Sebuah Mimpi

1918 Words
Saat sampai di teras rumahnya lampu telah menyala. Secara tidak langsung mengisyaratkan bahwa adiknya telah berada di dalam. Liam mengetuk pintu. Menyandarkan sedikit kepalanya ke kusen. Sial, dia menjadi pusing. Angin semakin lama semakin menerpa kencang. Ia kebingungan mengendalikan kecepatan. Alhasil kepalanya menjadi pusing. Apalagi saat kecepatannya membuat dia tidak melihat sekitarnya lagi. Semuanya putih. Ia seolah berjalan menembus kabut. Gila. Ia kira kemampuannya mungkin dapat membuatnya mengunjungi Pulau Zeron di seberang sana. Tapi dia belum pernah menyebrangi air. Bisa saja itu kecacatan dari kemampuannya. Mungkin nanti. Dia akan mencobanya. Gene membuka pintu. Wajahnya datar seperti tembok. Liam pun tersenyum. Berharap itu mampu merubah ekspresi sang adik. "Hai," sapanya. Gene tidak merubah ekspresi. Untung Liam telah terbiasa. Jadi dia tidak akan terbebani oleh perasaan sakit hati, kecewa ataupun overthinking akan dirinya sendiri. "Kak Annie menitip makanan." Liam memutar tubuh. Mengerutkan dahinya. "Dia kemari?" "Menitip, Kakak!" "Kapan?" "Tadi, saat aku pulang. Kami bertemu di depan toko bunga Lady Rose." Gene menuju dapur. Liam mengikutinya. Memperhatikan kemudian Gene yang mengeluarkan kotak makan tiga tingkat dari dalam kulkas. "Boleh aku mencobanya?" Liam mengangguk. "Cobalah." Jari-jari lentik itu secara antusias langsung bergerak. Liam menonton seraya melepaskan masker dan topinya. Menyimpan di tangan kiri dan kemudian melepas kancing jaketnya. "Apa itu?" "Salad hijau, nasi dan salmon panggang. Oh ada juga corndog dan ayam goreng." Kini Liam paham kenapa Gene menginginkan kotak tersebut, ternyata ada makanan favoritnya. "Makanlah duluan. Kakak mau mandi." Masuk ke kamar. Liam meletakkan topi dan maskernya di meja rias. Menggantung jaket di belakang pintu dan kemudian melepas kaosnya. Itu dilemparnya ke keranjang di sudut ruangan. Sudah penuh. Nanti dia akan memasukkannya ke mesin cuci. Begitu masuk ke toilet pandangannya langsung fokus pada cermin. Dia bersyukur karena tidak ada lagi perubahan lain. Lagipula apa lagi yang mau berubah kan? Hampir dia mandi saat teringat bahwa softlens di matanya tidak boleh selalu dipakai. Ia pun melepasnya. Mendesah berat akan warna irisnya yang masih tidak berubah. Ungu? Ayolah, kenapa tidak hitam saja? Setidaknya itu tidak membuat orang-orang di sekitarnya menyadari perubahannya atau mengira dia aneh. Tahu bahwa mengeluh tidak membawa apa-apa selain menghabiskan waktu ia pun menyalakan shower. Menutup mata seraya menikmati setiap butir air yang menyentuh tubuhnya. Jatuh dan kemudian mengalirkan rasa dingin. Sisa dingin dari angin tadi bergabung. Ia cepat-cepat menyelesaikan mandi karenanya. Sadar bahwa jika lebih lama dia akan masuk angin. Tangannya hampir mencapai lemari kala dering ponsel terdengar nyaring. Nama Annie yang tampil bagaikan sebuah tantangan. Ia menimbang-nimbang sesat. Apa perlu mengangkatnya atau tidak. Tapi bagaimana jika Annie telah bekerjasama dengan Jessi? Liam menggeleng. Sadar bahwa Annie tidak akan mungkin mengkhianatinya. Perempuan itu selalu berada di pihaknya. "Kamu sudah memakannya?" Disuguhi pertanyaan sarat perhatian sebelum menyapa memicu perasaan senang di hati Liam. Ia bahkan merasa telah melakukan hal benar. Tentu bersyukur karena memilih mengangkatnya pula. Jika tidak maka dia akan rugi. "Belum." "Kau pasti membiarkan Gene makan lebih dulu." Liam tertawa kecil. Senang mengetahui Annie yang mengerti kebiasaannya. "Tentu saja. Kau tahu seberapa aku menyayanginya." "Gene bilang kau pergi keluar sejak pagi. Apa kau mencari pekerjaan lain?" "Ya, aku mencari pekerjaan lain. Tenang saja. Aku akan mengirimkan surat pengunduran diri besok pagi." Sebenarnya itu tidak lah terlalu penting, tapi Liam sadar bahwa selama beberapa tahun terakhir ini tempat itulah yang menghidupinya. Dia perlu berterima kasih pada perusahaan tersebut sebab pernah merekrutnya. "Apa pekerjaannya seru?" "Pekerjaan bukan permainan, Annie." Liam membuka jendela. Duduk di bingkai kusennya. Angin dingin menerpa punggung telanjangnya. Itu memberikan sensasi dingin sampai ke dalam d**a. Lagi-lagi dia suka, tapi juga tahu bahwa dia kemungkinan akan masuk angin dibuatnya. "Boleh aku ikut?" "Pekerjaan baruku mengangkut barang-barang berat. Apa kamu yakin mau ikut?" "Kapan aku boleh mengunjungimu?" Sesuatu yang tidak enak mengenai hatinya. Ia mau menghilangkannya, tapi lebih sadar akan logika yang seharusnya dikedepankan. "Aku belum tahu." "Tapi aku masih boleh kan mengirim pesan atau makanan padamu?" "Kenapa tidak? Aku suka makanan lezat, apalagi gratis. Gene pun aku kira begitu." Ia tersenyum sendiri setelahnya. Suka benar akan perhatian yang terselip dalam kalimat Annie. Menjadi bertambah poinnya sebab Annie adalah seseorang yang hatinya inginkan. "An.." "Iya?" "Aku memang membuat jarak denganmu, tapi ini bukan karena kita memiliki konflik atau apalah. Ini benar-benar karena aku dan sesuatu. Jadi jangan berpikir ke arah yang lain ya." Liam takut. Annie tipe cemas yang mendekati kata akut. Ia khawatir tindakannya membuat pikiran Annie turut berantakan. "Terima kasih sudah menjelaskannya. Aku harap masalah itu segera usai." Sudut bibirnya tertarik. Perasaan senang itu masih ada. Bertambah sedikit lagi. Karena suka ia pun berbincang lagi akan beberapa topik lain. Setelahnya barulah memakai pakaian. "Apa katamu? Kakak tidak berniat kabur lagi?" Liam meloloskan kaos ke tubuhnya. Ia mulai menganggap wajar kemampuannya mendengarkan suara Gene dari jauh, tapi masih kurang suka sebab ia berkesan seolah menguping. Masalahnya lagi tidak orang yang suka tukang menguping. Apalagi mereka menangkap rahasia yang tidak seharusnya diketahui. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Bahkan kapas yang banyak tidak mampu menutupi itu. "Mungkin musik bisa." Ya, dia harus mencobanya. Takut semakin mendengar banyak hal yang seharusnya tidak sampai ke telinganya. "Aku tidak tahu pasti, tapi aku kira memang begitulah kesimpulannya." Kakinya berhenti. Tangannya turut menahan pintu yang hampir tertutup. Sudah selang beberapa menit dari kalimat Gene yang pertama. Kenapa dia masih mendengar kelanjutannya seolah itu tidak terputus? Mungkinkah Alex yang lambat membalas. Atau jangan-jangan ada fitur untuk mem-pause pendengarnya. Dia menggeleng. Merasa kemampuan semacam itu terlampau berlebihan. Malahan mungkin tidak wajar keberadaannya. "Aku masih tidak percaya. Tadi pagi saja dia pergi dengan masker dan topi. Wajahnya hampir tidak terlihat kecuali dua bola matanya. Apa-apaan coba?" "Gene, dia sudah besar. Harusnya kau sadar bahwa dia memiliki masalah yang lebih besar pula. Sekarang apa mungkin kita yang masih remaja ini mengerti?" "Al, aku bukan mau dia menyelesaikan masalah dengan caraku. Bukan! Aku hanya mau dia menjelaskan semua masalahnya secara detail. Jangan ada yang disembunyikan. Itu saja." "Apa kau mau menjelaskan secara detail masalahmu dengan Brian padanya?" Liam tidak tahu siapa Brian, tapi dia suka karena Alex mengatakan yang sebenarnya. Gene harus belajar mengerti bahwa tidak semua hal mampu diceritakan. Panggilan kemudian terdengar terputus. Liam hanya bisa mendesah berat. Sulit memang membuka pikiran Gene. ** Liam tidak tahu bahwa ada tempat seindah itu. Ada kaca yang melingkupi ruangan. Langit biru dan awan putih terlihat jelas di atas sana. Di bawahnya adalah rumput hijau yang rapi seolah baru dipotong pendek. Kemudian di setiap sudut tumbuh aneka jenis bunga. Ragam warnanya yang cerah menciptakan keindahan luar biasa. Ada dua orang di sudut kebun tersebut. Mereka berbincang-bincang seraya memperhatikan mawar merah. Ia tidak melihat jelas wajahnya, tapi pakaian yang dikenakan keduanya telah menunjukkan bahwa mereka adalah bangsawan. Liam tidak mengerti kenapa dua orang itu bisa masuk ke dalam mimpinya. Tapi anehnya dia malah berjalan mendekat. Keduanya pun menoleh. Tidak ada wajahnya. Yang bisa ia perhatian hanyalah rambut keduanya. Si perempuan berambut pirang, sementara itu si pria berambut hitam legam. Anehnya dari itu saja ia telah mampu memprediksi karakter keduanya. Lalu perasaan terhubung itu menyerang hatinya. Ia kewalahan sangking kuatnya perasaan tersebut. Itu benar-benar sampai tepat ke hatinya. Liam membuka matanya. Mimpi itu usai, tapi dia masih merasakan sensasinya. Karenanya ia membawa telapak tangan ke d**a. Dia tahu. Hati dalam konteks perasaan adalah hal abstrak, namun itu seiras dengan desiran di dadanya. Dari yang Liam tahu mimpi hanyalah bunga tidur atau hasil dari apa yang terlalu ia pikirkan. Karena opsi kedua jelas salah, maka ia pun mempercayai opsi pertama. Itu hanya bunga tidur. Ketika ia memutuskan untuk kembali memejamkan mata, ia tidak kunjung tertidur. Alhasil ia bangun lebih awal. Pertama-tama Liam membawa keranjang pakaian kotor nya ke ruang cuci. Ia memasukkannya ke dalam mesin cuci dan menambahkan detergen. Lalu sembari menunggu dia membersihkan kulkas. Sampai sinar matahari menyusup ia telah menyelesaikan keduanya ditambah dengan menyapu seluruh ruangan dan membersihkan gudang bawah. 06:18 Ia mengetuk pintu kamar Gene. Sudah rapi dengan balutan jaket hitam, celana coklat, serta sepasang sepatu kulit hitam yang hampir terkelupas kulitnya. Tidak lupa masker dan topi sebagai pengaman indentitasnya. "Gene," panggilnya. "Ini hari minggu, Kakak. Aku mau tidur." Liam tahu dan kedatangannya pun bukan bermaksud mengusik tidur Gene, melainkan dia ingin berpamitan. "Kakak mau berangkat. Sarapannya sudah ada di meja. Cepat makan selagi hangat." "Hati-hati," seru Gene keras. "Kamu juga. Telepon kakak kalau ada sesuatu." Hampir ia beranjak saat teringat hal lain yang perlu dikatakan. "Jangan lupa makan siangmu, Gen." "I know." Lagi-lagi Gene berseru keras. Bertindak seolah jarak mereka sangat jauh. Dalam perjalan Liam menyapa Ava. Perempuan itu tentu sudah bangun meski ini adalah hari minggu, hari di mana di seharusnya bersantai. Seringkali dia menyarankan Ava untuk beristirahat. Tapi perempuan itu selalu bilang waktu sangat berharga. Dia tidak bisa membiarkannya habis begitu saja. Ava memang jauh berbeda daripada Gene. Dia sangat ambisius, khususnya dalam hal pendidikan. Gene pula setengah santai. Meski begitu nilanya tidak pernah buruk. Ia memakai waktu di kelas dengan baik. Berbanding terbalik saat di luar. Ia menghabiskan waktu untuk melakukan apapun yang ia mau. Sisi ambisiusnya pula hanya satu, yakni dalam mendapatkan uang. Baru-baru ini Liam dengar Gene bekerja di salah satu cafe. Ia hanya membuat kopi, tapi kata Liam Gene punya kemampuan bagus dalam hal itu hingga manajer cafe menawarkannya pekerjaan dengan satu tugas tersebut saja. Liam pernah membicarakan ini dengan Gene. Tapi dia tidak bisa melarang sebab banyak remaja seusia Gene mengambil part time. Terkadang itu bukan karena uang saja, melainkan perasaan mereka yang haus untuk mencoba hal baru. Itu memang hal lumrah bagi remaja. Jadi dia memakai aturan untuk jaga-jaga. Gene tetap boleh part time, tapi dia tetap harus memperhatikan pelajaran. Gene bukan saja setuju, tapi dia punya bukti lewat kertas nilai yang selalu berada di antara A dan B. Itu sudah cukup bagus. Liam percaya pada Gene setelahnya. Brex sudah di toko kala Liam sampai. Ia tengah bercakap-cakap dengan Celine. Dari yang Liam lihat, Brex tampak menaruh hati pada Celine. Namun itu berbeda dengan apa yang ia lihat dari Celine. "Pagi, Liam." Sapaan Celine terlalu ceria dan senyum manis itu berlebihan. Liam jadi takut Brex salah paham. Alhasil ia membalas tanpa nada. "Pagi." "Hei." Brex menepuk bahunya. Bisa Liam lihat adanya iri di dalam sana, tapi sapaannya benar-benar tulus. Jadi Liam tidak bisa membencinya. "Aku akan mulai lebih dulu." "Ayolah jangan terburu-buru." Brex merangkul bahunya. "Ada cafe di sebrang. Ayo minum kopi." Dia ingin menolak, tapi itu lebih baik daripada tinggal berdua saja dengan Celine. "Ayo." Keduanya keluar. Celine di belakang menggerutu sebab ditinggalkan. Brex menenangkannya dengan janji satu cup cappucino dan muffin coklat. Saat hampir menyebrang Liam mendapati seorang wanita muda kesulitan memegangi putranya dan membawa barang. Ditambah kondisinya yang tengah hamil telah membuat Liam yakin bahwa kesulitan wanita itu cukup tinggi. "Biar saya bantu." Liam mengangkat belasan paperbag. Menyeret kemudian koper dengan tangan Keterkejutan wanita muda itu sangat pekat. Tapi saat lampu merah nyala, dia memilih menyeberang dengan menggandeng puteranya. "Silahkan." Liam menurunkan paperbag itu dengan hati-hati di sisi yang lapang dari lalu lalang orang. "Terima kasih." "Sama-sama." Liam memperhatikan saksama perempuan itu. Kelihatannya bukan penduduk lokal. Jadi dia merasa mungkin masalahnya bukan saja barang bawaan atau kesulitan bergerak leluasa karena perutnya. "Anda mau ke mana?" "Ah kebetulan sekali." Perempuan itu membuka dompetnya. Menunjukkan selembar kertas yang bertuliskan sebuah alamat. "Saya mau ke alamat ini." "Anda mau ke sana sendiri?" Wanita itu membenarkan. Liam lalu memanggil taxi. Mengatakan alamat kepada supirnya. Terima kasih berkali-kali dan sejumlah uang disuguhkan padanya. Tapi Liam menolak keduanya. Mengatakan bahwa apa yang ia lakukan hanyalah hal kecil. Di pintu cafe Brex telah menunggu. Tertawa saat Liam kembali padanya. "Kau baik sekali." Ia tersenyum tipis. "Memang itu kan yang seharusnya kita lakukan sebagai manusia?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD