Egois

1636 Words
"Hai," sapa Celine. Liam menarik senyum tipis. Biar dikatakan hendak menjauhi Celine, tapi dia tidak dapat melakukannya dengan kentara. Lagipula secara sadar ia tahu bahwa Celine tidak bersalah. Dialah yang bersalah sebab menjauhi Celine hanya demi keamanan dirinya sendiri. "Pagi ini kamu sedikit terlambat. Apa terjadi sesuatu?" "Aku memiliki beberapa urusan." Pandangan Liam mengarah pada pintu belakang yang belum terbuka. "Apa Brex belum datang?" "Hari ini dia akan datang lebih lambat dari biasanya. Katanya sih ada urusan keluarga." Namun Celine mengangkat bahu. Tampak tidak yakin atau bahkan peduli. "Kamu sudah sarapan?" tanya Celine kemudian. "Sudah." Liam menggerakkan kepalanya ke pintu belakang. "Aku kerja dulu. Sampai bertemu nanti." "Santai saja. Jangan terlalu tergesa-gesa, oke." "Oke." Liam sebenarnya juga tidak tergesa-gesa. Tapi memang kemampuannya membuat pekerjanya seolah dikerjakan terburu-buru. Padahal itu mah hanya dengan tenaga biasa. Ponsel di sakunya berdering sebelum dia melepasnya. Nama Annie yang tertera membuat dia menggigit bibir. Ragu untuk mengangkatnya atau tidak. "Hai," sapa Liam akhirnya. Dia teringat akan apa yang diberikan Annie kemarin. Itu menciptakan kepercayaan secara otomatis di hatinya bahwa Annie selalu membawa kesenangan untuk hatinya. "Aku tadi melihatmu." "Di mana?" Liam tidak merasa melihat Annie di manapun tadi. Lagipula dia tidak melangkah dengan biasa, kecuali saat masih di sekitar Setson. "Di depan toko Sweet Cake." "Ah." Dia ingat sekarang. Tadi dia mampir ke toko kue untuk membeli sarapan. Gene sendiri telah ia buatkan sandwich dan s**u. Akan tetapi perempuan itu masih tertidur kala dia beranjak. Katanya hendak libur satu hari untuk beristirahat. Liam tidak menemukan keadaan buruk dari Gene. Tapi ia kira Gene mungkin lelah, jadi dia membiarkannya bolos. Lagipula hanya satu hari saja. "Kamu membeli sarapan?" "Ya." Liam mengangguk. "Kamu sendiri?" "Aku sengaja berjalan-jalan. Siapa tahu melihat kamu." Suara lembut itu tertawa. Nyaman benar di telinga Liam. Sedikit tidaknya ia jadi terpicu oleh perasaan rindu akan wajah Annie. "Tuhan sepertinya sangat menyayangiku kan? Dia langsung mempertemukan aku dengan apa yang aku inginkan." "Itu karena kamu baik." Liam pergi duduk di atas salah satu peti. Masih lumayan pagi. Pekerjaannya pun tidak banyak lagi. Jadi benar seperti kata Celine, bersantai saja. "Aku tidak sebaik itu, Liam." "Tapi di mataku begitulah kamu." "Baiklah lupakan itu. Ada pesta malam ini di rumahku. Apa kamu mau datang?" "Maaf, An." Liam tersenyum pedih. Dia dan Annie masih terpisah oleh ketakutannya sendiri. Parahnya itu hanya berpihak untuk dirinya, tidak untuk Annie. Jadi dengan kata lain dia egois. "Aku tidak bisa." "Meski aku setuju, sebenarnya aku merasa penasaran. Kenapa kamu menghindari aku? Iya, kamu memiliki masalah dengan sesuatu. Tapi kenapa itu terkait dengan aku? Apa aku membuat kesalahan atau.." "Annie," tegur Liam. "Aku sudah mengatakannya. Ini tentang aku, bukan kesalahan kamu. Jadi anggap saja saat ini aku egois, oke." "Kapan keegoisan itu berakhir? Kau tahu, aku merindukanmu." Tubuh Liam menegang. Kata rindu tersebut memang memicu banyak hal dari hatinya. Tapi otaknya masih berputar-putar mencari apa yang sebenarnya. Tidak mau salah menangkap makna dan berujung membuat masalah. "Aku tidak memiliki siapapun untuk diajak bicara di kantor. Mereka semua membenciku." Annie berparas cantik dan dia punya proporsi tubuh sempurna. Banyak kaum hawa khususnya di kantor yang membenci kelebihannya tersebut. Jadi dia pun sendirian. Meski beberapa orang kaum hawa masih mau berteman dengannya, tapi pengetahuan Annie telah membuatnya mundur. Dia tidak mau berteman dalam kepura-puraan. Liam adalah seseorang yang berhasil berteman dengannya tanpa itu. Dia tulus, bahkan tidak pernah melibatkan perasaan. "Apa kau tahu itu pesta apa?" Tentu tidak. Liam hanya memikirkan Annie dalam lingkup ruang kerja dan perasaan. Ia tidak terhubung dengan dunia Annie lainya, apalagi dalam keluarganya. Liam tahu beberapa, tapi enggan mencari lebih jauh. "Pesta ulang tahunku." Lidahnya kelu. Ingin menarik kembali perkataan sebelumnya, tapi sudah keburu sadar bahwa dirinya tidak boleh lengah. Seseorang masih mengincarnya. Sampai dia memastikan segalanya, ia tidak akan mau bergerak bebas. "Maaf.." Akhirnya itu saja yang bisa ia ucapkan. Sebenarnya dia bisa menambahkan sedikit penjelasan, tapi takut sebab itu kemungkinan hanya lebih terdengar seperti pembelaan akan dirinya sendiri. Annie pasti semakin terluka. "Kalau begitu kamu harus mengirimkan aku hadiah yang bagus." Liam dapat membayangkan wajah cantik Annie yang merenggut. Itu menambah perasaan rindunya. Tapi segera ia mengatakan pada dirinya sendiri untuk bersabar. Ini masih belum waktunya. "Tentu, kau mau apa?" "Terserah, tapi itu harus spesial." "Tidak masalah kan jika tidak mahal?" "Kenapa tidak? Aku mau maknanya, bukan harganya." Ide-ide hadiah pun masuk ke dalam kepalanya bagaikan gerombolan lebah yang hendak masuk ke sarangnya. Sangat banyak hingga dia pikir setelah ini dia akan terjebak dalam kebingungan yang pekat. "Aku akan berusaha mengirimkannya malam ini." "Aku akan menunggu." "Kalau begitu aku matikan dulu ya. Aku mau bekerja." "Semangat!" Bibirnya tertawa kecil. Kalimat semangat dari Annie memang seperti suntikan baginya. Apalagi ditambah bayangan wajah kedua adiknya. Energinya langsung penuh. ** "Ava?" Dahinya berkerut halus. Tidak menyangka dan bercampur bingung akan kehadiran sang adik. "Ini belum waktunya kamu pulang. Apa ada masalah di sana? Atau mungkin kamu demam?" Liam menempelkan tangannya ke dahi Ava. Memeriksa apa suhu tubuhnya panas atau tidak. Namun hasilnya normal. Itu berarti Ava datang karena hal lain. Hal yang malah membuat dia curiga. "Apa kakak baik-baik saja?" Sorot mata Ava begitu sayu. Liam jadi tahu ke mana arah yang memungkinkan. Benar, kejadian semalam. Gene pastilah pelakunya. Padahal dia telah mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. "Tentu, kakak baik-baik saja. Seperti biasa." Liam duduk di samping Ava. Mengelus Surai hitam Ava yang bergelombang seperti lekukan gunung. "Kapan kamu sampai?" "Tadi sore pukul empat." Netra Ava dan Liam bertubrukan. Liam kewalahan karena kekhwatiran masih ditujukan untuknya. "Gene telah menceritakan beberapa kejadian terakhir ini. Katanya kakak bersikap aneh. Apa ada sesuatu?" Dan dia pun mendesah malas. "Gene.." "Ava perlu tahu kondisi kakak," ujar Gene membela diri. "Dia juga bagian dari kita." "Tapi kan kakak baik-baik saja." "Dengar itu? Dia masih berdalih. Siapa yang bisa percaya. Malahan rasanya semakin curiga." "Kakak akan memasak. Kalian mau apa?" Liam melepaskan jaketnya. Menyampirkan ke lengan sofa dan mulai menggulung lengan kaosnya. Tadi pagi ia sengaja memakai pakaian panjang. Melindungi tubuhnya dari angin dingin saat berlari cepat. "Steak daging sapi dengan lumuran saus blackpaper. Aku sudah lama tidak memakan itu." Gene menyikut Ava. Mendelik seolah memperingatkan bahwa kakaknya tidak mampu untuk membeli bahan makanan semacam itu. Liam tersenyum menyadari ketakutan Gene. "Tenang lah. Kakak masih memiliki uang yang cukup." "Kalau dipikir-pikir spaghetti buatan kakak pun enak." Ava sadar kakaknya tidak punya cukup banyak uang untuk selalu membeli makanan mewah, tapi terkadang dia suka lupa. Terbawa suasana akan kehidupannya dulu yang serba mendapatkan berbagai hal dengan mudah. "Tidak apa-apa. Malam ini kita akan makan steak saja." Liam berdiri, memakai lagi jaketnya. "Kakak akan belanja. Kalian di rumah saja." "Aku mau ikut." Ava berdiri, memeluk langsung lengan kanan Liam. "Aku juga." Gene tidak mau ketinggalan. Enak saja Ava memonopoli kakaknya. Dia kan juga mau. "Ini sudah malam. Tidak baik bagi tubuh kalian sebab paparan angin dingin lebih tinggi. Jadi di rumah saja ya. Lagipula kakak perlu mampir ke rumah teman kakak." Maka keduanya pun menurut. Sadar juga bahwa kakaknya punya hal lain untuk diurus. ** Liam memperhatikan satu persatu kalung yang terpajang di toko kecil itu. Indah benar kilauanya. Ia jadi ingin melihat Annie memakai salah satunya. Pasti akan sangat sempurna sebab kontras dengan kulit putih s**u milik Annie. Namun uangnya tidak akan cukup. Lagipula dia masih perlu memikirkan Ava dan Gene. Mereka malah yang lebih utama. Bagian dari hidupnya sejak lama. Tidak seperti Annie yang merupakan pendatang baru. Sekalipun Liam sadar dia sangat mencintai Annie. Ia tidak bisa melupakan prioritas yang seharusnya. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Liam tersentak dari angan-angannya. Menggeleng kecil pada si penjual. "Tidak, saya hanya melihat-lihat." "Ini bukan museum tempat pajangan perhiasan," dengus di penjaga dengan tidak senang. Liam tersenyum kecil. Tentunya tidak akan dilihat oleh si penjaga toko sebab dia mengenakan masker. "Terima kasih." "Cepat sana pergi. Jangan membawa sial untuk tokoku." Liam memutar tubuh, tapi itu telinganya berdengung disusul oleh suara jatuh yang amat keras. Instingnya langsung melesak, membuat dia menoleh kembali kepada si penjaga. Ada peti di atas rak kayu tersebut. Bergerak-gerak tidak seimbang. Tanpa pikir panjang Liam meloncat melewati counter. Mendorong si penjaga ke samping hingga hampir terjatuh. "Apa ya.." Teriakan si penjaga berhenti saat melihat peti besar itu jatuh. Liam menangkapnya dengan sigap. Lalu secara perlahan-lahan dia meletakkannya ke bawah. "Lain kali jangan letakkan benda seberat ini di sana," katanya kemudian meloncat melewati counter lagi. "Apa kau sadar akan perbuatanmu, anak muda?" Liam memutar tubuh. Tersenyum ramah di balik maskernya. "Membantu orang yang membutuhkan. Aku sadar dan itu memang hal yang seharusnya kita lakukan, bukan?" Si penjaga membuka peti. "Ini adalah patung emas. Beratnya dua puluh kilogram. Apa kau tidak takut bahwa tanganmu akan patah?" "Saya pikir itu bukan hal yang harus dipikirkan saat melihat seseorang membutuhkan pertolongan." Si penjaga menghela nafas. Menutup kemudian petinya. Tersadar kemudian akan tangan Liam. "Apa tanganmu baik-baik saja?" Dia tidak bisa mengatakan baik-baik saja sekalipun itu berperan untuk menenangkan si penjaga. Ia harus berbohong agar terlihat normal seperti manusia lainya. "Hanya sedikit nyeri." "Ada dokter tulang di depan cepatlah periksa." Si penjaga membuka laci. Mengambil tanpa pikir lembaran uang seratus dollar. "Ini, ambilah." "Kebetulan saya punya sepupu yang merupakan dokter," bohong Liam. "Jadi itu tidak perlu. Terima kasih, Tuan. Saya permisi." "Hey jangan begitu." Si penjaga keluar dari counternya. Mengulurkan sejumlah uang yang bisa Liam kira lebih dari seribu dollar. Siapa sangka. Ternyata pemilik toko sinis ini sangat dermawan. "Ambil ini dan segera periksa. Itu emas murni. Tanganmu pasti sakit." "Kenapa anda meletakkannya di sana?" Liam penasaran. Itu emas murni dan sangat besar. Masa iya disimpan sembarangan. "Sebenarnya itu adalah jimat keberuntunganku. Harus diletakkan di tempat tinggi. Tapi aku tidak mungkin mempamerkannya kepada pencuri, jadi aku menyembunyikannya dalam peti." "Setidaknya anda harus membangun rak dari semen. Itu baru mampu menahannya." Lalu mereka malah terlibat pembicaraan akan jimat-jimat. Sebelumnya penjaga sekaligus pemilik tokoh nan sinis itu telah memberikan Liam obat urut tradisionalnya. Liam pun memakainya untuk menyempurnakan kebohongannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD