Dating Together ♥8♥

1801 Words
Dating Together ♥8♥ Bagian 8 ♥♥♥♥ o(╥﹏╥)o ♥♥♥♥ Satu jam kemudian... Jam menunjukan pukul tiga sore, Dareel dan Alona tengah bersiap untuk pergi berkencan. Dareel ingin mengajak Alona pergi bersamanya ke salah satu mall di kawasan Jakarta. Sebelum mereka pergi, mereka berpamitan dahulu kepada keluarga Alona. "Sering-sering ke sini ya nak Dareel..." kata Ibu Alona tersenyum. Dareel mengganguk mantap, "pasti!" "Dareel terima kasih atas hadiahnya," ucap ayah Alona. "Sama-sama pak, besok salah satu karyawan saya akan datang untuk menemani bapak dan ibu liburan ke Thailand, dia akan jadi tour guide untuk kalian disana." Ucap Dareel tersenyum. Kedua orangtua Alona langsung mengucapkan banyak terima kasih kepada Dareel, karena telah merepotkannya. Sedangkan Alona hanya menatap Dareel dengan senyuman tipis. Besok kedua orangtua Alona akan berangkat ke Thailand untuk liburan. "Om Dareel, kapan kita main bersama lagi?!" tanya Tio berteriak membuat mereka menatapnya. "Iyah om, kapan?!" sahut Rere, sepupu Alona yang lainnya. Dareel tersenyum lebar, "nanti yah, setelah om pulang dari Singapore. Om harus menyelesaikan pekerjaan om dulu disana." Jawabnya. "Yeaah!" sorak Tio, Rere dan yang lainnya. Alona yang melihat tingkah sepupunya hanya menggelengkan kepalanya. Dia sangat heran dengan keempat sepupunya, jika Delon yang datang mereka tidak pernah terlihat bermain bersama. Padahal Delon sering bertemu dengan mereka. Tapi baru kenal Dareel satu hari keempat sepupunya terlihat begitu dekat dengan Dareel, seakan mereka sudah kenal sangat lama. Lalu Alona dan Dareel melangkahkan kakinya menuju pintu rumah, ketika Alona ingin membuka knop pintu rumahnya tiba-tiba neneknya memanggil Dareel, kontan mereka berdua berbalik. "Dareel, oma punya sesuatu untukmu." Ucap Nenek Alona mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, kemudian dia mengambil tangan kanan Dareel dan memberikan sebuah cincin putih dengan berlian indah yang menghiasi cincin itu. Dareel menatap nenek Alona dengan pandangan tidak mengerti. Sedangkan ALona menatap neneknya tidak percaya, dia benar-benar tidak percaya neneknya memberikan Dareel cincin? Kepadanya saja neneknya tidak pernah memberikan apapun. Alona sangat iri melihatnya. "Ini adalah cincin pemberian dari kakek Alona, kamu jaga cincin ini sampai kamu menemukan belahan jiwamu Dareel. Jika kamu sudah menemukan seseorang yang menerimamu apa adanya dan mencintaimu dengan tulus baru kamu berikan cincin ini untuknya." Ucap nenek Alona tersenyum, kedua tangannya menggengam erat tangan Dareel. Dareel tersenyum lirih, "terima kasih oma, aku selalu menjaganya sepanjang hidupku..." ucapnya memeluk nenek Alona. "Jika kamu merindukan ibumu, datanglah ke rumah ini. Oma dan yang lainnya selalu ada untukmu..." ucap Nenek Alona. Dareel yang mendengar perkataan nenek Alona sepasang mata elangnya mengembang, "terima kasih oma..." Dareel melepaskan pelukannya dan mengecup kening nenek Alona. Lalu nenek Alona menoleh kearah Alona yang sedang memperhatikannya, "Kemari..." perintah neneknya, dengan ragu Alona mendekati neneknya. Alona memekik kencang ketika neneknya tiba-tiba memeluknya erat, ini adalah untuk pertama kalinya untuk Alona dipeluk oleh neneknya. "Ternyata cucu oma sudah sebesar ini yah." Seru neneknya sambil menghusap rambut Alona, "Alona, maafkan oma ya. Oma tidak pernah membencimu, percayalah." Bisiknya lirih. Senyum Alona mengembang ketika neneknya mengatakan hal itu, dia percaya, sangat percaya jika neneknya tidak membencinya. Lalu Alona menatap Dareel yang tengah memandanginya. Kedatangan Dareel ke rumahnya membawa banyak perubahaan, karena pria itu Alona bisa merasakan pelukan hangat neneknya. Tidak lama neneknya melepaskan pelukannya dan memutar tubuh Alona, wajah Alona terlihat bingung disana, "umur-mu berapa sih, Alona?" tanya neneknya. "Dua puluh empat nek," jawabnya. Neneknya menggeleng pelan, "dua puluh empat!? Tapi badanmu kurus sekali?! Bokongmu tipis seperti papan cucian dan payudaramu itu ukurannya sangat standar! Wanita seumuranmu itu seharusnya padat berisi!" omelnya membuat wajah Alona memerah menahan malu. "iyah kan Dareel?" tanya neneknya meminta pendapat kepada Dareel. Dareel yang mendengar pertanyaan nenek Alona kontan tertawa kencang, dia tidak bisa menahan tawanya itu, "Betul sekali oma!" "Oma! Kenapa bicara seperti itu sih di depan pak Dareel!" seru Alona dengan wajah kesal. Wajahnya merah padam. Dia tidak berani menatap Dareel yang masih menertawakannya. "Linda, Andy, mulai hari ini oma tinggal di rumah kalian." Seru neneknya kepada kedua orangtua Alona membuat mereka terkejut, "oma akan mengawasi asupan Alona, dia kan sebentar lagi akan menikah, tapi badannya kurus sekali seperti tidak pernah makan!" ucapnya masih terus memutar tubuh Alona. Alona berdecak sebal, dia terus berontak ketika neneknya memutar tubuhnya dan berkomentar tentang tubuhnya itu. Dareel semakin larut dalam tawanya disana. Ibu Alona tersenyum lebar, "Baik bu, aku akan siapkan kamar untuk ibu." Ucapnya. Ada sedikit kebahagian ketika ibu mertuanya mengatakan ingin tinggal di rumah ini. Lalu pandangannya beralih kepada suaminya yang sedang tertawa renyah, "mas," panggilnya membuat suaminya menoleh, "bagaimana jika ibu, kita ajak ke Thailand besok?" usulnya. Suaminya berpikir, sedetik kemudian mengangguk, "ide yang bagus! Aku akan mengurusnya." ♥♥♥♥ o(╥﹏╥)o ♥♥♥♥ "Berhentilah tertawa Pak Dareel!" seru Alona marah kepada Dareel yang masih tertawa. "Oma berkata benar, kau terlihat kurus dan tidak menarik!" kata Dareel. Alona berdecak sebal, "jika aku tidak menarik, kenapa bapak menyukaiku hah?!" tanyanya marah. Dareel tersenyum, kemudian memandangi diri Alona, "menurutmu, kenapa yah aku menyukaimu?" tanyanya balik dengan wajah berpikir, Alona hanya menatap malas pria itu, "dibandingkan dengan wanita yang pernah dekat denganku, kau sih kalah jauh dari mereka." Ucapnya membuat Alona tercengang dengan mulut terbuka lebar, "apa yah yang menarik darimu?" tanyanya kepada dirinya sendiri, dia semakin memperhatikan diri Alona. Alona melipat kedua tangannya, dia sangat marah kepada Dareel saat ini. "ohya aku tahu, yang menarik darimu kau adalah kekasih orang! Dan itu adalah tantangan buatku." Seru Dareel. Alona langsung memukul bahu Dareel bertubi-tubi, dia begitu kesal kepada pria itu. Dareel menjauhkan tubuhnya dari Alona, pukulan Alona di bahunya sangat sakit. Tidak lama Alona