Keesokan harinya.
Molly mulai membuka mata dan menatap langit-langit kamar yang asing. Ia terdiam, mencoba mengingat kembali apa yang terjadi padanya. Rasa pusing masih menguasai kepalanya, tapi dorongan ingin tahu lebih kuat dari rasa sakit itu. Perlahan ia bangkit, duduk, dan melirik ke sekeliling. Ruangan itu mewah, tapi asing. Bukan rumahnya.
“Di mana ini? Kenapa aku bisa ada di sini? Siapa yang membawaku kemari?” gumam Molly dengan suara parau.
Klek!
Suara pintu kamar yang terbuka mengejutkannya. Ia refleks menoleh. Seorang pria bertubuh tinggi dan berwajah dingin melangkah masuk. Matanya tajam, penuh perhitungan. Molly menelan ludah, merasakan kecemasan menyelimuti dadanya.
"Akhirnya sudah sadar," ujar pria itu, Vincent, dengan suara dingin dan ekspresi yang tak menunjukkan sedikit pun simpati.
Molly mengerutkan dahi. Ada yang tak asing. Ia menatap wajah pria itu lebih seksama.
“Kenapa suaranya tidak asing?” batin Molly.
"Tuan, Anda siapa? Apakah Anda yang membawa saya kemari?" tanyanya dengan suara bergetar, tubuhnya sedikit menjauh ke sisi tempat tidur.
Vincent hanya tersenyum tipis. Ia melangkah lebih dekat dan membungkuk, menatap Molly tepat di mata.
"Tidak mengenalku lagi, atau... kau hanya berpura-pura?" bisiknya tajam.
Tubuh Molly seketika menegang. Matanya membelalak saat potongan-potongan memori malam menakutkan itu kembali menyeruak. Suara. Sentuhan. Ketakutan.
"Kau... adalah perampok itu?" tanyanya, nyaris tak percaya.
Vincent tersenyum sinis, matanya tajam bagai belati.
"Hanya itu yang kau ingat tentangku?"
Plak!
Tamparan keras Molly mendarat di pipi Vincent. Nafasnya memburu, matanya dipenuhi amarah dan kebencian.
"Dasar b*jing*n! Kau telah menghancurkan hidupku! Aku ingin membunuhmu!" teriak Molly sambil kembali melayangkan tamparan keduanya.
Plak!
Namun kali ini Vincent lebih sigap. Ia menangkap tangan Molly dengan cengkeraman kuat, membuat gadis itu terdiam dan meringis.
"Molly Alexander, kau sungguh luar biasa. Pura-pura tidak mengenalku, dan sekarang kau ingin membunuhku? Apakah kau mampu melakukannya?" katanya lirih, tapi tajam, penuh ancaman.
Molly berusaha melepaskan tangannya, matanya berkaca-kaca.
"Apa yang kau inginkan, b******n? Aku dan kamu tidak bermusuhan, kenapa melakukan ini padaku? Apakah kau belum puas setelah semua yang kau lakukan padaku?!" suaranya pecah oleh emosi dan luka yang belum sembuh.
Vincent tertawa pelan, getir, lalu melepaskan cengkeramannya.
"Aku puas, sangat puas! Tapi ketahuilah, kau kehilangan semuanya bukan karena aku. Itu semua salah keluargamu," ucapnya dengan nada dingin, namun ada dendam membara di balik suaranya.
Molly memandangnya dengan benci.
"Kalau bukan karena kau, aku tidak akan diusir!" katanya penuh amarah.
Vincent menatapnya, tatapannya berubah lebih tajam dan gelap.
"Kedua orang tuamu bukan manusia. Putri mereka telah kehilangan kesuciannya demi melindungi tiga nyawa mereka, tapi yang mereka lakukan adalah mengusirmu seperti hewan. Seharusnya kau menyalahkan mereka... bukan aku."
Air mata menetes dari sudut mata Molly. Luka batinnya kembali menganga. Tapi ia tetap menatap Vincent, ingin tahu kebenaran dari semua ini.
"Kau juga bukan manusia… membuatku menderita dan kau bisa tersenyum bahagia di sini. Apa tujuanmu melakukan itu? Kau bukan orang miskin yang butuh uang. Lalu, apa tujuan utamamu?" tanyanya dengan suara yang bergetar, penuh kesakitan.
