Love me?! ♥4♥

1549 Words
Love me?! ♥4♥ Bagian 4 ♥♥♥♥ o(╥﹏╥)o ♥♥♥♥ Alona baru saja tiba di kediamannya di antar oleh Delon. Mobil milik Dareel sudah dia kembalikan ke kediaman pria itu, setelah sampai di restoran tadi Alona menghubungi salah satu supir Dareel untuk mengambil mobil atasannya itu. "Kamu hati-hati yah, Lon..." ucap Alona tersenyum kepada Delon. Delon hanya mengangguk dan tidak berniat membalas perkataan Alona. Wajah pria itu terlihat marah disana. Lalu Alona keluar dari mobil milik Delon. Setelah Alona keluar dari mobil Delon langsung menjalankan mobilnya begitu saja. Napas Alona berhembus kencang melihat mobil Delon semakin menjauh, biasanya pria itu selalu memberinya ciuman hangat di keningnya sebelum pergi meninggalkannya. Sejak kejadian di restoran hubungannya dengan Delon kembali merenggang setelah mereka berbaikan. Kelakuan Dareel bisa membuat Alona kehilangan Delon. Alona menghembuskan napasnya berat, dia harus bersikap tegas kepada Dareel. Walaupun atasannya itu sering mengancamnya, tidak seharusnya dia takut kepada pria itu. Mulai detik ini Alona harus bertekad melawan Dareel. Kemudian Alona masuk ke dalam rumahnya dengan perasaan sedih. Ponselnya terus berbunyi, tetapi Alona tidak memperdulikannya. Dia sangat tahu siapa yang sedang menelponnya, siapa lagi jika bukan Dareel sang atasannya itu. Alona membuka pintu rumahnya dengan gontai. Kedua orangtuanya sudah tertidur sepertinya, untung saja dia membawa kunci cadangan. Lalu dia melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Setelah berada di dalam kamarnya, dia membuka sepatunya dan meletakan tasnya ke sembarang tempat. Kemudian dia merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya sambil memandangi langit atap kamarnya. Dia sedang berpikir, seandainya saja dia bisa pergi dari kehidupan Dareel, pasti dia sangat bahagia. Dan hubungannya dengan Delon akan berjalan normal seperti sebelumnya. "Astaga!!" teriak Alona frustasi ketika ponselnya terus berdering. Dia mengambil tasnya yang berada di lantai, lalu mencari ponselnya itu. Dia berdecak malas dan mengangkat panggilan telepon itu dengan hati kesal. "Alona! Kenapa kau tidak mengangkat telepon dariku hah?!" seru Dareel dari sebrang sana sebelum Alona membuka mulutnya, "Aku sudah menelponmu puluhan kali!" teriaknya marah. "Pak, aku sangat lelah. Bisa bapak hubungiku besok?" ucap Alona seakan mengakhiri pembicaraan. "Tidak bisa! Aku minta kau datang ke apartemenku!" perintahnya. Alona berdecak malas, "Pak, sudah malam. Aku juga baru sampai rumah." Tolaknya. Rasa tekadnya untuk melawan Dareel sirna begitu saja, padahal baru saja tadi dia berniat bersikap tegas kepada pria itu. Tetapi ketika mendengar suara Dareel yang sangar membuatnya takut jika melawan pria itu. "Oh begitu yah? Baiklah jika begitu kau harus menemaniku lewat telepon. Aku tidak bisa tidur Alona..." ucap Dareel kemudian. Alona menghela napasnya, "Pak---" "Jika kau menolak, aku akan memberitahu semuanya kepada Delon!" potongnya dengan ancamannya. "Baiklah..." ucap Alona menyerah. Kemudian Alona menekan loudspeaker pada layar ponselnya, dibiarkannya Dareel bicara semaunya dia. Lalu dia mengganti pakaian, dia tidak mandi, dia ingin buru-buru tidur. Badannya terasa sangat lelah. Setelah selesai dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil menyelimuti tubuhnya. Tiba-tiba bibir Alona tersenyum ketika mendengar Dareel menyanyikan sebuah lagu untuknya, suara Dareel sangat luar biasa sumbang. Siapapun yang mendengar suaranya akan membuat pendengaran sakit. "Alona, kau masih hidup kan?" tanya Dareel kemudian. "Yah aku masih hidup." Jawab Alona tersenyum. "Syukurlah," Dareel bernapas lega