Chapter 5

1812 Words
“J--Jel.” Angel tak menghiraukan panggilan Jasmine yang ketakutan, matanya masih menyorot penuh kemarahan pada Rangga yang bergeming dan kaku. “Awww!” Angel melotot galak pada Jasmine, si tersangka yang mencubit lengannya. “Habisnya lu malah bengong. Pak Rangga dari tadi sudah ingin memakanmu.” Angel menoleh, benar saja, pria itu masih menatapnya tajam. Meringis sendiri, merutuk lebih tepatnya. Ternyata dari tadi dia menghayal tengah menganiaya bossnya dengan kuah mie ayam. Diih, andai itu kenyataan. Faktanya, boro-boro numpahin kuah mie ke atas kepala, ditatap tajam sekarang saja, nyali Angel sudah menciut. Entah pergi ke mana keberaniannya saat ini. Padahal sejak dulu dia dijuluki si Ratu Keadilan. Saat dirinya masih sekolah, dia sering dicari oleh temannya yang dibully murid berandalan. Yang berani menindas orang lain, karena mereka gerombolan. Tetapi saat dirinya tengah dianiaya satu orang saja, kenapa dirinya tak bisa berkutik? “Ah, maafkan saya, Sir!” Meski tak rela dan sangat-sangat terpaksa, Angel tetap menuruti perintah Rangga. Memindahkan sawi milik si boss ke dalam mangkuk miliknya. Kenapa dirinya gak tahu bahwa Rangga gak suka sawi? Ya ... di data identitasnya memang gak tertera. Rangga berdeham sekali, dan efeknya begitu kuat. Terlihat jelas para karyawannya, langsung menjingkat dan meneruskan makan yang sempat terjeda karena malah penasaran sama interaksi pria itu dengan sekretarisnya. Menyebalkan. .......... Kriiing! “Iiih.” Angel menggigit pensil sambil menginjak-injak lantai dengan gerakan kasar, kesal-sangat kesal. Ini, entah sudah ke berapa belas kalinya, telepon di atas meja kerjanya itu berdering. Dan dia tahu siapa yang melakukan semua itu. Menghirup dan embuskan napas beberapa kali, sebelum dirinya mengangkat panggilan. “Iya, Sir?” “Ke ruangan saya!” Tut. “Bos gilaaa! Awas saja jika kali ini lu mainin gua lagi. Gua gak segan-segan mengoreng aset lu jadi telor ceplok.” Puas merutuk dan mengeluarkan serapahnya, Angel akhirnya mengetuk pintu. “Masuk!” Setelah masuk, Angel menghampiri pria yang sudah hampir empat minggu ini menjadi bossnya. Manusia pertama yang mampu membuatnya ingin memakan orang. Angel berdiri tepat di depan meja kerja Rangga. Dalam diam, dia memperhatikan pria itu yang tengah serius memeriksa berkas di depannya. Rambut yang sengaja diacak berantakan, lengan kemeja digulung hingga ke siku, kancing atasnya dibiarkan terbuka sampai bisa mengintip sedikit d**a bidang itu. “Sudah puas mengagumi ketampanan saya?" Angel mengerjap. Wajahnya merona karena tertangkap basah sudah memperhatikan bossnya. Eh, tapi kok ada yang mengganjal dari ucapan bossnya tadi. Apa, ya? “Dari 99-100, beri penilaian tentang wajah sempurna saya?” What the hell? Percaya dirinya kambuh lagi. Andai dia berani, mungkin kedua matanya sudah juling karena sering diputarnya. Kepercayaan diri pria ini memang bikin orang mendadak lapar. Lapar ingin makan orang. Ya ... meski tak sepenuhnya salah. Ketampanan pria ini memang tak bisa diragukan lagi, tetapi tetap saja jika PD terlalu tinggi citranya seperti murahan, bukan? “100? Oh, terima kasih, saya juga tahu, kamu mengaguminya.” What? Benar-benar sinting! Angel menatap ngeri ke arah Rangga yang masih serius dengan berkasnya. Ada ya orang yang narsis, tapi raut mukanya lempeng kaya papan bor? Kaku pula macam kanebo kering. “Ada yang bisa saya bantu, Sir?” “Hmmm,” tanggap Rangga masih serius pada berkasnya, “ambilkan kertas yang jatuh di dekat badan saya.” Tuuuh, kan. Memang begajulan ini manusia. Gigi Angel sudah menggeletuk saking kuatnya menggeretak. Sepanjang hari ini, entah sudah ke berapa kalinya si ‘Dewa Yama’ di depannya ini memintanya masuk hanya sekedar menyuruh hal-hal sepele. Menyuruh me-lap meja yang terciprat air padahal tisu terpampang di dekat hidungnya. Meminta minum, membawa buku padahal masih di atas meja kerja pria itu. Dan sekarang ... padahal pria itu hanya perlu berjongkok, tak usah repot-repot memanggilnya. “Apa lu pikir gua gak ada kerjaan, heh? Gua doain sakit pinggang, tahu rasa lu.” “Awww!” Angel terperanjat mendengar Rangga tiba-tiba meringis sambil memegang pinggangnya. “Awww!” raut wajah Rangga semakin terlihat kesakitan. “Anda baik-baik saja? Apa ada yang sakit, Sir?” “Kamu tak bisa membedakan antara mendesah dan mengaduh ya-awww.” Angel mengernyit. Apa maksudnya? “Tentu saja saya sedang kesakitan. Kalau keenakan, saya pasti akan mendesah.” “&#$+@:$-&$&¥€®©£√.” Angel mengepalkan kedua tangannya. Dodol abstrak. Rangga beranjak dari kursinya, tetapi baru saja berdiri, dia kembali mengaduh sambil memegang pinggangnya. Melihat itu, Angel sontak memekik dan melotot. “Astaga. Masa iya doa gue terkabul secara instan? Gawat, kalau dia tahu barusan gua yang sumpahin dia, bisa berabe. Gak, mungkin itu karena-mungkin semalam pria itu habis bertarung---" “Heh, kenapa malah melotot. Awas saja jika pikiranmu berkeliaran tak jelas!” Angel mengerjap kemudian tersenyum canggung. Kenapa pria ini tahu kalau otaknya hampir saja tersesat. “Ini kali pertama pinggang saya sakit. Saya yakin ada seseorang yang menyerapahi saya hari ini.” Uhuk-uhuk-uhuk. Rangga semakin menyipitkan matanya saat melihat Angel yang tiba-tiba terbatuk. Dan itu semakin membuat Angel ketakutan. “Sudahlah, siapapun orang yang menyumpahi saya hari ini, kalau dia perempuan. Semoga menjadi jodoh saya kelak.” “WHAT??” Angel menjerit seketika. Rangga menutupi telinganya. Dan kembali menatap Angel, “Kenapa? Apa memang kamu tahu ada seseorang yang mendoakan buruk terhadap saya?” intimidasi Rangga. Angel menggeleng cepat, tubuhnya sedikit gemetaran. “Bu--bukan begitu maksud saya, Sir. Ba--bagaimana kalau hari ini ada lebih dari 10 perempuan yang menyumpah dan menyerapahi anda. Bukankah itu terdengar mengerikan.” Rangga mendengus sambil berjalan ke arah sofa. Duduk dengan hati-hati. “Kenapa? Apa kamu takut tersaingi?” “Eh?” “Saya yakin, tak ada satupun perempuan yang berani mendoakan keburukan untuk saya, kecuali ....” “Anda jangan main fitnah, Sir!” potong Angel segera. Bibir Rangga terangkat sebelah. Bibir yang biasanya lempeng tanpa lengkungan itu, memang akan sangat menawan jika sudah tersenyum. Walaupun terlihat tengah mengejek dan begitu menyebalkan. “Sudahlah. Ikut aminkan saja agar Tuhan mengabulkan doa saya yang tadi.” What? Off course, big NO!! Kalau dia mengamini, itu sama saja dia mengumpankan dirinya sendiri. “Tolong ambilkan saya salep fun****** di kotak obat.” “Baik, Sir.” Angel berjalan ke arah rak di mana menyimpan persediaan obat-obatan. “Astaga, apa yang anda lakukan?” Angel kembali membalikkan badannya memunggungi Rangga yang sudah bertelanjang d**a. “Kenapa dengan responmu? Apa kamu belum melihat lelaki bertelanjang d**a?” “Ka--kata siapa? Tentu itu bukan hal baru untuk saya.” Angel mengkerut saat terdengar Rangga menggeram. “Melihat di mana, kamu?” “Di iklan-iklan, sama bungkus s**u Elm**,” jawab Angel dalam hati. “Arggh, sudahlah. Sini, kamu. Ngapain di sana terus? Memang waktu saya tak berharga, apa?” Dengan perasaan dongkol, Angel akhirnya menuruti perintah Rangga. Bossnya ini, jika sudah marah-marah, pasti sangat rewel sekali. “Aneh, kenapa mesti marah. Gua Cuma jawab jujur pertanyaannya.” “Ini salepnya, Sir.” Angel menyodorkan salep di tangannya. Jantungnya sudah berdegup tak beraturan. Wajahnya sudah menjadi pink, sebisa mungkin matanya menatap lurus ke samping, agar tidak jelalatan menikmati roti sobek di depannya. “Usapkan ke sini!” Rangga menunjuk bagian yang terasa sakit, “Sekalian pijat pelan-pelan!” What!! Mata Angel melotot sambil menganga. “Double hell. Kenapa mesti gua yang olesin, woyy?” .............. Berkali-kali Angel membasuh wajahnya yang terasa panas. Bahkan tangannya sedikit bergetar. Kejadian barusan benar-benar membuatnya mati kutu. Seumur dirinya menginjak remaja, ini kali pertama tangannya menyentuh kulit privasi orang lain. Apalagi itu seorang pria. “My God, please protect my heart!” Butuh beberapa puluh kali Angel menetralkan detak jantungnya. Gila, ini pengalaman pertama bekerja disertai sport jantung. Bahkan saat perusahaan tengah rebutan tender dengan pesaing lain. Angel menatap lekat kedua tangannya dengan ekspresi susah dijabarkan. Masih terasa gimana liatnya kulit itu. Ototnya yang kekar juga six pack-nya .... Stop!!! Angel memukul kepalanya yang malah terperosok ke lembah hitam. Setelah dirasa cukup, Angel kembali ke meja kerjanya. Waktu istirahat makan siang sudah berjalan 10 menit yang lalu. Sambil menunggu bossnya menyelesaikan pekerjaannya, Angel membuka ponselnya, dan ternyata ada pesan dari Jasmine. [Jel, gua mau maksi bareng si Risa. Lu beneran gak mau ikut?] Angel segera membalas. [Ingin, tapi gua gak berani ambil resiko. Gini amat nasib gua. ?] Pernah satu hari, Angel nekat makan siang di luar-tanpa seizin Rangga. Yang berakhir dia diberi tugas-yang lebih layak disebut hukuman selama tiga hari. Lembur tanpa digaji. Dipotong gajinya-masih untung hanya 30 persen gajiny bulan itu. [Tuhan maha adil, Beb-ups, keceplosan. Hehehe. Tuhan maha adil, Jel. Di saat isi saku lu aman terkendali dengan banyak bonus setelah perut kenyang, tapi di sisi lain lu harus menghadapi tingkah ajaib si boss. Wkwkwkwk. Risa bahkan sangat penasaran dengan boss baru kita, lho. Dia malah berpikir kalau si boss memang ada rasa sama lu.] -Jasmine [Diiih, amit-amit. Gua gak doyan laki orang, ya.] -Angel [Hahahhaha. Ambil berkahnya aja, Jel. Gegara tingkah si boss ke lu. Lu bisa lupain si Gio yang sampai saat ini belum ada kabarnya.] -Jasmine [Benar juga. Astaga, gua jahat gak sih, gak inget sama pacar sendiri.] -Angel [Gaklah. Si Gio aja yang baperan. Kekanakkan. Ya udah gua cabut dulu, ya. Happy lunch with your lovely boss. #Kabooooooooor.] -Jasmine Angel mendengus, tetapi tak ayal bibirnya tersenyum. Dengan gerakan lihai dia kembali membalas pesan Jasmine. [Dodol banget lu. Mulut lu dijaga. Disosor orang, b---] “Kamu?” Angel mendongak saat mendengar suara seseorang di dekatnya. Seketika dia berdiri dengan tubuh tegang. Jantungnya hampir melompat apalagi saat orang itu masih menatapnya lekat. “Se--lamat siang, Mrs,” sapa Angel setengah terbata. Demi apapun, dia takut dan kaget karena kedatangan orang ini. “Kamu, orang yang waktu itu, kan? Sedang apa di sini?” tanya orang di depannya mengintimidasi. “Saya bekerja di sini, Mrs.” Orang--lebih tepatnya wanita itu masih memicingkan matanya. “Jadi waktu itu kamu beneran berniat menggoda mas Rangga?” tuduhnya sadis. Angel menganga tak percaya. Wajah boleh cantik, tetapi mulut rasa patrawali. Pahit sekali. “Kamu bicara dengan sia--pa?” Rangga datang dari ruangannya. Menatap Angel sebentar, kemudian merangkul wanita yang masih berhadapan dengan gadis itu. “Ekhem, Jel. Saya akan makan siang bersamanya. Tolong atur kembali jadwal meeting kita. Setelah makan siang, saya akan mengantarnya ke dokter kandungan.” “Baik, Sir.” “Ayo!” ajak Rangga pada wanita itu. “Iya, Mas.” Mereka berdua pergi. Sesekali wanita yang tengah bergelayut manja di lengan Rangga menoleh kembali ke arah Angel. “Fiuuuh.” Angel memukul dadanya pelan. Sumpah demi apapun, dia tadi sangat ketakutan. Apalagi saat menatap mata wanita itu yang penuh intimidasi. Eh, ketakutan? Kenapa pula dia harus takut? Dia bahkan tidak melakukan kesalahan apa-apa. Tapi, benarkah? Bahkan sekuat apapun dirinya menyangkal. Hatinya tetap merasakan perasaan kesal saat melihat mereka berjalan beriringan. Berangkulan lagi. “NOOO!! Angeli Tania Putri, sadar lu!” Angel menggeleng cepat, sesekali menepuk pipinya. Berharap dia segera sadar. “Aah, mungkin ini efek gua gak ikut maksi bareng si Jassy dan si Risa gegara nungguin boss kup*et yang ternyata sudah janjian sama bininya.” Benar, mungkin itulah alasan yang masuk akal. Tapi, tetap aja very annoying.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD