" pekiknya terkejut ketika melihat mobil Dareel, lalu pria itu membuka kaca mobilnya dengan senyuman khasnya. Alona tidak lagi melihat kemarahan diwajah Dareel seperti di tempat ice skating tadi.
Alona menatap Dareel dengan pandangan heran. Untuk apa atasannya datang kerumahnya? Apa jangan-jangan Dareel ingin memberi pelajaran kepadanya karena Delon menciumnya tadi? Seharusnya Dareel menemui Delon bukan dirinya.
"Alona, masuk ke dalam mobilku!" perintah Dareel.
Alona menggeleng, "maaf pak aku tidak mau, sudah malam!" tolaknya.
Dareel berdecak malas, lalu dia membuka pintu mobilnya dan menghampiri Alona. Dia menatap Alona tajam saat berada di hadapan wanita itu, Alona memundurkan langkahnya ketika Dareel semakin mendekatinya. Sedetik kemudian Dareel mengangkat tubuh Alona dan menggendongnya.
"Pak Dareel!! Turunin Alona!!" Alona berteriak kencang sambil memukul d**a Dareel, dia terus berontak agar Dareel segera menurunkannya. Namun, Dareel tidak memperdulikannya.
Lalu Dareel membuka pintu belakang mobilnya dan memasukan Alona ke dalam mobilnya dengan cara paksa. Apa yang dilakukan Dareel saat ini seperti sedang menculik Alona. Setelah menutup pintu belakang mobilnya, Dareel langsung masuk ke dalam mobilnya dan menstrater mobilnya, lalu menjalankannya dengan kecepatan tinggi.
"Pak Dareel! Bapak mau bawa aku kemana?!" tanya Alona dengan wajah kesal.
Dareel membetulkan kaca spion dalam mobilnya kearah Alona, "ke apartemenku!" jawabnya dingin.
"Pak, tolong bawa aku kembali kerumahku." Mohon Alona, wajahnya terlihat panik. Dia sangat yakin Dareel ingin berbuat jahat kepadanya.
Dia tidak mau menemani Dareel tidur lagi. Lagipula besok adalah hari minggu, dia ingin menikmati hari akhir pekannya dengan ketenangan tanpa gangguan dari Dareel. Sudah cukup baginya seharian ini bersama Dareel. Apalagi besok orangtuanya akan pergi liburan ke Thailand.
"Aku tidak mau!" tolak Dareel, saat ini dia sedang fokus mengendarai mobilnya.
Alona menghembuskan napasnya, dia menyerah. Percuma berdebat dengan Dareel, pria itu adalah pria pemaksa. Pasti setibanya di apartement, Dareel akan melakukan hal yang tidak-tidak kepadanya, Alona sangat yakin akan hal itu.
Jika itu terjadi Alona tidak akan mundur apalagi takut, dia akan ikut dalam permainan Dareel. Alona harus bisa menjaga dirinya dari pria seperti Dareel.
Tuhan tolong Alona! –batinnya ngelangsa.
♥♥♥♥ o(╥﹏╥)o ♥♥♥♥
Tidak lama Alona tiba di apartement Dareel. Dareel langsung mengkunci pintu apartementnya setelah mereka berdua masuk. Alona hanya menatap Dareel dengan pandangan malas.
Kemudian Dareel berjalan menuju kamarnya sambil membuka jasnya dan kemejanya dan membuangnya ke sembarang tempat, sehingga kini tubuh berotot milik Dareel terlihat jelas.
Dareel berbalik, "Alona, sedang apa kau berdiri disana? Ayok ke kamarku." Perintahnya.
Alona berdecak malas dan terpaksa melangkahkan kakinya ke kamar Dareel mengikuti pria itu. Setelah berada di kamar Dareel, Alona memekik kaget ketika Dareel secara tiba-tiba menarik lengannya dan memeluknya.
"Apa Delon mempunyai perut seperti ini?" tanya Dareel sambil menarik tangan kiri Alona dan menaruhnya tepat di perut berototnya yang terdiri dari enam kotak itu.
Napas Alona tercekat, ini baru pertama kalinya dia memegang bagian tubuh Dareel. Jemarinya gemetar hebat dan terasa dingin. Dareel yang merasakan itu tersenyum tipis.
"T-tentu saja." Jawab Alona gugup, dia sedang berusaha mati-matian menahan kegugupannya.
Delon memang mempunyai tubuh berotot seperti Dareel, tapi jika dibandingkan tubuh yang dimiliki oleh Dareel, Delon kalah telak.
Dareel semakin membawa Alona ke dalam dekapannya, "menurutmu siapa yang lebih tampan? Aku atau Delon?" tanyanya kembali, wajahnya sangat dekat dengan Alona.
"Delon." Jawab Alona. Dia tidak ingin mengatakan hal buruk tentang Delon, bisa-bisa nanti Dareel akan semakin menghina Delon.
Mendengar jawaban Alona, Dareel tersenyum kecut, "Apa kau sudah pernah melakukan hubungan intim dengan Delon?" tanyanya dengan wajah serius.
Alona mengerutkan keningnya, dia merasa heran dengan arah pertanyaan Dareel, "Jika sudah kenapa dan jika belum kenapa?" tanyanya mengantung.
"Jika belum, aku merasa beruntung. Tapi jika sudah aku ingin melakukannya denganmu." Bisik Dareel. Tangan kanannya menyampingkan rambut panjang milik Alona dan mengecup leher jenjang wanita itu.
"Jadi bapak ingin melakukannya denganku, jika aku sudah melakukannya dengan Delon?" tanya Alona dengan wajah memerah. Ingin sekali dia menampar wajah atasannya itu, tetapi dia berusaha meredam emosinya. Dia akan mengikuti permainan Dareel saat ini. Dibalik ketenangan Dareel, hatinya sedang dipenuhi amarah saat ini, Alona sangat tahu seperti apa karakter atasannya itu.
"Ya tentu saja sayang," jawab Dareel serak, saat ini dia sedang sibuk mengecup leher Alona.
"Mari kita lakukan!" seru Alona membuat Dareel menatapnya tidak percaya. Dia sengaja berkata seperti itu. Dia ingin menguji atasannya itu.
"Kau serius?!" pekik Dareel, wajahnya terlihat bahagia seakan telah memenangkan lotre.
"Sangat serius, pak Dareel." Alona mengedipkan salah satu matanya.
Dareel tertawa pelan melihat Alona sedang menggodanya saat ini.
Lalu Alona menarik tangan Dareel dan mendorong tubuh pria itu di atas tempat tidur, kemudian Alona naik di atas Dareel. Pria itu menggeram keras ketika merasakan tubuh bawahnya terasa sesak.
Jemari Alona menyusuri perut berotot milik Dareel. Saat kedua tangan Dareel menyentuh kulit mulus paha milik Alona, wanita itu langsung menyingkirkan tangan Dareel dari sana. Saat ini Alona memakai drees selutut.
Jantung Alona berdetak kencang saat tatapannya bertemu dengan Dareel, jujur saja dia sangat takut bertindak nekat seperti ini kepada Dareel. Tetapi dia harus melakukannya, dia tidak ingin Dareel melakukan hal yang lebih buruk kepadanya.
Dareel yang sudah tidak bisa menahannya langsung mendorong tubuh Alona, hingga kini Dareel berada di atas wanita itu. Saat bibir Dareel ingin menciumnya, Alona langsung menutup bibir pria itu dengan tangan kanannya.
"Pak, aku wanita yang keberapa yang sudah pernah bapak tiduri?" tanya Alona membuat Dereel terperangah.
"Jujur saja, aku belum pernah tidur dengan siapapun." Jawab Dareel bersungguh-sungguh.
Yah, Dareel belum pernah melakukan hubungan intim dengan wanita manapun. Hingga detik ini dia masih menjaga semua apa yang dia miliki. Dia tidak ingin berhubungan dengan sembarangan wanita, dia tidak mau terkena penyakit.
Melihat Delon mencium Alona di tempat ice skating tadi membuatnya sangat cemburu. Karena itu, Dareel menjadi berpikir yang tidak-tidak tentang Alona dan juga Delon, Dareel berpikir mereka berdua pernah melakukan hubungan yang intim. Membayangkan Alona pernah berhubungan intim dengan Delon membuat hati Dareel sesak memikirkannya. Dareel juga ingin Alona memberikan semua yang dimilikinya kepadanya, wanita itu adalah kekasihnya sekarang dan dia juga punya hak atas Alona.
Alona menatap Dareel dengan pandangan tidak percaya, "bapak kan sering memasukan beberapa wanita ke apartement bapak?"
"yah memang sering, tetapi mereka hanya untuk menemaniku bermain playstation dan billiard."
"Bohong,"
"Jika kau tidak percaya, kau bisa melihat rekaman cctv dirumahku." Kata Dareel serius.
Alona menghela napasnya dan menatap Dareel dengan mata mengembang, "kenapa bapak menyukaiku?" tanyanya.
Mendengar pertanyaan Alona membuat Dareel terdiam, jika Alona bertanya kenapa dia menyukainya, Dareel tidak tahu jawabannya. Sungguh dia tidak tahu, apa dia menyukai Alona atau tidak. Dia tidak punya alasan kenapa menyukai Alona. Tapi yang pasti dia selalu ingin berada bersama Alona.
Alona menatap Dareel dengan pandangan kecewa ketika Dareel tidak menjawab pertanyaanya. Wanita itu sangat yakin Dareel tidak menyukainya dan hanya mempermainkan saja. Maka dari itu, saat Dareel mengatakan bahwa pria itu jatuh cinta kepadanya, Alona tidak percaya begitu saja.
"Pak, jika bapak menjadikan aku kekasih bapak hanya untuk melampiaskan kebutuhan biologis bapak, maaf aku bukanlah wanita seperti itu." ucap Alona lirih, "jika bapak berpikir aku dan Delon sudah pernah melakukan, kami berdua belum pernah melakukannya. Bagiku keperawan itu sangat penting karena aku tidak ingin membuat suamiku kelak kecewa denganku."
Dareel tertegun mendengar perkataan Alona, Dareel bisa melihat kejujuran diwajah Alona saat mengatakan itu. Tidak lama dia mendengar suara tangisan Alona.
"Kenapa menangis?" tanya Dareel sedikit cemas.
"Bapak selalu membuatku pusing dengan kelakukan bapak, bapak selalu bertindak seenaknya denganku. Sekarang Bapak ingin mengajakku berhubungan intim, jika aku sudah melakukannya dengan Delon. Memangnya bapak kira, aku wanita seperti apa?!" isak Alona, "pak Dareel sangat jahat kepadaku!"
Dareel menghembuskan napasnya dan merebahkan tubuhnya disamping Alona, lalu menarik Alona dan membawanya kedalam dekapannya. Melihat Alona menangis seperti ini membuatnya merasa bersalah. Dia sudah berpikir buruk tentang Alona karena rasa cemburunya itu. Mendengar kejujuran Alona tadi membuat hatinya sedikit tenang, setidaknya kecurigaannya kepada Alona tidak benar.
Hanya karena Delon mencium Alona membuatnya tidak berpikir jernih. Itu hanya sebuah ciuman, bukankah dia pernah mencium Alona dibelakang Delon? Dareel merasa seperti pria pecundang saat ini.
"Maaf..."
"Maaf untuk apa?"
"Maaf karena telah menyakitimu..."
Alona mendengus kesal dibalik tangisannya, " bapak sudah sering menyakitiku, jadi bapak tidak perlu minta maaf." Ucapnya membuat Dareel tersenyum.
Dareel semakin memeluk tubuh Alona, sekali-kali dia mencium bahu Alona, "Alona, jika Delon sudah tidak perjaka bagaimana?" tanyanya menggoda.
"Biarkan saja, itu kan hanya masa lalunya. Yang penting buatku kedepannya saling setia." Jawab Alona membuat Dareel mengulum senyumnya.
Terlalu naïf – Batin Dareel.
Dareel merasa beruntung mengenal sosok wanita seperti Alona. Dia bertekad akan selalu bersama Alona dan tidak akan membiarkan wanita itu lepas dari genggamannya.
"Kau menyukaiku, Alona?" tanya Dareel memejamkan kedua matanya.
Alona menggeleng, "tidak."
"Bukannya tidak, kau hanya belum menyukaiku saja." Ucap Dareel.
"Terserah bapak saja..." balas Alona malas, "Pak Dareel..." panggilnya kemudian.
"Hmm..."
"Boleh aku tidur? Aku mengantuk sekali." Tanya Alona.
Dareel mengangguk, "Boleh, aku juga sudah mengantuk." Jawabnya, lalu dia mengecup pinggir kening Alona dengan sangat lembut dan lama, "selamat tidur Alona, semoga mimpi indah." Bisiknya membuat Alona tersenyum.
Tidak lama Dareel mendengar suara dengkuran halus dari bibir Alona, kemudian Dareel mencoba memejamkan kedua matanya dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. Berada di dekat Alona membuat hatinya menghangat dan sangat dipastikan malam ini dia bisa tidur lebih nyenyak.
♥♥♥♥ o(╥﹏╥)o ♥♥♥♥
Keesokan paginya...
Dareel baru saja terbagun dari tidurnya ketika mendengar suara ponsel berbunyi. Lalu dia mencari ponsel tersebut dengan mata menyipit, dia merasa heran suara ponsel siapa yang telah membangunkan tidur indahnya itu.
Saat dia membalikan tubuhnya, dia sangat terkejut melihat sosok Alona tengah tidur disampingnya. Lagi-lagi dia lupa jika Alona tidur bersamanya. Dareel berdecak kesal ketika ponsel milik Alona terus berdering, dia langsung mencari ponsel milik Alona. Dareel langsung mengambil ponsel milik wanita itu yang berada di dalam tas berukuran kecil, tali tas itu masih melingkari pinggang Alona.
Ketika melihat nama Delon di layar ponsel itu, Dareel tersenyum kecut. Delon selalu saja menganggunya jika sedang bersama Alona, padahal dialah yang sering menganggu Delon. Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalanya, dia langsung mengangkat panggilan video itu dengan senyuman lebar.
"Morning, Delon Vinson!" sapa Dareel melambaikan tangannya.
"Mr. Dareel, kenapa kau bisa mengangkat ponsel Alona, hah?!" seru Delon berteriak. Wajahnya terlihat terkejut dan penuh amarah, dia tidak percaya Dareel yang mengangkat ponsel milik Alona.
"Ya tentu saja bisa, aku dan Alona saat ini sedang berada di apartementku dan sekarang Alona tidur disampingku." balasnya tertawa renyah, "kau mau lihat?" godanya, lalu dia langsung mengarahkan ponsel milik Alona kearah sang pemilik ponsel tersebut.
"b******k kau Mr. Dareel!!! Jangan sentuh Alona-ku!! Jika berani menyentuh Alona-ku, akan ku bunuh kau Mr. Dareel!!!" teriak Delon penuh amarah dan emosi saat melihat Alona tengah terlelap nyenyak disamping Dareel.
Dareel menyengir lebar mendengar ancaman Delon, dia tidak takut dan tidak peduli dengan ancaman pria itu. Kemudian Dareel mengecup kening Alona membuat Delon semakin berteriak kencang disana, "Bye Delon Vinson!" ujarnya dan langsung mematikan sambungan video call itu. Hati Dareel benar-benar lega sekarang, "Satu sama!" katanya dengan senyuman lebar.
♥♥♥♥ o(╥﹏╥)o ♥♥♥♥