Sarah membuka amplop itu dengan tangan gemetar. Seketika matanya melotot saat melihat beberapa photo dirinya saat di kafe dekat kantor Rangga. Photo di mana dirinya .... Dari mana Rangga mendapatkan photo-photonya? Siapa yang sebenarnya sudah menguntitnya? “I—ini ....” “Minum es jeruk sebanyak empat gelas, bahkan kamu sangat sadar jika perutmu sedang kosong. Apa-apaan itu, Sar? Kamu benar-benar sengaja melakukan itu semua agar kamu sakit dan aku yang disalahkan, begitu?” Wajah Sarah memucat seketika. Dia mendongak dan langsung menelan ludah dengan susah payah. Sorot mata Rangga benar-benar sangat menakutkan. “Bu—bukan itu ma—maksudku, K—Kak. A—Aku, a—aku, ....” Sarah tiba-tiba menangkupkan wajahnya dalam telapak tangannya. Tubuhnya sudah bergetar dan suara isakan seketika terdengar. “

