"Kakak ada masalah?"
Liam tersadar dari pikirannya. Meluruskan langsung pandangan pada Gene yang tengah mengaduk-aduk spaghetti di piringnya.
"Kamu tidak suka sausnya?"
"Aku suka."
Gene memutar mie dengan garpunya. Ia lalu melahapnya. Pandangan Gene yang tetap lurus telah membuat sudut bibirnya tersapu saus. Liam tersenyum kecil melihatnya.
Ia tahu, Gene pasti penasaran akan sikapnya yang aneh ini. Namun mau bagaimana lagi? Dia tidak mampu menutup semua keanehannya ataupun kebingungannya.
Dia butuh jawaban pasti. Bukan hanya dugaan saja. Tapi dari mana?
"Bagaimana pendapat kamu jika kita pindah rumah?"
"Pindah rumah?" ulang Gene.
Liam mengangguk. Dia akan mendiskusikan perkara ini untuk mengetahui apa lagi yang perlu dipertimbangkan.
"Ke mana?"
"Mungkin Brimington."
Itu memang cukup jauh. Tapi dari yang ia dengar harga rumah di sana khususnya perdesaan lebih murah. Pilihan yang cukup menggiurkan benar bagi orang dengan ekonomi bobrok sepertinya.
"Kakak sudah punya cukup uang?"
Daripada nasib sekolahnya Gene lebih takut akan biaya. Itu sama seperti yang Liam pikirkan. Tapi seandainya Gene setuju, maka dia mampu dengan mudah berusaha.
"Belum, kakak masih membuat rencana."
"Oke."
Gene meletakkan sendok dan garpunya. Liam dapat merasakan perubahan drastis aura di sekelilingnya. Terlebih saat netra Gene menajam bak elang.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kakak tiba-tiba berubah karena obat atau apalah yang diberikan oleh teman kakak itu. Sekarang kakak hendak berencana meninggalkan kota ini. Apa kakak dikejar oleh seseorang?"
Gene terlampau jauh berpikir. Sialnya itu tepat seperti yang terjadi saat ini. Liam jadi kelimpungan untuk berbohong. Gene sudah mengerti esensi dari keanehannya.
"Atau mungkinkah kakak berhutang demi obat itu?"
"Tidak, Gen. Kakak tidak berhutang."
"Lalu apa?"
Dan dia pun tidak bisa menjawab. Berterus terang masih seperti bom menurutnya untuk Gene. Jadi dia harus terus mengamankannya.
"Kak, kita adik beradik kan?"
Liam menjadi tidak enak hati jika Gene membahas ini. Ia sampai menjauhkan pandangan. Benar-benar tidak nyaman oleh tatapan lemah Gene.
"Apa tidak bisa kakak mempercayai aku? Atau mungkin kakak pikir aku akan menyebarkan rahasia?"
Gene menjatuhkan sendok dan garpunya. Dentingan keras itu yang kemudian beradu dengan suara geseran kursi telah memberitahu Liam seberapa kesalnya Gene. Tetapi tetap saja dia masih tidak tahu harus berbuat apa.
Pelan-pelan Liam turut meletakkan sendok dan garpunya. Selera makan itu telah menguap tanpa sisa. Yang ia inginkan hanyalah spasi tenang untuk merenung. Lagi.
Taman belakang yang lebih mirip lapangan menjadi pilihannya. Di sana ada sebuah bangku kayu dan pohon apel yang tinggi.
Liam menyandarkan kepala pada punggung bangku. Malam ini langit terang oleh cahaya kekuningan dari bulan. Langit biru yang menaunginya jadi terlihat jelas dari biasanya.
Harusnya itu membawa ketenangan ke dalam d**a. Akan tetapi isi kepalanya sudah terlampau runyam. Fokusnya tidak bisa jatuh lagi pada hal lain.
"Gene pergi ke cafe."
Alex mengulurkan sekaleng cola. Awalnya Liam hanya memandangi. Jujur, dia benar-benar butuh waktu sendiri. Tapi jika begitu benang-benang basah di dalam pikirannya tidak akan lurus. Dia perlu membicarakannya dengan seseorang. Yang mana jelas harus kurang lebih berpikir seperti dia. Sebagai laki-laki Alex mungkin bisa membantu.
"Dia meminjam mobilmu?"
"Ya." Alex tanpa meminta izin duduk di sampingnya. Ia membuka kaleng colanya. Bunyi karbonasi dari kaleng pun mengudara.
"Aku tahu kakak punya masalah pribadi yang tidak bisa dikatakan, tapi aku tidak bisa menahan diri untuk berbicara atas nama Gene."
"Kamu menyukaiknya?" ledek Liam.
Alex menolehkan wajah. "Apa terlihat jelas?"
"Ya." Liam membuka kaleng colanya sendiri dan meneguk beberapa kali. Alex masih diam memandanginya. Tampaknya menganlisis dalam-dalam refleksi masalah di wajah Liam.
"Gene tidak marah karena perubahan kakak meski dia menduga kakak memperolehnya dari obat-obatan terlarang. Dia marah karena kakak tidak mau beterus-terang padanya."
"Tadi sore kami bahkan baru membicarakannya."
"Gene itu seperti elang. Dia tahu apa yang masih tersembunyi. Lagipula dia adalah saudara kakak, kenapa tidak mempercayainya saja?"
"Ini bukan tentang kepercayaan. Ini tentang kebaikan untuknya."
"Apa itu benar-benar berbahaya?"
"Begitulah."
Liam meneguk lagi isi kaleng minumannya. Kecanduan akan sensasi dingin yang meluncur ke dalam dadanya.
"Kami berencana pindah. Bagaimana menurutmu?"
"Itu urusan kakak, tapi aku secara pribadi tidak rela ditinggalkan oleh Gene."
"Maksudku, kami pindah karena sesuatu. Apa keputusanku benar?"
Alex malah tertawa kecil. Liam menjadi tersindir dibuatnya. "Kakak malah kedengaran telah memiliki jawaban, kenapa bertanya lagi? Aneh."
"Aku butuh pertimbangan."
"Apa kata Gene?"
Alex mengangkat kaleng. Menyesap isinya seraya mempersiapkan telinga akan perkataan Liam.
"Dia mempertanyakan kemampuanku."
"Uang hm?"
"Ya. Itu satu-satunya kendala."
"Jadi bisa dikatakan untuk sisanya dia setuju?"
"Tidak juga."
Liam membacanya jelas dari sorot mata Gene. Perempuan itu tidak resmi setuju akan rencana yang ia katakan.
"Itu karena kakak tidak menjelaskan alasannya. Benar kan?"
Kepalanya mengangguk kecil. Berat untuk mengaku, tapi memang itu yang benarnya.
"Tentang alasan itu aku sendiri masih tidak memahaminya. Kau tahulah, kurang jelas. Gene pasti tidak akan menerimanya."
"Kalau begitu kakak harus menemukan alasan jelasnya. Tunjukkan itu pada Gene. Berikan dia kepercayaan agar bisa mempercayai keputusan kakak juga."
"Itu butuh waktu."
"Tunggu, apa kakak lari dari sesuatu?"
Liam menoleh cepat. "Apa terlihat begitu?"
"Hampir." Alex menyunggingkan alis. Menuntut penjelasan dari Liam secara nonverbal.
"Kau benar. Aku menghindari sesuatu."
"Aku pernah mendengar ini dari seseorang." Keseriusan dari nada Alex telah menarik atensi Liam. Ini lah nilai plus dari Alex untuk Liam, dia mengerti filosofi hidup meski hanya secuil."Ke mana pun kau pergi jika hanya untuk menghindari langit, maka itu tidak ada gunanya."
"Hey itu tidak sebesar langit."
"Lalu, kenapa kakak menghindar?"
Liam menyandarkan lehernya pada pembatas kursi. "Aku belum siap."
"Kalau begitu jawabnya mungkin bukan kabur, tapi bersiap. Menghadapi." Alex mengangguk kecil. "Ya, itu tidak akan mudah. Tapi apa yang lebih melegakan selain keluar dari cangkang dan menuntaskan masalah itu?"
"Oke. Kau mendapat restuku."
Liam mendorong kalengnya. Alex turut mendorong kalengnya. Dentingan terdengar. Mereka lalu menarik kembali dan menegak isinya.
**
Liam menghela nafas. Pasrah bahwa pilihan yang dia buat adalah yang terbaik. Ketika benaknya membenarkan dia pun membuka lemari. Mengeluarkan satu persatu pakaian ke lantai.
"Apa kakak serius?!"
Gene masuk ke kamarnya. Berseru setengah marah. Itu turut terbaca lewat raut wajahnya.
Liam mengerti. Apa yang baru dia sampaikan memang terlampau terburu-buru. Parahnya destinasi yang tidak jelas itu tentu menciptakan kekhwatiran tersendiri bagi Gene.
"Kakak sudah mengatakannya saat semalam," katanya berdalih. Pada kenyataannya Liam tahu. Itu sedikit berbeda dengan keputusannya kali ini.
"Aku tidak mau ikut."
Liam memutar tubuh. Menghadap sempurna pada Gene yang sudah tidak mampu mengontrol ekspresi geramnya.
"Aku mau di sini."
"Gene…."
"Aku memang tidak masalah jika kita pindah ke tempat baru. Tapi tidak secepat ini. Terburu-buru seolah dikejar oleh sesuatu. Aku tidak mau bertindak layaknya buronan, Kak! Lagipula apa kakak sudah memiliki cukup uang?"
Gene tidak berniat meremehkan kakaknya. Tapi itulah kenyataannya. Uang selalu menjadi kendala bagi mereka.
"Kakak masih memiliki tabungan."
"Berapa?" desak Gene. "Apa itu cukup untuk membeli rumah baru?"
Bahu Liam melemah. Itu tidak cukup. Dia tahu. Tapi dalam benaknya sekarang yang terpenting adalah aksi dulu. Untuk masalah itu dia dapat memikirkan nanti ketika tiba di Brimington.
"Jika kakak tetap ingin pergi, maka pergi saja. Aku akan tetap di sini."
Gene menutup kasar pintu. Debaman kerasnya melonjakkan jantung Liam. Keputusan yang telah bulat itu pun pecah, terburai-burai menjadi kepingan keraguan.
Liam mendudukkan tubuh di kasurnya. Mengusap kasar wajahnya seolah hendak membuang masalah yang ada. Ponsel di sisi kirinya berdering. Nama Annie tertera.
Butuh beberapa lama baginya untuk mengangkat itu. Menimbang-nimbang apa baik dan buruknya. Namun belum selesai dia sudah diserang oleh perasaan tidak enak. Annie tipe perempuan yang cemas. Sekarang barangkali dia telah demikian karena perbuatan tak jelasnya.
"Kau menghindariku. Apa terjadi sesuatu?"
Suara lembut itu menelusup ke telinganya. Ia semakin didera perasaan tidak enak karena telah mengacuhkan Annie sejak semalam.
"Tidak."
Liam membaringkan tubuh di kasur. Pandangannya naik memperhatikan langit-langit ruangan yang sedikit berdebu.
"Jadi apa? Gene bilang kau tidak mengizinkan aku ke rumahmu. Apa aku telah membuat kesalahan?"
"Itu tidak terkait dengan dirimu, Annie. Ini sepenuhnya tentang aku saja. Jangan berpikir jauh, oke."
"Apa masalahnya, Liam?"
Desakan Annie menjadikan Liam pusing. Ia berperang dengan hatinya yang telah simpati. Dan itu tidak selesai dengan cepat. Argumen-argumen terus beradu.
"Aku tidak bisa mengatakannya. Maaf."
"Kalau begitu apa yang bisa aku lakukan?"
Secara tidak langsung itu berarti orang yang mengajarnya belum mencapai Annie. Liam bernafas lega karenanya.
"Jangan memberitahu identitas atau keberadaanku pada orang asing."
"Apa seseorang mengincarmu? Ah iya apa kau tahu, perempuan yang kemarin mendatangimu itu terlibat kasus. Katanya dia merobohkan gedung Bredy."
"Gedung Bredy?"
Terpaksa Liam berpura-pura kaget. Padahal dia melihat jelas kejadian tersebut dengan dua matanya.
"Iya, sudah ada banyak yang meliput berita tersebut. Kamu bisa melihatnya di internet. Hampir aku lupa, apa kau mengenalnya?"
"Tidak."
"Tapi.."
"An, aku tutup dulu ya. Ada sesuatu yang ingin aku urus."
"Hubungi aku lagi nanti."
"Oke."
Liam membuka mesin pencarian. Mencari-cari berita tentang gedung Bredy. Itu bahkan menjadi salah satu berita menggemparkan di Wrimington.
Perempuan cantik merobohkan gedung Bredy.
Itu salah satu headline yang Liam pilih. Ia membuka artikel lanjutnya. Mengabaikan penjelasan-penjelasan yang ada. Ia membuka tautan video.
Harusnya Liam tidak perlu heran. Tapi dia ingin tahu wajah jelas perempuan asing tersebut. Kalau bisa juga namanya. Ia akan memperhatikan jejaknya di internet.
Jessi Brody.
Liam mencarinya di i********:. Ternyata ada akun perempuan itu. Isi postinganku kebanyakan hanyalah potret pantai.
Ia lalu memeriksa daftar pengikut dan yang diikuti oleh Jessi. Tujuannya masih abu-abu, tapi dia memeriksanya. Berharap ada sesuatu yang bisa dijadikan patokan akan tujuan Jessi mengejarnya.
Iya, dia tahu. Dia pasti akan dibawa kembali ke tempat tersebut. Namun untuk apa? Yang terpenting lagi, kemampuan luar biasa yang diberikan padanya ini mau diapakan? Apakah menimbulkan bahaya atau tidak?
"Kak Liam."
Alex tiba-tiba saja sudah berada di pintu. Liam pikir bocah ini memang terobsesi segala tentang adiknya, termasuk masalah di sekitar lingkaran sang adik, yakni dia.
"Gene pergi?"
Liam tadi mendengar umpatan Gene. Menyumpah serapah dirinya seraya menyalakan mobil. Punya siapa lagi jika bukan Alex kan?
"Ya, dia meminjam mobilku. Katanya mau berkeliling."
"Kamu suka sekali menuruti keinginannya."
"Itu yang bisa aku lakukan untuk membuatnya senang."
"Alex, sudah berapa lama kau tinggal di Seston ini?"
"Sejak aku lahir. Kenapa?"
Alex bergerak ke jendela. Ia duduk di pinggir kusennya. Cahaya terang dari luar telah membuat wajah tampannya semakin terlihat jelas.
Tidak heran memang jika dia digemari oleh kaum hawa. Penampilannya memang sangat rupawan. Bahkan Liam yakin dia akan diterima dalam dunia entertainmen atau modeling.
"Apa kau pernah melewati Setson pada malam hari? Maksudku, apa ada rumor-rumor gelap dari daerah ini?"
Liam tidak mampu mengemas pertanyaannya. Dia benar-benar bingung untuk mulai dari mana.
"Ada banyak kasus pembunuhan di hutan belakang itu?"
"Yang lain. Tentang kekuatan."
"Sihir di desa sebelah? Itu ada. Mereka bisa memakai mantra untuk membunuh orang."
Masih jawaban yang tidak berkaitan, apalagi memuaskan.
"Ada lagi?"
"Ah.." Alis tebal itu saling bertautan. Tampak sangat memeras isi kepalanya di dalam sana. "Ini bukan rumor yang populer. Tapi keluargaku sering membicarakannya. Dulunya terminal Setson sampai gereja Setson adalah pusat pemberontak kerajaan. Kemudian kerajaan menjatuhkan perintah untuk mengepung tempat tersebut. Ada ratusan orang yang terbunuh. Mereka kemudian di kubur di terminal Setson."
"Di bawah tanah?"
"Ya."
"Apa mereka masih bergerak sekarang?"
"Aku tidak tahu. Itu sudah lama, tapi tidak pernah ada beritanya si surat kabar apalagi internet. Seperti yang aku bilang, ini mungkin hanya cerita karangan di keluargaku saja."
"Kau mempercayainya?"
"Kenapa tidak? Masa lalu selalu gelap."
"Kenapa kau yakin itu benar?"
Axel mengedikkan bahu. "Entahlah. Firasat."
"Bekas pemberontakan ya?" gumam Liam. "Bawah tanah? Jadi itu sudah digunakan sejak lama."
"Hampir aku lupa. Papa mau memindahkan barang-barang di gudang atas ke ruang bawah tanah. Apa kakak bisa membantu?"
"Sekarang?"
"Ya." Axel menegakkan tubuh. Ia lalu menenggelamkan tangan ke dalam saku jaketnya. "Tenang saja. Aku sudah mematok harga tinggi untuk kita berdua."
"Ternyata kau realistis juga ya."
"Tentu saja. Ah.." Alex menahan kakinya. Teringat akan hal utama dari kedatangannya. "Kakak benar-benar berniat kabur?"
"Entahlah."
Liam bangkit. Mendahului Alex untuk keluar.
"Nasehatmu semalam tidak berguna. Keputusanku pula hancur karena Gene. Jadi aku berhenti."
"Kakak sangat menyayangi Gene."
"Tentu. Dia adikku."
Liam memegang kusen pintu. Membiarkan Alex keluar lebih dulu. Setelahnya barulah ia mengunci pintu.
Lupakan sejenak keputusan, kekuatan dan keanehan. Ia harus menyenangkan hati Gene. Tentu diawali lebih dulu dengan membersihkan isi kepalanya sendiri.