Aksi

1564 Words
Malam hari setelah makan malam Liam dan Gene duduk di bangku belakang. Sama-sama menikmati cahaya rembulan. "Gene, bagaimana jika kau mendapatkan sebuah kekuatan luar biasa?" Gene mengerutkan alisnya. Sorotnya pun menajam seolah ada yang salah dengan kalimat Liam padanya. Harusnya Liam tahu. Adiknya ini dapat mengetahui hal terselubung hanya dengan pengelihatan saja. "Kekuatan apa?" Ekspresi tajam Gene mengendur. Tapi Liam sudah menangkap alaram peringatan untuk berhati-hati dalam berkata. "Kau bisa menahan beban sangat berat, berlari cepat dan bahkan mendengarkan pembicaraan jarak jauh." "Aku akan mengejar penjahat, para koruptor, pelaku pelecehan seksual dan bahkan pelaku pembullyan. Lalu aku akan membuang mereka ke lembah. Menjatuhkan kemudian berton-ton batu besar sampai tulang mereka menjadi serbuk untuk makanan rayap." Liam merinding. Perkataan Gene terlampau mengerikan. Tidak punya simpati sama sekali. "Maksudku, apa reaksimu ketika tahu bahwa itu seharusnya bukan milikmu?" "Kenapa bisa begitu? Jelas-jelas itu ada padaku. Berarti itu milikku." "Itu kesalahan, Gene. Kekuatan tersebut bukan seharusnya untukkmu. Tapi kamu malah tanpa sengaja memilikinya. Mereka bahkan mengejar kamu untuk mengembalikannya." "Itu tetap milikku. Tuhan yang mengatur segalanya kan? Jadi meski itu kesalahan sekalipun, itu tetap ditakdirkan padaku. That's mean, milikku." "Jadi kau akan menentang manusia asing yang ingin merebutnya kembali?" "Tentu saja. Aku telah memiliki kekuatan. Aku akan menendangnya ke luar bumi." "Satu pertanyaan lagi. Apa kau akan menerimanya? Maksudku, kekuatan seperti itu sangat besar. Kau mungkin tidak tahu cara mengendalikannya. Bahkan itu menganggu kehidupan normalmu." "Beradaptasi saja. Mudah kan?" Liam terdiam. Membenarkan perkataan Gene. Jika dia merasa tidak bisa mengendalikannya, maka dia bisa belajar dan beradaptasi. Bukankah itu hal yang sama ia lakukan saat pertama kali masuk sekolah? Dia tidak mengenal satu orang pun. Sesekali tertekan oleh tatapan mereka. Namun pada akhirnya dia baik-baik saja sebab beradaptasi. "Oh iya tadi teman kakak menitip uang untukmu." "Aku? Teman kakak? Siapa?" Kecurigaan itu memenuhi kolam mata Gene. Liam kelimpungan melihatnya. Gene tidak mudah percaya, jadi selalu ada kemungkinan baginya untuk menjadi yang tertuduh. "Brex, teman kerja baru kakak. Tadi kakak sedikit bercerita tentang kehidupan kita. Tiba-tiba saja dia memberikan uang. Katanya dia punya uang lebih." "Baik sekali." Kecurigaan itu tidak berhenti. Liam pun sebenarnya sama. Tapi karena tidak memiliki bukti ia pun memilih percaya saja. "Berapa yang dia berikan?" "Lima puluh dolar." "Itu lumayan. Kak.." Gene menepuk bahunya. Liam terlonjak, langsung bergeser menjauh. "Kakak kenapa?" "T-tidak." Dia hanya trauma. Tadi siang Brex memukul bahunya. Pria itu bilang tubuhnya seperti besi. Tangannya sampai terasa sakit. Jadi Liam mengira tubuhnya memiliki kekuatan tersendiri. Lagipula itu telah dibuktikan oleh Jesi. Ia terpental hanya karena menarik tangannya. "Apa tanganmu sakit?" "Sama sekali tidak. Ah sudah sana. Kakak belikan bahan makanan untuk besok atau aku saja yang pergi?" "Kakak saja." Liam beranjak. Tidak mau Gene berjalan kaki selarut ini. "Tunggu di dalam." "Tidak mau. Aku masih mau melihat bulan." "Ajak Alex, jangan sendirian." "Dia pergi." Liam terkekeh. Tahu bahwa Alex tidak pergi kemana-mana. Dia ada di rumahnya, berkutat dengan komputernya. Dan inilah penemuan barunya. Ternyata kemampuan pendengarannya mulai bisa mencapai beberapa orang. Brex, Celine dan Alex. Liam tidak mengerti terkait sistemnya. Namun dari yang ia duga mungkin koneksi dekat orang-orang tersebut yang mendasari kemunculannya. Apapun itu. Dia mulai berencana untuk beradaptasi dengan kemampuannya. Lagipula itu benar-benar berguna dalam kesehariannya. ** "Dua puluh lima dollar." Liam mengulurkan uangnya. Mengambil plastik belanjaannya sebagai ganti. Telinganya tiba-tiba berdengung. Decitan nyaring menyerang. Ia meringis mendengarnya. Cepat-cepat ia keluar. Tidak mau keanehannya menciptakan masalah di sekitar orang-orang. Lalu suara itu menghilang. Di susul oleh ledakan keras yang hampir membuat jantungnya lepas dari tempatnya. Ia sampai menekan-nekan dadanya Di kejauhan orang-orang berkumpul. Liam secara naluri langsung penasaran. Ia mempercepat langkah. Menduga langsung akan kemungkinan adanya kecelakaan. Benar saja. Sebuah mobil terbalik. Minyaknya telah tumpah ke mana-mana. Ada percikan api yang mulai menyala, namun pengemudi dan penumpang di dalamnya masih belum keluar. Jeritan permintaan tolong dan tangis anak-anak menusuk telinganya. Darahnya bergejolak tak karuan. Ia melempar plastik belanjaannya. Menarik cepat pintu kemudi. Ia tidak lagi peduli bahwa copotnya besi berat itu menimbulkan kecurigaan. Yang ia pikirkan hanyalah keselamatan orang-orang di dalamnya. Pindah ke pintu penumpang. Lalu ke sisi yang lain. Semua pintu telah hilang. Ia lalu mengangkat keluar tiga anak di kursi belakang. Membawanya langsung ke tepi. Tepat setelahnya mobil meledak. Semua orang menjauh bersama jeritan. "Mama." Anak-anak itu langsung menghambur ke pelukan orangtuanya setelah Liam menurunkannya. Mereka berpelukan erat. Saling menangis dalam rangka syukur. "Mungkin begini yang mama dan papa alami," gumam hatinya tanpa sadar. Malam itu dia dan ketiga adiknya diminta untuk tetap di rumah. Papa dan mamanya akan keluar untuk keperluan natal. Namun yang kembali pada mereka hanyalah berita duka bahwa kedua orangtuanya telah meregang nyawa. Seseorang menepuk bahunya. Liam pun kembali sadar akan sekelilingnya. "Terima kasih." Pria paruh baya itu berlinang air mata saat mengatakannya. Liam masih melihat ketakutan yang berkumpul di netra birunya. Itu menggetarkan hatinya akan kesedihan juga. "Saya senang anda selamat, Pak." Liam berjongkok untuk sejajar dengan ketiga anak yang ia selamatkan tersebut. "Kalian baik-baik saja?" Ketiga anak itu mengangguk. Liam tersenyum dibuatnya. "Ayo, paman akan traktir kalian ice cream." Ia menggendong ketiganya memasuki cafe. Membiarkan kedua orangtua anak tersebut menyelesaikan masalah dengan polisi. Liam memberikan minum ketiganya lebih dulu. Barulah ia memesan tiga cup ice cream coklat. "Jangan takut." Liam mengelus salah satunya. Anak perempuan yang paling gemetaran sejak tadi. Usianya lebih muda dari dua yang lainya. Jadi wajar jika dia bereaksi demikian. "Biar paman suap." Pelan-pelan ia menyuapi ketiganya. Tersenyum senang karena lambat laun ekspresi anak-anak tersebut berubah menjadi tenang. Lagi, Liam teringat akan apa yang terjadi setelah berita kematian orangtuanya sampai. Ia dengan hati sakit, sedih, bercampur tidak percaya berusaha terlihat kuat. Menarik tangisnya untuk menenangkan Ava dan Gene. Dua anak itu gemetaran. Tubuhnya seperti hampir pecah berkeping-keping. Ia dihantui ketakutan akan perasaan sedih adik-adiknya tersebut di dalam sana. Jadi dia semakin berusaha kuat. Melupakan perasaan sedihnya yang harus diungkapkan. Butuh berbulan-bulan setelahnya bagi Ava dan Gene untuk kembali tenang. Dan selama itulah dia selalu menjadi kuat. Tidak memikirkan perasaan kehilangannya, hanya fokus saja membuat adik-adiknya tenang. Melihat bahwa sekarang Ava dan Gene baik-baik saja telah memberikan Liam perasaan berhasil. Ia senang pula mampu melakukannya. Karena jika tidak maka hasil buruknya pastilah lebih membuatnya mati rasa. "Terima kasih." Wanita itu sampai merendahkan kepalanya saat melihat Liam. Sudut matanya sudah bengkak. Tangisnya benar-benar banyak. Tidak berhenti setiap mengingat apa yang hampir terjadi. "Itu sudah berlalu," kata Liam menenangkan. "Suami dan anak-anak anda selamat." "Tapi.." Bibir pucat itu bergetar. Liam berdiri. Tidak tahu apalagi yang bisa ia lakukan selain mengatakan bahwa segalanya baik-baik saja. "Nyonya, saya tahu apa yang seharusnya terjadi di benak anda menimbulkan guncangan besar. Tapi itu tidak ada di masa sekarang. Itu kejadian yang tidak pernah terjadi. Anda jangan memikirkannya lagi. Lagipula anak-anak anda lebih membutuhkan atensi, bukan?" "Kamu benar." Nyonya Darcy mengelap air matanya. Ia kemudian memeluk anak-anaknya. Mengatakan lagi bahwa mereka tidak perlu takut. Segalanya telah berlalu. Liam membantu keluarga tersebut sampai memasuki taxi. Ia meminta tolong pada Tuan Collins itu untuk tidak membuatnya terlibat dengan polisi. Dia resmi hanya membantu. Tidak mau mendapatkan hadiah atau pujian dari polisi-polisi tersebut. Tuan Collins setuju, tapi sebagai gantinya dia meminta Liam mengunjunginya akhir minggu. Liam setuju. Dia juga perlu memastikan mereka baik-baik saja atas rasa simpati sesama manusia. Seorang wartawan mencegah jalannya saat hendak pergi. Melontarkan langsung pertanyaan akan aksi nekatnya. "Maaf saja. Saya bukan anda. Saya akan mempertaruhkan nyawa jika melihat seseorang dalam bahaya." Liam menangkapnya tadi. Dia sudah ada di pinggir sebelum ledakan, tapi apa? Dia sibuk mengambil gambar. Padahal di saat itu dia tahu bukan? Aksi adalah yang dibutuhkan. Bukan kepentingan pribadi. Namun sepertinya kuli tinta tersebut lebih peduli akan keuntungannya sendiri. "Benar-benar menjijikkan," desis Liam. ** "Mana belanjaannya?" todong Gene kala membukakan pintu. Liam mengangkat plastik di tangannya dengan lemah. Gene merebutnya. Terkejut karena ada bau oli dan minyak pada plastik. Ia maju satu langkah. Mengendus jaket Liam. Itu adalah asal bau oli dan minyak. "Ada kecelakaan tadi di depan supermarket." "Kakak menolongnya?" Oke. Gene mengerti tanpa butuh penjelasan lagi. Ia menarik kakaknya masuk, menutup pintu dan kemudian memasak mie. Setelah jadi ia menyajikannya bersama air dingin. "Kakak kelihatan marah." Liam mengangkat kepalanya. "Apakah begitu?" "Ya." Gene meletakkan sumpit di atas mangkuk kakaknya. "Ada apa?" "Seorang wartawan membuat kakak kesal. Jelas-jelas dia tahu ada yang hampir mati, tapi dia hanya diam di pinggir. Itu masih tidak masalah sampai dia memanfaatkan situasi untuk keuntungan pribadinya. Di mana hati nuraninya, Gene?!" Gene mengulurkan gelas. Liam menerimanya. Dingin dari bongkah es di dalamnya menular ke kulitnya hingg ke darahnya. "Memang begitulah sebagian manusia, Kak. Hati mereka dari batu. Tidak bisa memikirkan orang lain lagi, kecuali mereka sendiri." Liam tahu. Hanya saja tetap merasa kesal. Terlebih saat ia membayangkan mama dan papanya di posisi itu. Apakah kuli tinta juga hanya menonton? Tapi itu sudah berlalu. Liam mengusak wajahnya. Terbiasa hidup sulit membuat Liam selalu menarik pembelajaran dari setiap kejadian. Itu adalah bahan pertimbangan baginya di kemudian hari. Dari hal tadi aksi menjadi pembelajaran yang ia dapatkan. Itu adalah hal utama daripada niat baik pula. "Ayo makan." Gene mengulurkan mangkuk mie dan sumpit. Memaksa Liam untuk menerimanya. "Ayo." Liam menerimanya. Mengangkat sumpit untuk mulai makan. Gene tidak ikut sampai dia benar-benar menyeruput mie. "Jangan khawatir, kakak baik-baik saja." Kecelakaan yang terjadi pada orangtua mereka telah menjadikan mereka menganggap kecelakaan sebagai hal mengerikan. Liam adalah yang pertama kali berhasil keluar dari dalamnya. Diikuti kemudian oleh Gene dan Ava. Meski begitu ketiganya tahu bahwa kejadian tersebut tidak benar-benar hilang, mereka hanya berusaha kuat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD