Tenggat Waktu

1773 Words
Bel berbunyi. Liam menghentikan tarikannya pada jaket. Benaknya menerka-nerka. Mungkinkah itu Justine lagi atau orang suruhannya. Akan tetapi dia enggan berprasangka, langsung saja pergi untuk membuka pintu. Benar. Bukan Justine, tapi Jessi. Sama saja. Keduanya adalah biang masalah untuknya. "Apa?" Liam tidak mau beranjak dari posisinya atau melebarkan pintu untuk mempersilahkan Jessie masuk. Perempuan itu bukan tamu baginya. Jadi dia enggan menerima. "Wah wah, kau sungguh sombong ya." Jessi tersenyum miring. Berkacak pinggang dengan angkuhnya. Liam sungguh benci ekspresi semacam itu. Secara langsung membuat dia memberikan nilai nol pada kelebihan fisik Jessi yang indah. "Aku tidak merasa mengatakan sesuatu yang berkesan sombong. Mungkin telinga atau matamu yang salah." Jessi melompat, menendang d**a Liam sebelum pria itu sadar. Bruk. Ia terjatuh. Menjerit langsung akan kakinya yang berdenyut sakit. Kali ini Liam tidak terkejut. Dia sudah paham bahwa dirinya memang tidak normal. Hal lainya adalah ia enggan berwelas kasih. Toh Jessi yang memulai. "Sialan!" umpat Jessi tidak terima. Ia kemudian bangkit. Terseok-seok, tapi tidak mau berhenti. Ia melayangkan tinju. Liam tidak merespon. Namun tetap saja Jessi merasa tulang-tulangnya bertubrukan dengan benda sangat keras. "Argh tanganku!" Jessi mengibaskan tangan. Tetap saja ada yang terasa salah di dalam sana. Awalnya dia masih merasa percaya diri untuk bertahan, tapi selang beberapa menit dia kian merasa sakit yang sungguh luar biasa. Itu benar-benar di luar toleransi tubuhnya. Melihat itu Liam pun melebarkan pintu. Ia menarik kembali tekadnya untuk tidak berwelas kasih. Biar bagaimanapun Jessi adalah seorang perempuan. Sama seperti adik-adiknya. Jadi dia tidak bisa mencegah perasaan iba saat membayangkan kedua adiknya berada posisi tersebut. "Masuklah." Sorotnya penuh kebencian. Liam tidak mempermasalahkannya. Malah mau mengejeknya sebab meski begitu dia tetap masuk juga. Tidak tahu malu bukan? Liam tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk mengurangi kesakitan Jessi. Dia hanya memberikannya kubik es batu dan segelas air mineral. "Apa kau tidak punya hal ini? Ini sangat sakit, sialan!" "Apa kau pernah mendapatkan pendidikan?" Liam tetap duduk di sofa. Tidak mau menuruti perkataan Jessi. Lagipula apa tidak bisa meminta dengan cara halus. Dia di sini sebagai orang yang membutuhkan pertolongan loh. "Sopan santunmu nol besar. Aku pikir bahkan anak kecil bisa lebih baik daripadamu." "Ya, aku tidak pernah mendapatkan pendidikan. Kenapa?" sentak Jessi. Kendali emosi yang rendah sekali. Liam langsung mencoretnya dari daftar orang yang kemungkinan akan dia ajak berteman. Dahinya berkerut halus karenanya. Tadi jelas-jelas dia telah mengkategorikan Jessi selaku biang masalah. Tapi kenapa dia memikirkannya berkemungkinan menjadi temannya? "Mungkin dia tidak seburuk ini," batin Liam. "Justine memintaku untuk menyampaikan bahwa waktumu tinggal dua hari lagi," sungut Jessi sembari mulai menekan betisnya dengan kubik es. Itu hanya memberi sensasi dingin. Tidak mengurangi sama sekali rasa sakit di tulangnya. "Apa bosmu itu mengalami gangguan telinga?" "Kau tahu?" Liam menerima lagi sorot mata Jessi yang menyebalkan. Harus dia akui bahwa itu sungguh menyulut rasa kesal. "Orang-orang sepertimu ini membuat aku ingin muntah. Sungguh." Alis Liam berkerut. Tidak dapat mengerti alasan dirinya dijadikan seseorang yang membuat Jessi ingin muntah. "Kalian berlagak tidak mau bergabung. Blah blah dan sok tidak menginginkan kemampuan ini. Tapi apa? Kalian menikmati kemudahan dari kemampuan tersebut. Cih menjijikkan." Liam mengangkat tangan kanannya—menginterupsi. "Maaf, aku bukan tidak menerima kemampuan ini. Seperti katamu. Ini benar-benar membuat aku mudah melakukan pekerjaan. Tapi bergabung dengan apa itu? Hidden army? Pasukan tersembunyi, begitukan? Apa untungnya? Dan maaf saja, aku sudah puas dengan kehidupanku yang sekarang." "Ya, kau memang puas. Apa begitu juga dengan adikmu?" Urat-urat wajahnya mengendur. Benaknya melakukan yang sama. Melepas apa yang baru saja ia katakan, memikirkan lagi kelanjutannya. "Hidden army memberikan banyak keuntungan untukmu. Jadi sebaiknya kau terima saja ajakan Justine. Lagipula mau atau tidak kau tetap telah menjadi bagian HA. Lebih baik sekarang kamu mengajukan kontraknya. Kamu bisa meminta berapa ratus dollar tiap bulannya untuk masuk ke akun adik-adikmu itu." Hidden army membayar anggotanya. Justine juga mengatakan yang sama. Jika dia bergabung, maka kebutuhannya akan ditanggung. Menggiurkan, tapi setiap imbalan tidak mungkin tanpa usaha. Karena yang ditawarkan terdengar lumayan, Liam yakin usahanya pun lumayan. "Apa sebenarnya hidden army itu?" "Maaf, aku tidak bisa memberitahu sebelum kau resmi menjadi anggotanya." Jessi kali ini menekan es batu ke punggung tangannya. Sesekali ia melakukanya bergantian dengan betisnya. Itu masih sakit hingga ia berpikir untuk menghajar Liam. Sayang ia telah kapok. Tidak tahu besok setelah kaki dan tangannya baik-baik saja. "Matamu coklat, tapi kenapa kau lebih kuat." Satu lagi informasi untuk Liam. Warna mata berperan penting dalam pelambangan kemampuan. Jessi hanya hijau dan telah tergolong kuat. Coklat pula menurut Justine lemah, jadi apa ungu berada di atasnya? Bagaimana dengan merah? Dan apa yang terjadi jika dia memiliki warna-warna tersebut? Apa dia akan memiliki peran penting dalam hidden army? "Satu pertanyaan lagi." Liam meluruskan punggungnya. Tidak melepas sorot mata dari wajah Jessi yang kentara benar tengah menahan sakit. "Apa hidden army berbahaya?" "Apa memangnya yang tidak berbahaya dalam hidup ini?" tanya Jessi balik. "Semuanya memiliki resiko. Itu cukup sering menuju bahaya. Untuk bahagia kau harus mati-matian menutupi perasaan sedih dan pikiran negatif di benakmu. Terkadang tanpa sadar kau malah menyinggung orang lain untuk mendapatkannya. Lalu kala tak cukup mampu, otakmu menjadi bermasalah. Emosimu terganggu dan kau menjadi gila. Untuk menjadi sejahtera kau harus bekerja keras. Tidak jarang juga memijak orang yang lebih lemah untuk sebuah posisi pekerjaan. Jangan lupakan juga tubuhmu yang dipaksa bergerak terus-menerus hingga lelah. Pada suatu ketika bisa saja kau mendapati dirimu mengidap penyakit keras karenanya." "Kau benar, hidup ini penuh bahaya. Namun sepertinya itu lebih relevan untukmu." Jessi melemparkan es batu ke wajah Liam. Secara sigap Liam menangkapnya. "Ingat. Dua hari." Jessi melangkah pergi dengan sedikit tertunduk untuk menekan kakinya. Liam memutar leher. Menonton saja kepergian Jessi. Kenapa gusar? Liam tidak merasa mengatakan sesuatu yang salah. Apa yang Jessi katakan terlalu banyak pendapat subjektifnya. Jadi wajar dia mengatakan itu hanya relevan untuk Jessi, bukan untuknya. Bagi Liam alih-alih bahaya, hidup adalah perjalanan yang tidak pernah berkesudahan. Itu pula selalu mengarungi hal yang sama, lembah kesedihan, puncak kebahagiaan, samudera cobaan dan gurun ketidakpastian. "Liam.." Lehernya berputar cepat. Annie sudah menutup pintu di belakangnya. Liam langsung bangkit. Melihat jauh melewati jendela kaca di samping pintu. Gorden putih menutupinya, tapi dia bisa melihat siluet tubuh Jessi yang menjauh. "Aku kebetulan lewat." Anna tersenyum kikuk. Di benaknya sudah ada ragam pertanyaan terkait perempuan yang tadi ia temui. Dia adalah yang kemarin Liam katakan bukan siapa-siapa. Lalu kenapa bisa berkunjung ke rumahnya? Meski aneka pertanyaan tersebut sudah berteriak-teriak. Annie menahan bibirnya tetap terkatup rapat. Dia dan Liam tidak punya hubungan khusus. Jadi hal semacam tadi kurang pantas untuk ditanyakan secara langsung. "Kau tidak bekerja?" Liam mengeluarkan ponselnya. Memperhatikan bahwa jam di sana sudah hampir menunjukkan pukul tujuh. Dia tidak akan terlambat sebab memiliki kemampuan khususnya. Akan tetapi itu bisa dijadikan alasan. "Aku mengambil libur." "Kedengarannya menyenangkan. Ah aku harus pergi." Liam meninggalkan Annie. Memakai jaketnya, masker dan juga topi. Annie masih berdiri kala dia kembali. Tampak sangat gelisah hingga sepatutnya terus diketuk-ketuk ke lantai. "Aku benar-benar harus pergi. Ini sudah terlambat." "O-oke." Annie berjalan lebih dulu. Memutar tubuhnya kemudian saat hampir ke luar dari pintu. "Apa malam ini kamu bebas?" "An," tegur Liam. "Apa kamu lupa akan apa yang aku katakan?" Annie menggulung sorot matanya. "Maaf," cicitnya. Liam tidak biasa diperlakukan begini. Dia selalu dimengerti oleh Annie sebelumnya. Itulah yang membuatnya suka kepada Annie. Dia pengertian, namun kenapa kali ini tidak? Padahal yang Liam perintahkan juga demi Annie. Dia tidak mau Annie ikut terlibat. Parahnya mungkin dijadikan salah satu kelemahannya selain Gene dan Ava. Dia menghela nafas saja. Bergerak kemudian hingga Annie pun terpaksa turut melakukan yang sama. Ia mengunci pintu. Setelahnya berlari kecil meninggalkan halaman. ** "Aku dengar Kak Annie tadi pagi berkunjung." Gene menggulung spaghetti-nya. Tidak melepas sama sekali fokusnya dari sang kakak yang telah melahap makanannya sendiri. Akan tetapi tidak ada ekspresi menikmati. Kakaknya lebih terlihat terpaksa memasukkan makanan tersebut ke mulutnya "Apa terjadi sesuatu?" "Gene, apa kamu tahu bahwa kalimat seperti itu terdengar menyebalkan di telinga?" Terpaksa Liam memberi sorot dingin. Tidak tahan akan kalimat Gene yang malah membuat dia bertanya pada dirinya sendiri tentang keadaannya. "Well, aku hanya ingin tahu." "Tidak semua hal perlu dan pantas kamu ketahui, Gene. Kamu bukan Tuhan." "Kakak kenapa jadi sensitif begini? Aku kan hanya bertanya." "Dan kakak hanya menjawab," balas Liam tak mau kalah. "Maaf saja. Mungkin ini yang membuat kamu ditinggalkan oleh Brian. Kamu tidak pandai memahami. Hanya selalu ingin tahu saja. Padahal itu demi kebaikan siapa? Benar, keduanya. Tapi kamulah yang mendapatkan hasil terbesarnya. Itu menjadi tidak adil kan?" Liam meraih gelasnya. Meneguk air di dalamnya hingga setengah, lalu menggeser kursi. "Lupakan itu. Kakak hanya sedang emosi." Ia beranjak pergi. Begitu lebih baik daripada dia semakin mengatakan yang tidak-tidak pada Gene hanya demi memuaskan emosinya. Dia sungguh tidak mau hubungannya dan Gene berakhir buruk esok pagi. ** Liam tidak beranjak. Masih berdiri tegap. Sorot matanya lurus pada gerbang kediaman keluarga Jhonson. Gila. Begitulah menurutnya. Dia dan Annie tidak memiliki hubungan apa-apa dalam hal romantis. Jadi kenapa dia harus repot-repot datang untuk menjelaskan? Meski begitu Liam kalah oleh keresahan hatinya. Dia mau segera membicarakannya agar Annie merasa lega. "Ada yang bisa kami bantu, Tuan?" Penjaga kediaman tersebut membuka gerbang. Liam menelan ludahnya. Membulatkan tekadnya untuk tetap menjelaskan pada Annie segalanya. Paling utama adalah ucapan kasarnya tadi pagi. "Saya ingin bertemu dengan Annie, Nona Annie," ralatnya. "Apa anda sudah membuat janji?" "Belum." "Baik silahkan tunggu. Saya akan memberitahu pada nona lebih dulu." Liam menurut. Menunggu di luar gerbang. Sesekali ia menghela nafas. Entahlah. Segalanya terasa begitu rumit. Mungkin dia sungguh terpicu akan tenggat waktu yang diberikan oleh Jessi, juga akan kemungkinan dia tidak bisa melawan. "Maaf, Tuan." Penjaga gerbang mendekatinya. "Nona Annie sedang sibuk." "Katakan padanya bahwa saya datang untuk hal penting terkait kejadian tadi pagi. Tapi sudahlah. Tidak apa-apa." Penjaga gerbang kembali pada posnya. Liam masih memperhatikan lantai tiga kediaman Jhonson. Tepat yang menghadap padanya adalah kamar Annie. Jadi dia berharap untuk melihat sosoknya meski hanya bayangan gelap. Tin Klakson tinggi membuat dia menyingkir. Matanya memperhatikan saksama sosok di balik mobil cantik tersebut. Orangtua Annie yang kaya raya dan angkuh. Itulah isinya. Mau tidak mau dia teringat akan perlakuan orangtua Annie padanya. Dia kala itu belum melamar Annie atau bahkan sekedar berhubungan secara romantis. Mereka hanya berteman, tapi kedua orangtua Annie telah mendorongnya mundur. Ekonominya yang buruk menjadi indikator pertamanya untuk tidak bersanding dengan Annie. Itu lalu disusul oleh nama keluarganya yang rendah dan berakhir dengan wajahnya. Katanya dia kurang tinggi dan putih. Gaya pakaiannya pun tidak ketinggalan untuk dikritik. Liam memperhatikan buket mawar di tangannya. Tertawa miris akan dirinya sendiri. "Mungkin kami memang tidak bisa bersama." Ia mengangguk kecil. Melempar kemudian buket tersebut ke dalam tempat sampah. Setelahnya ia memasukkan tangan ke dalam saku jaket. Berjalan menyusuri jalan dengan penerangan remang-remang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD