Sadewo menggeleng pelan, berusaha agar semua ini tidak hanya sebuah mimpi belaka, Sadewo kemudian menarik napas pelan. Sadewo lantas kembali berusaha mengingat potongan kejadian di dalam masa lalunya, tapi semua terasa begitu samar. Hanya wajah Kinanti saja yang tampak begitu jelas, yang kerap singgah di dalam ingatannya
Ah, bukankah itu hanyalah masa lalu? Jadi mungkin saja semua itu hanya sebuah kebetulan, bukan? Tak mungkin juga Kinanti bekerja di sini. Bisik Sadewo dalam hati seraya memejamkan matanya. Saat ia membuka matanya tetap sama wanita itu yang sangat ia rindukan selama ini satu rumah dengannya.
"Haruka kemana lama tidak pulang?"
"Bukankah dia menantu kesayangan, Ibu." Sindir Sadewo.
"Sadewo." Tekan Pak Wijaya.
Sadewo menghela napas berat. "Ada seminar ke luar kota, Bu."
"Lama sekali, hampir satu minggu lo, Dewo."
Sadewo merasa kesal. "Entahlah, Bu."
Bagaimana diantara dirinya dan Haruka ada ikatan pernikahan meskipun pernikahan mereka belom juga dikaruniai seorang buah hati.
Tubuhnya bergetar, ia sangat tahu jika istrinya ini begitu egois. Sadewo pikir ia bisa merasakan kebahagiaan setelah menikah. Nyatanya pernikahan yang tak ada muaranya sama sekali. Sadewo tak bisa membebaskan diri dan membiarkan dirinya kembali terkungkung dalam kebahagiaan semu. Sesaat ponselnya bergetar.
Haruka: Mas, besok aku akan pulang.
Sadewo: Ya.
Haruka: Mau aku belikan apa?
Sadewo: Gak usah.
Haruka: Baiklah, love you.
Sadewo tersenyum kecut.
Takdir sudah mempertemukan mereka kembali. Mungkin akan mempersulit hidupnya lagi, kenapa bisa dia bertemu dengannya lagi. Astaga itu sungguh membuat Sadewo begitu down. Sadewo pamit dan menekan tombol lift begitu berbuka ia langsung menuju ke kamarnya.
Ia telah sampai di depan pintu yang terukir sangat indah berbahan kayu jati, terkesan klasik namun terlihat wah sangat elegan, pintu dengan ukuran 190 x 80 cm itu terlihat begitu kokoh. Sadewo masuk dengan hati yang entah antara sedih dan senang. Sedih bertemu dengan Kinanti, karena gadis itu yang dulu menghianatinya. Dan senang karena kerinduan selama ini bisa terobati.
Sadewo menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang, menatap langit-langit kamar yang bercat abu-abu seperti hatinya kini yang merasa resah. Bayangan wajah Kinanti yang ayu membuat Sadewo tak bisa memejamkan mata. Ia hanya bergulir ke kanan ke kiri memeluk guling namun kedua netranya tak kunjung terpejam. Ia bangkit berjalan ke arah balkon dengan memasukkan kedua tangan ke saku celana, karena udara sangat dingin tak membuatnya kembali masuk kamar.
Sadewo hanya termenung bagaimana hari-harinya akan di hiasai wajah Kinanti dalam rumahnya itu.
***
Kinanti memegangi d**anya yang sesak ia seperti telah berjalan ratusan kilometer, saat bertemu lagi dengan Sadewo setelah puluhan purnama.
"Astaga bukankah itu Mas Dewo?'" Bisik Kinanti dalam hati.
Badan Kinanti hampir terjatuh saat melihat lelaki yang duduk tepat di depannya tadi, sementara ingatan Kinanti tertarik jauh ke masa lalu. Kinanti pikir sepuluh tahun adalah waktu yang cukup untuk melupakan sosoknya. Ternyata, Kinanti salah, setelah ia sembunyi di kota lain justru saat ini ia bertemu dengan mantan suaminya itu di rumah besar tempat ia bekerja.
Senyum Sadewo merekah. Wajah yang selama ini menghilang kini ronanya kembali lagi setelah puluhan purnama tak bertemu. Wajah yang sangat tampan hanya berbeda ada beberapa kumis tipis halus yang mengiasi wajahnya saat ini. Kinanti menelan ludah. Laki-laki itu sungguh masih sama memukau bahkan sejak terakhir kali saat mereka bertemu dulu.
Lamunan Kinanti buyar saat suara Mak Tini terdengar.
"Kinan kamu kenapa?" tanya Mak Tini terbata saat melihat Kinanti memucat.
Kinanti hanya terdiam mereka saling tatap, tak mampu untuk berucap.
"Kinan gak enak badan Mak mungkin kecapean karena perjalanan jauh."
Tubuh Kinanti menggigil tanpa sebab, ia ingin berlari namun, kakinya seolah tak bisa ia gerakkan. Kinanti melangkah mundur dua langkah.
"Baiklah, istirahat sana."
"Nggeh, Mak."
Mak Tini mengantarkan Kinanti ke kamar lalu Kinanti berbaring di kamar miliknya.
"Istrahat saja besok waktumu bekerja, Kinan, aku suruh Dini buatkan kamu teh hangat ya."
Kinanti menngangguk mengiyakan. "Nggeh, Mak."
Dia pria yang berhasil membuat jantung Kinanti hampir melompat saat berdekatan.
Ternyata, setelah mereka berpisah, rasa itu masih sama. Ia tidak bisa membencinya, apalagi melupakannya. Rasa itu sudah mengakar kuat hingga lapisan hati terdalam. Bahkan bayangan wajahnya selalu hadir bahkan sampai saat ini.
Bagaimanapun pedihnya luka yang pernah ditorehkannya dulu, kenangan yang penuh luka itu ada, kembali hadir. Dengan cepatnya rasa itu muncul menembus batas pertahanan yang Kinanti bangun selama ini untuk menghindar dan melupakannya. Wajah tampan itu masih sama, Sadewo terlihat tampak lebih dewasa. Dan kata Mak Tini Dia sudah menikah, Kinanti menangis dengan rasa kecewanya.
''Ya Allah kenapa harus dirumahnya. Apa lagi rencana-Mu ya Robb.'' bisik Kinanti serak.
***
Pagi hari Kinanti menjalankan rutinitas Salat Subuh, pintunya terdengar di ketuk. Dengan pelan ia melipat mukena dan bangkit lalu membukakan pintu.
"Pakai seragammu ini, mandikan dan suapi, Non Letta. Ya" Mak Tini membawakan seragam untuk Kinanti.
"Nggeh, Mak."
Kinanti memakai seragam baru pemberian Mak Tini lalu memakainya dan bergegas ke kamar milik Letta. Mak Tini mengantar Kinanti ke lantai dua dimana kamar Letta disana. Mereka berdua masuki lift dan menekan tombol ke lantai dua.
"Mak sudah kayak mall saja ya rumahnya?" tanya Kinanti heran, biasanya yang memakai lift mall besar.
"Hu um. Kamu benar, Kinan."
"Pantas saja, Mak Ti betah di sini bertahun-tahun."
"Ya begitulah, sebenarnya, Nyonya juga baik asal kita nurut."
Kinanti mengangguk. "Nggeh, Mak."
"Kamu juga nanti lama-lama bakalan betah di sini."
"Semoga saja, Mak."
Mereka telah sampai di kamar milik Letta, Kinanti ikut masuk dan Mak Tini memperkenalkan Kinanti pada Letta.
"Pagi, Non. Ini Mbak Kinanti mulai hari ini ia yang akan menemanimu ya."
Letta hanya mengangguk.
"Baiklah, Mak keluar dulu ya.''
"Nggeh, Mak."
Kinanti tersenyum mentap Letta.
"Pagi, Non. Saya Kinan, semoga nyaman dan suka sama saya."
Letta mengangguk. "Saya, Letta. Mbak. "
Kinanti sedikit lega anak kecil itu mau menyapanya dan bersikap penurut.
Kinanti lalu mengurus anak itu memandikan juga menyiapkan pakaian sekolah untuknya.
"Non Letta mau sarapan, yuk ke bawah." Ajak Kinanti.
Letta tersenyum memperlihatkan gigi putihnya. "Iya, Mbak."
Kinanti dan Letta ke bawah menuju ke arah meja makan. Semua sudah menunggu dan Kinanti menarik kursi untuk tempat duduk Letta. Ia ikut duduk di kursi sebelah Letta lalu menyuapinya dengan telaten.
"Kinanti, bagaimana bisa atasi, Letta? Apa kamu merasa kesulitan?" tanya Bu Astuti.
Kinanti mengangguk. "Alhamdulillah. Bisa, Nyonya."
"Syukurlah."
Dari jarak sedekat itu bisa tercium oleh penciuman Kinanti aroma tubuh Sadewo, masih sama seperti dulu. Jantung Kinanti berdebar hebat, keringat menetes di punggung juga kening.
"Maaf, saya harus berangkat, Bu." Sadewo bersuara setelah tersadar dan beberapa kali mengerjapkan mata.
Sadewo kesal terlebih ketika ia mendapati Kinanti tampak baik-baik saja dan tersenyum tanpa dirinya. Senyuman khas wanita yang mampu membuat Sadewo selama ini dimabuk asmara.
"Iya, hati-hati sayang."
Sadewo mengangguk. "Iya, Bu."
Melihat keanehan yang saat ini ditampakkan Sadewo, ada rasa tak nyaman yang kemudian mulai menyambangi d**a Kinanti. Mereka berdua saling terdiam saling memandang dengan pikiran berkecamuk. Debaran itu terasa jauh lebih kuat. Kinanti berusaha tenang sambil mengatur napas. Begitupun dengan Sadewo.
"Om bareng dong." Pinta Letta.
"Om buru-buru, Letta."
Letta cemberut. "Yah."
"Dewo, ayolah kasihan nanti, Letta ngabek lo."
"Ya,ya baiklah."
"Asyik, tapi. Mbak Kinan ikut kan antar?"
Kinan menunduk. Jemarinya meremas ujung baju yang ia pakai.
"Ehm, boleh. Kinanti kamu antar Letta ya."
"Nggeh, Nyonya."
***
Mobil Sadewo meninggalkan rumah mewah itu. Sementara Letta mengomel pada Sadewo. Kinanti meremas ujung tangannya dengan telunjuk dan ibu jari yang sedikit bergetar. Wajahnya menunduk, seakan kehilangan keberanian untuk menatap ke depan.
Setelah sampai sekolah mengantarkan Letta, Sadewo menyuruh Kinanti turun.
"Keluar."
"Maaf," ucap Kinan dengan remasan jemari yang semakin kuat.
"Silahkan keluar."
"Tapi."
"Turun." Bentak Sadewo.
Kinanti bingung. "Saya gak tahu jalanan di sini, Den."
Sadewo tersenyum sinis. "Keluar."
Kinanti pun menuruti ikut keluar mobil dengan perasaan takut.
Sekilas Sadewo menoleh kebelakang melihat wanitanya berlalu pergi, jantungnya naik turun, sebenarnya ia tak tega namun ia sangat tidak menyangka jika bertemu lagi dengannya dan telah menyakiti perasaannya.
Kinanti bingung dia tak tahu harus kemana, sedangakan Sadewo meninggalkan Kinanti sendirian. Bahkan ia tak membawa uang. Juga lupa dimana alamat rumah besar itu. Kinanti berjalan ke arah sekolah tempat Letta belajar dan menunggu Letta di bangku dekat taman sekolah. Badannya agak panas pikiran-pikiran tentang masa lalunya kembali hadir, berkecamuk menghantuinya. Ia takut jika Sadewo akan membuatnya terluka lagi.
Saat itu Kinanti sadar sebelum pernikahan mereka. Sadewo mungkin terikat janji, dengan seorang perempuan yang tidak dapat ia tinggalkan. Karena mereka saat itu hanya di nikahkan nikah siri secara paksa, bahkan Kinanti sudah menjauh dan bersembunyi untuk tidak bisa lagi bertemu dengan Sadewo, namun entah seolah cerita mereka belum usai hingga dipertemukan lagi.
Satu jam dua jam hingga suara Mak Tini terdengar oleh Kinanti.
"Kinanti."
"Mak Ti." Kinanti menangis memeluk Mak Tini.
"Kenapa tak pulang?''
"Aku lupa bawa uang, juga gak tahu alamat rumahnya, Mak."
Mak Tini menggelengkan kepala. "Astaga. Den Sadewo meninggalkan mu?"
Kinanti mengaangguk pelan. "Iya."
"Astaqfirullah. Sudah ayo pulang."
Kinanti masih sesegukan menangis. "Ya, Mak."
***
Sore hari Kinanti menatap senja di ujung langit. Antara senja dan dirinya kini terbentang jarak yang begitu jauh terhalang pepohonan rindang juga banguan tinggi yang menjulang. Di langit berwarna jingga itu membuat Kinanti terpaku menatap keindahan yang terlihat hanya sebentar saja. Seolah senja menemani perjalanannya selama ini.
Kinanti menatap lekat kedua netra Letta yang sedang bermain di taman.
"Bisa pulang juga?'' tanya Sadewo yang tiba-tiba, duduk di depan Kinanti.
"Kenapa tidak!" Kinanti berkata lirih.
Hening
Kinanti tersenyum getir ia benci lelaki yang telah mengusirnya tadi pagi, itu sungguh menyakitkan dari apapun.
"Aku pikir kau akan menghilang."
Kinanti terdiam. "Hah. Gak lucu."
Sadewo mentap Kinanti sinis. "Kau menguntitku sampai ke sini? sampai-sampai tak mau kehilangan jejakku?'' tanyanya curiga.
Kinanti merasa kesal. "Buat apa menguntitmu kurang kerjaan apa?"
Sadewo kembali mengembusan napas kasar. Entah sudah berapa kali sejak mereka duduk berdua berhadapan seperti itu.
"Apa Hariz tak mencukupi segala kebutuhanmu, hingga kau bekerja sebagai pembantu?" Tekan Sadewo.
Kinanti terdiam.
"Kenapa benar kan apa kataku?" tanya Sadewo lagi penasaran.
"Bukan urusan, Anda. Den Dewo."
Sadewo tersenyum sinis. "Hah, kau tak bahagia kan?''
Kinanti terdiam.
"Apa kau ke sini masih mengharapkanku dan akan mengganggu rumah tanggaku?"
Kinanti tersenyum dan berdiri. "Jika aku mengaharapkanmu itu bisa aku lakulan dari dulu."
Sadewo terdiam.
"Aku ingat. Jika kamu hanya rindu dengan, Haruka mu itu saja kan. Jadi nikmatilah aku tak akan menggangu rumah tanggamu yang bahagia itu." Ejek Kinanti pelan.
Perkataan Kinanti itu sukses membuat Sadewo seperti terdorong kembali pada jurang penyesalan.