Dinner Field ♥3♥
Bagian 3
♥♥♥♥ o(╥﹏╥)o ♥♥♥♥
Saat ini Alona sedang menemani Dareel ke sebuah pameran mobil mewah di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta. Wajah Alona terlihat cemberut di sudut stan sana, menemani Dareel adalah sesuatu yang sangat membosankan untuknya. Sudah lima jam dia menemani Dareel yang sedang sibuk memilih mobil-mobil mewah yang terpajang rapi di pameran ini.
Dareel sangat menyukai mobil sport mewah. Pria itu sudah memiliki hampir dua puluh mobil mewah di kediaman orangtuanya, dan sekarang dia ingin membeli sebuah mobil sport mewah keluar terbaru. Ralat bukan sebuah tapi tiga buah mobil sport.
Alona yang melihat Dareel tengah berbincang dengan sales mobil berdecak sebal, dia tidak habis pikir dengan kelakuan atasannya itu. Dareel selalu saja menghabiskan uangnya dengan membeli barang-barang yang tidak penting.
Kemudian sepasang mata Alona memandang nanar mobil mewah yang tengah di sentuh Dareel, sepertinya pria itu akan membeli mobil itu. Harga satu unit mobil itu bisa membeli banyak rumah. Jika Alona menjadi Dareel, Alona akan menginvestasikan uangnya untuk membeli rumah dimanapun. Dia akan membuat rumah kontrakan yang banyak dan dia akan menjadi juragan kontrakan.
Dan jika itu terjadi, Alona tidak perlu lagi bekerja dengan Dareel karena dia sudah banyak uang hasil dari investasi kontrakannya itu. Sedetik kemudian Alona menghembuskan napasnya berat, angan-angannya itu tidak akan pernah terwujud dan sepanjang hidupnya dia akan terus menjadi anak buah Dareel.
Hidup Alona kini tengah dikendalikan oleh Dareel, apalagi saat ini Dareel memiliki senjata ampuh yang membuat pertahanan Alona runtuh, yaitu video rekaman ciuman mereka beberapa waktu lalu. Dareel selalu mengancamnya jika dia tidak menuruti semua keinginan pria itu. Padahal ciuman itu secara tidak langsung tidak diinginkan Alona, dia tidak ada pilihan lain selain memenuhi semua keinginan Dareel. Ingin sekali Alona marah kepada Dareel, tetapi dia tidak berani melakukan hal itu. Alona sangat mengenal Dareel, pria itu bisa melakukan apa saja. Daripada berurusan panjang dengan pria itu, lebih baik menurut saja.
"Alona!" panggil Dareel tiba-tiba membuat Alona terkejut, "kemari!" perintahnya.
Dengan malas Alona menghampiri Dareel, "ada apa pak?" tanyanya ketika berada dihadapan Dareel.
"Bagaimana menurutmu dengan mobil ini?" tanya Dareel meminta pendapat dari Alona.
"Bagus," jawab Alona singkat tanpa menatap mobil yang ditunjuk Dareel.
"Hanya bagus?" tanya Dareel balik, sepertinya dia kurang puas atas jawaban dari Alona. Alona hanya mengangguk.
Lalu Dareel berpaling dari Alona, kemudian dia memandangi mobil itu kembali dengan sangat teliti. Tidak lama sales mobil menghampiri Dareel kembali, lalu sales itu menjelaskan spesifikasi mobil mewah itu.
Alona hanya menatap Dareel dengan pandangan malas bercampur sebal. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, dia langsung mengambil ponselnya dari tasnya. Senyumnya mengembang tipis ketika melihat Delon mengirim pesan w******p kepadanya. Dengan tidak sabar Alona membuka isi pesan dari kekasihnya itu.
Sayang, aku ingin bertemu denganmu... aku tunggu kau di tempat favorit kita satu jam lagi...- Delon-
Alona tersenyum bahagia, lalu jemarinya membalas pesan dari Delon.
Oke, ku pikir kau masih marah denganku... - Alona-
Tentu saja tidak, buat apa aku marah denganmu... Jika kita marahan, boss gilamu akan tertawa bahagia! – Delon -
Alona tertawa pelan membaca isi pesan Delon.
Baiklah, aku akan segera datang kesana... Love u... -Alona-
Setelah selesai mengetik pesan untuk Delon, Alona memasukan ponselnya kembali ke dalam tasnya. Kemudian dia melihat jam di tangannya, sekarang sudah pukul enam sore dan seharusnya jadwal kerjanya telah usai dari satu jam yang lalu. Lalu Alona menghampiri Dareel dan menyentuh bahu pria itu.
Dareel kontan menoleh, "Ada apa?"
"Pak sudah pukul enam sore, aku harus pulang." Ucap Alona.
Dareel langsung melihat jam di tangannya, kemudian dia menatap Alona kembali, "memangnya kau harus yah pulang?" tanyanya.
Alona mengangguk cepat, "ya tentu saja!"
"Hmm... tapi aku masih membutuhkanmu Alona, kau lihat kan aku belum selesai dengan urusanku." Ujar Dareel, dia mencoba menahan Alona agar wanita itu tidak cepat pergi dari sisinya.
Sebenarnya Dareel sudah selesai dengan urusannya dan dia juga sudah mendapatkan mobil sport yang dia inginkan sejak tiga jam yang lalu. Tetapi dia ingin menghabiskan waktu dengan Alona, semenit dia tidak bersama wanita itu membuat hatinya gelisah setengah mati. Dia sangat tahu Alona sangat kesal dengannya, tapi dia tidak peduli.
"Maaf pak, aku harus segera pulang. Sejak semalam aku tidak pulang dan aku tidak ingin membuat ayahku marah." Ucap Alona lirih, dia harus berbohong kepada Dareel agar pria itu mengizinkannya pulang.
"Oke baiklah," balas Dareel akhirnya membuat Alona menjerit gembira di hatinya.
"Terima kasih pak!" seru Alona menjabat tangan Dareel sambil menggoyangkan tangan itu.
Dareel hanya menatap Alona dengan pandangan aneh. Kemudian Alona pergi dari hadapan Dareel dengan hati bahagia, akhirnya dia bisa lepas dari atasannya itu.
"Alona!" panggil Dareel kemudian, langkah Alona terhenti seketika, "kau naik apa pulang?" tanyanya.
Alona berbalik, "mungkin naik ojek online..." jawabnya.
Dareel menghampiri Alona, lalu dia mengambil sebuah kunci dari saku celananya dan memberikan kunci itu kepada Alona. Wanita itu menatap Dareel dengan pandangan bingung.
"Pakai mobilku," usul Dareel.
Alona menggeleng, "tidak usah pak terima kasih!" tolaknya.
Dareel tersenyum, "tidak apa-apa Alona, pakai saja." Paksanya.
"Tidak pak, aku bisa naik ojek!" tolak Alona kembali.
"Jika kau menolak aku akan---"
"Baiklah, aku akan naik mobil bapak!" potong Alona kemudian sebelum atasannya itu mengancamnya kembali dan berkata 'aku akan memperlihatkan video ciuman panas kita kepada Delon'. Lebih baik dia menerima kebaikan atasannya itu.
Dareel tersenyum penuh kemenangan, tidak lama Alona pergi dari hadapannya setelah berpamitannya kepadanya. Tanpa diketahui oleh Alona, Dareel telah mencium bau kebohongan dari Alona. Yah, Dareel sangat tahu Alona pulang bukan karena keluarganya tapi karena wanita itu ingin bertemu dengan Delon kekasihnya yang aneh dan menyebalkan itu. Dareel sengaja menawarkan Alona pulang dengan mobilnya, mobilnya itu telah terpasang GPS dan Dareel akan tahu kemana Alona pergi.
♥♥♥♥ o(╥﹏╥)o ♥♥♥♥
Restoran Ristorante da Valentino, Jakarta
"Thank you..." ucap Delon ketika pelayan di restoran ini meletakan pesanannya dan pesanan Alona di atas meja mereka. Lalu pelayan itu pergi dari hadapan mereka berdua.
Restoran ini adalah tempat favorit Delon dan Alona, tempat ini terlihat mewah dan romantis. Dan menu sajian di tempat ini sangat lezat. Musik romantis mengalun indah membuat hati siapapun tenang mendengarnya.
"Aku tidak percaya kau bisa melepaskan dirimu dari boss gilamu itu sayang?" tanya Delon di sela makannya.
Alona tersenyum tipis sambil memotong daging lembut dihadapannya, "Dengan sedikit kebohongan..." jawabnya.
"Jujur saja Alona, aku sangat muak dengan si b******k itu! Dia terangan-terangan menggodamu dihadapanku! Dia sama sekali tidak menghargaiku sebagai kekasihmu! Aku ingin segera menikahimu Alona, agar si b******k itu tidak menganggumu lagi!" ucap Delon penuh amarah, Alona hanya mengangguk mendengarnya, "Jika kau sudah menikah denganku, kau harus keluar dari tempat sialan itu!" lanjutnya emosi.
Alona menghela napasnya, "malah aku ingin keluar dari sana sekarang juga..." ucapnya lirih.
Delon yang melihat kesedihan diwajah Alona mengambil tangan kanan wanita itu dan mengecupnya lembut, "Aku akan meminta Dareel dengan cara paksa, agar dia mengeluarkanmu dari perusahaanya itu."
Alona berdecak, "kau sudah sering mencobanya kan? Tapi apa jawaban Dareel? Dia akan menghancurkan hari pernikahan kita, jika aku mengundurkan diri! Walaupun kita sudah menikah sekalipun, dia akan terus mengangguku!" ucapnya kesal jika mengingat apa yang pernah di katakan Dareel kepadanya dan juga Delon. Mengenal Dareel adalah sebuah kutukan untuk Alona.
Delon mengacak rambutnya frustasi, "Dareel sialan!" umpatnya, "aku punya ide!" seru Delon tiba-tiba membuat Alona terkejut, "Aku akan datang malam ini ke apartementnya, kemudian aku beri racun sianida di setiap makanannya."
Alona menatap malas Delon, idenya itu sangat konyol sekali. "Ya jika dia mati, dia tetap akan menghantui aku dan juga dirimu!"
Delon menghela napasnya, dia ingin sekali menyingkirkan Dareel dari kehidupan kekasihnya. Namun, Dareel bukanlah pria yang mudah disingkirkan. Tidak lama Delon dan Alona kembali menikmati makan malamnya dengan perasaan kesal memikirkan sosok Dareel.
Alona mengunyah makanannya, sepasang mata almondnya memandangi isi restoran yang terlihat ramai. Tidak lama pintu restoran ini terbuka. Sepasang pasangan baru saja tiba di tempat ini dengan senyuman lebar. Kedatangan mereka di sambut hangat oleh pelayan. Alona yang melihat kedatangan mereka menyipitkan kedua matanya, Alona merasa, dia sepertinya mengenal pria yang baru saja tiba di restoran ini.
Sedetik kemudian kedua mata Alona melebar dengan mulut terbuka lebar. Lalu dia mengambil buku menu dan menutup wajahnya. Delon yang melihat tingkah aneh Alona menatapnya heran.
"Alona ada apa?" tanya Delon heran.
"Ada Dareel!" ucap Alona berbisik.
"What?!" pekik Delon terkejut, kemudian dia mengambil buku menu dan menutupi wajahnya dengan buku itu, "Kenapa dia bisa ada disini?!"
Alona mengangkat bahunya, "aku tidak tahu!" jawabnya histeris, "aduh bagaimana ini kalau Dareel melihat kita?!" tanyanya kemudian. Dia tidak ingin Dareel melihatnya, bisa-bisa pria itu akan marah dengannya.
"Aaahh!" teriak Alona terkejut ketika buku menunya ditarik paksa oleh seseorang.
"Alona?!" seru Dareel tidak percaya saat melihat wanita itu berada di restoran ini, dia hanya berpura-pura terkejut.
"s**t!" umpat Delon ketika Dareel mengetahui keberadaan mereka.
"Ya Tuhan, aku tidak percaya bisa bertemu kalian disini!" teriaknya bahagia seakan menemukan harta karun di hadapannya.
Alona yang melihat Dareel hanya menatapnya pria itu pasrah. Lagi-lagi dia bertemu dengan Dareel di saat yang tidak tepat.
Kemudian Dareel mengambil dua kursi dari meja sebelah, lalu dia memberikan salah satu kursi untuk wanita berambut ombre yang dia bawa untuk menemaninya. Meja yang ditempati oleh Delon dan Alona kursinya hanya untuk dua orang. Setelah itu dia duduk disamping Alona. Alona hanya menatap Dareel malas. Sedangkan Delon menatap Dareel dengan penuh amarah, kedua tangannya mengepal keras.
Lalu Dareel mengambil gelas berisi jus mangga milik Delon dan meneguknya sampai habis, "aku haus sekali!" ujarnya tanpa rasa malu, "Ohya Honey! Kau boleh pesan apapun yang kau mau!" serunya kepada wanita yang duduk dihadapannya.
Delon menggeram keras melihat kelakuan Dareel.
"Apapun?" tanya wanita berambut ombre itu dengan senyuman lebar.
"Yah anything!" jawab Dareel mengedipkan salah satu matanya.
Alona menatap wanita itu dengan pandangan heran, dia baru melihat wanita ini. Alona sangat mengenal semua wanita yang dekat dengan Dareel. Dari wanita keturunan Jerman, Swedia, Turki dan Asia. Dan wanita keturunan Inggris ini baru pertama kali dilihat olehnya.
Wanita itu langsung memanggil pelayan dan memesan semua menu terlezat dan termahal di restoran ini. Wanita itu baru saja bertemu dengan Dareel di depan restoran ini, Dareel memintanya untuk menemaninya makan di restoran ini. Tentu saja wanita itu tidak menolak dengan permintaan Dareel, menemani pria tampan dan juga diberikan uang yang banyak adalah sesuatu keburuntungan untuknya.
Dareel meminta wanita yang tidak dikenalnya untuk menemaninya tentu bukan tanpa alasan. Dia tidak ingin datang ke restoran ini dan mempergoki Alona sedang bersama Delon seorang diri, jika dia datang seorang diri Alona akan curiga dengannya. Hatinya sangat kesal saat ini, Alona selalu saja membohonginya dan pergi bersama Delon dibelakangnya.
Dareel merasa, Alona sama sekali tidak menghargainya sebagai atasannya. Padahal Dareel sendiri yang tidak menghargai kehidupan pribadi Alona.
Sementara itu, Delon terus memandangi Dareel dengan tatapan penuh kebencian, tapi Dareel tidak peduli.
Lalu pandangan Dareel beralih kepada Alona yang duduk disampingnya, wanita itu tengah memandangi daging steaknya yang tinggal setengah itu. Napsu makan Alona hilang seketika ketika melihat Dareel.
Dareel tersenyum tipis, "Alona, aku lapar..." ucapnya membuat Alona menatapnya heran, "suapini aku dong!" pintanya merajuk.
"Hah?!" pekik Alona bingung.
"Aku lapar, suapini aku Alona... please..." ucap Dareel manja.
Delon yang mendengar itu menatap Dareel dengan pandangan sebal, dia berusaha menahan emosinya.
"Maaf pak, bapak makan sendiri ajah..." ujar Alona sambil menyodorkan piring berisi daging steak di hadapan Dareel.
Dareel langsung mendekatkan bibirnya tepat di telinga Alona, "jika kau tidak mau menurut denganku, aku akan memperlihatkan video ciuman panas kita dan aku juga akan mengatakan padanya bahwa semalam kita tidur bersama di ranjangku." Ancamnya dengan senyuman.
Alona menghela napasnya kesal, dengan terpaksa dia menyuapini Dareel sebelum pria itu berbuat yang tidak-tidak.
"Emmm enak!" seru Dareel dengan tawa lebar, "lagi dong!" rajuknya bertepuk tangan, mulutnya terbuka lebar menunggu daging steak itu masuk ke dalam mulutnya.
Alona bergedik geli melihat kelakuan Dareel yang seperti anak kecil! Dia benar-benar muak dengan atasannya itu!
Delon yang tidak tahan melihat tingkah Dareel yang menyebalkan langsung bangkit berdiri dan menggebrak meja membuat Dareel, Alona dan wanita berambut ombre itu terkejut. Bukan hanya mereka, seisi restoran ini memandangi Delon dengan pandangan kaget.
"Hentikan semua itu Mr. Dareel!" seru Delon penuh amarah, "aku sangat muak denganmu Mr. Dareel! Kau selalu saja menganggu Alona!" makinya menunjuk wajah Dareel.
Dareel yang melihat Delon marah kepadanya menyembunyikan wajahnya di bahu Alona, sekali-kali dia mengecup bahu Alona. Alona berusaha menyingkirkan bahunya dari Dareel. Namun, Dareel menahan pinggang wanita itu, sehingga kini Alona berada dalam genggaman pria itu.
Wanita berambut ombre itu tidak peduli dengan drama dihadapannya dan dia kembali melihat buku menu.
"Jangan sentuh Alona-ku Mr. Dareel!" kata Delon semakin marah.
"Alona, Delon memarahiku... Kau tahu kan aku paling tidak bisa di marahi dan juga dikasari..." ucap Dareel lirih dengan mata berair, Alona hanya menatap Dareel jengah. Dia semakin menyembunyikan wajahnya di leher Alona. Aroma strawberry tercium jelas dari leher Alona, dia tidak dapat menahannya untuk mencium kulit mulus itu.
"Hentikan sandiwaramu itu Mr. Dareel!" seru Delon kembali, dia sangat cemburu melihat Dareel memeluk Alona dan mengecup leher kekasihnya itu dihadapannya, "Mr. Dareel, dengarkan aku baik-baik! Mulai detik ini Alona bukanlah lagi karyawanmu! Aku tidak ingin dia bekerja lagi dengan pria gila sepertimu!" ucapnya penuh penekanan. Dia sudah tidak tahan lagi dengan semua amarahnya. Ingin sekali dia mencekik Dareel sampai pria itu mati ditangannya.
Dareel melepaskan pelukannya dari Alona dan menatap Delon dengan pandangan tidak percaya, "Oke, Alona bukanlah karyawanku lagi mulai saat ini." Ucapnya membuat Alona menatap pria itu terperangah, "tapi kau harus membayar semua fasilitas yang pernah kuberikan kepadanya dan berupa dendanya, di kontrak tertulis jelas jika pihak Alona mengundurkan diri secara sepihak dia harus membayar denda sebesar setengah miliyar dan juga----" ucapnya mengantungkan kalimatnya, kemudian dia memanggil salah satu pelayan untuk meminjam sebuah kalkulator.
Alona dan Delon menatap Dareel dengan pandangan heran dan juga bingung. Tidak lama pelayan memberi Dareel kalkulator, dia langsung menghitungnya.
"Dan juga, Alona pernah beberapa kali ke Inggris, Jepang, Jerman, Korea, Thailand, Singapore, Bali, Lombok dan keliling Indonesia bersamaku. Biaya tiket pesawat terbang pulang-pergi, biaya hotel yang dia tempati seorang diri." Ucap Dareel panjang lebar, jemarinya menekan tombol angka kalkulator, "hmm... mungkin kalau dia mau sekamar denganku, aku tidak akan memasukan tagihannya..." ujarnya menatap Alona dan Delon secara bergantian.
Alona hanya menatap Dareel ternganga, padahal semua itu bukanlah kemauannya. Dia pergi ke Luar Kota dan juga Luar Negeri atas permintaan pria itu, lalu kenapa pria itu menangihnya? Alona benar-benar heran dengan atasannya yang sakit jiwa itu.
"Kadang kami tinggal disana bisa sampai dua minggu, belum lagi biaya makannya dan juga hadiah yang pernah ku berikan kepada Alona. Totalnya kurang lebih segini!" seru Dareel menulis nominal di atas tissue dengan bolpoint miliknya, lalu memberikan itu kepada Delon. "Semua yang ku berikan untuknya tidak gratis Delon Vinson!"
"Apa, 1,8 milyar?!" pekik Delon tidak percaya dengan angka nominal itu.
Dareel mengangguk dengan senyuman lebar.
Alona menepuk keningnya, hidupnya kini hancur sudah. Sepertinya sepanjang hidupnya dia harus mengabdi kepada Dareel. Memikirkan itu membuatnya ingin menangis.
"Jika kau bisa membayarnya, aku akan mengizinkan Alona mengundurkan diri dan aku tidak akan pernah menganggunya." Ucap Dareel kemudian.
Delon menatap tulisan di tissue itu dengan pandangan nanar, dari mana dia punya uang segitu banyaknya. Walaupun ada, sudah dia persiapkan matang untuk biaya pernikahannya nanti dengan Alona dan juga tempat tinggal mereka setelah menikah. Delon terduduk lemah di kursinya.
Dareel yang yang melihat wajah depresi Delon mengulum senyumnya, hatinya tertawa bahagia. Sebenarnya jika Alona ingin keluar dari perusahaan yah keluar saja, tanpa harus ada denda dan juga ganti rugi. Namun, Dareel yang tidak ingin berjauhan dari Alona harus menahan wanita itu agar tetap bersamanya.
"Bagaimana?" tanya Dareel kepada Delon.
Delon tidak menjawab pertanyaan Dareel, dia bangkit dari duduknya, lalu menarik tangan Alona dan pergi dari restoran ini. Dareel yang melihat itu hanya tertawa dan dia tidak mencegah kepergian mereka. Dareel memberi kesempatan kepada mereka berdua untuk bernapas, setelah ini dia akan menghubung Alona untuk datang ke apartementnya.
Lalu pandangan Dareel beralih kepada wanita berambut ombre yang masih sibuk dengan buku menunya, kemudian dia bangkit dari duduknya sambil mengeluarkan dompetnya dari saku celananya.
"Ini untukmu beib!" ucap Dareel memberikan beberapa lembar uang kepada wanita itu, "terima kasih telah menemaniku malam ini!" lanjutnya sambil mengedipkan mata kirinya membuat wanita itu meleleh.
Kemudian Dareel pergi dari restoran ini setelah membayar tagihan milik Alona dan juga Delon, dia ditagih oleh pihak restoran ketika dia ingin keluar dari restoran ini. Ternyata Delon belum membayar tagihan kencannya dengan Alona tadi.
Delon sialan! Umpat Dareel.
♥♥♥♥ o(╥﹏╥)o ♥♥♥♥