Chapter 24

1282 Words

Sudah lebih dari satu jam Rangga berdiri di balik pohon mahoni yang ditaman di pinggir jalan. Matanya terus fokus memerhatikan rumah minimalis sederhana yang sangat asri di seberang jalan yang ditempatinya. Ini sudah hari ke tiga dia berbuat seperti itu, setiap pergi dan pulang kuliah. Bahkan dia sengaja bolos, jika ada jadwal pagi, hanya untuk melihat dan mengawasi seorang gadis yang sudah tiga hari ini tidak dapat dia hubungi, dan sudah tiga hari pula izin tidak sekolah karena sakit (maghnya kambuh). Tsk! Memangnya manusia pintar mana yang akan sudi diganggu sama orang yang sudah membuatnya kecewa—bahkan berkali-kali. Dan gadisnya bukanlah orang bodoh. Ingin sekali, rasanya—bagi Rangga, menemani Angel di sana yang tengah sendirian. Namun, rasa malu lebih mendominasi keinginannya. Ten

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD