Rangga menatap Bagas dingin. Pria yang berstatus pamannya itu tiba-tiba datang ke kantor dan menyerahkan surat pengunduran diri atas nama Angel. Tentu saja dia murka detik itu juga. Dengan tegas, dia menolaknya, bahkan akan merobeknya, jika saja, sang paman tidak segera mengambilnya. Rangga mendengus, dan kembali duduk di kursi kebesarannya. “Kenapa harus kamu yang kasih suratnya? Apa dia begitu tidak bertanggungjawab dan merengek meminta perlindunganmu?” Bagas melemparkan satu map ke arah ponakan gak ada akhlaknya itu. Sikapnya yang sombong bahkan pada dia yang notabene adalah pamannya, bahkan usia mereka selisih 10 lebih tua dia dari laki-laki itu. “Jelas karena saya lebih bijaksana dari pada kamu.” Rangga mendelik ke arah pamannya. Namun, Bagas hanya mengendikkan bahunya. “Ini salah

