Secret Dareel ♥5♥

1282 Words
Secret Dareel ♥5♥ Bagian 5 ♥♥♥♥ o(╥﹏╥)o ♥♥♥♥ Sepasang mata almond milik Alona menatap nanar bunga mawar merah yang berada di atas meja kerjanya. Sejak tadi dia terus memandangi bunga itu. Saat ini hatinya tengah gelisah karena perbuatan atasannya itu. Sekarang dia adalah kekasih Dareel, meskipun dia tidak menganggap Dareel adalah kekasihnya. Secara tidak langsung Dareel telah memaksa Alona untuk menerima cinta pria itu. Dareel mempunyai berjuta cara untuk memenuhi semua keinginannya, walaupun dengan cara kacangan seperti yang pria itu lakukan tadi kepada Alona. Pria itu melempar bunga mawar itu begitu saja dan tanpa sadar Alona menangkap bunga itu. Dan karena kebodohan Alona kini pria itu menjadi kekasihnya. "Aaaa kesel!!" teriak Alona frustasi memikirkan hidupnya yang semakin berat karena ulah Dareel. "Alo!" panggil seseorang membuat Alona kontan mendongakan kepalanya. "Naya?!" pekik Alona tersenyum lebar ketika melihat teman dekatnya tepat dihadapannya, "Kamu kapan kembalinya?" tanyanya berseri. Alona bangkit dari duduknya dan memeluk kilas wanita itu. Naya, bekerja di tempat Dareel dan dia adalah teman dekat Alona di kantor ini. Selain itu, Naya adalah sahabat Delon. Wanita itu telah lama bersahabat dengan Delon sejak mereka dari kecil. Alona bisa mengenal Delon dari Naya. Sudah hampir satu bulan wanita itu ditugaskan oleh Dareel mengurus salah satu perusahaan pria itu yang berada di Singapore. Naya tersenyuman lebar, "dua hari yang lalu!" jawabnya. "Kamu kok nggak bilang sih? Kalau tahu kamu sudah berada disini dari dua hari yang lalu, aku main ke rumahmu minta oleh-oleh!" omel Alona. Naya menggeleng pelan, kemudian dia mengulurkan sebuah paper bag kepada Alona. Alona langsung mengambil paper bag itu dengan wajah gembira. "Ini buatku?" tanya Alona berseri. "Iya buat kamu!" jawab Naya membuat tawa Alona terdengar, "tadinya aku tidak mau membelikan kamu oleh-oleh." Godanya kemudian, Alona hanya menatapnya cemberut, "tapi karena aku malas mendengar ocehanmu itu, terpaksa aku membelikannya untumu..." candanya. Alona mencubit pelan pinggang Naya membuat wanita itu meringgis sakit, "Makasih banyak yah, Nay!" Naya mengangguk dengan senyuman khasnya, "ohya, pak Dareel ada?" tanyanya memandangi pintu ruangan atasannya itu. Alona hanya mengangkat bahunya, sepasang matanya tengah sibuk melihat isi paper bag yang berada di tangannya. Dia sudah tidak sabar ingin membuka oleh-oleh yang diberikan oleh Naya. "Kamu kan sekretarisnya, masa kamu nggak tahu dia ada atau nggak?" tanya Naya dengan kening berkerut. Alona menghela napasnya, "untuk hari ini aku tidak mau berurusan dengannya!" "Kenapa?" "Dia semakin menyebalkan, Nay!" "Dia masih mengejarmu?" tanya Naya, Alona mengangguk malas. Kemudian Alona mendekatkan wajahnya kepada Naya, "dan parahnya sekarang dia menjadikanku kekasihnya dengan cara paksa!" bisiknya frustasi. "What?!" teriak Naya tidak percaya dengan perkataan Alona, "kok bisa?!" tanyanya penasaran. "Nanti pulang kerja aku ceritakan!" "Terus Delon gimana? Apa dia tahu?!" tanya Naya dengan wajah khawatir saat mengatakan nama Delon. Alona menggeleng pelan, "aku tidak mau Delon tahu masalah ini, dia bisa semakin marah sama aku! Jika Delon sampai tahu tentang ini, pernikahan kami yang akan menjadi taruhannya Nay! Bila Dareel terus menganggu aku, aku jadi ragu perjalanan cintaku dengan Delon akan berjalan lancar sampai hari pernikahan kami..." ucapnya putus asa. Naya mengusap bahu Alona, dia merasa kasihan dengan Alona. Selama empat tahun ini Dareel terus mengejarnya. Semua karyawan di perusahaan ini sudah mengetahui tentang itu, tentang dimana Dareel berusaha mengejar Alona tanpa menyerah. Semua karyawan wanita di perusahaan ini ingin sekali bertukar posisi dengan Alona. Mereka semua berpikir Alona sangat beruntung. Tetapi Alona tidak seberuntung yang dipikirkan oleh mereka, jika saja mereka tahu Dareel itu sakit jiwa, mereka tidak akan pernah memberikan pujian untuk Dareel sebagai pria sempurna. Diam-diam Naya mengawasi Dareel, dia penasaran apakah atasannya itu memiliki perasaan kepada Alona? Tapi Naya tidak bisa menebak perasaan itu pada diri Dareel, wajah dan karakter pria itu sangat abu-abu dan sulit ditebak. Yang membuat Naya merasa aneh dengan Dareel, pria itu sering berkencan dengan wanita manapun! Dan parahnya Alona selalu dimintanya untuk menemani pria itu berkencan. Bayangkan saja Alona harus melihat adegan dewasa 17+ dihadapannya ketika Dareel sedang berkencan. Itu adalah hal yang paling gila untuk Naya. Alona tidak ada pilihan lain selain menuruti semua kemauan Dareel. Bagi Alona lebih baik menjadi obat nyamuk daripada dia harus kehilangan Delon dalam hidupnya. Entah apa tujuan Dareel melakukan itu kepada Alona, hingga sekarang Naya belum mendapatkan jawabannya. Naya merasa kasihan melihat Alona yang hidupnya tengah dipermainkan oleh Dareel. Sedangkan Delon, kekasih wanita itu tidak bisa berbuat apapun. Jika Delon melawan, Dareel menyerangnya dengan cara konyol. Delon sering menceritakan semua isi hatinya kepada Naya tentang hubungannya bersama Alona yang kerap diganggu oleh Dareel. "jangan bicara seperti itu dong, Alo. Aku yakin---" ucap Naya terputus ketika pintu ruangan Dareel tiba-tiba terbuka. "Siang pak..." sapa Naya kemudian saat tatapannya bertemu dengan Dareel. "Anaya! Sykurlah kau sudah kembali, kantor ini sepi tanpamu..." seru Dareel berjalan mendekati Naya. Kadang sepasang mata elangnya melirik kearah Alona yang tengah memalingkan wajahnya. "bagaimana kabarmu?" tanyanya kepada Naya. "Baik pak..." jawab Naya tersenyum, "Ohya pak, apa bapak ada waktu? Jika ada, ada yang ingin saya diskusikan tentang perusahaan bapak yang di Singapore." Tanya Naya kemudian. Dareel melihat jam ditangannya dengan wajah berpikir, "sebenarnya sih tidak ada," ujarnya, kemudian menatap Naya. "Tapi ini sangat penting pak, ini menyangkut perusahaan bapak." Balas Naya cepat, dia harus segera membicarakan permasalasahan perusahaan milik Dareel kepadanya. Laporan keuangan disana mengalami lonjakan pengeluaran dibandingnya pendapatan perusahaan itu. Dareel menghela napasnya, "oke baiklah. Saya tunggu kamu diruangan saya." Ucapnya membuat Naya mengangguk mengerti. Lalu pandangan Dareel beralih kepada Alona, "Alona!" panggilnya. "Y-yah pak?!" pekik Alona terkejut. "Tadinya aku ingin mengajakmu makan siang bareng, tapi aku harus membatalkannya, kau tidak kecewakan?" tanya Dareel. Alona sedikit bingung dengan perkataan Dareel, kenapa dia harus kecewa? Lagipula memang dia ingin makan siang dengan pria itu? "T-tentu saja tidak pak, kenapa aku harus kecewa?" tanya Alona tidak mengerti. Dareel mengusap kedua tangannya, "yah, ini kan hari pertama kita jadian, aku ingin merayakannya denganmu." Ucapnya tersenyum, Alona hanya menatapnya malas, "Ohya, Nay!" seru Dareel kepada Naya, Naya kontan menoleh, "aku punya kabar gembira untukmu, aku dan Alona Caroline sudah jadian dan kami sudah resmi menjadi pasangan kekasih!" serunya penuh kebanggaan sambil merangkul bahu Alona. Wajah Alona langsung berubah menjadi merah, dia sangat marah dengan Dareel karena telah berkata yang tidak-tidak kepada Naya. Naya hanya tersenyum kecut mendengarnya. "Kami sudah jadian selama... hmmm..." ucap Dareel terputus sambil memandangi jam ditangannya, "empat jam empat puluh empat menit tiga puluh dua detik!" serunya senang. Ingin rasanya Alona mencekik leher Dareel sampai pria itu tidak bernapas, dia benar-benar kesal dan marah! "Selamat deh pak kalau kaya gitu." Ucap Naya dengan pandangan malas. Dareel menyengir senang dengan perkataan Naya, "terima kasih! Ohya, tapi kau jangan bilang-bilang siapapun jika kami jadian terutama pada Delon, ini rahasia kita bertiga." Serunya kepada Naya dengan suara berteriak. Alona dan Naya menatap Dareel dengan pandangan tercengang. Bisa-bisanya pria itu mengatakan hal itu? Rahasia apanya? Jelas-jelas saat dia mengatakan itu hampir semua karyawan yang berada di lantai ini mendengar perkataannya itu. "Aku tunggu kau Naya di ruangan ku, dan kau sweety kau harus keruangan juga. Aku ingin menyelesaikan pekerjaan ini bersamamu..." ucap Dareel tersenyum kepada Alona dan berjalan menuju ruangannya kembali. "Dasar Boss sialan!! b******k!!" maki Alona menangis ketika pintu ruangan Dareel sudah tertutup. Naya berusaha menenangkan Alona, dia tidak percaya Dareel bisa senekat itu, "Omg! Don't do this, Alona!!" pekiknya ketika Alona ingin melempar vas bunga kearah pintu Dareel. Naya langsung mengambil vas bunga itu dan menjauhkannya dari Alona sebelum wanita itu mengamuk. "Nay, aku bisa gila!!" seru Alona menangis. Sementara itu, Dareel tertawa keras diruangannya melihat Alona yang tengah menangis karenanya. Dia merasa senang menggoda wanita itu. Sekarang semua orang tahu dia dan Alona resmi menjadi pasangan kekasih. Baginya tidak perlu ada yang dirahasiakan. Dia sudah siap dengan segala konsekuensinya. Jika sesuatu hubungan dirahasiakan dari awal akan berakhir pahit -Dareel- ♥♥♥♥ o(╥﹏╥)o ♥♥♥♥
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD