Merenungkan

1995 Words
Justine memijat pelipisnya. Ponsel masih tertempel di telinganya sejak beberapa menit lalu. Jessi berhasil menemukan sosok yang ia cari. Namun sialnya Jessi terlibat masalah. Ia merobohkan sebuah bangunan. Alhasil publik menjadi heboh. Justine telah memintanya mengklarifikasi dan Jessi telah melakukannya. Meski begitu masih saja ada segelintir orang kepo yang menghadang Jessi. "Tunggu di sana. Aku akan menyuruh seseorang menjemputmu." Memutus panggilan. Justine memanggil nomor lain. Ia meminta orang tersebut membantu melepaskan Jessi dan menyampaikan kompensasi kerugian jika dibutuhkan. "Kau terlihat sibuk sejak tadi pagi." Anders menarik kursi di sampingnya. Tersenyum miring seolah mengejek. Tidak sinkron benar dengan nada suaranya barusan yang rendah seakan menunjukkan perhatian. "Aku punya pekerjaan. Tidak seperti kau yang bisa makan gaji buta." "Hey aku tidak pernah begitu." Justine tidak peduli. Ia menyesap lagi vodkanya. Kesadarannya perlu dibuang agar untuk sesaat ia mampu lupa permasalahannya. ** Liam menguap panjang. Menggulingkan tubuh kesana-kemari beberapa kali hingga akhirnya mendapat semangat untuk mendudukkan tubuh. Dia harus bekerja. Menyiapkan sarapan Gene pastinya lebih dulu. Sudut matanya melirik pada bekas patahan ranjang. Mau dia apakan itu? Ah nanti saja. Ia tidak mau memikirkannya sekarang. Masuk ke kamar mandi. Liam membasuh wajahnya. Saat ia melihat pantulan wajahnya di cermin ia didera oleh perasaan ingin tahu. Iris matanya semalam terus berubah. Apakah pagi ini juga? Tidak langsung menuruti keinginannya. Ia membasuh lagi wajahnya. Membiarkan dingin menyentuh setiap inchi kulit wajahnya seraya menarik kesadarannya ke tempat semula. Akhirnya Liam mengangkat wajah dengan tegas. Ia menarik kelopak atas matanya sementara jari dari telapak kirinya bergerak melepas softlens. Ungu. Itulah warna iris matanya sekarang. Tidak mau berpikir lebih jauh. Liam memasang kembali softlensnya. "Kakak kok belum bangun sih?" Tubuhnya tersentak. Itu adalah suara Gene. Ia lalu menghela nafas kala mendapati ingatannya. Benar. Itu kemampuan lain yang ia miliki, yakni bisa mendengarkan suara lebih jernih. Sejauh ini hanya suara Gene yang bisa ia dengar. Tapi syukurlah. Karena jika suara tetangga-tetangganya ikut terdengar, maka gendang telinganya bisa pecah. Liam menarik satu persatu kapas yang tersumpal di telinganya. Bisa-bisa dikira gila dia oleh Gene jika keluar dengan itu. "Apa aku pergi sekarang aja ya?" "Gene!" seru Liam cepat. Enak saja Gene pergi tanpa pamit. Lagipula dia mau memberitahu Gene untuk lebih berhati-hati. "Kakak sudah bangun?" Kini suara Gene terdengar begitu dekat. Liam menutup kran air dan keluar. Ia menemukan Gene sudah rapi dengan jaket boomber merah dan seperti biasa, skinny jeans hitam. "Kamu mau berangkat lebih awal?" Gene berkedip. Memberitahu Liam bahwa tadi dirinya tengah ditatap secara intens. "Y-a, di luar langitnya sudah gelap. Sepertinya akan hujan." "Kamu tidak berangkat dengan Alex?" "Dia sudah punya pacar." Liam mendelik karenanya. "Pacar? Yang benar saja? Dia kan menyukai kamu." "Lalu apa?" tanya Gene. Semburat amarah melintas di matanya. "Laki-laki itu pandai memanipulasi. Meski hati mereka menginginkan seseorang, mereka akan tetap memilih yang pantas, cantik dan keren." "Hey kamu ini sangat pantas." "Sudahlah kakak tidak perlu menghibur. Aku sudah melihat kenyataannya." Gene mengeratkan tasnya. "Aku berangkat ya?" "Ayo sarapan dulu." Liam menutup pintu di belakangnya. Mendorong pelan bahu Gene untuk pergi ke dapur bersamanya. "Mau apa?" "Roti bakar selai coklat saja." Gene menarik kursi, duduk di atasnya sementara Liam bergerak ke pantry. "Kamu kelihatan sangat buru-buru. Apa memiliki ujian atau semacamnya?" "Tidak, aku hanya.." Liam menunggu. Namun Gene tidak kunjung menyambung kalimatnya. Ia malah mengibaskan tangan. "Hanya ingin lebih awal saja." Begitu katanya kemudian. Tapi Liam sudah menangkap maksud ke arah lain yang sayangnya tidak ia mengerti. "Aku mau minta maaf tentang semalam." "Tentang perubahan kakak ini?" Liam telah mendengarnya. Gene beranggapan buruk akan perubahannya. Itu seratus persen didukung oleh penjelasan yang tidak dia berikan. "Kakak mengerti." Liam tersenyum seraya memasukkan dua lembar roti ke dalam pemanggang. "Perubahan dalam satu malam. Siapa yang tidak curiga kan?" "Kakak minum obat atau apa?" Liam mengerutkan dahi. Tidak mengerti dan curiga di waktu yang sama akan tebakan Gene. "Dalam industri entertainment ada banyak hal semacam itu. Mereka berubah drastis menjadi sempurna hanya dengan obat-obatan atau operasi. Mungkin saja kakak juga melakukannya." Gene mengedikan bahu. "Who knows." "Itu sangat mahal kan?" Liam menggeleng. "Kakak tidak mengambil opsi-opsi tersebut, tapi ini… mungkin hampir sama dengan itu. Namun versi lebih murahnya." "Apa ada efek sampingnya?" "Kakak tidak tahu." Liam berbalik. Mengambil toples selai coklat dari lemari teratas. Jujur, dia tidak mau berbohong pada adiknya tersebut. Namun Gene mungkin akan sulit mencerna yang nyata. Jadi dia perlu berbohong untuk menenangkan pikiran negatifnya. "Di mana kakak membelinya?" "Dari teman." Liam mengangguk sendiri akan kebohongannya. "Kakak mendapatkannya dari seorang teman," ulangnya. "Awalnya kakak hanya ingin membuktikan bahwa manfaat dari benda itu mustahil." "Tapi ternyata benar-benar nyata." Gene turut mengangguk. Mulai mengerti asal perubahan kakaknya. "Apa kakak puas?" Liam tidak bisa menjawab. Kalau dia bilang tidak puas nyatanya saat dia melihat bentuk tubuhnya di cermin pagi ini dia merasa sempurna. Perasaan superior itu pun tidak dapat dihindari. Kemudian dia berubah kesal mengingat ada sisi lain dari penampilan ini. Sisi luar biasa yang menurutnya tidak pantas dimiliki. "Dengan tubuh seperti ini aku yakin orangtua Kak Annie pun akan berpihak pada kakak." Ia hanya tertawa kecil saja. Mengiyakan secara tidak langsung perkataan Gene yang sebenarnya adalah kesalahan. Orangtua Annie menilai kepantasan laki-laki untuk anaknya dari status sosial dan kekayaan. Kalau soal wajah mereka tidak akan terlampau peduli. "Gene, ayo berangkat." Gene memutar leher. Bertindak seolah matanya mampu melihat ke pintu utama. "Mungkin kamu salah paham." Setahu Liam Alex memang populer di kalangan perempuan. Tapi dia tidak pernah menanggapi mereka semanis caranya menanggapi Gene. "Aku tidak mungkin salah paham. Si rambut jagung itu menunjukkan buktinya." Gene kembali meluruskan pandangan. Tidak peduli sama sekali akan Alex. Namun yang Liam dapati justru ekspresi gusar. Dia sedikit tidaknya mengerti, Gene tengah dikuasai oleh perasaan cemburu. "Kamu tidak mungkin berjalan kaki ke sekolah." Liam meletakkan dua buah roti yang telah matang ke atas piring. Ia mengoles selai coklat secara merata di atasnya. "Fine." Gene turun dari kursi. Ia menyambar kedua roti yang Liam buat. Menempelkannya menjadi satu dan mengambil gigitan kecil. "Aku berangkat." "Gene tunggu." Liam merogoh saku celananya. Itu masih yang semalam. Jadi dia ingat betul bahwa masih ada beberapa dollar di sana. "Makan siang lah dengan makanan sehat oke." "Aku masih memiliki uang saku." Liam menyelipkan uangnya ke saku tas Gene. Tersenyum kemudian pada sang adik. "Sana, nanti kamu terlambat loh." Gene merentangkan tangan untuk memeluk tubuh Liam. "Aku sayang kakak." Liam tersenyum. Menyapu telapak tangannya di rambut Gene. "Kakak juga." Gene mengurai pelukan. Tersenyum cerah kemudian. "Aku berangkat." "Hati-hati." Ia hanya memperhatikan punggung Gene yang semakin menjauh. Tidak ingat lagi bahwa dia harus memberitahu Gene untuk lebih berhati-hati dan menjaga rahasia keberadaannya dari orang asing. Begitu ingat Liam langsung berlari. "Gene!" Halaman rumahnya telah kosong. Mobil Alex telah sampai di belokan. "Kau Liam?" Lehernya menoleh. Ia menemukan Paman Will di terasnya. Terlihat lelah bersama bulir-bulir keringat. Padahal ini masih pagi. "Pagi, Paman." Liam langsung terfokus pada boots pria tua itu—penuh lumpur. "Paman dari ladang atau…?" "Mobilku terjebak di lumpur. Sial bukan?" "Bagaimana bisa? Semalam tidak hujan." "Memang tanah itu yang berlumpur. Kerajaan sedikitpun tidak berniat memperbaikinya menjadi jalan aspal. Padahal itu hanya butuh sedikit biaya." "Mau saya bantu?" tawar Liam. Paman Will memperhatikan tubuh Liam dari atas ke bawah. Sorotnya yang menilai itu menyebalkan, tapi Liam memakluminya. Dia adalah orang tua yang perlu dihormati. "Ya dengan penampilanmu seperti sekarang aku kira kau akan berguna. Ayo." Saat Liam sampai di lokasi telah ada banyak pemuda di sana. Ia jarang melihat mereka, namun mereka sering melihatnya. Jadilah mereka terkejut. "Apa yang kau pakai?" tanya Jill. "Tubuhmu tiba-tiba seperti petinju saja." Liam hanya mengangkat bahu. Tidak mau terlalu ambil pusing dengan anggapan orang-orang tersebut. Padahal jika dia jujur, dia mulai takut tanggapan-tanggapan tersebut berimbas pada Gene. "Aku akan mengemudikannya. Kalian dorong seperti tadi, oke?" Semuanya berseru oke. Mereka mengambil posisi masing-masing. Liam yang bertubuh besar diminta berada di tengah dengan olok-olokan. Wajar saja. Sebelum ini tubuhnya kaku. Tidak ada yang percaya jika dia bisa mendorong mobil. "1, 2,.." Will menghitung. Para pemuda saling pandang. Mereka lalu menarik tangan, membiarkan Liam saja yang mendorong. "3!" Liam mendorong pelan. Takut jika sedikit bertenaga malah membuat mobil tersebut terdorong jauh. Will menekan pedal gas. Liam menambah sedikit tenaga kala roda masih berputar-putar di tempat. Kemudian mobil bergerak maju. Ia mendorongnya sampai ke jalan setapak yang kering. Orang-orang terperangah. Namun tidak ada yang curiga bahwa dia memiliki kemampuan luar biasa. Mereka hanya mengira dia habis mengkonsumsi obat penambah energi dan semacamnya. "Kau sepertinya benar-benar mau jadi petinju ya?" Dia tersenyum saja menanggapi ledekan tersebut. "Sialan kalian." Paman Will turun dari mobilnya. Mengumpat marah para pemuda yang sebelumnya telah ia bayar, namun tidak turut membantu. "Apa? Mobilmu sudah berhasil keluar kan?" "Berkat Liam, bukan kalian! Kembalikan uangku." "Tidak bisa. Kami tadi sudah mengeluarkan tenaga." Mereka berangsur-angsur pergi. Membalas paksaan Will dengan kalimat yang hampir sama. Liam tidak dapat membantu. Dia tidak mengerti dan itu jelas bukan urusannya. "Ck, aku rugi." Paman Will mengeluarkan dompetnya dengan cemberut. Liam yang menyadari keengganan itu pun langsung berkata, "tidak perlu, Paman. Aku hanya berniat membantu." Ia berbalik kemudian. "Kalau begitu sampai nanti." "Tunggu, kau tidak bekerja?" Dia tahu jawabannya. Tapi entah kenapa otaknya berputar-putar. "Ada pekerjaan di bukit Praha. Mereka akan mengangkut batu galian ke atas. Satu hari bisa dipatok tiga sampai empat puluh dollar. Tubuh sepertimu aku yakin mampu." "Paman juga ikut?" tebak Liam. "Ya, tapi aku membawa mobil. Kau tahulah, tubuhku sudah setua ini. Jika kau mau aku bisa merekomendasikan pada mereka." "Akan saya pikirkan dulu. Terima kasih atas informasinya, Paman." Kembali ke rumah. Liam menekan kedua tangannya pada pantry. "Pergi atau tidak?" gumamnya. Tidak-tidak. Perempuan asing itu semalam telah menemukannya dan Annie. Pastilah dia telah tahu bahwa keberadaannya di sekitar EA. Dia butuh pekerjaan baru. Kalau bisa juga rumah baru yang jauh dari sekitar Setson. Liam kembali ke kamarnya. Ia memeriksa buku tabungannya. Ada tabungan darurat yang tersisa. Tapi itu tidak cukup. Bahkan seribu dollar pun tidak sampai. Rumah apa yang bisa dia beli dengan harga itu? Sekalipun ia menerima pekerjaan dari Paman Will itu tetap membutuhkan waktu untuk membeli rumah. Dia bisa saja meminjam pada Annie. Namun sebagai pria yang menyukai Annie ia merasa harga dirinya terluka jika demikian. Takut juga dianggap Annie tidak kompeten menjadi pasangan di kemudian hari. Akhirnya sepanjang pagi Liam merenungkan kelanjutan hidupnya. Panggilan beberapa kali masuk. Itu berasal dari Annie dan bosnya, tapi dia enggan menjawab. Ia belum memiliki keputusan, jadi dia belum siap menentukan. Saat Gene kembali dia juga belum beranjak dari kamarnya. Sarapan pagi bahkan juga terlewat. "Kakak kenapa?" Sudut mata Gene melirik patahan ranjang. Ia langsung tahu bahwa ada hal yang tidak benar dengan kakaknya tersebut. "Tidak kenapa-kenapa." Liam beranjak. "Ayo makan." Gene turut mundur. Apalagi saat Liam memilih mengunci kamarnya. Pria itu seperti menyembunyikan sesuatu yang malah membuat Gene penasaran. "Kak Annie tadi menelepon." "Apa yang dia katakan?" Liam membuka kulkas. Tidak ada lagi yang bisa ia temukan di dalamnya. "Bertanya kenapa kakak tidak berangkat kerja. Dia sampai menduga bahwa kakak sakit." "Katakan padanya bahwa kakak baik-baik saja dan.." Liam tercekat sendiri akan titah otaknya. Namun dia tidak bisa membantah. Itu yang terbaik. "Jangan datang ke rumah ini sampai beberapa hari ke depan." Liam tahu. Saat Annie khawatir dia akan langsung mengunjunginya. Jika di hari biasa Liam tidak masalah. Namun Annie saat ini telah dikenali oleh perempuan asing tersebut sebagai temannya. Jadi ada kemungkinan bahwa kemanapun Annie beranjak dia telah diawasi. Liam tidak tahu apa tujuan perempuan asing tersebut. Dari perkiraannya itu sih tidak akan bagus. Mereka akan menyeretnya kembali ke dalam ruangan aneh beraroma obat itu. Mungkin juga menyuntikkan cairan tidak jelas lagi padanya. Dia tidak mau. Hasil suntikkan kemarin saja sudah menunjukkan hasil luar biasa yang mengerikan. Jika ditambah tentu akan semakin mengerikan hasilnya. "Kakak yakin?" "Ya." Gene sesaat menatap padanya. Keteguhan di matanya membuat Gene mengangguk. "Oke." "Bahan makanan sudah habis. Kamu sepertinya harus belanja." Gene menolehkan leher. Memperhatikan punggung kakaknya yang bergerak menjauh. Aneh. Kakaknya meminta dia berbelanja. Ini benar-benar aneh. Biasanya Liam sendiri yang akan melakukan itu. Bahkan menolak tawaran bantuannya dengan alasan bahwa itu adalah tugasnya. "Kakak benar-benar menjadi aneh."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD