Waktu terus berjalan, sebanyak apa pun hati menolak masa tetap berganti. Hari-hari yang dilalui dengan kekosongan perlahan harus terisi. Tidak baik jika harus menetap pada satu keadaan yang tak menguntungkan. Kadang kala kesedihan menyerap semangat dan menggantinya dengan kekecewaan. Air mata kembali harus menjadi saksi bisu bagaimana perihnya luka tak kasat mata bersarang. Tidak adil ketika hati berkata ingin, tetapi keadaan memaksa untuk meninggalkan. Tidak mudah jalan yang harus dilalui seorang Permata. Dikhianati orang terdekat, diberi ujian sebagai seorang wanita tak sempurna, menjadi tolak ukur baginya guna menjalani rumah tangga. Dengan siapa pun ia bersama, Permata belum memikirkannya, sebab tidak ingin mengecewakan sang pasangan. Sekarang ia hanya fokus pada diri sendiri dan

