Ice ♥9♥
Bagian 9
♥♥♥♥ o(╥﹏╥)o ♥♥♥♥
Setibanya di tempat tujuan mereka, mereka langsung menuju ke tempat bioskop. Alona dan Naya mengusulkan untuk menonton film horror. Delon tentu bersemangat dengan ide Alona dan Naya, tapi tidak dengan Dareel.
Tanpa diketahui oleh siapapun Dareel sangat takut menonton film horror, tapi dia tidak menunjukan hal itu, bisa-bisa mereka semua menertawakannya.
"kalian yakin ingin nonton film horror?" tanya Dareel menatap Naya dan Alona.
Kedua wanita itu mengangguk mantap, Dareel sudah menanyakan hal itu lebih dari lima kali. Dengan terpaksa Dareel membeli lima buah tiket.
Setelah memesan tiket, sepasang matanya mencari sosok Delon. Saat matanya menangkap sosok Delon, dia langsung menghampiri pria itu. Alona dan Naya langsung mengikuti Dareel. Delon sendiri sedang melihat menu makanan yang berada di tempat ini.
"Heh, ganti biaya tiket nontonmu?!" seru Dareel sinis.
Delon berdecak sebal, lalu dia mengeluarkan dompetnya dari saku celana dan menyerahkan delapan lembar uang berwarna merah muda kepada Dareel.
"Kau menghina ku hah?!" seru Dareel, dia tidak terima ketika Delon mengembalikan biaya ganti tiketnya dengan nilai nominal yang lebih.
"Aku sedang berbaik hati padamu Mr.Dareel, aku mentraktirmu nonton kali ini." Ucap Delon penuh kebanggan.
Alona dan Naya hanya menatap mereka, mereka berusaha tidak ikut campur.
Dareel langsung mengembalikan semua uang Delon kepada pria itu, "memangnya kau pikir aku tidak mampu untuk beli tiket nonton?!" tanyanya marah. "Asal kau tahu, aku bisa membeli tempat ini!"
Delon tersenyum, "itulah kenyataannya, jika kau mampu kau tidak perlu meminta biaya ganti tiket itu Mr.Dareel." ujarnya membuat Dareel mendesis geram.
Sialan!! Maki Dareel dihatinya, "oke tidak usah diganti!!" serunya kesal dan pergi dari hadapan mereka. Dareel paling tidak suka dengan penghinaan.
Delon, Alona dan Naya langsung tertawa setelah Dareel pergi dari hadapan mereka. Bagi Delon ini adalah awal permulaan untuk mempermalukan Dareel.
Lalu Delon membeli tiga pop corn berukuran besar. Setelah membeli pop corn mereka duduk di kursi tunggu sambil menikmati pop corn mereka.
Wajah Alona bersemu merah ketika Delon mengecup pipinya, "aku merindukanmu, Alona. Sangat merindukanmu." Ucap Delon merengkuh wajah Alona.
Saat Delon ingin mencium bibir Alona, wanita itu langsung menutup mulut pria itu dengan tangan kanannya, "ini tempat umum sayang." Bisiknya tersenyum. Delon hanya menghela napasnya kecewa.
Naya yang melihat itu hanya menatap mereka dengan senyuman lirih. Jika tahu pemandangan seperti ini yang dilihatnya, dia tidak akan ikut.
Tidak lama suara pengumuman terdengar, mereka bersiap-siap berjalan menuju pintu bioskop yang telah di buka.
"Ohya, pak Dareel kemana yah?" tanya Alona kemudian.
"sudahlah sayang, tidak usah pikirkan dia!" kata Delon.
"Tapi tiket kita sama pak Dareel!" balas Alona, "kalian berdua tunggu disini yah, aku cari pak Dareel dulu." Ucapnya kemudian dan menyerahkan pop corn-nya kepada Naya.
Lalu Alona melangkahkan kakinya untuk mencari sosok Dareel. Tidak lama dia menemukan sosok Dareel yang tengah makan pop corn bersama seorang wanita di sudut sana. Alona menghembuskan napasnya kesal ketika melihat Dareel mengecup pucuk tangan wanita yang baru di kenal pria itu. Alona langsung menghampiri Dareel.
"Pak Dareel!" seru Alona membuat Dareel menoleh, "pintunya sudah mau dibuka," ujarnya kesal.
Dareel berdiri dan mengangguk pelan, "oke honey, sampai jumpa lagi..." pamitnya kepada wanita itu.
"Oke my love!" balas wanita itu sambil mengerlingkan matanya.
Alona menggeleng pelan melihatnya, lalu dia berjalan menuju pintu teater dua diikuti oleh Dareel. Tangan kiri pria itu membawa pop corn berukuran extra large. Tiba-tiba Alona merasakan sentuhan hangat di telapak tangannya, wajahnya memanas ketika jemari Dareel melesak masuk.
"Aku kekasihmu Alona, bisa kah kau tidak bermesraan dengan Delon saat bersamaku?" tanya Dareel.
Alona hanya menatap Dareel dan tidak menjawab pertanyaan pria itu. Sepertinya Dareel melihatnya bermesraan ketika sedang bersama Delon tadi. Saat tiba di pintu teater dua, Alona melepaskan genggaman tangannya dari Dareel, dia tidak ingin kekasihnya melihatnya.
Dareel menghela napasnya kecewa.
Lalu mereka semua masuk ke dalam teater pertunjukan. Delon langsung menyuruh Alona duduk disampingnya dan Naya duduk tepat disampingnya. Kursi di samping Naya masih kosong dan kursi itu untuk Dareel. Delon sengaja memposisikan tempat duduk mereka seperti ini agar Dareel tidak menganggu Alona.
Akhirnya Delon bisa bernapas lega kali ini.
"Permisi dong!!" seru Dareel ketika kaki Delon menghalangi jalanannya.
"Mr. Dareel kau mau kemana? Kursimu disamping Naya!" seru Delon terkejut saat Dareel menyingkirkan kakinya.
Dareel tersenyum lebar, "Asal kau tahu aku membeli lima tiket, untuk berjaga-jaga dengan hal seperti ini. Aku sangat tahu kau seperti apa Delon Vinson!" ucapnya penuh kemenangan dan duduk disamping Alona.
"F*ck!!" umpat Delon, dia tidak percaya Dareel membeli lima buah tiket hanya untuk mengantisipasi hal seperti ini. Ternyata Dareel lebih licik darinya! Dan kursi disamping Naya dibiarkan kosong.
Alona berusaha menenangkan Delon dan menatap tajam Dareel yang tengah sibuk dengan pop corn-nya yang sudah tinggal sedikit. Naya hanya menggeleng pelan, ternyata atasannya itu sangat pintar dan licik sekali.
Tidak lama lampu teater padam dan film akan segera dimulai. Sebelum film dimulai ada pembukaan iklan terlebih dahulu.
Alona mengapit lengan Delon, pria itu langsung menarik tangan Alona dan menggengamnya. Dareel yang melihat pemandangan itu hatinya sangat kesal. Sedangkan Naya sedang sibuk menatap layar teater.
"Ih pak Dareel itu kan pop corn Alona!" seru Alona ketika tiba-tiba Dareel merebut pop corn miliknya.
"Minta aku lapar!"
"Bapak kan sudah makan banyak tadi..." seru Alona merebut pop corn-nya itu dari tangan Dareel.
"Pelit banget sih kamu!" teriak Dareel dan menahan pop corn milik Alona ketika wanita itu ingin merebutnya.
"Sudah Alona, mengalah saja sayang." Bisik Delon dan menatap sekeliling, dia tidak ingin orang-orang yang berada di tempat ini terganggu karena keributan yang ditimbulkan oleh Dareel.
Alona menghembuskan napasnya kesal dan terpaksa mengalah. Kelakuan atasannya itu seperti anak kecil.
Tidak lama film diputar. Sepanjang film diputar Dareel terus berteriak kencang dan menyembunyikan wajahnya di bahu Alona. Filmnya begitu menakutkan untuk Dareel.
Untuk pertama kalinya baik Alona dan Delon tidak nyaman menonton film kali ini karena ulah Dareel.
♥♥♥♥ o(╥﹏╥)o ♥♥♥♥
Setelah selesai menonton, mereka berempat mengisi perut mereka di salah satu food court. Mereka hanya memesan empat burger dan empat minuman soda dan memakannya sambil berjalan mengelilingi pusat perbelanjaan yang semakin terlihat ramai di malam hari.
Bibir Alona terus tersenyum sambil memandangi wajah Dareel yang tengah sibuk mengunyah burgernya. Merasa diperhatikan oleh Alona, Dareel langsung menoleh kearah wanita itu.
"Kenapa?" tanya Dareel heran. Alona menggeleng pelan, "ada yang lucu?" tanyanya lagi, Alona mengangguk.
"Bapak takut hantu yah?" tanya Alona berbisik.
"T-tidak tuh!" jawabnya lantang.
Alona hanya mengulum senyumnya, dia sangat tahu atasannya itu sangat takut dengan hantu. Sewaktu-waktu Alona akan mengerjai atasannya itu.
Saat mereka melewati ice skating, Alona dan Naya menghentikan langkahnya.
"Alo, sepertinya kita sudah lama tidak bermain ice skating?" ujar Naya menatap Alona.
"Benar juga, kita main yuk!" usul Alona, Naya langsung mengangguk setuju. Lalu pandangannya beralih kepada Delon dan Dareel, "kita main ini yuk!" serunya kepada kedua pria itu.
Delon mengangguk, "apa kau ingat sayang moment penting terakhir kita ke tempat ice skating?" tanyanya kepada Alona.
Wajah Alona langsung berpikir keras, dia sepertinya lupa.
"Setahun yang lalu." Sahut Naya tersenyum.
"Kau mengingatnya Nay?" tanya Delon.
"Ya tentu saja, kau melamar Alona di tempat ini tepat di tengah sana." Ucap Naya mengingatkan.
Dareel yang mendengar itu langsung tersedak burgernya. Dia baru tahu Delon melamar Alona di tempat ini.
Sementara itu, Delon menatap Naya dengan pandangan tidak percaya, sahabatnya itu mengingat hari pentingnya. Sedangkan kekasihnya sama sekali tidak mengingatnya.
"Ya ampun aku lupa kamu pernah melamar aku di tempat ini! Maaf ya sayang, aku benar-benar lupa!" seru Alona penuh rasa bersalah.
Delon tersenyum, "tidak apa-apa..." ucapnya membelai rambut Alona.
Dareel tertawa, "kau memang harus melupakannya Alona," sahutnya. Delon hanya menatap Dareel dengan pandangan tidak suka.
"Bagaimana jika kita main ini sekarang?" tanya Naya kemudian, untuk mengalihkan keributan yang akan terjadi di antara Delon dan Dareel.
"Yuk!" seru Alona antusias.
Lalu mereka berempat berjalan menuju pintu masuk.
"Aku tidak ikut!" kata Dareel membuat mereka berempat menoleh.
"Kenapa pak?" tanya Alona heran.
Delon tertawa, "kau tidak usah bertanya kenapa sayang, aku yakin dia tidak bisa main ice skating. Jangankan main ice skating, nonton film horror ajah dia takut!" hinanya.
"Jangan bicara sembarang kau!" seru Dareel penuh amarah, dia tidak terima dengan penghinaan Delon. Lalu dia membuka jasnya dan menggulung lengan kemejanya, "aku main! Main ini ajah sih kecil!" serunya tidak ingin terkalahkan.
Delon tertawa kecut, "kita lihat saja nanti." Ujarnya meragukan Dareel.
Tidak lama mereka masuk ke dalam arena ice skating, setelah lengkap memakai perlengkapan ice skating. Alona, Naya dan Delon langsung meluncur dan bergerak sesuka hatinya di dalam arena ice skating. Kebetulan tempat ini sedang tidak terlalu ramai, jadi mereka lebih leluasa bermain.
Saat asyik bermain, Alona menatap sekeliling arena ini untuk mencari sosok Dareel. Ketika menemukannya, ternyata pria itu masih berada di pintu masuk arena. Pria itu tengah berpegangan pada besi di pinggir arena ini, Dareel sedang berusaha berjalan di atas es dengan sepatunya itu. Namun, Dareel gagal, dia kembali terjatuh.
Alona yang melihat itu langsung menghampiri Dareel. Dia tidak tega melihat Dareel disana seorang diri.
"Alona kamu mau kemana?" tanya Delon tiba-tiba.
"Aku ingin membantu pak Dareel, dia kasihan." Jawab Alona.
"Biarkan saja dia sayang, sudah tahu tidak bisa malah memaksakan diri!" cegah Delon.
Alona menggeleng, "aku tidak bisa melihatnya kesusahan." Ujarnya, kemudian dia menghampiri Dareel.
"Wanita itu selalu saja peduli pada Dareel!" umpatnya penuh kecemburan.
Naya yang melihat itu menyentuh bahu Delon, dia mengulurkan tangannya membuat Delon menatapnya tidak mengerti, "mau berlomba denganku?" tanyanya.
Delon tertawa dan menerima uluran tangan Naya, "boleh..." jawabnya menerima uluran tangan Naya.
Lalu mereka berdua berlomba bermain ice skating, tawa mereka terdengar kencang disana. Delon tidak akan membiarkan Naya mengalahkannya.
♥♥♥♥
Sementara itu, Alona mengulurkan tangannya ketika melihat Dareel terjatuh. Dareel sangat terkejut dengan kehadiran Alona dihadapannya.
"Mau ku bantu?" tanya Alona.
Dareel menggengam tangan Alona, "kau sangat tega kepadaku Alona, kau membiarkan kekasihmu kesusahan disini dan kau malah asyik disana bersama kekasihmu yang lain!" omelnya.
"Pak Dareel kalau tidak bisa main, kenapa maksain diri?" tanya Alona heran, dia terus menggengam kedua tangan Dareel agar pria itu tidak terjatuh.
"Kekasih tersayangmu menghinaku tadi! Aku tidak terima!" jawabnya sebal.
Alona tertawa, "kalau gitu Alona ajari yah pak, biar Delon tidak menghina bapak lagi." Ucapnya membuat wajah Dareel bersemu merah.
Saat Alona mengatakan hal itu, bagi Dareel, Alona terlihat cantik. Lalu Alona mengajari Dareel perlahan. Dia terus menggengam tangan Dareel. Tawa Alona terdengar ketika merasakan tangan Dareel gemetar.
"Jangan lepas." Pinta Dareel, dia sangat takut Alona melepaskan tangannya.
"Iyah, tenang saja aku tidak akan melepaskan bapak." Ucapnya tersenyum.
Dareel terus memandangi wajah Alona, entah kenapa hatinya terasa menghangat saat berada di dekat Alona.
"Alona."
"Yah?"
"Kapan-kapan kita kesini lagi yah, kau mau kan?" tanyanya penuh harap, Alona hanya tersenyum dan mengangguk, "tapi hanya kita berdua."
"Iyah..."
Sedetik kemudian tawa Alona terdengar ketika Dareel hampir terjatuh, untung saja dia cepat memeluk tubuh besar pria itu. Lalu mereka larut dalam permainan ice skating mereka. Perlahan Dareel bisa mengikuti gerakan langkah Alona. Kedua tangan mereka saling bergenggaman satu sama lain.
Dareel dan Alona terlihat bahagia disana.
Tanpa mereka sadari, Delon tengah memperhatikan mereka dengan pandangan terluka.
Naya yang melihat itu hanya terdiam tanpa bisa melakukan apapun. Jika di beri kesempatan, dia akan menyembuhkan luka di hati Delon saat ini.
♥♥♥♥ o(╥﹏╥)o ♥♥♥♥