"Benci itu jangan berlebihan. Kalau kau jatuh cinta padaku lagi, bagaimana?"
"Amit-amit! Buat apa jatuh cinta sama suami orang, aku bukan pelakor ya!" Tekan Kinanti kesal.
Sadewo menggelengkan kepala berkali-kali dengan cepat. Yang sejujurnya ia sangat merindukan wanita di depannya ini.
"Hah, lucu sekali wanita egois bekerja di rumahku." Tekan Sadewo.
Kinanti terdiam. "Memang kenapa asal halal dan tak mencuri."
Sadewo tertawa. "Bilang saja kau ingin bertemu denganku."
"Terserah."
"Kau tahu mungkin inilah yang dinamakan jodoh, kau dan aku kita berdua bertemu kembali. Dan kau ke sini sendiri tanpa aku mencarimu. Bukankah itu suatu kebetulan."
Kinanti kesal memilih diam dan tak melihatnya. Kinanti melangkah berjalan mendekati Letta. Kata-kata Sadewo tanpa sengaja menyakiti hatinya. Menyedihkan bukan?
Sadewo kesal, menatap Kinanti yang tak menghiraukannya, Kinanti yang dulu selalu menjadi bintang kelas. Prestasinya tak dapat diragukan lagi. Dan itu yang membuat Sadewo terpesona dengannya karena itu. Menjadi sepasang kekasih dan dinikahkan secara siri selama dua tahun dan kandas karena Kinanti memilih pergi karena pertengkaran hebat, tanpa alasan oleh satu hal. Sejak saat itu berakhir pula hubungan mereka.
Sejak putus. Sadewo pindah ke kota ke rumah orang tuanya dan menghindarinya. Sadewo cukup tahu alasannya bahwa ia lebih mencintai Hariz ketimbang dirinya. Tapi, kini ia disini sedang duduk di depan Sadewo dan menjadi suster Letta keponakannya. Setelah sepuluh tahun tak bertemu. Kinanti, tampak berbeda sekali Kinanti tampak lebih dewasa dan memesona.
"Sayang aku pulang." Haruka berlari ke arah Sadewo.
Kinanti menoleh untung saja dirinya sudah menjauh dari Sadewo, bisa-bisa perang dunia ke dua jika tahu suaminya berduaan dengan Kinanti.
Sadewo sedikit melirik ke arah Kinanti. "Hei."
"Kau rindu padaku?" tanya Haruka manja.
Sadewo terdiam menatap Kinanti.
Haruka memeluk suaminya erat. "Hei aku rindu, Mas."
Sejenak Kinanti hanya terpaku sembari melihat dua orang di bangku itu. Dua orang yang tampak terlalu mesra karena memang mereka pasangan suami istri bukan. Mendadak tubuh Kinanti kaku, merasa menemukan satu asumsi yang mengerikan saat menatap wanita itu.
Jika Kinanti tetap di sini itu jadi kesalahan fatal karena Kinanti telah mengganggu sepasang suami istri yang tengah bercum--bu mesra
"Non Letta, mandi yuk sudah sore ini, Mbak ajari mengaji mau?'' bujuk Kinanti.
"Mengaji?"
"Hu um."
Letta tersenyum. "Mbak Kinanti yang ajarain?"
Kinanti mengelus rambut Letta. "Iya dong."
"Ok deh."
Kinanti dan Letta berjalan ke arah rumah dan bersiap-siap mengajaknya mandi selesai mengajari Letta mengaji.
Senyum Ayuning terbit sembari mengelus d**a. Entahlah Ayuning merasa senang, seperti memenangkan hadiah atau semacamnya. Karena mendengar Letta ikut mengaji bersama Kinanti, biasanya Ayuning susah sekali kalau meminta anaknya untuk mengaji.
Kinanti tersenyum melihat kegugupan gadis di hadapannya. Benar-benar pemalu dan masih polos. Membuat Kinanti semakin gemas.
"Bisa kan, besok kita mengaji lagi ya."
Kinanti sembari mengelus punggung anak asuhnya itu."
Letta melirik ke arah Kinanti sekilas, kemudian kembali menunduk.
"Iya, Mbak Kinan."
Kinanti mengangguk, dan menjelaskan membawa al fatihah yang baik dan benar pada Letta. Setelah itu, Kinanti terus melanjutkan obrolan-obrolan kecil membuat Letta menjadi nyaman dan suka.
Beberapa menit berlalu. Setelah dirasa cukup, Kinanti izin pamit mau mandi dan beres-beres.
***
Ayuning menatap Bu Astuti senang, ia tersenyum saat melihat Letta putrinya banyak perubahan.
"Bu. Aku heran deh kenapa Letta jadi mau mengaji ya."
"Masa sih."
"Iya diajarin sama, Kinanti. Bu."
"Bagus lah. Jadi gak repot-repot kita sama si Letta."
Sadewo dan Haruka yang sedang bercanda menoleh ke arah dua orang wanita yang sedang asik mengobrol soal Kinanti.
"Kinan, siapa, Bu?" tanya Haruka curiga.
"Pengasuh, Letta yang baru."
"Oh."
"Nanti, Ibu juga mau diajarin, deh."
Ayuning tersenyum karena baru kali ini Letta bisa sedekat itu dengan pengasuhnya.
"Siapa sih, Mas Dia?" tanya Haruka.
Sementara Sadewo hanya mengedikkan bahu, enggan menjawab. Belum saatnya dia menceritakan perihal Kinanti. Yang pastinya Haruka juga sangat mengenali sekali Kinanti.
Haruka merasa sebal karena diabaikan dari tadi yang dibahas cuma pengasuh itu saja.
***
Seharusnya Kinanti memutuskan pergi dari sini. Tinggal di rumah itu hanya menambah luka. Namun anaknya butuh banyak biaya untuk sekolah, sudah berapa kali Kinanti menunggak karena ulah Kakaknya yang banyak hutang jadi Kinanti yang harus membayarnya.
"Kinan."
"Ya, Mak."
"Makan dulu yuk."
"Nanti saja, Mak."
"Hemm kamu ini. Sudah, Mak ambilkan ya."
Kinanti menggeleng. "Tidak usah, Mak."
"Kalau kamu sakit, Mak yang repot juga, Nak."
Mak Tini keluar kamar menyuruh Dini membawakan makanan untuk Kinanti. Karena tadi Letta minta makan di kamar jadi Kinanti agak lega tak harus bertemu dengan nenek sihir Haruka. Selesai makan Kinanti menjalankan Salat Isya selesai ia tidur karena pagi-pagi sudah janjian mau mengajak Letta jalan-jalan.
***
Pagi hari selesai Salat Subuh Kinanti berjalan ke kamar Letta dengan masuk menaiki lift besi itu. Menuju kamar Letta membangunkan dan mengajaknya jalan-jalan di taman dekat rumah tentunya atas ijin Pak Wijaya dan juga Ibu Astuti juga Ayuning.
"Pagi, Non. Wah sudah siap?'' tanya Kinanti senang.
"Sudah dong, Mbak."
"Oke kita jalan."
"Hu um."
Mereka berdua berjalan menikmati mentari pagi, kebetulan hari minggu jadi Letta libur sekolah. Mereka melangkah melewati trotoar di sebelah kiri jalan menuju taman kota. Suara kicau burung terdengar merdu di pepohonan rindang pinggir jalan. Angin pagi, membuai mereka dengan perasaannya masing-masing.
Tangan Kinanti dengan erat mengandeng Letta, hingga tak mereka sadari sudah sampai di taman kota dekat rumah.
"Kita sudah sampai, Non."
Kinanti mengangguk pelan, lalu melepaskan jabatan tangannya.
"Terima kasih sudah mengajak jalan-jalan, Mbak," ucapnya sambil tersenyum
"Sama-sama."
Mereka duduk di taman kota, seraya menikmati lalu lalang sepeda juga anak-anak muda sepak bola, ada yang bermain bola basket juga freestyle. Hari minggu suasana taman jadi ramai karena anak-anak muda bermain.
"Mau sarapan?''
Letta menggeleng. "Nanti dimarahin, Eyang."
Kinanti mengerjitkan dahi. "Ok baiklah."
Kinanti tersenyum, ia lupa jika Letta keluarga kaya raya yang mungkin saja tak pantas makan di pinggir jalan. Kinanti bangkit dan membeli air mineral untuknya.
