Molly masih terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang besar berlapis seprai satin berwarna kuning. Lampu gantung di langit-langit kamar mewah itu memancarkan cahaya lembut, membalut ruangan dalam nuansa keemasan yang hangat namun menyesakkan.
Seorang dokter muda tengah memeriksa kondisinya dengan saksama. Jarum infus telah tertancap di lengan Molly, Vincent berdiri di ujung kasur, tangannya disilangkan di d**a, rahangnya mengeras menahan emosi yang sulit ditebak.
"Vincent, apa yang terjadi pada gadis ini? Kondisinya sangat buruk," ucap dokter itu, Alex, setelah memeriksa pupil mata dan tekanan darah Molly. Nada suaranya menunjukkan keprihatinan yang dalam. "Dia mengalami trauma yang cukup berat. Sepertinya dia telah melalui kejadian yang menakutkan."
Vincent menatap lurus ke arah wajah Molly yang pucat. Matanya menyipit penuh tekanan.
"Alex, sembuhkan dia. Apa pun caranya. Aku tidak ingin mendengar hasil yang buruk. Aku hanya menginginkan hasil yang bagus," jawabnya, tegas dan dingin. Tak ada ruang untuk kompromi dalam ucapannya.
Alex mengernyit, sedikit frustrasi dengan perintah Vincent. "Bawa dia ke rumah sakit. Aku akan melakukan pemeriksaan keseluruhannya. Di sana setidaknya aku punya fasilitas lengkap."
Vincent melirik Alex tajam, lalu melangkah mendekat, menghentakkan sepatu kulitnya di lantai marmer. "Kalau di rumah sakit, untuk apa aku membawa dia ke sini dan memanggilmu? Apa pun yang kau ingin lakukan, lakukan saja di sini. Walau gadis ini harus mati... dia juga harus mati di sini."
Nada suaranya begitu dingin, hingga udara di ruangan itu seakan membeku.
Alex mendesah kasar, mengacak rambutnya dengan frustasi. "Dasar kepala batu... tidak pernah berubah sama sekali," gerutunya pelan. Ia kembali duduk di sisi ranjang, menatap wajah Molly dengan pandangan penuh pertanyaan.
"Apakah kamu adalah orang yang dia cari dan yang paling dia benci? Kalau tidak, mana mungkin dia perhatian dan kejam padamu di saat yang sama?" gumam Alex penuh rasa penasaran, tatapannya tak lepas dari wajah Molly yang masih terpejam dengan napas yang tenang namun lemah.
Sementara itu, di ruangan pribadi yang remang dan didominasi furnitur berwarna gelap, Vincent membuka botol wine merah tua. Ruangan itu dipenuhi aroma kayu manis dan alkohol mahal, menciptakan suasana yang kontras dengan gejolak di dalam hatinya. Dengan tangan gemetar, ia menuang minuman ke dalam gelas kristal dan meneguknya dalam satu kali tegukan, seolah ingin menenggelamkan amarah dan luka yang membakar dadanya.
Ketukan pelan terdengar di pintu, lalu terbuka. Rocky, pria bertubuh tegap dengan mata tajam dan pakaian serba hitam, melangkah masuk dengan sebuah map di tangannya.
"Tuan, hasil penyelidikan telah dikumpulkan," lapornya dengan suara datar namun penuh kehati-hatian.
"Katakan semuanya," titah Vincent tanpa menoleh, lalu kembali menuang wine ke gelas yang kini kosong. Tangannya gemetar halus, namun tatapannya tajam seperti mata pisau.
Rocky membuka mapnya dan mulai membaca, "Pacar Molly Alexander adalah Jacky Wilden, salah satu penerus perusahaan Famoza, konglomerat muda yang terkenal di dunia bisnis. Mereka telah bertunangan dua tahun yang lalu dan direncanakan akan menikah dalam waktu dekat."
Vincent menghentikan gerakan tangannya sejenak. "Bertunangan dua tahun lalu," ulangnya perlahan. Giginya terkatup rapat menahan emosi, lalu ia mengangkat gelasnya dan menghabiskan isinya dalam sekali teguk. Gelas itu diletakkan kembali dengan bunyi denting yang keras di atas meja kaca.
"Teruskan," katanya dingin.
Rocky menelan ludah sebelum melanjutkan, "Belakangan ini saya mendapat informasi tambahan. Keluarga Alexander rupanya sedang merencanakan pernikahan antara putri bungsu mereka, Selina Alexander, dengan Jacky Wilden di bulan depan. Mereka telah menghapus nama Molly dari keluarga—mengusir putri sulung mereka, dan kini mencoba menggantikan posisinya dengan adik kandungnya sendiri."
Mata Vincent menyipit tajam, wajahnya mengeras seperti patung batu. Napasnya semakin berat, dan tangan kanannya mengepal di sisi tubuh.
"Bulan depan..." bisiknya dengan suara rendah namun mengandung ancaman mematikan. Senyum tipis terbentuk di bibirnya, penuh sarkasme dan niat tersembunyi. "Baiklah. Kalau begitu kita tunggu saja. Pernikahan yang mereka rayakan akan menjadi hari yang tak terlupakan untuk keluarga itu. merah."
"Apakah ada yang terjadi pada Molly Alexander dalam tiga tahun ini?" tanya Vincent dengan suara rendah namun tajam seperti belati.
Rocky mengangguk hormat sambil menunduk. "Untuk saat ini belum ditemukan informasinya, Tuan. Tapi saya akan melanjutkan penyelidikan hingga ke akar-akarnya. Saya pastikan tidak akan ada detail yang terlewat."
Vincent menyandarkan tubuhnya ke kursi kulit hitam yang menghadap jendela besar. Malam menebar keheningan di luar sana, sementara pikirannya berputar seperti badai.
"Sangat kebetulan sekali," gumamnya pelan namun penuh ironi. "Mereka adalah satu keluarga... semuanya aku temukan dalam satu malam. Apakah ini takdir? Atau karma yang berbalik arah?"
Ia bangkit dari kursi, berjalan pelan ke arah lemari minuman dan menuang lagi segelas wine. "Aku akan balas dendam sepuluh kali lipat kepada keluarga itu."
Ia meneguk wine dengan gerakan cepat, lalu meletakkan gelas dengan dentuman halus ke meja kaca. "Dan untuk Molly..." ia menoleh ke arah Rocky dengan senyum dingin yang tidak menyentuh matanya, "Dia hanya akan menjadi alat permainanku. Aku akan merusaknya perlahan."
Rocky terlihat ragu sejenak sebelum akhirnya bertanya, "Tuan, mengenai Selina... apa rencana kita? Dari semua data yang saya temukan, dia adalah putri kesayangan pasangan itu. Mereka bahkan menjadikan pernikahannya sebagai ajang memperlihatkan kebesaran keluarga Alexander."
Vincent tertawa pelan. Tawa yang terdengar seperti lolongan iblis dalam kegelapan. "Di hari pernikahan, beri dia hadiah besar," katanya, mata berkilat penuh kebencian. "Pastikan kedua orang tuanya tidak melewatkan satu detik pun dari pertunjukan yang akan aku siapkan. Hari itu akan menjadi kenangan yang menghantui mereka seumur hidup."