Sudah dua minggu berlalu. Tidak ada tanda-tanda kedatangan Jessi atau orang asing lainnya. Liam mulai berpikir bahwa dia dapat bergerak bebas. Kesimpulan lainya pula ia kira mereka telah melupakannya.
"Ayo keluar."
Gene menyipitkan mata. Kebiasaan setiap otaknya enggan percaya atau menerima apa yang tersampaikan padanya.
"Kakak sudah mengumpulkan cukup uang. Kamu bisa membeli mobil."
"Hanya dalam dua minggu? Kakak tidak mungkin mampu mendapatkan uang sebanyak itu."
"Gene, gaji kakak sekarang sudah lumayan. Kakak juga sesekali membantu pemilik toko perhiasan di pasar. Itu menambah pemasukan."
"Bukankah kakak bilang ingin pindah? Kalau begitu simpan saja uangnya untuk membeli rumah."
"Pindah rumah ya?"
Dia terpikir kembali. Meskipun tidak ada tanda-tanda dirinya menjadi sasaran Jessi lagi, tapi tempat ini memang telah terbilang tidak aman untuknya.
"Mungkin setelah kamu lulus saja."
Liam khawatir Gene sulit beradaptasi di tempat baru. Terutama dalam hal pergaulan. Tiap daerah tentu berbeda. Gene sendiri terlihat lebih nyaman di sini. Dia mengerti setiap seluk beluk pergaulan yang ada di sekitarnya.
"Aku tidak masalah untuk pindah. Sekolahku saat ini juga sudah sangat membosankan."
Gene menyandarkan kepalanya di lengan Liam. Tidak berhenti menggerakkan tangannya di atas layar. Ia tengah bermain game.
Liam menarik tangan kirinya. Mengelus lembut surai Gene. Meski terkadang keras kepala, tapi adiknya ini punya rasa perhatian dan kasih sayang yang tinggi. Ia semakin merasa perlu memberikan yang sama.
"Lebih baik setelah kamu lulus saja. Lagipula ini sudah hampir musim ulangan kan?"
"Kakak benar, tapi aku tetap tidak masalah jika pindah. Kecuali kalau kakak melakukannya untuk menghindari seseorang. Aku tidak akan mau ikut."
Gene tidak suka Liam lari dari masalah. Karena dia percaya itu hanya membuat masalah kakaknya tidak pernah selesai. Terus menerus menghantui kehidupannya.
"Iya iya. Sekarang ayo. Kita beli mobilnya. Bulan depan kakak masih punya kesempatan untuk menabung lagi. Jadi kamu tidak perlu khawatir."
"Aku masih bisa berangkat dengan Alex."
"Ayolah, Gene. Kakak sudah bertekad untuk membelikanmu mobil. Terima ya?"
"Lebih baik kakak membelinya untuk kakak sendiri. Tempat kerja kakak sekarang jauh kan? Jelas kakak lebih membutuhkannya."
Liam berdiri. Menarik paksa lengan Gene. "Pokoknya ayo."
"Kak!"
"Gene?"
Lembut suaranya beradu bersama penekanan. Gene mau tidak mau mendesah berat. Dalam kepalanya pula mulai menyusun indikator pemilihan mobil. Yang mana salah satunya jelas harus berharga murah.
Pada malam hari pasar Setson telah sepi. Namun toko-toko masih terbuka dengan banyak lalu-lalang pembeli.
"Ada toko mobil bekas di sana."
Gene menunjuk pada gang kecil di samping toko ponsel. Liam merangkul Gene. Mencegah adiknya tersebut bersentuhan dengan orang lain.
"Kamu pernah ke sini ya?" tebak Liam. Jika tidak bagaimana bisa Gene tahu ada toko mobil di tempat itu kan?
"Oh come on, Kak. Ini pasar Setson. Siapa yang tidak tahu apa saja ada di dalam sini."
"Kamu jarang ke pasar."
"Bukan berarti aku tidak tahu."
Perdebatan kecil tersebut berakhir kala cahaya lampu putih menerangi mereka. Toko mobil bekas tersebut pun berdiri kokoh. Memiliki plang nama The Car Clinic yang diterangi oleh lampu LED warna ungu.
"Hai, Gene."
Seorang cowok berambut coklat dengan tindik di telinganya itu menyapa. Liam langsung fokus pada tubuh anak itu yang tidak tertutupi oleh kaos. Ada beberapa tato yang menunjukkan keliarannya. Jadi dia bertanya-tanya kenapa Gene bisa mengenalnya.
"Hai."
Sapaan Gene seperti biasa. Datar, tapi kali ini terdengar akrab.
"Kau mau mencari mobil?"
"Ya, aku mau mencari mobil. Harga di bawah seribu dollar, tapi cukup berkualitas. Apa ada?"
"Apa yang tidak ada di tempat ini?"
Ia menggeser tubuhnya. "Ayo masuk biar aku tunjukkan."
Gene melangkah, masih dalam rangkulan Liam.
"Temanmu?"
"Tidak juga, tapi ya. Aku mengenalnya. Dia baik kepadaku." Gene mendorong wajah ke dekat Liam. Pria itu merendahkan kepala agar sedikit sejajar dengan wajah Gene. "Tapi benar, dia memang seliar penampilannya kepada orang lain."
"Jadi dia menganggapmu spesial?"
Gene menarik tubuhnya. "Entahlah."
"Gene?"
Cowok tinggi itu bangkit dari bumper mobil. Mengelap sudut bibirnya yang tekena air soda dengan punggung tangan.
"Jill!"
Seruan Gene telah membuat Jill mendekat.
"Di mana mobilnya?"
"Di sana."
Liam memperhatikan saksama anak laki-laki yang dihindari oleh adiknya tersebut.
Dia memang memiliki profil badboy. Rambut acak-acakan dicat putih. Pada bagian bawahnya terdapat sedikit warna hitam. Lalu ada tato di lengan kirinya. Sorot matanya pun setajam Gene. Namun yang Liam tangkap saat mata itu menatap Gene adalah kelembutan dan sedikit sendu seolah memilki rasa bersalah akan sesuatu.
"Apa kau Brian?"
Nama itu terlintas begitu saja di benaknya, tapi dia punya insting yang kuat bahwa itu adalah kebenarannya.
"Kau kakak Gene?"
Pertanyaan balik dengan sorot angkuh tersebut membuat dia yakin bahwa cowok tersebut memang tidak selembut tatapannya kepada Gene. Atau mungkin Gene adalah pengecualian dari keangkuhannya.
"Ya, aku kakaknya. Apa ada masalah dengan itu?"
"Tidak ada."
Brian meninggalkan kaleng sodanya di bumper mobil. Menepuk bahu Jill sebelum melampauinya untuk sampai di depan Gene.
Liam menonton saja. Berpikir bahwa Gene butuh waktu untuk bersama bocah-bocah itu.
"Kau mau mencari mobil? Aku punya rekomendasi bagus."
Kalimat tersebut terdengar jernih di telinganya. Liam menjadi tenang untuk duduk di bumper. Seandainya mereka macam-macam dia akan tahu.
"Apa aku bertanya padamu?"
Gene berjalan menjauh. Mengamati beberapa mobil dengan warna-warna cerah. Bisa Liam lihat ekspresinya menjadi sangat kesal. Kentara benar bahwa dia memiliki masalah dengan Brian.
"Itu."
Brian mengarahkan dagu Gene pada sebuah mobil bewarna ungu tua.
Seperti yang Liam kira. Gene tidak pernah ramah. Ia melayangkan pukulan ke lengan Liam. Hasilnya terdengar kuat di telinga. "Jangan sentuh aku, sialan!"
Brian malah tertawa kecil. Kini Liam yakin bahwa cowok itu sedikit gila akan Gene.
"Warna ungu tua. Kesukaanmu. Desainnya juga sederhana. Lagi, kesukaanmu. Benar kan?"
"Enam ratus dollar."
Liam tertawa akan tawaran yang dibuat oleh Gene. Meski desainnya seserahan, tapi yang Brian tunjuk adalah mobil ferarri. Sekalipun bekas harganya pasti di atas seribu dollar. Gene memang pandai melawan musuhnya.
"Tujuh ratus lima puluh dollar." Brian memajukan wajah. Menyampirkan surai Gene ke belakang telinganya. "Setidaknya aku tidak rugi banyak."
"Enam ratus dollar atau tidak sama sekali?"
Liam menahan tawanya. Wajah putihnya memerah padam. Salahkan Gene yang terlampau gila. Bisa-bisanya dia mengancam begitu seolah dialah bosnya.
"Oke."
Brian menggerakkan tangannya. Memanggil Jill untuk bergabung.
"Berikan dia kuncinya."
"Kau gila, Bri. Itu masih sangat bagus. Setidaknya harus di atas seribu lima ratus dollar." Jill menoleh pada Gene. "Kau juga, Gene. Apa tidak bisa lebih masuk akal? Kami di sini bekerja untuk mencari keuntungan. Bukan tempat memberi simpati pada orang-orang kekurangan seperti kamu."
"Sudahlah, aku akan membayar sisanya."
Brian memberikan kartunya. Jill pun membungkam mulut. Yang terpenting toko tidak rugi. Itu saja. Kalau Brian sendiri mah dia tidak peduli.
Liam sudah turun. Hampir beranjak saat matanya mendapati Gene memberikan sejumlah uang pada Brian. Astaga anak itu. Bahkan dia punya uang sendiri.
"Ini."
Brian mengerutkan alis. Memandangi bergantian Gene dan Liam. Keduanya sama-sama mengulurkan uang.
"Ini sudah cukup, Kak."
Gene menyingkirkan tangan Liam. Memaksa Brian kemudian untuk menerima uangnya saja.
"Mobil yang kamu pilih bagus. Apa kamu tega hanya membayarnya setengah? Mereka akan rugi, Gene."
"Aku tidak peduli."
Gene menarik Liam pergi. Berhenti di depan meja kasir untuk mengurus surat-surat mobil.
Liam diam-diam meninggalkan kasir. Menarik kasar tangan Brian. Langsung saja dia memasukkan sembilan ratus dollar ke tangannya.
"Seribu lima ratus kan?"
Brian memasukkan uang tersebut ke saku jaket Liam. "Aku mampu membayar untuknya. Kau tidak perlu kasihan."
Dia mendelik di tempat? Apa-apaan itu? Brian mengira dia menyainginya? God! Dia kakaknya, bukan lawan cintanya.
"Kakak, ayo."
Seruan Gene membuat Liam memilih melupakan masalahnya dan Brian. Gene pula telah mengurus segalanya. Liam hanya perlu memberi tanda tangan terakhir dan selesai.
"Jill, tolong minyaknya."
Jill mendengus. Gene memang ratunya semena-mena. Malah sudah mendekati tidak tahu diri. Nah sialnya itu dilakukan dengan penuh kepercayaan diri dan spektrum tinggi. Mereka yang terpapar pun lebih mudah menurut begitu saja.
"Sudah."
Gene menutup kembali tangki minyak Gene.
"Thank you, Jill."
Entah darimana dia belajar. Tapi dia sudah mampu membawa mobil tersebut dengan benar. Liam jadi geleng-geleng kepala. Gene selalu saja penuh kejutan.
"Apa Brian mantanmu?" tanyanya penasaran. Habisnya keduanya seolah memiliki ikatan.
"Hack yes."
"Kakak kira kamu hanya menyukai Alex. Mungkin karena kakak tidak pernah melihat kamu memandang cowok lain ya."
"Alex hanya temanku. Tapi benar aku menyukainya. Namun itu sebagai teman. Tidak lebih."
"Kakak melihat yang lain, tapi ternyata itu kalah dengan apa yang kamu berikan pada Brian. Apa kau masih menyukainya?"
"Hell no!"
Gene menambah kecepatan. Kentara benar kemarahannya melampaui jawabannya.
"Apa dia membuat kesalahan fatal?"
"Tentu saja. Jika tidak kenapa kami putus?"
Gene menghela nafas sesudahnya. Tersadar bahwa akhirnya dia membenarkan sedikit tentang perkataan Liam bahwa dia masih menyukai Brian.
"Kakak tidak mau berpihak padanya. Kamu lebih terlihat aman bersama Alex, tapi memaafkan itu penting. Karena itulah kunci ketenangan hati dan pikiran kita dari masalah tersebut."
"Aku tahu dan aku sudah memaafkannya."
Gene menginjak rem. Kepala Liam hampir terhantam dashboard. "Pelan-pelan, Gene!"
"Ayolah kak, ini seru."
Mobil melaju semakin kencang. Apa yang bisa Liam lihat dari balik kaca adalah bangunan dalam bentuk buram saja. Ia malah hampir mengira itu bukan bangunan.
"Pelankan, Gene!"
Kecelakaan tersebut tersemat di benaknya. Ia mulai berpikir akan semua kemungkinan yang mengarah ke sana. Salah satunya tentulah kecepatan tinggi si pengemudi.
"Gene!" sentak Liam.
"Fine."
Kecepatan pun berkurang. Masing-masing memasang raut kesal. Gene dan emosinya. Begitu pula dengan Liam.
"Jangan membawa dengan kecepatan begitu. Kakak sudah cukup kehilangan papa dan mama. Kamu dan Ava tidak boleh meninggalkan kakak."
Kini Gene paham akan sentakkan kakaknya. Sadar juga bahwa dia terlalu memikirkan Brian. Alhasil mengutamakan emosi alih-alih keselamatan.
"Maaf. Aku tidak bermaksud begitu."
Liam tahu. Gene termakan oleh emosi positif yang ia usahakan sendiri. Dia terlalu berpura-pura. Makanya itu terjadi.
"Berhenti di depan," pinta Liam.
Gene menurut. Menepikan mobilnya ke sebuah cafe. Liam mengajaknya masuk untuk makan.
Dari desain bangunan sudah menampakkan citra mewahnya. Gene langsung takut akan harganya. Akan tetapi Liam tetap memaksa. Lagipula dia memang punya uang lebih. Uang yang nyatanya adalah kembalian dari Brian.
Lama-lama Liam kesal juga. Merasa kalah dengan Brian dalam memenuhi kebutuhan Gene.
Namun anak itu sendiri yang bergaya mampu. Jadi Liam tidak akan sungkan. Semoga saja setelahnya Brian tidak krisis moneter atau parahnya dimarahi oleh bosnya.
"Cepat pesan."
Gene menutup buku menu. Mual sudah akan harga-harga makanan yang menurutnya terlampau mencekik. Jika begitu bagaimana lagi dia mampu menikmatinya?
"Sandwich dan air mineral dingin saja."
"Gene," tegur Liam.
"Apa? Hanya itu yang aku sukai."
Tepatnya lagi Gene tidak mau peduli akan tatapan tajam si waiters. Lagipula itu haknya. Kenapa dia harus malu?
"Dua porsi spaghetti bolognese dengan extra sosis, lemon squeeze dan "
"Pasta carbonara, tenderloin steak, tingkat kematangan medium dengan saus blackpaper, green salad tanpa bawang, french fried, vanilla ice cream dan lemon squeeze. Masing-masing untuk dua porsi."
Liam menutup bukunya. "Itu saja. Terima kasih."
"Kakak kelaparan atau apa?"
Liam tersenyum. "Sesekali kita perlu memanjangkan diri, Gene."
"Ini bukan memanjakan diri, tapi membuat kerugian di masa depan. Kakak lihat tadi? Pasta carbonara 60 dollar. Jika membeli bahan itu sudah dapat dua porsi."
"Calm down, Gene."
Dan dia pun berdecak pelan. Tetap merasa tidak suka akan keputusan kakaknya.
"Oh iya, aku dengar Kak Annie berulang tahun. Ada pesta di rumahnya. Kakak tidak datang?"
"Itu sudah berlalu, Gene."
Gene menopang dagu. Alis tebalnya bertautan karena kebingungan. "Bukankah kakak menyukainya?"
"Tidak berarti kakak harus terus hadir di setiap pestanya, bukan?"
"Tentu saja harus. Pesta itu penting untuknya. Sebagai pria yang menyukainya sudah merupakan tugas kakak untuk memprioritaskan kepentingannya."
"Kakak sudah mengirim hadiah."
"Kakak takut?" sindir Gene.
Mata Liam pun bergerak menjauh. Tidak mau Gene melihat jawabannya.
"Kakak sekarang sangat tampan. Aku yakin bahkan bisa menjadi model malah. Tuan dan nyonya Johnson tidak mungkin.."
"Bisa ganti topik?" sela Liam. Ia sangat tidak nyaman dengan topik keluarga Jhonson. Sungguh.