Bagian Hidden Army

1507 Words
Sebelumnya Liam hanya berencana bekerja di tempat Celine dua minggu saja. Namun kini dia merasa telah cocok dengan pekerjaan tersebut. Terlebih Brex juga baik padanya. Ia jadi merasa telah menemukan tempat yang "Kakak, aku pergi." Dia masih di kamarnya. Memakai kaosnya untuk berangkat kerja. "Hati-hati," serunya. "Siap, Kak." Liam bergerak ke tepi jendela. Memperhatikan Gene yang masuk ke dalam mobil. Pandangan Gene tidak sengaja mengarah padanya, jadi dia melambai. Gene pun membalasnya dengan senyum tipis. Setelah mobil Gene pergi Liam menutup gorden dan memakai jaketnya. Tidak lupa topi dan juga masker. Ia hanya membukanya saat berada di toko. Itupun kembali dipasang ketika dia bertemu pelanggan. Sesekali Celine memintanya menjaga kasir. Dia tidak keberatan, meski sebenarnya kurang suka menjadi atensi orang-orang. Pernah Celine bertanya akan alasannya memakai masker, tapi dia hanya mengatakan bahwa dirinya alergi debu dan polusi. Brex sebagai pria tampak tidak percaya. Namun dia tidak pernah sekalipun bertanya. Inilah yang Liam suka. Brex tahu caranya bertoleransi. Bel depan terdengar, tanda seseorang datang ke rumahnya. Liam memeras otak dibuatnya. Siapa di pagi-pagi buta ini yang berkunjung? Tidak mungkin Alex karena dia dapat masuk begitu saja sebab pintu tidak terkunci. Tetangganya lebih tidak mungkin lagi. Liam tidak akrab dengan mereka. Jadi tidak ada alasan dari mereka untuk mengunjunginya. Perasaan dalam d**a itu biasa saja, tapi berubah menjadi degupan aneh seiring langkahnya yang kian sampai di pintu. Liam jadi berpikir akan situasi buruk. Namun dia tidak tahu akan apa sebenarnya itu. "Ada yang bisa saya bantu?" Punggungnya menegang. Angin dingin mendadak menyerang sekujur tubuhnya. Pria itu berdiri mantap. Mengintimidasi dengan sorot tajamnya. Liam tersedot kembali ke dalam ingatan malam itu. ** Justine mengangkat cangkirnya. Menghirup sesaat aroma teh yang berada di dalamnya. Secara pelan ia lalu mulai menyeduh. Akhirnya. Dia menemukan Liam. Mendapatkan pula informasinya secara dalam. Kini hanya tinggal waktunya membujuk atau mungkin malah memaksa sebab dari yang ia lihat ada permusuhan di balik netra coklat tersebut. "Melihat reaksimu tadi aku kira kau telah mengetahui bahwa apa yang kau miliki sekarang adalah kesalahan. Benar kan?" Justine tersenyum puas akan wajah pias Liam. Ia meletakkan hati-hati cangkirnya ke meja dan melepas senyumnya. "Liam Hander, aku melihat semua informasimu bersih. Tapi ada begitu banyak yang ditutupi di bawahnya. Apa kau salah satu mata-mata?" "Tidak," sergah Liam cepat. Ogah benar dia disalahkan akan apa yang tidak ia lakukan. "Aku bukan mata-mata." "Bagaimana aku bisa mempercayainya?" "Itu bukan urusanku." Liam akhirnya kesal. Tatapan Justine terlampau menyalahinya. Padahal jelas dia yang lalu karena tidak bisa membedakan anggota barunya dan bukan. "Kemampuanmu hanya mengangkat peti-peti buruk itu. Jadi jangan menantangku atau kau akan mati." Dari perkataan Jessi mata Liam berubah hijau, tapi kini yang Justine lihat hanyalah coklat saja. Itu berarti kemampuan Liam sangat jauh dari kata unggul. Dia malah masuk ke golongan lemah. "Siapa yang menantangmu?" Justine melipat tangannya. Teringat kembali akan perintah Gidon. Dia harus membawa Liam masuk terlepas dari kemampuannya bagus atau tidak. Informasi mereka harus diamankan. Itu hanya bisa dilakukan jika mereka memegang Liam. "Kami adalah hidden army. Kau tidak perlu tahu sekarang akan visi misinya. Cukup tahu saja bahwa apa yang mengalir dalam tubuhmu sekarang telah mengikatmu untuk menjadi bagian hidden army." "Aku harus bergabung dengan kalian," potong Liam. "Begitu?" "Tepat sekali. Kau harus bergabung." "Ini semua kesalahanmu. Apa kau sadar itu?" "Aku sadar, tapi ini bukan lagi tentang masalahnya. Tenang saja. Segala kebutuhanmu akan ditanggung semua." "Aku tidak mau meninggalkan duniaku ini. Jika kalian menganggap aku sebagai ancaman, maka kalian ambil saja ini kembali. Satu lagi.." Matanya menajam. Mengancam perbuatan Justine selanjutnya. Memberitahu juga bahwa dia tidak akan tinggal diam seandainya Justine memaksa. "Aku bukan pria yang suka menyebarkan apa yang aku tahu." Liam benci dirinya dicap demikian. Sebagai laki-laki tentu ia merasa harga dirinya terluka. "Tiga hari," kata Justine. Mengabaikan bahwa Liam sudah mengatakan jelas untuk tidak ikut. "Kau bisa mengemas segalanya untuk pindah." "Apa kau tuli?" Awalnya Justine tidak mau menggunakan kekerasan. Akan tetapi sorot mata Liam terlampau memicu emosinya. Apalagi nada suaranya turut mengancam. Ia seolah dianggap lemah dalam hal ini. Yang mana jelas sesuatu yang tidak disukai oleh Justine. Tangannya mengetuk meja. Itu langsung retak, jatuh dan menimbulkan suara debaman yang kuat. Tidak hanya itu, suara tersebut turut memancing emosi Liam. Ia bangkit, menarik kerah Justine kuat. Enak saja sembarangan merusak properti rumahnya. Apa di pikir Liam akan mengalah? Tentu saja tidak. Ini teritorinya. Justine seharusnya memberi penghormatan. "Kau menantang eh?" Justine mencengangkan tangan Liam. Menekan semua kekuatannya di sana untuk meremukkannya. Akan tetapi berat tangan itu luar biasa. "Ini kesalahanmu. Jangan menjadikan aku yang bersalah." Liam melemparnya. Tubuh Justine jatuh jatuh menghantam lantai. Ia tersenyum miring seraya berdiri. Menepuk-nepuk noda yang menempel di jaket kulitnya. "Kau merasa kuat rupanya." Justine berlari. Dalam sekejap ia telah berada di belakang tubuh Liam. Segera ia mengangkat tinju, bersiap memukul. "Argh." Tubuhnya merosot. Ia memegangi telapak tangannya. Itu sangat-sangat sakit. Tulang-tulangnya terasa bergeser. Mengenai syaraf-syaraf tertentu dan membuatnya berakhir tegang. Liam tidak punya lagi perasaan simpati. Justine sudah kelewatan dalam memperlakukannya. Jadi ia menyeretnya. Melempar ke luar pintu. "Ingat baik-baik perkataanku tadi," katanya. Liam sungguh tidak akan mau menuruti kemauan Justine. Apa yang ada di tubuhnya sekarang adalah kesalahan Justine, jadi dia tidak mau ditarik ke dalam hidden army atas kesalahan yang tidak dia perbuat tersebut. Dan seperti kata Gene, kemampuan yang ia miliki ini memang takdirnya. Jadi dia akan menerimanya. Namun juga tidak menolak seandainya Justine hendak mengambilnya. Itu benar-benar tidak masalah kalau memang bisa ditukar untuk kehidupan normalnya. Liam menjatuhkan tubuh ke sofa. Menghela kasar untuk emosinya yang berhasil terpicu. Padahal masih pagi. Harusnya dia masih tenang. Untuk beberapa menit dia memilih diam. Memejamkan erat matanya seraya melupakan apa yang baru terjadi. Ketika ia mendapat pencerahan. Ia bangkit, membersihkan bekas patahan meja ke gudang. Kalau Gene bertanya ia bilang saja bahwa meja kayu tersebut sudah tua. "Come on, Liam. Semangat." Dia memberikan dirinya sendiri afirmasi untuk semangat. Mengusap kasar kemudian wajahnya. "Oke, ayo mulai hari ini." Dia mengangguk mantap. Menurunkan topinya dan keluar dari pintu. Setelah terkunci rapat, ia pun berjalan menyusuri aspal. ** "Kak, mau mie tidak?" teriak Gene dari dapur. Liam membuka matanya. Sejak makan malam ia langsung memutuskan untuk berbaring. Memikirkan apa yang terjadi sepanjang hari tadi. Khususnya tentang Justine. Liam yakin dia akan mengusiknya lagi. "Kakak!" "Mau." Sebenarnya tidak. Akan tetapi menolak dengan kondisi ekspresi seperti itu malah akan membuat Gene curiga bahwa dirinya tengah dalam masalah. Ya sudahlah, berpura-pura saja. Liam mendudukkan tubuh. Berpikir akan nasib Gene setelah ini. Justine bilang telah mengetahui informasinya. Itu berarti juga tentang Gene. Sekarang ada kemungkinan Gene dijadikan alat untuk membuatnya patuh. Masih lumayan jika begitu. Tapi bagaimana jika Gene turut mendapat perlakuan tidak baik. "Kak." Pintunya diketuk keras. Ah Gene memang tidak pernah lembut. Ia beranjak. Menarik knop pintu. Gene susah payah masuk dengan membawa dua cup mie, dua botol air dingin, serta beberapa snack. "Apa Alex datang kemari?" "Tidak." "Jadi dari mana asalnya snack tersebut?" "Aku membelinya tadi sebelum pulang." "Ah begitu rupanya." Liam manggut-manggut saja. Turut kemudian duduk di bawah jendela. Gene telah membukanya. Alhasil similar angin dingin memasuki ruangan. "Bagaimana dengan mobilnya?" "Sangat nyaman." "Tentu saja. Itu seharga seribu lima ratus dollar. Kamu beruntung mendapatkannya." Maksud lain dari kalimat Liam adalah Gene beruntung sebab Brian mau membayar untuknya. Yang mana bisa saja menjadikan dia begitu spesial untuk Brian. "Karena Brian membayar sebagian?" Gene tertawa karenanya. "Kak, itu bukan pertama kali baginya membayar untuk perempuan." Gene mengibaskan tangan. Bermaksud mengusir pendapat apapun di kepala kakaknya yang mendukung Brian. "Oh dia benar-benar jenis badboy?" Liam mengambil cup mie-nya. Melepas penutupnya agar dingin.. "Begitulah." Gene menyeruput mie-nya. Liam masih menonton. Belum mendapati keinginan untuk memakan miliknya sendiri. Ia terpikir lagi untuk menitipkan Gene pada Annie. Tapi apa gunanya? Justine sudah tahu. Jika itu dilakukan ia malah menambah keterlibatan orang lain, yakni Annie. Sudahlah yang benarnya selesaikan sendiri. "Kakak sepertinya banyak pikiran." "Tidak." Liam menggeleng untuk menambah kebenaran. Mulai menyeruput mie-nya kemudian yang telah dingin. Rasanya beruntung belum berubah. Masih lezat, terlebih oleh sayuran yang ditambahkan oleh Gene. "Aku memang belum sedewasa kakak. Akan tetapi aku bisa menjadi pendengar yang baik." "Nanti ya. Kakak masih ingin memikirkannya sendiri." Itu lebih baik daripada Liam berbohong. Gene malah berkemungkinan merajuk seperti kemarin pula. "Oke." Gene mau belajar mengerti seperti yang Alex sarankan. Itu memang berat, bertentangan pula dengan dirinya yang mudah paham sesuatu yang tidak benar. Akan tetapi dia mau berusaha. Ini demi hubungan baik dengan kakaknya. "Tadi aku bertemu Kak Annie di supermarket." " Oh ya? Apa yang dia lakukan?" "Membeli beberapa bahan makanan. Sepertinya dia mau memasak banyak." "Mungkin dia kedatangan tamu." Tamu? Suara di kepalanya mengulangi itu. Jika Annie turut berpartisipasi, maka bisa jadi itu orang terdekat dengannya juga. "Kasihan tahu. Dia sepertinya sangat merindukan kakak." Dia tersedak oleh kuah mienya. Menepuk-nepuk d**a kemudian. Gene lalu mengulurkan air. Secepatnya ia meneguk hingga lehernya terasa lega. "Kakak sih gak jelas," sungut Gene setelahnya. "Masa Kak Annie tidak boleh datang kemari. Kalaupun ada masalah kan kakak dapat menyelesaikannya baik-baik." "Sudah ya. Kamu makan saja. Nanti biar kakak bicarakan pada Kak Annie." Akan tetapi setelahnya Liam tidak menghubungi Annie. Ia terlampau sibuk memikirkan prihal hari besok.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD