"Vincent, tolong..." suara Molly pecah, penuh luka. Matanya berkaca-kaca, wajahnya menahan isak yang nyaris tumpah. Ia berdiri rapuh di tengah ruangan luas itu, seperti seseorang yang sedang berjuang mempertahankan satu-satunya hal yang tersisa dalam hidupnya. "Tolong bantu aku cari tahu kejadian ini. Aku tidak tahu bagaimana bisa ada dia bersamaku. Aku yakin... aku yakin Jacky yang menjebakku." Namun wajah Vincent tetap dingin. Tatapannya menusuk tanpa belas kasih. Seolah kepercayaan yang dulu mengikat mereka kini sudah berubah menjadi belenggu yang memuakkan. "Andaikan dia menjebakmu," jawab Vincent dengan suara tertahan tapi keras, "semua itu karena kau masih bertemu dengannya secara diam-diam. Kau yang membuka celah itu." Ia mendekat, matanya menatap tajam penuh tuduhan. "Kau meno