Vincent mendekat, lalu berdiri tegak di hadapannya.
"Tujuan utamaku adalah balas dendam," ucapnya datar. "Monica dan Lucas Alexander telah menggagalkan pernikahan adikku. Karena itu, adikku memilih untuk mengakhiri hidupnya. Jadi, tidak ada salahnya aku membalas dendam pada kalian."
Molly menggeleng lemah. "Mana mungkin mereka melakukan itu…"
Vincent menatapnya tajam.
"Bahkan putri sendiri saja mereka tega perlakukan begitu. Mana mungkin mereka tidak tega pada orang lain?" jawabnya pelan, namun menyakitkan.
"Bagaimana bisa adikmu gagal nikah karena mereka?" tanya Molly dengan nada heran namun penuh tekanan. Ia tak bisa membayangkan kedua orang tuanya memiliki andil dalam tragedi sebesar itu.
Vincent tertawa singkat, dingin, sebelum menjawab, "Kau bisa cari tahu sendiri. Tapi ini bukan urusanmu. Urusanmu denganku... tidak ada hubungannya dengan mereka."
Alis Molly berkerut. Ia merasa kata-kata pria itu semakin membingungkan. "Apa maksudmu?" tanyanya, mulai merasa ada sesuatu yang lebih besar tersembunyi di balik semua ini.
Mata Vincent kini menajam, seperti binatang buas yang tersudut tapi tetap mematikan. Ia melangkah lebih dekat hingga napasnya bisa terasa oleh Molly.
"Mau sampai kapan kau harus berpura-pura? Apakah menyenangkan sekali mempermainkan orang? Atau... memang keluargamu itu punya kebiasaan menyakiti orang lain?" suara Vincent meninggi, nadanya penuh tuduhan dan dendam yang belum padam.
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan!" seru Molly, kini benar-benar tertekan. Ia memalingkan wajah, dadanya sesak oleh rasa bingung dan takut yang bercampur.
"Aku ingin pergi!" katanya keras, mencoba bangkit dari ranjang dengan langkah tergesa. Namun, belum sempat ia berdiri sepenuhnya, tangan Vincent mencengkeram lengannya dengan kasar.
Dengan satu dorongan, tubuh Molly kembali terhempas ke atas kasur.
"Jangan berpikir kau bisa meninggalkan tempat ini sesuka hatimu," desis Vincent di atasnya, wajahnya kini hanya sejengkal dari wajah Molly.
Molly menahan napas. Tubuhnya kaku, matanya menatap Vincent dengan ketakutan dan kebingungan yang bercampur aduk. "Apa... yang sebenarnya kau inginkan dariku?" bisiknya lirih.
Namun Vincent tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap mata gadis itu dengan tatapan rumit—penuh luka, dendam, tapi juga sesuatu yang tak mampu ia kendalikan.
Vincent menunduk, menatap Molly dengan sorot mata penuh obsesi dan kemarahan.
"Kau tidak punya pilihan, Molly. Mulai sekarang, kau hanya bisa menjadi wanitaku… membiarkanku melampiaskan hasratku," bisiknya penuh tekanan.
Tanpa memberi waktu bagi Molly untuk merespons, Vincent mencium bibir gadis itu dengan kasar. Ciuman yang jauh dari kelembutan—penuh paksa dan kemarahan.
Kedua tangannya menekan pergelangan tangan Molly dengan kuat, seolah ingin memastikan gadis itu tak bisa bergerak sedikit pun.
Molly mengerang, mencoba menghindar, menggeliat sekuat tenaga.
Air mata mulai mengalir dari sudut matanya saat ia terus melawan, namun cengkeraman Vincent terlalu kuat.
"Jangan sentuh aku! Lepaskan!" teriak Molly tercekik di antara napasnya yang memburu.
Vincent tidak menggubris sama sekali. Ia menahan wajah Molly dengan satu tangan, memaksanya tetap menatap ke arahnya.
"Aku ingin kau lihat siapa yang sekarang berkuasa. Aku ingin kau mengingat ini… setiap malam."