Brownies Love ♥7♥
Bagian 7
♥♥♥♥ o(╥﹏╥)o ♥♥♥♥
Keesokan paginya di kediaman Alona...
Rumah orangtua Alona hari ini begitu ramai, hampir semua keluarga dari ayahnya datang. Alona adalah anak satu-satunya di keluarganya.
Saat ini Alona sedang sibuk mengaduk adonan kue, dia ingin membuat kue brownis. Wajah Alona terlihat cemberut disana, mulutnya terus bergerutu sambil memandang sebal kearah seorang wanita tua yang sedang bermain dengan cucunya disana.
Wanita tua itu adalah neneknya, nenek dari ayahnya. Neneknya sangat cerewet sekali, Alona sangat tidak suka dengan kehadiran neneknya itu dirumah ini. Neneknya suka sekali berkomentar buruk. Apa yang Alona lakukan selalu salah dimata neneknya itu. Alona akan membuat kue brownis untuk neneknya, dia ingin membuktikan kepada neneknya bahwa dia bisa melakukan hal yang terbaik. Lalu tatapannya bertemu dengan neneknya, dia langsung mengalihkan pandangannya dan berpura-pura sibuk.
"Alona! Sedang membuat apa kau?" tanya neneknya dengan pandangan heran.
"Kue!" jawab Alona sedikit ketus.
Neneknya tersenyum kecut, "Kau membuat kue? Memangnya kau bisa? Nenek tidak yakin kau bisa membuat kue." Katanya seakan meragukan Alona.
Alona hanya menghela napasnya kesal, dia tidak peduli dengan komentar neneknya itu.
"Sebentar lagi kau akan menikah, belajarlah menjadi istri yang baik. Kasihan calon suamimu nanti jika mendapatkan istri yang tidak bisa melakukan apapun sepertimu." Komentar neneknya lagi.
Alona yang mendengar perkataan neneknya berusaha menahan mati-matian emosi dihatinya.
"Mau mama bantu?" tanya ibunya tiba-tiba.
"Mama?" pekiknya terkejut saat melihat ibunya berdiri tepat disampingnya, "tidak usah ma, hari ini mama tidak perlu sibuk, mama duduk saja disamping papa." Kata Alona tersenyum.
"Sayang, maafkan nenekmu yah..." bisik ibunya lirih menghusap bahu Alona, "gara-gara mama, nenekmu jadi tidak menyukaimu..." ucapnya tertunduk sedih.
Alona tersenyum, "ma, jangan bicara seperti itu dong..."
Ibunya hanya tersenyum, lalu merengkuh wajah Alona. Kemudian ibunya pergi dari hadapan Alona dengan hati sedih. Alona hanya menatap lirih punggung ibunya itu. Alona merasa kasihan melihat ibunya. Sejak awal berkenalan dan menikah dengan ayahnya, neneknya tidak merestui hubungan mereka.
Bertahun-tahun ibunya menahan sakit akibat perlakuan buruk neneknya. Neneknya kerap menghina ibunya di depan siapapun, tidak pernah sedikitpun neneknya memuji ibunya. Tapi sikap neneknya kepada menantu perempuan yang lain sangat baik. Entah apa yang membuat neneknya tidak menyukai ibunya, hingga detik ini Alona belum mendapatkan jawabannya.
Ibu Alona berasal dari yayasan panti asuhan. Ayah Alona bertemu dengan ibu Alona di tempat itu. Ayah Alona jatuh cinta kepada ibu Alona saat pandangan pertama dan juga pada kepribadian baik yang dimiliki oleh ibu Alona. Ayahnya tidak peduli dengan status ibu Alona saat itu, dia tetap menikahi wanita pilihan hatinya, walaupun orangtuanya tidak menyetujui hubungan mereka.
Tiba-tiba pintu bel rumah berbunyi membuat Alona tersadar dari lamunannya. Alona langsung menghentikan aktifitasnya dan berjalan menghampiri pintu rumahnya, lalu membuka pintu rumahnya itu perlahan.
"Pak Dareel?!" pekik Alona terkejut saat melihat atasannya di kediamannya. Dareel tersenyum lebar membuat deretan giginya yang putih terlihat jelas, "apa yang bapak lakukan disini?" tanyanya heran. Sepasang mata indahnya memandangi penampilan Dareel yang sangat formal, seperti ingin pergi bekerja.
"Kau kan mengundangku untuk datang ke acara ulangtahun pernikahan orangtuamu." Ucap Dareel mengingatkan.
Alona menepuk keningnya, dia lupa! Alona menggigit bibir bawahnya, kehadiran Dareel di kediamannya membuat hari Alona semakin berat. Apalagi saat ini dirumahnya ada neneknya. Neneknya mempunyai jiwa perfeksionis yang sangat akut, dia ingin semuanya terlihat sempurna dan sesuai dengan keinginan hatinya. Karena sikapnya itu, neneknya selalu berkomentar buruk tentang apapun. Alona tidak bisa membayangkan jika neneknya berkomentar buruk tentang Dareel, sangat dipastikan atasannya itu akan marah dengannya nanti.
Berkomentar buruk? Tanya Alona dalam hatinya, sedetik kemudian senyum Alona mengembang. Ada bagusnya juga Dareel datang ketika ada neneknya, sangat dipastikan Dareel tidak akan tahan jika neneknya nanti berkomentar yang tidak-tidak kepadanya. Dan Alona sangat yakin Dareel akan segera berhenti menganggu hidupnya yang indah karena komentar pedas dari neneknya itu.
"Silahkan masuk pak Dareel..." ucap Alona tersenyum lebar mempersilahkan Dareel masuk kedalam rumahnya.
Dareel mengerutkan keningnya heran melihat perubahan wajah Alona. Lalu Alona mengajak masuk Dareel ke ruang keluarga. Sepasang mata elang Dareel melebar ketika melihat ruang keluarga Alona begitu ramai. Senyumnya mengembang tipis saat melihat sesosok anak laki-laki berumur sepuluh tahun berlari menghampirinya dan Alona. Anak itu adalah anak dari adik ayahnya Alona.
"Kak Alona, ini pacar kakak lagi ya?" tanya anak itu dengan wajah penuh tanda tanya, "kok wajahnya beda sih? Kakak selingkuh yah dari kak Delon?" tanyanya lagi dengan suara berteriak membuat semua keluarganya menatap mereka.
Dareel hanya mengulum senyumnya mendengar pertanyaan anak itu.
Alona menggeleng cepat, "bukan! Om ini adalah boss kakak, Tio!" serunya gugup.
Anak bernama Tio itu menatap Alona dengan pandangan tidak percaya, kemudian dia mengalihkan pandangannya kearah Dareel, Dareel langsung mengedipkan salah satu matanya kepada anak itu.
"Siapa nama kamu?" tanya Dareel mengusap rambut anak itu.
"Tio om," jawabnya, "om bukan selingkuhannya kak Alona kan?" tanyanya kembali, wajahnya terlihat penasaran disana.
"Tentu saja bukan, jika om selingkuhannya om tidak mungkin datang kerumah ini." Jawab Dareel menatap kilas Alona. Waja Alona terlihat memucat disana.
"Tio! Kamu ini nakal banget sih!" seru Indah, ibu Tio. Dia menarik tangan Tio, lalu tersenyum kepada Dareel, "Alona, siapa pria ini?" tanyanya kemudian.
"Dia---"
"Perkenalkan saya Dareel atasannya Alona." Potong Dareel mengulurkan tangan kanannya.
Alona hanya menatap sebal Dareel.
"Atasannya Alona?!" tanya Indah terkejut membalas uluran tangan Dareel. Dareel hanya mengangguk dengan sebuah senyuman.
Tidak lama Indah mempersilahkan Dareel duduk di tengah keluarga mereka. Kemudian pria itu memperkenalkan dirinya, kehadiran pria itu disambut hangat oleh keluarga besar Alona, terutama oleh ayah dan ibu Alona.
Bagi kedua orangtua Alona, suatu kehormatan Dareel bisa berkunjung kerumahnya kembali. Ayah dan Ibu Alona sudah mengenal Dareel, ini bukan pertama kalinya pria itu datang berkunjung kerumahnya. Dalam satu bulan Dareel bisa tiga kali berkunjung kerumah mereka.
Lalu Dareel memberikan ucapan selamat kepada kedua orangtua Alona atas hari ulangtahun pernikahan mereka yang berusia dua puluh lima tahun. Dareel juga memberikan hadiah yang istimewa, Dareel memberikan dua lembar tiket liburan gratis sekaligus fasilitas hotel yang mewah untuk kedua orangtua Alona ke Thailand tepatnya di Phuket. Awalnya kedua orangtua Alona menolak pemberian hadiah itu darinya, tetapi Dareel memaksanya. Hingga akhirnya kedua orangtua Alona menerima hadiah itu dengan hati tidak enak.
Alona yang melihat itu langsung menarik lengan Dareel dan membawa pria itu menjauh dari keluarga besarnya. Semua keluarga besarnya menatap mereka dengan pandangan heran.
Setelah berada di taman belakang rumah, Alona menatap Dareel dengan tangan melipat. Wajah wanita itu terlihat marah disana.
"Apa maksud bapak memberikan hadiah itu untuk ayah dan ibuku?!" tanya Alona sinis.
Dareel menatap Alona dengan pandangan bingung, "memangnya kenapa? Ini kan hari ulangtahun pernikahan mereka, jadi wajar saja dong aku memberikan hadiah untuk kedua orangtuamu?"
"Tapi itu sangat berlebihan pak!" protes Alona, "aku akan mengembalikan tiket itu kepada Bapak!"
"Kenapa?" tanya Dareel heran dengan alis kanan terangkat.
"Aku sangat tahu bapak seperti apa, pasti bapak akan memasukan tiket liburan gratis itu ke dalam tagihan ancaman kan?!" tuduh Alona.
Dareel tertawa kencang mendengar spekulasi Alona, "tepat sekali! Kau ternyata pintar juga yah!" serunya membuat Alona mendengus sebal.
Ingin rasanya Alona mencakar wajah tampan atasannya yang sangat menyebalkan itu.
"Alona!" panggil neneknya tiba-tiba membuat Alona dan Dareel menoleh, "Kau ini sangat tidak sopan Alona! Atasanmu kerumah bukannya kau sambut dengan hangat atau buatkan minuman!" omel neneknya.
"Maaf nek!" ucap Alona. Sekali-kali sepasang mata almondnya melirik sebal kearah Dareel yang masih tertawa.
Neneknya menatap tidak suka Alona, lalu pandangannya beralih kepada Dareel, "Tuan Dareel, maaf sekali jika sikap cucu saya ini bersikap tidak sopan kepada anda."
Dareel tersenyum, "tidak masalah oma... oma cukup panggil saya Dareel saja." Ujarnya.
Nenek Alona mengangguk, "mari Dareel masuk kembali," ucapnya mempersilahkan Dareel masuk kedalam rumah anaknya, Dareel mengangguk tersenyum. Lalu pandangan neneknya beralih kepada Alona, "cepat kamu siapkan makanan atau minuman yang enak untuk atasanmu itu! Jangan membuat malu keluarga kita!" perintahnya marah.
"Iyah!" balas Alona dengan wajah cemberut dan masuk kembali kedalam rumahnya dengan hati kesal.
"Dasar anak dan ibu sama saja, sama-sama menyebalkan dan tidak bisa di andalkan!" gumam nenek Alona.
♥♥♥♥ o(╥﹏╥)o ♥♥♥♥
Setengah jam kemudian.
Alona tengah sibuk menyiapkan makan siang untuk keluarga besarnya dan juga Dareel. Dia menyiapkan semuanya dibantu oleh ibunya. Alona merasa kasihan dengan ibunya, padahal ini adalah hari ulangtahun pernikahannya dengan ayahnya, tetapi ibunya malah membantunya menyiapkan semua ini. Padahal Alona sudah melarang ibunya untuk membantunya, tapi ibunya tetap bersikukuh untuk membantunya.
Kedua tangan Alona sedang sibuk membersihkan piring dengan kain bersih, sepasang matanya menatap sebal kearah Dareel yang tengah berbincang hangat dengan keluarga besarnya. Tawa mereka disana tidak pernah sirna ketika Dareel berbicara apapun. Selain itu wajah neneknya terlihat ceria saat kedatangan Dareel. Padahal Alona berharap neneknya tidak suka dengan sosok Dareel, tapi ternyata neneknya malah menyukai Dareel. Dareel sangat pintar mencuri perhatian semua keluarga besar Alona.
"Dasar caper!" umpat Alona sebal.
Ibu Alona yang mendengar umpatan Alona mengulum senyumnya, "kamu sepertinya tidak suka dengan Dareel, Alona?" tanya ibunya.
Alona menghela napasnya, "Pak Dareel itu sangat menyebalkan ma, dia sering menganggu hidupku! Dan dia tidak membiarkan hidupku tenang, walaupun di hari libur sekalipun!" jawabnya.
Ibunya tersenyum, dia sudah tahu jika Alona sering menghabiskan waktunya bersama Dareel. Setiap hari Alona selalu bersama Dareel. Bahkan disaat Dareel sakit sekalipun Alona ada untuk pria itu. Alona jarang sekali menghabiskan waktunya bersama tunangannya Delon, kadang ibunya berpikir siapa sebenarnya kekasih Alona, Delon? Atau Dareel? Memikirkan hal itu membuat ibunya tersenyum lebar.
Lalu ibunya menatap dalam Dareel, "Alona," panggilnya membuat Alona menoleh kearah ibunya, "Dareel sangat ceria yah, seakan masalah tidak ada dalam hidupnya."
Alona tersenyum kecut, "Ma, tentu saja Pak Dareel tidak punya masalah dalam hidupnya! Dia banyak uang dan kedudukan, apapun bisa dia beli dalam hidupnya. Aku sangat tahu itu!"
"Apa yang kamu tahu tentangnya?" tanya ibunya dengan wajah serius.
"Dia menyebalkan, suka bersikap seenaknya, pemaksa, tukang mengancam dan sok! Sebenarnya masih banyak lagi ma keburukannya! Tidak cukup satu hari untuk menceritakan keburukannya!" seru Alona penuh semangat membicarakan tentang keburukan Dareel.
Ibu Alona tersenyum, "kamu berarti belum tahu semua tentangnya sayang." Ucapnya membuat Alona menatapnya bingung.
"Maksud mama?"
Ibu Alona menyentuh pipi Alona, "menurutmu Dareel sangat menyebalkan, tapi di balik itu semua dia merasa kesepian Alona." Jawabnya tersenyum membuat Alona terdiam. Lalu ibunya pergi dari hadapan Alona sambil membawa mangkok besar berisi sup makaroni.
Alona memandangi Dareel dengan wajah penuh tanda tanya, perkataan ibunya membuatnya berpikir. Apa benar Dareel kesepian? Jika benar pria itu kesepian, Alona tidak percaya. Pria menyebalkan seperti Dareel tidak mungkin kesepian.
Tidak lama Alona mengangkat berapa piring dan berjalan menuju meja makan. Setelah meletakan piring di atas meja makan, dia duduk di samping Dareel. Kemudian mereka semua menikmati makan siang mereka dengan canda tawa.
Sepanjang makan siang Dareel tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan, ayah Alona sangat antusias berbincang dengan Dareel. Bukan hanya ayah Alona, bibi, paman, nenek dan juga beberapa sepupu Alona sangat antusias dengan semua apa yang Dareel katakan. Baru beberapa jam Dareel di rumahnya, pria itu telah menarik semua perhatian keluarga besar Alona.
Alona melirik Dareel dengan pandangan kesal, nafsu makannya langsung berkurang seketika. Hatinya menahan kesal kepada Dareel.
"Alona, tuangkan Dareel air putih dong! Kamu bagaimana sih!" perintah neneknya tiba-tiba saat melihat gelas Dareel kosong.
Alona berdecak sebal, lalu dia menuangkan air putih dari dalam teko ke gelas Dareel.
"Maaf Dareel, Alona memang tidak bisa di andalkan sama seperti ibunya." Ujar neneknya melirik sebal kearah ibu Alona.
Suasana makan siang yang awalnya tadi sangat menyenangkan berubah menjadi hening dan canggung. Ibu Alona terlihat tertunduk disana, ayah Alona yang duduk disampingnya menghusap punggung ibu Alona. Sedangkan yang lainnya hanya terdiam. Tidak ada satupun yang berani melawan atau membalas perkataan neneknya, jika mereka melawan sama saja membuat keributan besar. Daripada hal itu terjadi, lebih baik mereka diam saja.
Dareel yang melihat itu menoleh kearah Alona yang tengah sibuk memainkan isi piringnya dengan sendok. Wajah Alona terlihat merah disana, dia sedang menahan amarahnya. Dareel merasa ada permasalahan dalam keluarga Alona.
"Dareel, apa kau sudah memiliki kekasih nak?" tanya nenek Alona tiba-tiba, sepertinya dia tidak peduli dengan yang terjadi saat ini.
Dareel mengangguk tersenyum, "sudah oma..." jawabnya membuat Alona menatap Dareel.
"Kekasihmu pasti berasal dari keluarga kaya yang terhormat?" tanya nenek Alona kembali, lagi-lagi Dareel mengangguk, "syukurlah... cari kekasih itu harus ada bobot, bibit, bebetnya. Jangan sampai salah pilih, apalagi sampai mendapatkan kekasih yang tidak jelas asal usulnya!" ucapnya seakan menyindir ibu Alona.
Dareel yang melihat kesedihan diwajah ibu Alona menatapnya penuh tanda tanya, lalu pandangannya beralih kepada neneknya Alona, "Menurut oma, mencari kekasih yang berasal dari keluarga kaya yang terhormat itu seperti apa sih?" tanyanya.
Nenek Alona tersenyum menatap Dareel, "dia harus berasal dari keluarga kaya terpandang dan terhormat, supaya tidak memalukan nama keluarga. Harus sesusai dengan kasta yang kita miliki. Kita berasal dari keluarga terhormat dan terpandang, kita juga harus mendapatkan pasangan hidup yang terhormat dan terpandang juga."
"Tapi bagiku oma, mencari kekasih atau pasangan hidup yang paling terpenting dia mencintai kita apa adanya dan menerima kita disaat kita bahagia dan juga disaat kita terpuruk. " Balas Dareel membuat nenek Alona tercengang.
Alona yang mendengar perkataan Dareel menatap pria itu tidak percaya.
Dareel tersenyum lirih, "ibuku sudah meninggal oma, dia meninggal setelah berjuang melahirkanku. Mengetahui kebenaran itu membuatku sangat bersalah kepada ibuku hingga sekarang." Ucapnya dengan mata mengembang.
Alona sangat terkejut mendengar perkataan Dareel, dia baru tahu jika atasannya itu sudah tidak memiliki ibu. Keluarga besar Alona menatap Dareel dengan pandangan sendu.
"Aku memang belum pernah mengenal lebih dalam ibuku oma, tapi aku sangat yakin ibuku adalah orang yang baik. Karena hingga saat ini ayahku masih sendiri dan tidak mencari penganti ibuku. Ayahku sangat mencintai ibuku, almarhum nenekku sering menceritakan tentang kebaikan ibuku. Ayahku berasal dari panti asuhan, tapi ibuku menerima ayahku apa adanya dan dia tidak peduli dengan status ayahku yang tidak kaya dan juga bukan dari keluarga terpandang apalagi terhormat." Ucap Dareel membuat ibu Alona menatapnya dengan airmata menetes.
Dareel tersenyum, "Jadi aku pikir, semua yang oma bilang tadi tidak sepenuhnya benar. Sebuah kehormatan bisa kita akan dapatkan jika kita menerima semua kondisi yang telah ditakdirkan Tuhan untuk kita." Ucapnya membuat nenek oma menangis pelan. "Oma, jujur saja aku sangat iri dengan Alona... dia masih memiliki keluarga yang lengkap dan aku sangat senang berada di tengah keluarga ini. Aku memang punya segalanya, tapi aku tidak bisa membeli kehangatan cinta dan kasih sayang. Seandainya ada yang menjual aku sudah pasti membelinya berapun harganya." Ucap Dareel membuat Alona tertegun.
Lalu Dareel menggeser kursinya dan menghampiri nenek Alona. Wajah nenek Alona tertunduk menangis. Dareel langsung memeluk nenek Alona dan menghusap bahu wanita tua itu dengan senyuman diwajahnya.
Mendengar perkataan Dareel membuat Nenek Alona merasa bersalah kepada semua anak-anaknya, terutama kepada menantunya. Dia merasa sangat egois sebagai orangtua dan seorang ibu. Tidak seharusnya dia memandang seorang dari apa yang dia miliki, dia juga tidak harus menuntut kesempurnaan sesuai keinginan hatinya. Dareel telah membuka hati dan pikiran nenek Alona.
Semua keluarga Alona yang melihat itu tersenyum simpul melihat pemandangan itu. Tidak lama pandangan Dareel bertemu dengan ibu Alona.
"Terima kasih..." ucap ibu Alona tanpa suara, Dareel hanya mengangguk pelan dengan senyuman khasnya.
Kemudian pandangan Dareel beralih ke Alona yang sedang menyeka airmatanya, saat pandangan mereka bertemu Dareel mengedipkan salah satu matanya kepada Alona. Melihat itu Alona langsung memalingkan wajahnya dan menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah.
♥♥♥♥ o(╥﹏╥)o ♥♥♥♥
Setengah jam kemudian...
Alona menghampiri Dareel yang tengah duduk di kursi taman, pria itu sedang sibuk dengan ponselnya. Kedua tangan Alona memegang tempat makan berukuran kecil, tempat makan itu berisi kue brownis yang baru saja selesai di buat. Dia ingin memberikan potongan kue brownis itu untuk Dareel, sebagai rasa ucapan terima kasihnya kepada pria itu.
"Pak..." panggil Alona pelan membuat Dareel mendongkan kepalanya.
Dareel hanya tersenyum sebentar dan kembali memandangi layar ponselnya. Alona menghela napasnya dan duduk disamping pria itu.
"Pak, terima kasih..." ucap Alona.
"Untuk?"
Alona mengigit bibir bawahnya, "untuk yang tadi."
Dareel tersenyum tipis, lalu memasukan ponselnya kedalam saku jasnya, "terima kasih saja tidak cukup untukku lho Alona." Ujarnya membuat Alona menatapnya tidak mengerti, "bagaimana sore ini kita berkencan?" usulnya.
"Kencan?" pekik Alona.
Dareel mengangguk, "yah kencan, kita kan sudah berpacaran masa kita tidak kencan sih? Tidak seru sekali pacaran seperti ini."
"T-tapi pak, hari ini ayah dan ibuku---"
"Aku sudah meminta izin kepada ibu dan ayahmu, mereka mengizinkan." Potong Dareel menatap Alona yang sedang memandanginya dengan pandangan tidak percaya, "bagaimana mau?" tanyanya penuh harap.
"Delon mau datang malam ini."
Dareel berdecak kesal ketika Alona menyebut nama 'Delon'. "ku mohon, Alona." Pinta Dareel merajuk.
Alona menatap Dareel gelisah, dia sangat bingung. Jika dia pergi berkencan dengan Dareel, bagaimana dengan Delon? Kekasihnya itu akan datang malam ini. Jika dia menolak berkencan, Dareel akan berbuat nekat.
"Aku kan sekarang pacarmu juga, masa kamu pilih kasih gitu sih?!" protes Dareel, "Jika kamu tidak mau berkencan denganku, aku akan bilang pada keluargamu aku kekasihmu sekarang." Ancamnya kembali.
"Ya sudah iyah!!" seru Alona menyerah dengan wajah kesal. Dia terpaksa menuruti semua perkataan Dareel sebelum pria itu berkata yang tidak-tidak kepada semua keluarganya. Untuk masalah Delon dia akan memikirkannya nanti.
Dareel tersenyum penuh kemenangan, "Ohya, itu kamu bawa apa?" tanyanya melihat kotak makan di tangan Alona.
"Ini brownis buatanku." Jawab Alona sambil membuka penutup kotak makan itu.
"Aku boleh coba?" tanya Dareel.
Alona mengangguk, "boleh, ini memang buat bapak kok." Ucapnya tersenyum. Lalu Alona memotong kue brownis itu dengan sendok kecil, kemudian potongan kue itu dia berikan kepada Dareel dengan cara menyuapininya.
Dareel mengunyah kue brownis itu perlahan, dia ingin merasakan kue buatan Alona dengan nikmat. Alona menatap Dareel dengan kening berkerut.
"Bagaimana pak?" tanya Alona.
"Hmm... rasanya kurang sedikit manis..." jawab Dareel menatap Alona.
Wajah Alona langsung tertunduk sedih, dia pikir hasil kuenya enak tapi ternyata...
Dareel tersenyum, "tapi walaupun begitu, ini adalah brownis terenak yang pernah ku makan." Ucapnya membuat Alona menatapnya kembali, "karena brownis ini pasti dibuatnya penuh perasaan yang tulus..." ujarnya.
Alona tersenyum tipis mendengarnya, wajahnya merona mendengar pujian dari Dareel. "terima kasih pak..."
Dareel hanya mengangguk tersenyum sambil mengacak rambut Alona. Tiba-tiba Tio dan beberapa sepupu Alona menghampiri Dareel dan Alona. Mereka meminta Alona dan Dareel untuk menemani mereka mainan ayunan putar. Dengan penuh semangat Dareel dan Alona menemani mereka bermain.
Lalu sepupu Alona meminta Dareel dan juga Alona naik kedalam ayunan putar itu. Setelah Dareel dan Alona naik, para sepupu Alona memutari ayunan itu. Dareel bersorak riang ketika ayunan itu mulai berputar. Sedangkan Alona merebahkan kepalanya di bahu Dareel dengan tawa yang menghiasi wajah indahnya. Tawa mereka semua terdengar bahagia disana.
Bagi Dareel ini adalah hari yang terindah dalam hidupnya. Dan dia belum pernah merasakan kebahagian seperti ini.
♥♥♥♥ o(╥﹏╥)o ♥♥♥♥