menghentikan pukulannya ketika pintu gerbang rumahnya terbuka. Alis Alona saling bertautan, ketika ada dua orang masuk ke dalam rumahnya, dia sangat penasaran siapa yang datang kerumahnya. Wajah tamu itu tidak terlihat karena tertutup daun pohon yang rindang. Sedetik kemudian sepasang mata Alona melebar, "Delon?!" pekiknya kencang mebuat Dareel terkejut, lalu Alona juga melihat Naya disana berjalan sejajar bersama Delon, "pak ada Delon, bagaimana ini?!" tanya Alona gelisah. "Bagaimana apanya?" tanya Dareel pura-pura tidak mengerti dengan pertanyaan Alona. Alona berdecak, "Pak, kita batalkan ajah yah acara kencan kita kali ini?" mohonnya. Dareel hanya mengangguk pelan membua Alona bernapas lega. Lalu Alona merapikan penampilannya saat Delon dan Naya semakin dekat. Wajah Delon terlihat marah disana, sepasang mata elangnya terus memandangi Dareel dengan pandangan mematikan. Dia tidak percaya Dareel datang kerumah Alona. Kedua tangan Delon memegang kado berukurkan besar yang akan dia berikan untuk kedua orangtua Alona. Sedangkan Naya tersenyum melihat Alona sedang bersama Dareel berdiri di teras rumah Alona. "H-hai S-sayang..." sapa Alona gugup kepadaa Delon. "Alona, apa yang dilakukan dia disini?" tanya Delon dengan rahang bergemertak. "Hm—i-ini—Pak Dareel---" "Aku kesini ingin mengajaknya berkencan," potong Dareel merangkul bahu Alona. Alona yang mendengar itu memejamkan kedua matanya sesaat, lalu menatap Naya seakan meminta pertolongan darinya. Baru saja dia bernapas lega ketika Dareel mengangguk setuju untuk membatalkan acara kencan mereka, tapi kini Dareel malah mengatakan terang-terangan kepada Delon jika dia ingin mengajaknya berkencan. Delon langsung menarik lengan Alona dan menjauhkan wanita itu dari Dareel, "Aku tidak akan membiarkanmu membawa pergi Alona, Mr. Dareel." Desisnya menatap tajam Dareel. "Aku akan membawanya pergi dengan paksa." Balas Dareel tersenyum kecut. "Stop!" Teriak Naya ketika Delon ingin mencengkram kemeja Dareel, "tolong jangan pakai kekerasan, ini rumah Alona dan di dalam rumah ada keluarganya. Kalian berdua tidak ingin di cap buruk kan oleh keluarga Alona?" tanya Naya menatap Dareel dan Delon bergantian. Dareel dan Delon mengangguk pelan mendengar perkataan Naya. Delon semakin menatap Dareel dengan pandangan tajam, seakan mengatakan urusan kita belum selesai. "Delon, kamu bilang kemarin, kamu ingin mengantar kakakmu ke Bandara dan baru malam nanti kamu kerumahku?" tanya Alona merengkuh wajah Delon, untuk mengalihkan pandangan pria itu dari Dareel. "kakakku diantar oleh supirnya, jadi kuputuskan untuk hadir sore ini. Kau tidak suka aku datang sekarang?" tanya Delon dengan suara serak. Alona menggeleng, "tentu aku suka, aku sangat berharap kau datang secepatnya!" jawabnya tersenyum lebar. "Omong kosong!" gumam Dareel, dia sangat tidak suka melihat kebersamaan Alona dan Delon disana. Delon berusaha tidak memperdulikan Dareel, dia sedang berusaha menahan amarahnya. Ingin sekali dia menghabisi Dareel, namun diurungkan niatnya itu. Lalu dia meletakan kado berukuran besar di atas meja kecil, setelah itu dia memeluk Alona dihadapan Dareel. Dareel yang melihat itu mengepalkan kedua tangannya, sepertinya Delon sengaja memeluk Alona di hadapannya. Kurang ajar kau Delon, aku akan mencium Alona di depanmu nanti! Liat saja nanti! Aku akan mematahkan hatimu! –batinya bersungguh-sungguh, hatinya sangat marah saat ini. Sedangkan Naya yang melihat kemesraan mereka mengalihkan pandangannya ke sembarangan tempat. Lalu Alona melepaskan pelukannya dan memandangin Naya yang sedang berdiri canggung disamping Delon, "Ohya, kok kalian bisa datang berdua?" tanya Alona kemudian dengan pandangan heran. "Iyah kalian kok bisa datang bersama?!" sahut Dareel, "jangan-jangan kalian berdua---?" Dareel mengantungkan kalimatnya, "Selingkuh di belakang Alona?!" tuduhnya membuat mereka semua kontan menatapnya. Naya tertawa, "tuduhan bapak suatu hari nanti akan menjadi bumerang untuk bapak sendiri." Ucap Naya membuat Dareel menghusap tekuk lehernya tersenyum. Perkataan Naya sangat menohok hatinya, dia menuduh Naya dan Delon selingkuh. Tapi nyatanya dia adalah selingkuhan Alona, tepatnya dia memasksa wanita itu untuk menjadi kekasihnya. Dasar i***t! Umpat Alon dalam hatinya yang ditujukan untuk Dareel. "Tadi aku tidak sengaja bertemu Naya di depan komplek rumahmu, dia ingin mengucapkan selamat untuk ibu dan ayahmu. Ya sudah aku mengajaknya ikut bersamaku." Ucap Delon kepada Alona. "Sebelumnya saya minta maaf, tapi saya harus menyudahi basa-basi yang tidak penting ini. Sudah hampir jam empat sore dan saya ingin mengajak Alona pergi." Seru Dareel ketika Alona ingin membuka mulutnya. Alona menepuk keningnya, dia sangat benci dengan situasi seperti ini. Dareel suka bicara seenaknya tanpa memikirkan perasaan orang lain. Apalagi saat ini ada Delon di kediamannya. "Memangnya pak Dareel ingin pergi kemana bersama Alona?" tanya Naya penasaran. "Ke mall!" jawabnya tersenyum kesal. "Bagaimana, jika kita pergi berempat?!" usul Naya menatap mereka satu persatu. Alona langsung mengangguk setuju, "ide yang bagus!!" sahutnya antusias. Dareel mengangkat kedua tangannya, "tidak, aku hanya ingin pergi berdua dengan Alona!" tolaknya. "Mr. Dareel kau bicara seperti itu seakan Alona adalah kekasihmu?! Aku tidak akan membiarkanmu pergi dengan Alona ku!" seru Delon penuh amarah. Alona menghela napasnya, dia tidak ingin terjadi keributan di rumahnya, "Pak Dareel, jika bapak tidak mau mengajak Delon dan juga Naya aku tidak mau pergi dengan bapak." Ancamnya, dia merasa senang bisa mengancam Dareel. Dareel berdecak, dia tidak percaya Alona berani mengancamnya? Tiba-tiba satu ide muncul di pikirannya, sedetik kemudian senyumannya mengembang lebar, "Baiklah aku akan mengajak peliharanmu ini dan Naya ikut bersama kita," ucap Dareel akhirnya. Alona langsung bertepuk tangan gembira dan menatap Delon tersenyum sambil menggengam tangan kekasihnya itu. Dia merasa lega karena bisa pergi bersama Delon, setidaknya dia bisa merasa aman. Delon menggeleng pelan, pergi bersama Dareel adalah hari yang buruk untuknya. Di luar nanti, Delon berniat akan mempermalukan Dareel dihadapan Alona dan semua orang. Setelah Naya dan Delon memberikan hadiah mereka untuk kedua orangtua Alona, mereka semua langsung melesat pergi dari kediaman Alona menuju tempat hiburan terbesar di Jakarta. ♥♥♥♥ o(╥﹏╥)o ♥♥♥♥
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD