Girlfriend? ♥6♥

2477 Words
Girlfriend? ♥6♥ Bagian 6 ♥♥♥♥ o(╥﹏╥)o ♥♥♥♥ Setengah jam kemudian... Wajah Dareel terlihat serius membaca berkas yang diberikan oleh Naya kepadanya. Berkas itu adalah laporan penting keuangan perusahaan miliknya yang berada di Singapore. Sekali-kali dia menggeleng pelan melihat laporan keuangan ini. Sudah hampir dua tahun dia tidak mengawasi perusahaannya yang berada disana, dia mempercayakan penuh perusahaannya itu kepada seseorang yang sangat dia percaya untuk mengelola perusahaan itu. Dareel merasa ada yang salah dari laporan keuangan ini. Jika pendapatan lebih kecil dari pengeluaran perusahaannya bisa bangkrut. Sementara itu Alona tengah melamun, sepasang matanya menatap kosong meja dihadapannya. Matanya terlihat membengkak, Alona baru bisa berhenti menangis saat Naya menenangkannya. Pikiran Alona saat ini tengah kacau, dia sedang memikirkan Delon. Dia tidak bisa membayangkan jika Delon mengetahui semua ini, dia tidak ingin kehilangan Delon dalam hidupnya. Tidak lama pandangan Alona beralih kearah Dareel, ketika pria itu mengetuk meja dengan jemarinya. Tiba-tiba tatapan Alona bertemu dengan Dareel, pria itu langsung mengedipkan salah satu matanya kepada Alona membuat wanita itu terkejut. Alona langsung mengalihkan pandangannya, wajahnya terlihat memerah disana menahan rasa kesalnya kepada Dareel. Naya yang melihat kelakuan Dareel hanya menggeleng pelan. Dareel menghela napasnya, "sepertinya aku harus ke Singapore," ujarnya sambil membenarkan posisi duduknya, "Alona, apa sampai minggu depan aku ada acara penting?" tanya Dareel. Alona mengangguk, "sampai dua minggu ke depan bapak ada rapat dan acara penting yang harus bapak hadiri." Jawabnya lesuh. "Baiklah, dua minggu lagi siapkan kebutuhanku. Kau dan aku akan pergi ke Singapore," ucap Dareel. "Pergi ke Singapore?!" pekik Alona. "Yah, kau kan sekretarisku jadi kau harus ikut kemanapun aku pergi..." ujar Dareel dengan wajah serius. "Baik pak..." ucap Alona tertunduk malas. Memikirkan itu membuat hatinya melangsa. Di Singapore bersama Dareel bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Apalagi saat ini dia adalah kekasih pria itu, sangat dipastikan Dareel akan melakukan hal yang tidak-tidak kepadanya. Lalu Dareel merapikan semua dokumennya dan memasukannya ke dalam amplop cokelat, kemudian menyerahkan amplop itu kepada Alona. "Baik pak, jika begitu saya permisi dulu." Pamit Naya tiba-tiba dengan senyumannya. Dareel mengangguk, "terima kasih atas bantuanmu Nay," ucapnya, Naya hanya mengangguk. Setelah Naya keluar dari ruangannya, Dareel memandangi Alona yang tengah sibuk membereskan dokumen. "Alona, bagaimana jika sepulang kerja nanti kita pergi berkencan?" ajak Dareel dengan wajah penuh harap. Alona menatap Dareel sesaat, kemudian dia menggeleng pelan, "maaf pak aku tidak bisa," tolaknya. Setelah pulang bekerja, dia berniat untuk menemui kekasihnya Delon di kediaman pria itu. Dia ingin bertemu dengan kekasihnya itu. "Besok?" Alona lagi-lagi menggeleng, "aku tidak bisa juga pak, besok hari ulangtahun pernikahan ayah dan ibuku. Aku ingin merayakannya bersama keluargaku." Jawabnya. "Besok hari ulang tahun pernikahan ayah dan ibumu?" tanya Dareel histeris. Alona hanya mengangguk. "Kalau begitu besok aku akan datang kerumahmu!" seru Dareel antusias. "Tidak perlu pak! Acaranya hanya kecil-kecilan!" cegah Alona, dia tidak ingin Dareel menganggu acara keluarganya besok, "lagipula besok kan hari libur pak, pasti bapak punya acara tersendiri kan?" Dareel menggeleng, "aku tidak punya acara apapun, kau kan sering menghabiskan waktu bersamaku di hari libur. Aku tidak pernah menghabiskan waktu dengan siapapun selain denganmu. Lagipula keluargaku sangat sibuk dan tidak punya waktu untukku." Yah keluarga Dareel sangat sibuk seperti dirinya, terutama ayahnya, ayahnya berada di Dubai sekarang dan jarang sekali bertemu dengannya. Dirumahnya pun hanya ada penjaga dan pembantu yang tinggal. Dareel sudah tidak memiliki ibu, ibunya sudah bersama Tuhan. Ibunya meninggal dunia ketika berjuang melahirkannya. Hingga di umurnya yang menginjak usia tiga puluh tiga tahun Dareel belum pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, dia sangat ingin merasakan hal itu. Jauh dari dasar hatinya dia sangat merindukan ibunya yang belum pernah dia temui dalam hidupnya. Jika dia merindukan ibunya, dia hanya bisa melihat gambar diri ibunya pada lembar foto yang selalu dia bawa kemanapun. Sejak kecil dia di asuh oleh neneknya, ayahnya tidak punya waktu untuk menjaganya. Hubungannya dengan ayahnya tidak terlalu baik, mereka jarang sekali berbincang bersama, bahkan Dareel berpikir ayahnya membencinya. Ketika neneknya meninggalkannya enam tahun yang lalu Dareel sangat begitu terpuruk dan hancur. Dibalik sikap Dareel yang menyebalkan dia begitu kesepian. Tetapi semua rasa kesepiannya sirna ketika dia bertemu dengan Alona. Hari Dareel jauh lebih berwarna dengan kehadiran Alona. "Bagaimana boleh kan aku datang?" tanya Dareel dengan wajah penuh harap disana. Alona menatap Dareel dengan wajah berpikir, "Ya sudah boleh," jawabnya menyerah, "tapi bapak jangan merusak acara keluargaku yah pak, yah seperti berkata yang tidak-tidak kepada keluargaku." Pintanya. "Memangnya berkata seperti apa?" tanya Dareel dengan alis kanan terangkat, dia pura-pura tidak mengerti. "Yah seperti bapak bilang kepada Naya tadi." Jawab Alona tertunduk. Dareel menyentuh bahu Alona, "tenang saja, aku tidak mungkin bilang seperti itu." ucapnya membuat Alona bernapas lega. "Syukurlah!" "Tapi aku mengatakan kepada keluargamu jika aku adalah kekasih gelapmu." Canda Dareel. Alona menatap Dareel tercengang, "Pak, please jangan! Keluargaku bisa kena serangan jantung jika bapak bicara seperti itu, apalagi mereka tahu aku sedang menjalin hubungan serius dengan Delon dan sebentar lagi kami akan menikah." Dareel tertawa, "aku hanya bercanda Alona, kau ini terlalu serius sekali sih." Alona berdecak kesal, bagaimana dia tidak serius menanggapi perkataan Dareel. Semua perkataan yang keluar dari mulut Dareel bisa menjadi kenyataan, Alona sangat mengenal karakter pria itu. "Kalau begitu aku permisi dulu yah pak," pamit Alona kemudian, dia ingin segera pergi dari hadapan Dareel sebelum atasannya semakin berkata-kata yang tidak-tidak. "Oke! Nanti kita pulang bareng yah! Jangan lupa aku pacarmu sekarang!" teriak Dareel ketika Alona ingin menutup pintu ruangannya. Alona yang mendengar itu berusaha menahan amarahnya, lalu dia menutup pintu ruangan Dareel dengan sedikit dibanting. "Pacar? Ya Tuhan!" seru Alona frustasi, dia berharap semua ini hanya lah mimpi. Menjadi Sekretaris seorang Dareel saja sudah cukup menakutkan untuk Alona, apalagi dia harus menjadi kekasih Dareel? Alona tidak bisa membayangkan kehidupannya kedepan nanti. ♥♥♥♥ o(╥﹏╥)o ♥♥♥♥ Jam sudah menunjukan pukul lima sore, Alona langsung bergegas pergi dari ruangannya sebelum Dareel keluar dari ruangannya. Dia harus segera pergi dari kantor terkutuk ini, dia tidak ingin pulang kerja bersama Dareel. Ketika pintu lift terbuka, dia langsung masuk kedalam lift itu dan menekan tombol GF (Ground Floor). Tidak lama pintu lift terbuka di lantai GF, Alona keluar dari dalam lift itu dengan tergesa-gesa. "Alona!" panggil seseorang berteriak. Mendengar ada yang memanggilnya, Alona kontan menghentikan langkahnya. Lalu dia menoleh ke sumber suara yang telah memanggilnya, dia sangat mengenal suara berat itu. "Delon?!" pekik Alona tidak percaya ketika melihat kekasihnya berada dihadapannya. Tidak lama Delon berjalan menghampirinya, tangan kanannya membawa bucket bunga rose yang akan dia berikan kepada Alona. Setelah berada di hadapan Alona, Delon memberikan bunga rose itu untuk wanita itu. Alona menerima bunga itu dengan wajah merona. "Maaf Alona jika seharian ini aku tidak memberimu kabar, aku sedang menenangkan hatiku." Ucap Delon penuh penyesalan. Alona tersenyum, "Tidak apa-apa sayang," "Seharusnya aku tidak marah kepadamu karena Dareel. Aku merasa hubungan kita semakin tidak baik karena Dareel." Ujar Delon menatap Alona begitu dalam. Alona menyentuh wajah Delon dengan telapan tangan kanannya, "Delon, percayalah hubungan kita akan baik-baik saja." Delon mengangguk, "Aku sangat takut kehilanganmu Alona..." ucapnya lirih. Alona yang mendengar perkataan Delon terharu, dia juga sama dengan Delon. Dia ingin selalu bersama Delon dan tidak ingin berpisah dari pria itu. Seandainya saja dia tidak bertemu dengan Dareel mungkin hubungannya dengan Delon akan baik-baik saja. Sedetik kemudian Alona merasakan dekapan hangat, Delon sedang memeluknya saat ini. Alona menghusap punggung Delon dengan mata terpejam. Saat kedua mata Alona terpejam, dia merasakan sebuah ciuman di keningnya. Kedua alis alona saling bertautan, Delon sedang memeluknya saat ini, tidak mungkin pria itu yang mencium keningnya. Jika bukan Delon, lalu siapa yang sedang mecium keningnya? Alona langsung membuka kedua matanya itu. "AAHHH!!" Teriak Alona kencang ketika tahu siapa yang sedang mencium keninganya itu, ternyata Dareel! Delon langsung melepaskan pelukannya kepada Alona dan menatap wanita itu dengan pandangan heran, "kau kenapa sayang?" tanyanya menatap wajah Alona yang sudah pucat. Dareel langsung tertawa kencang melihat kepanikan di wajah Alona. Delon yang mendengar suara tawa Dareel langsung menoleh ke belakang, dengan gerakan cepat Delon merangkul bahu Alona, dia ingin melindungi kekasihnya itu dari Dareel. "Sedang apa kau disini Mr. Dareel?!" tanya Delon penuh amarah. Dareel tertawa renyah, "seharusnya yang bertanya itu aku, bukan kau! Apa yang kau lakukan disini loser?" tanyanya balik. "Aku ingin menjemput Alona, tunanganku!" jawab Delon penuh penekanan. "Tidak bisa, aku tidak mengizinkannya!" seru Dareel membuat Delon menatapnya heran setengah mati. Sedangkan Alona memijit keningnya yang sudah mulai terasa pusing. Atasannya itu baru saja mencium keningnya ketika Delon sedang memeluknya, itu adalah hal yang paling gila untuk Alona. Dan Alona juga tidak habis pikir dengan kelakuan Dareel yang begitu terang-terangan melakukan hal itu. Beruntung Delon tidak melihatnya, jika pria itu melihatnya pasti akan terjadi pertumpahan darah di tempat ini. "Memangnya kau pikir, kau siapa melarangku untuk menjemput kekasihku hah?!" tanya Delon dengan rahang bergemertak. Dareel berdecak, "pertanyaanmu sangat bodoh! Aku adalah atasannya!" Delon tersenyum kecut, "walaupun kau adalah atasannya, bukan berarti kau melarang hidup Alona. Kau hanya atasannya Mr.Dareel!" balasnya penuh penekanan. "Sepertinya kau belum tahu yah? Selain boss dari Alona, aku adalah kekas---" perkataan Dareel terputus begitu saja ketika Alona menarik tangan Dareel ke tempat yang jauh. Dengan sekuat tenaga Alona menarik lengan Dareel menjauh dari Delon, dia tidak ingin Dareel berkata yang tidak-tidak kepada Delon. Apalagi sampai mengatakan hal yang sebenarnya kepada Delon jika mereka sekarang telah menjalin hubungan. "Kau tetap tunggu disana sayang, aku ingin bicara dengannya sebenatar!" seru Alona kepada Delon saat kekasihnya itu berteriak memanggil namanya. Delon hanya menatap mereka dengan pandangan penuh tanda tanya. Lalu Delon melangkahkan kakinya untuk mengikuti mereka, dia sangat penasaran apa yang ingin dibicarakan Alona dengan Dareel. Namun, langkah Delon terhenti ketika ada yang memanggil namanya. "Naya?!" pekiknya saat melihat Naya yang sedang berjalan menghampirinya. "Apa kabar Delon?" tanya Naya kemudian dan memeluk pria itu kilas. "Kau kapan kembali Nay?" tanya Delon tanpa menjawab pertanyaan Naya. "Dua hari yang lalu." Jawab Naya tersenyum, lalu Naya memandangi penampilan Delon yang sedikit berantakan, wajah pria itu telihat seperti banyak pikiran, "are you oke?" tanyanya. Delon mengangguk heran, "yah oke, memangnya kenapa Nay?" Naya tertawa, "kau terlihat banyak pikiran." Jawabnya membuat Delon tersenyum. Sekali-kali pandangan Naya memandangi Alona dan Dareel diujung sana. Napas Alona berhembus kencang melihat atasannya itu tengah menertawakan Alona, padahal Alona tengah bicara serius kepadanya. Sepertinya Naya harus membantu Alona yang tengah dibuat pusing oleh Dareel. Lalu pandangan Naya beralih kepada Delon yang sedang memandangi Alona dan Dareel. Wajah Delon terlihat penuh amarah disana. "Delon, aku punya sesuatu untukmu!" seru Naya membuat Delon menatapnya, kemudian Naya mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, "ini untukmu!" ucapnya tersenyum mengulurkan kotak berwarna hitam. Delon mengambil kotak hitam itu dengan ragu, Naya sengaja mengalihkan perhatian Delon dari Alona dan juga Dareel. Delon membuka kotak hitam itu dengan perlahan, sedetik kemudian sepasanga matanya melebar, "jam tangan?!" pekiknya tidak percaya menatap Naya. Naya mengangguk tersenyum, "aku sengaja membelikannya untukmu..." "Thank you..." Delon tersenyum, lalu dia langsung memakai jam tangan pemberian Naya begitu antusias. Hati Naya sangat bahagia ketika melihat jam tangan pemberian darinya melingkari tangan Delon. Sedetik kemudian Naya mengulurkan tangan kanannya untuk merapikan rambut Delon yang terlihat berantakan. Namun, di urungkannya niatnya itu. Ketika Delon menatapnya tersenyum, Naya langsung mengalihkan pandangannya. Seandainya saja--- batin Naya mengantung dengan sebuah helaan napas. ♥♥♥♥ o(╥﹏╥)o ♥♥♥♥ Sementara itu, "Pak Dareel, aku mohon jangan mengatakan apapun kepada Delon...." Pinta Alona memohon. Dareel tertawa, "kenapa memangnya?" tanyanya pura-pura lugu. Alona berdecak kesal, "aku tidak ingin Delon meninggalkanku, jika dia tahu kita memiliki hubungan." Jawabnya lirih. "Jadi kau tidak takut akan kehilanganku?" tanya Dareel kembali dengan tangan melipat. Alona menatap Dareel dengan pandangan sebal, ya tentu saja dia tidak akan takut akan kehilangan Dareel karena dia tidak menyukai Dareel. Malah Alona berharap Dareel bisa menghilang dari kehidupannya. "Pak, aku akan melakukan apapun untuk Bapak. Tapi aku mohon pak jangan bicara yang tidak-tidak kepada Delon..." mohon Alona kembali. "Apapun?" tanya Dareel dengan senyuman menyeringai. Alona mengangguk, "yah apapun pak." "Kalau begitu cium aku sekarang, setelah itu aku akan membiarkanmu pergi dengan Delon hari ini." Kata Dareel membuat Alona tercengang. Alona menggeleng cepat, "Pak, disana ada Delon. Aku tidak ingin dia melihatnya!" tolaknya mati-matian. "Ya sudah jika kau tidak mau menciumku, aku akan bilang kepada Delon hal yang sebenarnya. Dari kita berciuman panas, tidur seranjang dan sekarang kita mempunyai hubungan khusus." Goda Dareel. Alona mengacak rambutnya frustasi, Dareel memberikan sebuah pilihan yang berat. Dia tidak ingin mencium atasannya itu, dia tidak ingin Delon melihatnya. Apalagi saat ini Delon sedang mengawasinya, walaupun pria itu tengah berbincang dengan Naya disana. "Bagaimana?" tanya Dareel mendekatkan wajahnya di depan Alona, "kau tahu, kau wanita yang beruntung Alona bisa menciumku." Ujarnya pecaya diri. Beruntung darimana? Ketiban sial iya setelah menciumnya! Umpat Alona dihatinya. "Ayo cium aku..." perintah Dareel. "Tapi bapak janji yah, jangan mengatakan yang tidak-tidak kepada Delon?" Dareel mengangguk dengan senyuman mengulum, "untuk hari ini aku berjanji." Alona menghela napasnya, dengan ragu dia mengecup pipi Dareel kilas. "Kok sebentar banget?" tanya Dareel sedikit kecewa, "yang lama dong?" tawarnya. "Pak, ada Delon!" bisik Alona frustasi, sekali-kali sepasang matanya memandangi Delon. Melihat kepanikan diwajah Alona, Dareel menarik pinggang Alona membuat wanita itu memekik pelan. Jantung Alona berdetak kencang ketika jemari Dareel merapikan anak rambutnya. Sedetik kemudian sepasang mata almond milik Alona melebar ketika merasakan sebuah ciuman hangat di keningnya. "Pergilah, hari ini ku izinkan kau bersama Delon. Tapi besok, dan besok-besok selanjutnya kau harus bersamaku..." ucap Dareel tersenyum dan melepaskan pelukannya dari dari Alona, lalu dia pergi dari hadapan Alona begitu saja. Alona hanya memandangi punggung Dareel, ciuman hangat yang diberikan oleh Dareel masih terasa dikeningnya. Lalu dia berbalik dan menghampiri Delon dengan perasaan sulit diartikan. ♥♥♥♥ o(╥﹏╥)o ♥♥♥♥ Diperjalanan, Saat ini Alona sedang dalam perjalanan pulang bersama Delon dan juga Naya. Delon mengajak Naya pulang bersama mereka, dia tidak tega membiarkan Naya pulang seorang diri. Kebetulan rumah Delon dan Naya satu komplek, maka dari itu, Delon terlebih dahulu mengantar Alona pulang. Delon dan Naya sedang sibuk dengan perbincangan mereka yang terlihat seru. Tawa mereka terus terdengar di mobil ini. Sedangkan Alona sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. Sepasang matanya menatap kosong luar jendela. Dareel telah membuatnya gelisah setengah mati. Baru sehari menjalin hubungan dengan pria itu sudah membuat Alona hampir terbawa perasaan dengan perlakuan pria itu kepadanya tadi. Delon yang melihat Alona melamun sedari tadi, menggengam tangan wanita itu di sela mengemudinya. Alona menatap Delon dengan sebuah senyuman. Alona merasa jahat kepada Delon karena telah mengkhianati cinta tulus dari pria itu. "Kau kenapa sayang?" tanya Delon khawatir. Alona menggeleng, "tidak apa-apa..." jawabnya tersenyum. "Ohya, ibumu besok ulang tahun kan?" tanya Delon, Alona mengangguk, "aku datang mungkin malam, tidak apa-apa kan?" "Yang penting kamu datang, mau jam berapapun tidak masalah..." jawab Alona. Delon tersenyum dan mengacak lembut rambut Alona, "Aku harus mengantar kakakku dulu ke Bandara..." Lalu Alona merebahkan kepalanya di bahu Delon. Hubungan Alona dan Delon kembali membaik. Alona berharap  hubungannya dengan Delon semakin membaik kedepannya. Sementara itu, Naya yang melihat kemesraan mereka hanya menatapnya dengan mata mengembang. Sakit, itu yang tengah dirasakan oleh Naya saat ini. ♥♥♥♥ o(╥﹏╥)o ♥♥♥♥
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD