"Liam, Alex, ayo minum dulu."
Tuan Manuvero meletakkan nampan berisi dua gelas jus jeruk ke meja usang yang tersisa. Hampir semua barang di dalam gudang tersebut telah berpindah ke ruang bawah tanah. Jujur dia sedikit tidak percaya. Itu hanya Liam dan putranya, Alex. Namun bagaimana bisa seolah pekerjaan 10 orang?
Karena ini hal bagus Tuan Manuvero enggan berpikir banyak. Paling-paling ia akan menambah uang untuk Liam.
"Apa lagi yang perlu diangkat?"
Alex terperangah sendiri akan seisi ruangan. Yang tersisa hanyalah rak-rak penyimpan saja. Padahal tadi seingatnya masih banyak tumpukan alat otomotif dan lainya. Jangan lupakan juga sofa besar di tengah-tengah ruangan.
"Kakak mengangkatnya?"
Liam terkejut sendiri akan pertanyaan Alex. Baru sadar pula bahwa kemampuannya telah membantu di dalam pekerjaan ini.
"Begitulah."
"Bagaimana bisa?"
"Aku menyeretnya," ujar Liam asal. Ia meraih gelas berembun di meja. Menawarkan pada Tuan Manuvero lebih dulu sebelum menyesapnya.
Dia benar-benar tidak lelah. Tangan atau kakinya sama sekali tidak ada yang pegal karena benda-benda berat tersebut. Semuanya seringan kapas. Ia hanya keringatan akan debu dan pengapnya ruangan di bawah sana.
"Tubuhmu benar-benar berubah. Tidak heran semua orang mulai membicarakannya."
Liam tersedak. Tidak menyangka bahwa perubahannya telah menjadi buah bibir orang-orang di sekitarnya. Padahal seingatnya dia tidak pernah semenarik itu untuk diperhatikan. Baik karena status sosial maupun rupanya. Bahkan seringkali ia tidak diundang oleh tetangganya dalam acara-acara tertentu. Dengan kata lain ia seolah tidak pernah dianggap di lingkungannya.
"Tapi baguslah. Kamu pria, sudah seharusnya memang bugar. Kedua adik-adikmu masih membutuhkan tenagamu untuk melangsungkan hidup."
Tuan Manuvero lalu mengajak Liam ke ruang tamu. Berniat berbincang-bincang akan beberapa hal lain.
"Ini benar-benar selesai?"
Alex masih tidak percaya. Ia hanya turun beberapa kali ke bawah untuk membawa tumpukan pakaian bekas. Bisa-bisanya sekali naik yang lain telah tiada.
Itu berarti Liam yang mengurus sisanya. Namun bagaimana bisa begitu cepat?
"Ah iya." Tuan Manuvero memutar tubuhnya. Menunjuk lantai dengan dagunya. "Sapu itu."
Alex mencebik bibir, tapi dia bergerak juga mengambil sapu. Biar bagaimanapun hal itu termasuk dari pekerjaannya.
"Sudah lama kita tidak berbincang."
Liam tersenyum kaku seraya mengembalikan gelasnya ke meja. Bukannya dia tidak mau mengunjungi Tuan Manuvero. Akan tetapi pekerjaannya sering menjadi kendala untuk bersantai.
"Kau selalu tidak memiliki waktu bahkan untuk sekedar menyapa kami."
Liam suka cara berbicara Tuan Manuvero. Meski tajam, tapi disitulah letak istimewanya. Dia tidak memoles kalimatnya untuk mendapatkan sesuatu. Ia mengatakan apa yang sebenarnya.
"Jadi bagaimana, apa ada kenaikan gaji atau semacamnya?"
"Itu perusahaan kecil. Sulit untuk mendapatkan kenaikan gaji."
"Kamu mungkin sebaiknya mencari pekerjaan baru. Maksud saya, untuk apa berkerja di tempat yang tidak mengupahmu dengan benar. Iya kan?"
"Saya kira juga begitu, tapi bukan mudah mendapat pekerjaan untuk orang seperti saya."
"Siapa bilang? Kau bahkan belum mencobanya."
Wajah Liam yang bersih itu pun memerah karena malu. Dia memang belum mencoba mencari pekerjaan baru, tapi bibirnya sudah terus mengatakan bahwa dirinya tidak bisa mendapatkan itu. Di mata orang-orang ambisius seperti Tuan Manuvero tentulah dia seperti seorang pemalas nan bodoh.
"Masih ingat pekerjaan yang saya tawarkan waktu itu?"
Liam mengangguk. Mengingat secara samar pekerjaan yang ditawarkan oleh Paman Liam sekitar empat bulan lalu, yakni menjadi penjaga kebun apelnya di Huston.
"Itu masih terbuka untukmu."
"Huston terlalu jauh dari kota. Gene akan sulit ke sekolah."
"Dia masih muda. Jarak segitu tidak akan menjadi masalah. Atau bisa saja dia meminta antar jemput Alex. Kau tahulah, anak itu akan melakukan apapun untuk adikmu."
"Ternyata kalian membicarakan aku rupanya."
Alex bergabung di samping Liam. Rautnya menekuk kesal saat melihat papanya. Memang bukan rahasia lagi bagi mereka kedekatan antara Alex dan Gene. Namun jika itu menjadi bahan ledekan Alex mana bisa tahan.
"Kamu tidak mau mengantar jemput Gene?"
Tentu saja jawabnya mau. Liam dan Tuan Manuvero sama-sama tahu. Alex memang sebucin itu kepada Gene.
"Jadi kakak setuju pindah ke Huston?"
Alex mengalihkan topik. Tidak mau dirinya menjadi topik di antara mereka.
"Entahlah, aku masih belum tahu."
"Katanya ingin kabur."
"Kabur?" ulang Tuan Manuvero. "Siapa?"
"Bukan siapa-siapa."
Alex menyapu keributan yang dibuatnya. Untung saja belum membesar.
"Ada yang mau memesan pizza?" tawarnya kemudian.
"Papa mau satu, tanpa tomat. Liam?"
"Terserah Alex saja."
Dia tidak pernah pilih-pilih makanan. Apapun selagi layak akan dia makan.
"Jangan lupa pesankan juga untuk menantuku."
Di bawah cahaya putih lampu Liam mampu melihat semburat merah mencuat dari pipi putih Alex. Tidak heran jika pria itu memutuskan untuk merendahkan kepalanya. Ah dasar remaja, pikirnya.
"Bagaimana hubunganmu dengan nona muda Jhonson itu?"
"Begitu saja. Hanya teman."
Tidak ada perkembangan. Dia dan Annie hanya berhenti sebagai teman. Padahal baik dia maupun Annie telah tahu perasaan masing-masing. Anehnya tidak ada yang mau mengambil langkah.
Liam tahu. Annie tidak akan mungkin mendahului. Dia tipe pemalu. Sedangkan dia takut untuk mendahului. Dia masih belum pantas. Itu akan membuat Annie malu saja.
"Kalian sudah sangat cocok," ujar Alex. "Kenapa tidak mencoba hubungan lebih jauh. Pacaran mungkin."
Liam mengangkat kembali gelasnya. Ia sungguh merasa lebih nyaman tidak menjawab dalam kasus ini.
**
Saat Liam kembali ke rumah Gene sudah berada di kamarnya. Belum tidur, tapi fokus memainkan ponselnya. Raut cantik itu sepenuhnya tertekan oleh kekesalan. Liam pun tahu bahwa sisa kejadian tadi belum sirna sama sekali.
"Tebak apa yang kakak bawa?"
Dia masuk. Mendudukkan tubuh di tepi ranjang Gene. Itu mengenakan seprai hitam, warna kesukaan Gene.
Saat hamil Gene mamanya pun telah menyukai warna hitam. Kala itu Liam sampai berpikir bahwa adiknya adalah seorang laki-laki. Namun siapa sangka adiknya justru perempuan cantik dengan sorot belati.
"Aku tidak lapar."
Gene tahu dari harumnya. Itu adalah ayam goreng, makanan favoritnya. Namun tidak ada yang lebih penting lagi daripada aksi merajuknya untuk meluluhkan hati Liam.
"Ayo kakak suap."
Liam meletakkan kotak ke atas pahanya. Ia lalu membuka penutup. Aroma ayam goreng tersebut segera naik ke udara. Benar-benar menggiurkan.
"Kakak yakin kamu pasti juga pernah memiliki masalah pribadi."
Liam masih belum mampu menceritakan segalanya. Jadi ia menarik pengertian dari Gene untuk melicinkan kembali hubungan mereka.
"Apa mudah menurut kamu membicarakannya pada orang lain?"
Gene meliriknya kesal. Liam tahu bahwa dia mengenai hal yang tepat. Saat Gene memiliki masalah dia pun tidak mau memberikannya pada Liam. Mengatakan bahwa itu urusan pribadinya yang tidak dicampuri oleh siapapun. Jadi bisa dikatakan bahwa Liam sekarang menyerang kesalahan yang sama dari Gene.
"Kakak lebih tua," sungut Gene akhirnya. "Harusnya kakak bisa bertindak lebih dewasa daripada aku."
"Ya, ini memang kesalahan kakak."
Liam mendorong sepotong paha ayam. Meski sorotnya menusuk, Gene tetap mengambil gigitan. Di mata Liam itu justru sangat imut. Khas benar dari Gene.
"Kalau be.."
Gene menutup mulutnya. Hampir saja daging ayam yang dia gigit keluar. Liam meletakkan kotak ke samping. Pergi ke dapur untuk mengambil sebotol air dingin. Ia lalu menyerahkannya kepada Gene.
"Terima kasih."
Gene menyesap isinya. Bahkan tutupnya pun telah dibuka oleh Liam. Pria itu memang terbilang sangat perhatian pada adik-adiknya, termasuklah Gene.
"Back to topic. " Gene mengembalikan botol. Liam secara sigap menutupnya kembali.
"Kakak telah mengaku bersalah. Jadi apa penjelasannya?"
"Ah kamu ternyata belum juga mengerti ya."
Meski demikian Liam tidak gusar. Ia menyodorkan lagi paha ayam. Gene mengambil gigitan, tapi dia tidak menghentikannya sorot tajamnya untuk mendesak kalimat Liam.
"Kakak tidak bisa menceritakannya. Itu benar-benar masalah personal."
"Tapi aku juga terkena imbasnya."
"Lain kali kakak tidak akan membiarkannya terjadi."
Gene merebut kasar paha ayam dari tangan Liam. Ia menggigitnya sembari kembali menatap layar ponsel.
"Gene, mengertilah sedikit."
"Kakak yang seharusnya mengerti."
Untuk sesaat Liam terdiam. Memperhatikan saja wajah Gene tanpa memikirkan apa-apa. Ia tidak mau menjadi runyam karena emosi di dadanya.
"Tuan Manuvero menawarkan pekerjaan di Huston."
Tidak ada balasan. Gene tetap fokus pada layar ponsel tanpa menghentikan kunyahan di mulutnya. Ia terlihat sangat menikmati waktu. Liam kira malah lupa akan keberadaannya.
"Pekerjaannya tidak berat, menjaga kebun apel saja. Untuk gaji itu lebih besar dari hasil di EA, 700 dollar. Bagaimana menurut kamu?"
Gene mengangkat bahu.
"Baiklah." Liam bangkit. Mengusak-usak surai hitam Gene. "Selamat malam. Itu ada pizza dari Alex. Jangan lupa dihabiskan, oke."
Pelan-pelan Liam menutup pintu di belakangnya. Ia menghela nafas pelan. Masalah antara dia dan Gene mulai semakin rumit. Sepertinya memang benar, dia harus melupakan sesaat rencana kaburnya.
Tidak langsung ke kamar. Liam menjatuhkan diri di sofa. Ia menekan remote. Sebuah drama tampil di layar. Ia menggantinya menjadi acara berita.
Meski begitu ia tidak memperhatikannya. Malah sibuk menimbang untung dan rugi jika menerima tawaran Tuan Manuvero.
Gene setidaknya harus memiliki mobil untuk pulang dan pergi ke kota. Bahkan jika itu mobil bekas harganya pun tidak murah. Terlebih dia ingin Gene mendapatkan yang terbaik. Kalau bisa malah mirip-mirip dengan mobil yang populer di kalangan remaja.
Ia memperhatikan telapak tangannya. Itu sungguh memebesar dari yang sebelumnya. Tidak heran juga jadinya akan pertambahan tenaganya.
"Mungkin aku bisa mencari pekerjaan yang bagus juga di kota ini."
Bahunya melemah mengingat asal kemampuannya. Itu dari orang asing. Bisa dikatakan apa yang dia miliki sekarang bukan lah miliknya. Tentu pemilik asli akan mengejarnya.
Liam tidak masalah jika dia kehilangan kemampuan ini atau kembali ke ukuran tubuh asalnya. Toh itu memang miliknya yang seharusnya.
Keesokan paginya Liam memakai masker dan topi. Ia akan mencari pekerjaan harian sebagai percobaan. Karena tidak memiliki kendaraan ia pun terpaksa berjalan kaki. Anehnya meski itu 3 km, ia tidak merasa lelah.
Bohong jika Liam tidak kagum akan apa yang ia miliki sekarang. Tapi itu tidak bertahan lama. Pikirannya mengatakan kebenaran, apa yang dia miliki sekarang bukanlah miliknya. Dia tidak boleh terlalu terikat.
"Permisi."
Liam masuk ke dalam sebuah toko barang-barang antik. Di luar ditempel poster perekrutan karyawan, jadi dia mau mencobanya meski tidak membaca jelas apa yang perlu ia kerjakan.
"Ada yang bisa saya bantu?"
Penjaga tokoh adalah seorang perempuan cantik dengan rambut pirang. Senyumnya sangat manis dan natural. Liam terpesona untuk sesaat sebelum benaknya menampilkan banyak wajah Annie. Tidak. Annie lebih manis daripada perempuan ini, pikirnya.
"Tuan?"
"Saya membaca ada lowongan pekerjaan di luar jadi.."
Dia tidak meneruskan kalimatnya. Perempuan di hadapannya mengangguk dengan binar tegas. "Anda benar. Brex!"
Seorang pria berotot keluar dari pintu di samping meja resepsionis. Sorot matanya langsung menyerang Liam. Ia memperhatikan dari atas ke bawah, tampak menilai atau malah merasa tersaingi sebab kini dia bukan satu-satunya yang gagah.
"Dia akan bekerja di sini. Tolong bawa ke belakang oke."
Liam tidak percaya dia akan diterima secepat ini. Tapi senyum perempuan di hadapannya menjadi sedikit ganjil. Ia menjadi mengerti bahwa ada alasan lain diterimanya dia.
"Tenang saja. Gajinya seperti yang tertera. 80 dollar per hari."
"Terima kasih."
Dia tidak peduli jika proporsi sempurna tubuhnya atau otot kerasnya menjadi alasan pribadi perempuan itu. Yang terpenting baginya sekarang dia berhasil mendapatkan pekerjaan.
"Ayo."
Brex membawanya melewati lorong panjang. Itu berakhir di sebuah ruangan dengan rak-rak tinggi dan penuh barang. Guci-guci tua, patung abstrak, hiasan dan keramik tua . Aroma dari berbagai tahun tersebut bercampur satu. Memang terasa tidak nyaman sekali di hidung.
"Pelan-pelan," kata Brex kala dia menuruni tangga. Itu licin. Jika Liam tidak teliti dia bisa tergelincir ke bawah.
"Kau lihat itu." Brex menunjukkan tumpukan-tumpukan peti di sudut ruangan. "Angkat semuanya ke atas. Ya secara singkat pekerjaanmu di sini adalah mengangkut barang."
Berx menepuk bahu Liam. "Hati-hati. Semuanya sangat berat. Tulang-tulangmu mungkin tidak akan tahan."
"Tidak masalah." Liam melepas jaketnya. Menyampirkan pada paku yang menyembul di rak.
Ia menggerakkan lehernya kanan dan kiri. Meremas juga jari-jarinya hingga terdengar gemerutuk.
Selepasnya Liam mulai mengangkut satu persatu barang. Setiap telapak tangannya mampu membawa dua peti sekaligus. Ia sampai terperangah sendiri. Tangannya sudah benar-benar tidak normal. Namun kali ini ia lebih memilih menganggapnya sebagai anugerah untuk meringankan pekerjaan. Tidak tahu jika setelahnya.
Brex tidak muncul sampai saat makan siang. Ia memberikan Liam dua bungkus burito jumbo dan air mineral.
"Apa itu asli?"
Liam mengikuti arah pandang Brex. Itu jatuh pada otot lengannya.
"Kau mengira ini karena obat-obatan?"
"Banyak orang-orang sebesarmu memakai itu sebagai jalan pintas."
"Aku berolahraga akhir-akhir ini."
"Pantas saja tenagamu sangat bagus." Brex menunjuk tumpukan peti dengan dagunya. "Kau hampir mengangkat seperempat dari yang ada di bawah sana."
Tadi Liam berniat mengangkat semuanya, tapi dia takut Brex mengira dia terlampau kuat. Jadilah dia memindahkan sedikit mendekati kata wajar.
"Tempatnya mungkin akan penuh."
"Pindahkan peti di sudut kiri itu ke bawah."
"Ditukar? Apa isinya?" Liam mengambil gigitan besar dari makanannya. Brex pandai benar memilih burito. Ini benar-benar lezat di lidahnya.
"Barang-barang dari 5-10 tahun yang lalu. Itu akan kalah dengan yang di bawah sana."
"Itu lebih tua."
"Ya." Brex meletakkan buritonya ke atas kertas minyak. Membuka tutup botolnya kemudian. "20, 30, 50 dan bahkan 90 tahun lalu."
Sementara Brex menegak air Liam memperhatikan guci-guci di rak. Ukiran-ukiran itu berkesan kuno. Tapi baginya tidak ada yang istimewa, jadi dia merasa aneh pada orang-orang yang rela membelinya dengan harga mahal.
"Lanjutkan pekerjaanmu. Aku mau menemui Celine dulu."
Liam mengangkat buritonya. "Terima kasih untuk ini."
"Santai saja."
Liam mengeluarkan ponselnya sepeninggalan Brex. Ia ingin memastikan kedua adiknya di tempat yang berbeda itu sudah makan atau belum.
Semenjak kedua orangtuanya meninggal dalam kecelakaan Liam menjadikan perhatian pada adik-adiknya sebagai tugas utama dan keharusan. Dia tidak mau keduanya kekurangan perhatian. Dia mau mereka tetap merasa bahagia meski tanpa kedua orangtua mereka lagi.
**
"Kau mau pulang?"
"Ya."
Liam mengancingkan jaketnya. Ia masih tahan untuk puluhan peti lagi, tapi Brex bilang sudah waktunya pulang.
"Kau mau mengambil gajimu hari ini atau.."
"Akhir minggu saja," potong Liam.
Rencananya ia akan mengambil di minggu kedua. Totalnya sudah mencapai seribu dollar. Pastilah dia bisa mengambil mobil untuk Gene.
"Aku pulang."
"Hati-hati," seru Celine.
Liam tersenyum kecil saja. Ia memasang maskernya. Merendahkan topinya sebelum mendorong pintu untuk keluar.
Langit sudah hampir gelap. Angin dingin pun turut menerpa. Ia malah senang sebab paru-parunya menjadi dingin.
Memperkirakan ia akan sampai terlambat telah membuat Liam memilih berjalan memasuki hutan. Setelah merasa aman, ia pun berlari.
Topinya hampir terbang di langkah pertama. Ia melepaskannya. Membiarkan rambutnya terterpa oleh angin. Kulit kepalanya alhasil turut terasa dingin.