"Minumlah."
Letta tersenyum dan mengangguk.
Selesai menikmati, suasana indah di pagi hari mereka kembali pulang dan berjalan lagi beriringan melewati trotoar sebelah kiri jalan. Berjalan di bawah pepohonan lagi, suara burung bersautan berkicau membuat pagi itu begitu cerah secerah hati Kinanti.
Sementara Sadewo malas bangun, rasanya Sadewo baru terlelap sebentar saja. Sekarang sang istri sudah menggoyang tubuhnya berkali-kali. Pria itu menggeliat sambil melihat ke arah jam dinding. Pukul setengah delapan pagi. Kenapa masih jam segitu ia dibangunkan? Padahal saat ini hari weekend.
"Mas, bangun. Ayo, bersiap!" teriak Haruka.
"Ya," jawab Sadewo masih tengkurap.
"Aku tunggu di bawah! Kita sarapan."
"Hmm."
Sepuluh menit setelah kepergian istrinya, Sadewo baru bangkit dari pembaringan dan melangkah ke arah kamar mandi. Kemudian memakai kaos warna putih yang di ambilnya dari walk in closet. Sadewo meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Banyak pesan masuk yang dikirimkan oleh Haruka. Ia sudah tak sabar menunggunya.
Sadewo berjalan ke arah balkon kamarnya dengan kedua tangan dimasukkan dalam kantong celana, kedua netranya menangkap Kinanti sedang berjalan bersama Letta tertawa berdua sepagi itu. Membuat Sadewo memanas.
***
Kinanti yang baru saja selesai mandi setelah pulang jalan-jalan, badannya terasa enakan. Apalagi secangkir teh hangat sudah disiapkan oleh Mbak Dini. Saat Kinanti duduk menemani
Letta bermain di gazebo, ia melihat jika Haruka dan Sadewo sedang bersama. Ya setelah drama wanita itu akhirnya bisa mendapatkan Sadewo dengan mudahnya.
Haruka terlihat lebih menggoda. Dengan pakaian seksi setiap harinya membuat Sadewo begitu manja dengannya seolah tak pernah menganggap jika Kinanti ada. Kinanti tertawa apalah arti dirinya itu.
"Nih, minum kopinya, Mas!" kata perempuan itu mendekati Sadewo.
Sadewo mengambil kopinya. "Makasih."
"Sama-sama,sayang."
Haruka semakin merayu Sadewo saat tak sengaja Sadewo melihat Kinanti sedang dibangku taman bersama Letta. Dan saat itu Haruka semakin mengencangkan suaranya, ia lebih agresif lagi menggoda suaminya.
"Eh, eh! Ngapain ini?" tanya Sadewo kaget Haruka langsung duduk dipangkuannya.
"Lho, kok ngapain? kan aku rindu, Mas. Lama aku seminar kan," ucap Haruka sok polos sembari tangan masih melanjutkan aksinya berger--ilya.
"Haruka! Geli, tahu."
"Terus? Terus!" Goda Haruka.
Hati Kinanti merasa sakit, ia sedikit menarik napasnya, apakah Sadewo sedang memanas-manasinya tadi. Sakit, jangan di tanya bagaimana perasaan Kinanti pastinya sakit luar biasa.
''Ya Allah, apapun itu berikan aku jalan yang terbaik untukku." Bisiknya dalam hati.
***
Sore hari, Kinanti membantu Mak Tini karena Letta pergi bersama Mamanya.
"Mak."
Wanita paruh baya itu tersenyum. "Kenapa Kinan?"
"Mak ada obat sakit kepala tidak?" tanya Kiananti.
"Ada, Kinan. Kamu makan dulu nanti Mak carikan."
Kinanti tersenyum. "Baiklah, Mak."
Selesai makan malam, Mak Tini membawakan obat penurun demam. Kinanti lalu meminumnya dengan pisang
Selesai ia mencoba untuk berbaring, Kinanti bersyukur ada Mak Tini dan Dini yang begitu baik. Defenisi sakit tak berdarah. Ya itulah yang dirasakan Kinanti saat ini, seperti simalakama itulah dirinya saat ini. Apapun itu ia harus bertahan untuk masa depan anaknya dikampung.
Kinanti merebahkan tubuhnya dalam ranjang, ia mulai memejam berharap jika semua kedepannya akan baik-baik saja. Kinanti merasa sebentar saja tertidur sudah terdengar suara ketukan pintu membuat Kinanti bangkit dengan kepala sedikit berat ia tertatih menuju pintu, membuka handle pintu seraya menjawab ucapan salam yang terdengar dibalik pintu.
Tampak seseorang berdiri dihadapan Kinanti. Kinanti terpaku. Berbagai rasa dan tanya berkecamuk dalam hati. Tentang apa dan mengapa Sadewo mengetuk pintu malam-malam begini? Kinanti terkejut menatap ke arah Sadewo tanpa kedip.
Hening menyelimuti mereka.
Kinanti agak takut ia sedikit menunduk. "Ada yang bisa saya bantu, Den?" tanya Kinanti mencairkan suasana.
Hening, Kinanti masih menatap wajahnya sementara Sadewo menatap ke arah dalam kamar.
"Aku kelaparan di dapur tak ada makanan." Jelasnya seraya sebelah kanan tangannya memegang rambutnya.
Kinanti berdecak malas. "Itu bukan tugas saya, Den."
Sadewo tersenyum mengejek. "Tugas. Hah sama saja, Mak Tini, Mbak Dini dan Mbak Sari sudah tidur, cepatlah."
Lagi-pagi Kinanti berdecak malas. Dibuat jengkel oleh ulah Sadewo. "Astaga, apa maksudnya ini?" tanya Kinanti bingung.
Sadewo memaksa. "Cepat aku lapar."
"Aku yang masak?" tanya Kinanti menunjuk ke arah dirinya sendiri.
"Siapa lagi?"
Belum sempat Kinanti menjawab Sadewo menarik tangan Kinanti menuju dapur membuat Kinanti ketakutan. Ada apa dengan lelaki itu malam-malam gak jelas kelakuannya.
"Cepat masak. Aku tunggu di sini."
"Masak apa?" tanyanya ragu.
"Apa saja lah."
Kinanti berjalan ke arah meja makan. Memang tak ada makanan, ia berjalan lagi melihat masih ada nasi dalam penghangat.
Kinanti sangat kesal. Jika boleh kinanti meminta agar waktu berhenti saja biar Kinanti tak diganggu oleh Sadewo, supaya ia tidak mengalami dan menghadapi lagi hari atau waktu yang mencekam dan menakutkan seperti itu.
Kinanti memotong sayuran, sosis dan ayam, ia mulai memasak nasi goreng. Dengan cepat nasi goleng lengkap dengan sayuran sosis dan telur mata sapi sudah siap di depan Sadewo. Sementara Sadewo terus menatap Kinanti tanpa henti.
"Silahkan, Den. Karena sudah selesai saya permisi." Pamit Kinanti.
Kinanti berjalan pergi.
"Berhenti. Siapa bilang kamu boleh pergi, temani saya makan sampai habis."
Kinanti berdecak malas. "Apalagi, Den? Saya ngantuk?"
"Duduklah."
Dengan malas Kinanti duduk menemani Sadewo makan, hingga separuh piring masih tersisa. ''Doyan apa lapar?" Bisik Kinanti dalam hati.
"Kamu makan habiskan aku tunggu. Cepat lah." Sadewo menyodorkan piring sisa makanannya tadi.
"Tap*i?" Kinanti bicara terbata.
"Sudah kamu terlalu kurus, makanlah."
Kinanti mendengus kesal dan menuruti semua perintah majikannya itu. Lalu melahap makanan itu sampai habis. Hingga tak tersisa. Kedua netra Kinanti menagkap jika ada sesuatu di dalam diri Sadewo, sikapnya yang acuh dan cuek membuat Sadewo terlihat seperti ruang labirin penuh liku dan misteri.
Sadewo tersenyum penuh arti menatap lekat ke arah perempuan di depannya, rindu yang dulu sempat tertunda kini bertaut kembali, Sadewo sadar namun rindu ini tak bisa bertepi, karna diantara mereka berdua ada rasa yang harus dijaga yaitu Haruka.