mendengarnya, Alona hanya tertawa renyah. Lalu Alona dan Dareel larut dalam perbincangan hangat mereka. Udara malam mulai terasa dingin. Namun, baik Alona dan Dareel merasakan kehangatan disana. ♥♥♥♥ o(╥﹏╥)o ♥♥♥♥ Keesokannya... Alona baru saja tiba di kantor, mulutnya terus menguap. Dia baru bisa tertidur pukul dua dini hari. Sepanjang malam dia dan Dareel terjaga, mereka saling bertukar cerita yang tidak penting semalam. Alona baru menyadari dibalik sikap menyebalkan Dareel, pria itu memiliki sifat yang sangat humoris. Selain itu, hingga saat ini Delon tidak menjawab panggilan telepon atau sekedar membalas pesan dari Alona. Sepertinya Delon sangat marah saat ini, Ketika berada di depan lantai ruangannya, langkahnya terhenti seketika. Sepasang mata almondnya melebar dengan mulut sedikit terbuka. Mejanya kini dipenuhi oleh bunga-bunga segar. Alona menghampiri mejanya, kemudian jemarinya menyentuh bunga indah yang berserakan di mejanya. Sedetik kemudian senyumnya mengembang tipis. Pasti ini dari Delon... ucapnya di hati dengan wajah merona. Alona sangat yakin bunga-bunga ini pemberian dari Delon. "Bagaimana suka?" tanya seorang tiba-tiba membuat Alona terlonjak kaget. Alona kontan menoleh dengan kening berkerut, "Pak Dareel?!" pekiknya saat melihat Dareel berdiri tepat di belakangnya sambil melipat kedua tangannya, "Jadi ini dari---?" tanyanya gugup sambil menunjuk bunga-bunga itu. "Yah tentu dariku..." jawab Dareel tersenyum. "Oh..." ujar Alona sedikit kecewa, dia pikir bunga-bunga itu dari Delon kekasihnya, tepi ternyata dari Dareel. "Kau mengharapkan bunga itu dari Delon?" tanya Dareel kemudian seakan tahu isi pikiran Alona. Alona hanya mengangguk pelan. Dareel tertawa renyah, "itu dari ku Alona, aku sengaja membeli bunga-bunga itu untukmu..." "Maaf pak, untuk apa?" tanya Alona tidak mengerti. Dia merasa heran untuk apa Dareel membelikan bunga-bunga ini untuknya. "Untuk permintaan maaf karena kemarin aku sudah menganggu acara kencanmu dengan Delon dan juga sebagai ucapan terima kasih karena kau sudah menemaniku malam tadi." Ujar Dareel membuat Alona menatapnya tidak percaya. Dareel meminta maaf kepadanya? Itu adalah hal yang sangat langka bagi Alona. "Ohya, aku masih punya sesuatu untukmu..." ucap Dareel sambil mencari sesuatu di saku belakang celananya. "Nah ini dia!" serunya dengan senyuman khasnya sambil memperlihatkan setangkai bunga mawar merah kepada Alona. Alona hanya menatap Dareel dengan pandangan bingung. "Aku jatuh cinta padamu, Alona..." "Hah?" teriak Alona tidak percaya dengan perkataan Dareel barusan. "Aku jatuh cinta padamu, apa kau tidak dengar?" tanya Dareel, dia semakin mendekati Alona. Alona hanya terdiam, dia tidak menjawab pertanyaan Dareel. Sungguh dia sangat tidak mengerti dengan jalan pikiran Dareel saat ini, tiba-tiba saja pria itu mengatakan dia jatuh cinta kepadanya? Alona tidak percaya dengan semua perkataan Dareel untuknya. Dia sangat tahu seperti apa Dareel, dia adalah pria yang tidak bisa dipercaya perkataannya. Pria itu pernah mengatakan hal itu kepada semua wanita yang pernah dekat dengannya, Alona sangat tahu itu. Jadi dia tidak perlu merasa senang dengan semua itu. "Kau baik-baik saja Alona?" tanya Dareel menyentuh bahu Alona membuat wanita itu tersadar dari lamunannya. Wajah Alona terlihat pucat disana. "Y-ya tentu saja!" jawab Alona gugup. Dareel tersenyum, "kau tidak harus menjawab sekarang Alona, kau bisa menjawabnya kapanpun kau mau..." "Aku rasa aku tidak harus menjawab apapun pak... Bapak tahu kan aku sudah bertunangan dengan Delon?" tanya Alona dengan penuh penekanan. Dareel menghela napasnya, "tentu saja aku tahu, lagipula kau baru bertunangan dengannya. Kau belum menikah dengannya, jadi kau milik siapapun." Ujarnya berpendapat seenaknya, "walaupun kau sudah menikahnya dengannya, aku akan tunggu jandamu..." katanya lagi membuat Alona terperangah. "Bapak sudah gila yah?" pekik Alona marah. Belum menikah saja atasannya itu sudah mengharapkan dia menjadi janda. Dareel tertawa renyah melihat wajah Alona yang sudah dipenuhi amarah disana, "Jika kau menerima bunga dariku, berarti kau menerima cinta dariku..." ucapnya penuh harap mengulurkan bunga mawar itu kepada Alona. Alona menggeleng, "maaf pak, aku tidak bisa terima pemberian bunga dari bapak. Aku tekankan sekali lagi pada bapak, aku sudah bertunangan dengan Delon. Pria yang sangat ku cintai!" balasnya penuh amarah, dia sangat tahu Dareel sedang mengerjainya saat ini. Dareel hanya menatap Alona dengan pandangan tidak peduli. Yah Dareel tidak peduli jika Alona mencintai Delon atau tidak. Lalu Alona berbalik, dia ingin pergi ke kamar mandi. Dia ingin membasuh wajahnya dengan air segar untuk menyegarkan pikirannya yang sedang kusut saat ini. Bertemu dengan Dareel bisa membuatnya gila. "Alona!" panggil Dareel ketika Alona ingin melangkahkan kakinya. Alona kontan berbalik kearah Dareel. Tiba-tiba Dareel melemparkan bunga mawar itu kepadanya, tanpa sadar Alona langsung menangkap bunga mawar itu. "Tangkapan yang bagus, Alona!" seru Dareel dengan wajah berseri. Alona mengigit bibir bawahnya menyadari kebodohannya saat ini. Dasar bodoh!! Umpatnya kepada dirinya sendiri. Lalu Alona menatap bunga itu nanar, bunga mawar itu masih berada dalam genggamannya sekarang. Dareel mempunyai segala cara agar semua keinginannya itu terpenuhi, walaupun dengan cara kacangan seperti ini. Tiba-tiba Dareel menghampirinya, Alona hanya menatap pria itu dengan jantung berdegup kencang. Alona memekik pelan ketika Dareel menarik pinggang rampingnya, "Mulai detik ini, kau adalah kekasihku Alona..." ucap Dareel tersenyum penuh kemenangan, "tidak masalah menjadi yang kedua..." ujarnya kembali, Alona hanya menatapnya tertegun. Tanpa persetujuan dari Alona dan kebodohannya yang tanpa sadar menangkap bunga mawar itu, kini Dareel telah menganggap Alona adalah kekasihnya. Sedetik kemudian Alona merasakan kecupan hangat di pipinya. Ingin sekali rasanya Alona menangis akibat perbuatan Dareel kepadanya. Situasi seperti ini membuatnya pusing setengah mati, entah apa yang harus dia katakan kepada Delon. Sangat dipastikan Delon akan marah dengannya jika tahu hal ini. Hubungannya dengan Delon semakin berada di ujung tanduk karena Dareel. Lalu Dareel pergi dari hadapan Alona menuju ruangannya sambil bersiul ringan. ♥♥♥♥ o(╥﹏╥)o ♥♥♥♥ Sementara itu, Dareel masuk ke dalam ruangannya dengan senyuman penuh kemenangan. Akhirnya dia berhasil menjadikan Alona kekasihnya. Dia akan membuat Alona menjadi miliknya. Dareel sangat tahu Alona sedang frustasi sekarang karena perbuatannya, tapi dia tidak peduli. Dia hanya ingin Alona menjadi miliknya, itu saja. Dareel sangat tahu Alona sangat mencintai Delon, tetapi tidak mengubah semua keinginan Dareel. Dia tidak rela jika Alona dengan pria lain selain dirinya. Dia tidak akan pernah berhenti mengejar Alona. Bicara tentang cinta, apa Dareel mencintai Alona? Apalagi tadi dia mengatakan bahwa dia jatuh cinta kepada wanita itu. Jawabannya, Dareel tidak tahu, yah dia tidak tahu apa dia jatuh cinta kepada Alona atau hanya terobsesi kepada wanita itu saja? Tapi yang pasti Dareel ingin selalu bersama Alona, suka atau tidak sukanya wanita itu. Hati Dareel sedang dipenuhi kebahagian saat ini dan dia akan merayakannya bersama Alona setelah mereka pulang bekerja nanti. ♥♥♥♥ o(╥﹏╥)o ♥♥♥♥
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD