[Jel, lu mau maksi bareng pak Rangga lagi?]
Angel menatap pesan dari Jasmine dengan muka masam.
[Mungkin. ?]
[Jangan sok tertindas, lu. Lumayan 'kan makan bergizi setiap hari. Gratis lagi.]
[Setiap hari gua dipaksa minum s**u bon**o. Selain bikin gua mati perlahan, Dewa Yama itu benar-benar tengah menghina tinggi badan gua. Bangsss, emang.]
[Hahahaha. Syukurilah apa yang ada! Banyak di luaran sana yang ingin seperti lu. Gua, misalnya. Setiap hari makan sendirian. Kelihatan banget 'kan jonesnya.]
[Ayo, tukeran posisi. *Memperlihatkan puppy eyes-nya.]
[Bukannya gua gak mau. Situ pastiin dulu, si boss mau gak gua temenin, dengan tarif 80juta per satu makan siang.]
[Dodol banget, lu. Emang apa pake tarif, hah?]
[Dih, sensi. Udah ah, gua mau cabut dulu. Gua mau maksi bareng si Risa. Daaaah, jangan lupa minum susunya biar tumbuh tinggi ya, Beb. Miss and love u so much. Muaaaahh. ???]
Angel menatap nanar layar ponselnya. Dia juga rindu makan siang bareng bertiga. Kangen bergosip sambil makan dan mengomentari setiap lelaki yang lewat di depan mereka.
Sekarang, dirinya harus puas dengan berkumpul di akhir pekan saja, dan tentu tidak selamanya bisa juga, karena selalu ada saja kendala dari salah satu mereka bertiga. Terutama dirinya yang memang tidak tinggal bersama sang ibu.
Hari itu, saat dia menerima telepon dari boss barunya di hari pertama menjadi sekretaris pria itu, yang tak sengaja dia bentak karena kesal dengan nada dering yang di-setting Risa dengan lagunya teh Rosa.
Niat Rangga menelepon, tak lain menyuruhnya untuk datang ke ruang kerja pria itu. Jangan berani membayangkan bagaimana takutnya Angel saat itu. Disuruh menghadap setelah melakukan kesalahan-meski tak dia sengaja.
Jantung Angel seakan mau melompat, apalagi saat pintu lift terbuka. Si boss sudah menunggunya di depan meja kerja miliknya.
Namun, ketakutannya seolah sia-sia saat masuk ke ruangan si boss. Matanya langsung termanjakan oleh hidangan yang hampir semua adalah kesukaannya. Kecuali, segelas s**u.
Rangga memintanya untuk menemani pria itu makan siang. Dan Angel menerimanya--terpaksa. Atau sedikit berkah, mungkin. Selain mendapat makanan bergizi, lezat dan tentunya ... gratis. Angel mendapat reward sebesar 10 persen dari gajinya setiap kali dirinya menemani si boss makan siang.
Matre, mungkin. Tetapi jika pun Angel menolak dia harus membayar loyalti sebanyak gajinya selama 1 tahun terakhir karena dianggap membangkang.
Hell, boss barunya memang saudaranya Wiro Sableng, keponakan Sinto Gendeng. Tentu saja peraturan yang dibuat Rangga sangat tidak masuk akal. Namun, apalah dirinya, hanya pekerja yang tak punya kuasa.
Dan ini sudah berjalan selama dua minggu. Meski makan makanan lezat dan bergizi--gratsi pula. Namun, lama-lama Angel merasa bosan. Dia sudah rindu makan mie ayam, batagor dan makanan lainnya di kantin. Apalagi rutinitas wajib setelah makan, dia dipaksa minum s**u pertumbuhan tulang oleh bossnya.
Sakit hati, karena dengan terang-terangan boss datar tapi tukang kepo itu selalu menyebut dirinya pendek--walau ... semua itu memang kenyataannya. Juga, s**u adalah minuman yang paling dia benci. Tak tahu kenapa. Apalagi s**u rasa strawberry. Meski buah itu adalah kesukaannya nomor satu, tetapi jika sudah ada kata 's**u' di depannya, Angel mendadak benci.
Dengan gerakan serampangan, Angel membalas pesan Jasmine. [Tega kaliaaan.]
“Miss and love u so much. Diih, e*k kucing,” sungut Angel bergumam.
“Rindu dan cinta sama siapa kamu?”
“Astaga!” Angel terperanjat. Menepuk dadanya yang berdegup keras. Ini orang apa hantu, tiba-tiba muncul tanpa terdengar suara langkahnya.
Angel membungkuk ke balik meja. Memastikan apa kaki pria itu menginjak lantai atau tidak. Siapa tahu kakinya melayang.
Setelah memastikan kaki si boss memang menapaki lantai, Angel segera berdiri dan bertanya, “Ada yang bisa saya bantu, Sir?”
“Kamu rindu dan cinta sama siapa?”
Untuk ke ... entah ribuan kalinya, Angel merutuki kekepoan pria ini. Kenapa sangat ingin tahu banget sih? 'Tahu' juga gak mau sama pria itu.
“Maaf, Sir. Itu urusan pribadi-eh!” Hampir saja terjengkang. Rangga tiba-tiba memajukan wajahnya, dan andai Angel telat satu detik saja mundur ke belakang, sudah pasti wajah mereka bersentuhan.
Deg-deg-deg.
Boss kampr*t. Sangat tidak sopan banget. Jantung gua!! Kaget, astaga.
“Ja-wab atau ....”
“Itu pesan dari Jasmine, Sir,” jawab Angel cepat. Si dodol, selalu saja mengancam.
“Emang saya percaya?”
“Gak rugi buat saya, si—silakan saja anda periksa!”
Angel melotot. Tak bisa dipercaya! Rangga benar-benar mengambil ponsel dari genggamannya. Memeriksa isi chat-nya dengan Jasmine.
Astaga! Angel memalingkan wajahnya saat matanya malah mengagumi wajah Rangga yang tengah memeriksa ponselnya dengan serius. “Mata gua, gak ada akhlak, emang!”
Tunggu! Angel mengingat kembali isi chat-nya dengan Jasmine. Seketika wajahnya menegang saat melihat raut wajah bossnya terlihat keruh.
Grep!
Angel tak sadar berlari ke arah pria itu dan mengambil paksa ponselnya. Matanya langsung memeriksa sudah sampai mana pria itu membaca chattingan-nya. Bisa gawat kalau boss rese itu membaca pesannya yang tengah mengutuk dirinya.
Seketika bibirnya mengembuskan napas lega. Ternyata masih di pesan yang dikirim Jasmine terakhir kalinya yang belum sempat dia balas.
“Kenapa temanmu memanggil kamu 'Beb'?”
Angel mendongak. Menatap Rangga yang duduk di atas ujung meja kerjanya dengan tangan sudah terlipat di d**a, menatapnya dalam.
“Sial! Mata gua emang cabe-cabean. Kenapa malah mengagumi wajah serius itu.”
“Apa memang benar kalau aslinya dia itu si Karmin yang melakukan transgender?” lanjut Rangga semakin terdengar dingin.
Angel menganga tak percaya. Bagaimana bisa lelaki ini berpikir seperti itu?
“Ya, Sir?” tanya Angel ragu. Mungkin pendengarannya yang salah.
“Teman kamu itu, aslinya seorang pria yang bernama Karmin, 'kan?”
“Maaf, Sir. Perkataan anda itu bisa menimbulkan fitnah dan pencemaran nama baik. Teman saya seorang perempuan tulen.”
Rangga mendengus. “Terus bisa jelaskan kepada saya, kenapa temanmu memanggil kamu ‘Beb’? Itu terdengar sangat romantis.”
Demi Upin dan Ipin yang sampai sekarang rambutnya gak tumbuh-tumbuh. Angel ingin menggilas kepala Rangga dengan mobil pengangkut alat berat.
“Sir, itu hanya sebuah panggilan akrab saja.” “Double SH*T. Kenapa juga gua harus repot-repot ngejelasin ke dia?”
Terdengar Rangga mendengus. “Saya benar-benar tak menyukai penggilan itu.”
Sabaaar, ini ujian. Mungkin sikap bossnya tengah dipengaruhi oleh hormon anak yang tengah dikandung istrinya.
“Maaf, Sir. Apa ada tugas yang harus saya kerjakan?”
“Temani saya makan siang!” Seperti biasa, tak bisa dibantah.
“Baik, Sir,” jawab Angel. Entah terdengar atau tidak karena Rangga sudah menghilang di balik pintu ruang kerjanya.
Mengembuskan napasnya beberapa kali, sebelum dirinya masuk. Selalu ada sesak saat dirinya berduaan dengan bossnya. Angel sangat benci dengan namanya perselingkuhan, oleh karena itu dia sangat terbebani dengan tugasnya yang satu ini.
Apa istrinya tahu jika setiap hari suaminya ini selalu makan berdua dengan sekretarisnya? Bagaimana perasaan wanita hamil itu jika tahu?
Bukan hanya menemani makan siang saja, tetapi Angel sudah sedikit terbiasa melayani bossnya. Seperti memasang dasi, merapikan lengan kameja yang biasanya digulung saat akan melakukan meeting, menyiapkan kopi, bahkan merapikan rambut pria itu.
Terlebih, Angel takut, jika suatu hari nanti, ini akan menjadi kebiasaan dan menyebabkan ketergantungan.
.........
Dari tadi, Angel menunduk. Menyesal, karena kemarin dia ngotot ingin makan di kantin. Dia lupa jika bossnya memang gila.
Dia pikir, Rangga gak akan Sudi makan di kantin kantor. Makanya setelah pria itu mengizinkan, Angel senang bukan main. Bahagia karena akan makan siang bareng sahabatnya lagi, Jasmine.
Tapi, kenapa malah begini? Sekarang dia sudah menjadi pusat perhatian hampir seluruh orang kantor. Rangga lebih tepatnya yang berjalan bersisian dengannya.
Kuping Angel sudah merah saking panasnya. Bisik-bisik tetangga itu dengan jelas dia mendengarnya.
Jasmine tersedak minumannya saat tahu jika sahabatnya datang tidak sendirian.
“Se--selamat siang, Sir.” Jasmine sedikit membungkuk.
Tak ada sahutan.
“Silakan duduk, Sir!” Angel menggeser kursi untuk Rangga.
“Apa harus banget kita duduk beramai-ramai dalam satu meja?”
Semua orang yang duduk menunduk bersamaan. Sangat sadar jika itu adalah bentuk pengusiran dari bisa mereka.
“Mohon maaf, Sir. Jika anda ingin makan sendiri, jangan di sini!"
Saat ini, Angel dengan berani melawan tatapan bossnya yang terlihat semakin tajam.
“Njel, tak apa, biar kami mencari meja lagi,” sela Jasmine menengahi. Sangat takut dengan cara pandang bossnya yang seperti tengah mengibarkan bendera perang ke arahnya.
“Semua meja sudah terisi semua. Saya yakin, Sir Rangga tak kalah rendah hatinya dengan sir Bagas yang sangat perhatian dan begitu peduli pada karyawan---“
“Saya duduk. Bisa kamu pesan makanannya sekarang juga?” potong Rangga melotot ke arah Angel. Mungkin harga diri pria itu sudah dicabik sadis olehnya. Masa bodo!
“Baik, Sir. Apa yang ingin anda makan?”
“Kamu pesan apa?”
Angel melirik ke arah teman kantornya tak enak. Mereka pasti sedang penasaran dengan interaksi dirinya dan Rangga.
“Saya akan pesan mie ayam, Sir.”
“Samakan saja dengan kamu.”
“Apa ada yang ingin anda request, mungkin.”
“Tak ada.”
“Baik, Sir. Mohon tunggu sebentar.”
Angel berlalu bersama Jasmine untuk memesan makanannya. Beberapa menit kemudian, mereka berdua kembali ke meja.
“Ini, Sir. Silakan menikmati.” Angel menyodorkan semua keperluan makan bossnya, lalu duduk di depan pria itu.
“Ya, Sir. Apa ada yang saya bantu?” tanya Angel saat bossnya belum juga menyentuh makanannya.
“Kenapa ada sawi di makanan saya? Kamu sengaja ya agar saya gak bisa makan siang.”
“Sabaaar, Angel! Nama lu tu malaikat. Yang artinya berhati bersih dan mulia.”
“Maaf, Sir. Akan saya pesankan lagi.”
“Tak perlu.”
“Atau anda ingin mengganti menunya?” tawar Angel.
Rangga menyodorkan mangkuk mie ayamnya kepada Angel. “Bersihkan sawi itu di makananku. Karena saya orang yang rendah hati dan peduli terhadap karyawannya, kali ini saya maafkan. Lain kali lebih teliti apa-yang-tidak-saya-sukai. Paham?! Bagaimana kamu akan menjadi istri yang baik jika menjadi sekretaris saja belum sempurna.”
Angel menghirup udara sedalam mungkin. Matanya terpejam kuat. Tangannya sudah mengepal di atas meja. Perkataan Rangga sangat kasar.
Apalagi kasak-kusuk itu masih saja terdengar malah semakin membuat telinganya sakit.
Brak!
Byuuuurr!
Suasana kantor mendadak sunyi senyap. Bahkan suara nafas pun tak terdengar. Mata orang-orang di sana hampir keluar saat beberapa detik menyaksikan aksi Angel terhadap boss baru mereka.
Tubuh Rangga mematung. Jasnya basah kunyup oleh kuah mie ayam. Rambutnya dipenuhi mie dan ayam suwir.
Dada Angel masih naik-turun. Brengs**. Berani sekali pria itu menghina kinerjanya di depan banyak orang.
Angel kembali menggebrak meja dengan kuat, sehingga menimbulkan bunyi, 'Brak!’ “Bukankah tadi lu sendiri yang ngotot pingin makanannya disamakan sama gua, hah. Tapi setelah makanan itu jadi, lu malah marah dan maki-maki gua. Jangan mentang-mentang lu paling berkuasa di sini, Brengs*k. Gua cingcang lu sekarang. Sini!” teriak Angel disusul tangannya menumpahkan jus strawberry miliknya tepat ke wajah Rangga.
Jasmine melotot dan memekik tertahan. Syok melihat kemarahan Angel seperti kerasukan.
Gawat!!